SANG PENGACARA

SANG PENGACARA
MENCARI ALASAN


__ADS_3

Pagi ini Andika menjalankan aktivitas seperti biasanya, wajah Andika yang biasanya terlihat dingin dan tanpa ekspresi entah kenapa beberapa waktu belakangan ini dia sangat mudah sekali tersenyum apalagi ketika memikirkan tentang Jeny.


Deni berdiri mematung dengan tatapan tidak percaya, baru saja dia melihat Andika tersenyum membalas sapaan darinya, biasanya Andika hanya mengangguk dengan ekspresi datar dan wajah dingin.


Lisa menatap Deni dengan tatapan aneh, dia terus memperhatikan Deni yang sedang diam dengan wajah bingung dan mata melotot, Lisa terus memperhatikan Deni, kemudian dia langsung membuang muka dan menyebikan bibirnya ketika pandangan mereka bertemu dan Deni tersenyum pada Lisa.


- - -


Andika baru saja memasuki ruang kerjanya, dia duduk dengan gelisah di sofa, matanya menatap langit-langit ruangannya.


Andika sedang berpikir alasan yang akan dia gunakan untuk memanggil Jeny datang kekantor dan mengajaknya keluar.


"Sshh." Andika mendesak kesal setelah beberapa lama dia berpikir alasan yang akan dia gunakan untuk memanggil Jeny.


"Arrgg." Andika mengacak-acak rambutnya merasa frustasi tidak dapat menemukan alasan yang masuk akal untuk bertemu Jeny.


"Lisa."


"Keruang ku sekarang." Ucap Andika setelah mendengar jawaban dari Lisa.


"Ada apa tuan." Lisa sudah berdiri di depan Andika, Andika mengangkat kepalanya ketika mendengar suara Lisa.


"Ada agenda apa aku hari ini?"

__ADS_1


"Tidak ada tuan, semua sudah di kerjakan semua oleh staf tuan."


"Bagaimana dengan kasus PT B?" Tanya Andika sedikit berbasa-basi pada Lisa, sebenarnya dia memanggil Lisa dengan tujuan untuk bertanya perihal alasan yang akan dia gunakan untuk mengajak Jeny bertemu.


"Tinggal menunggu putusan akhir tuan."


"Bagaimana prediksi mengenai hasil putusan itu?" Lisa menatap heran dengan Andika, Andika seharusnya sudah tahu mengenai hasil putusan dari berkas yang Lisa berikan beberapa waktu lalu.


"Kenapa kamu menatapku begitu Lisa?" Tanya Andika yang melihat Lisa menatapnya aneh.


"Apa yang ingin tuan ketahui?" Andika sedikit terkejut, dia lupa dengan siapa dia berbicara, Lisa sudah pasti tahu pertanyaan Andika yang sebelumnya hanya basa-basi saja.


"Apa kamu pernah berkencan?" Tanya Andika setelah terdiam beberapa saat untuk mengatur nafas.


"Berkencan?" Andika mengangguk untuk meyakinkan Lisa bahwa pendengarannya tidak bermasalah, Lisa memutar bola matanya kemudian menjawab.


"Apa perlu saya panggil Deni tuan?"


"Ah aku telah salah bertanya pada orang ini." Gerutu Andika


"Keluarlah dan lupakan aku pernah bertanya padamu." Andika terlihat kesal dengan jawaban Lisa, lebih tepatnya dia kesal pada dirinya sendiri telah bertanya pada Lisa, bagaimana bisa wanita sedingin Lisa bisa berkencan.


"Bodoh." Andika mengutuki dirinya sendiri.

__ADS_1


Lisa mengangguk kemudian melangkah menuju pintu


"Lisa." Lisa berhenti dan berbalik badan mendengar Andika memanggilnya.


"Panggil Deni." Ucap Andika setelah Lisa sudah menghadap ke arahnya, Lisa sedikit menyunggingkan senyum di wajahnya yang membuat Andika menatapnya tajam.


"Apa kamu sedang mengejekku."


Lisa langsung berlalu melihat tatapan tajam Andika, dia langsung menuju ke ruangan Deni.


- - -


Deni sedang duduk di sofa bersebrangan dengan posisi Andika duduk, dia terlihat memegang dahinya beberapa kali, Deni sedang berpikir keras tentang alasan yang akan dia usulkan pada Andika, sudah beberapa kali Deni memberikan usulan tapi selalu di tolak Andika.


"Aaa." Pekik Deni yang membuat Andika melotot karena terkejut.


"Maaf tuan." Deni tersenyum kikuk melihat tatapan Andika.


"Saya sudah ketemu ide tuan." Deni tersenyum lebar kemudian berdiri dan melangkah mendekati Andika.


Andika langsung menyeringai setelah Deni membisikkan sesuatu, dia kemudian mengangguk dan menepuk bahu Deni.


"Tidak sia-sia aku menggajimu tinggi." Kata Andika yang di balas senyum penuh kebanggaan Deni.

__ADS_1


__ADS_2