SANG PENGACARA

SANG PENGACARA
PERANGKAP ANDIKA


__ADS_3

Konferensi pers selesai, Teddy seakan tidak bisa menjawab segala ucapan Andika, dia yakin semua yang baru saja Andika sampaikan adalah suatu kebohongan, tapi Teddy tidak bisa membantah hal itu tanpa bukti yang kuat.


Andika bergegas meninggalkan ruang konferensi pers, dia malas untuk bertemu dengan para petinggi Wibowo group hanya untuk sekedar mendengar basa-basi mereka.


- - -


Gedung pusat Mahesa group.


Presdir Ferry baru selesai menyaksikan siaran langsung tentang pembacaan surat wasiat dari Presdir Wibowo, dia mengepalkan tangannya dengan erat sembari merapatkan giginya.


"Benar-benar licik kau Andika." Hardik Presdir Ferry.


"Deni."


"Saya tuan." Deni yang sedari tadi berdiri di belakang Presdir Ferry langsung sigap menghampiri Presdir Ferry.


"Apa yang harus kita lakukan, setelah ini aku yakin Andika akan mengincar Mahesa group." Tanya Presdir Ferry dengan tatapan putus asa.


Presdir Ferry tidak bisa berpikir dengan jernih sekarang, dia merasa kehancurannya semakin dekat, dengan mudahnya Andika menghancurkan Aras group yang notabenenya adalah perusahaan terbesar dan terkuat di negeri ini, setelah itu Wibowo group dia hancurkan dengan cara yang sangat lembut, apalagi hanya Mahesa group, mungkin hanya dengan jentikan jari Andika mampu menghancurkan nya.

__ADS_1


"Jangan diam saja!" Bentak Presdir Ferry pada Deni.


"Maaf tuan." Deni mengumpulkan keberaniannya "Menurut saya bagaimana jika kita coba untuk berdamai dengan Andika dan Adrian."


"Apa kau menyuruhku untuk merendahkan diri di depan mereka." Ucap Presdir Ferry kesal.


"Apa salahnya kita mundur satu langkah untuk melompat lebih jauh tuan." Deni menatap Presdir Ferry dengan tatapan penuh keyakinan.


"Lagi pula tidak akan ada yang tahu bahwa anda mengajukan perdamaian dengan Andika dan Adrian tuan." Presdir Ferry terdiam, dia sedang mencerna kata-kata Deni.


"Saat ini Andika menahan diri karena Lita, entah berapa lama lagi Lita bisa menahan amarah Andika." Gumam Presdir Ferry.


"Tidak ada cara lain tuan, saat ini hampir tidak ada perusahaan besar yang mau bergabung dengan kita karena pengaruh Andika dan Adrian yang sudah menjadi Corporate Lawyer mereka." Presdir Ferry menatap Deni dengan tatapan tajam.


"Mau tidak mau kita harus mencoba berdamai dengan mereka tuan." Deni masih terus berbicara untuk meyakinkan Presdir Ferry.


"Hanya itu satu-satunya cara jika tuan masih ingin melihat Mahesa group berdiri."


"Baiklah." Jawab Presdir Ferry setelah terdiam beberapa lama, memang semua yang dikatakan Deni adalah benar, jika Presdir Ferry hanya berdiam diri maka tinggal menunggu waktu untuk kehancuran Mahesa group.

__ADS_1


"Hubungi Andika, atur pertemuan kita." Deni mengangguk, dia kemudian keluar dari ruangan Presdir Ferry, Deni tersenyum sinis menatap Presdir Ferry sebelum pintu benar-benar tertutup.


"Tanpa menghubungi tuan Andika sudah pasti dia mau bertemu, karena ini semua rencana tuan Andika dan tuan Adrian." Ucap Deni dalam hati.


- - -


Kantor Andika Law Firm


Andika sedang duduk di atas kursi kebesarannya, senyum tersungging diwajahnya saat membaca pesan yang baru saja masuk di ponselnya.


"Presdir Ferry sudah setuju untuk berdamai dengan anda tuan." Pesan dari Deni.


"Hahaha." Andika terbahak "Kau sudah masuk dalam perangkap ku Ferry.


Andika kemudian menghubungi Adrian untuk menyampaikan berita menggembirakan itu.


"Mari kita nikmati wajah kesal di balik senyum Ferry." Pesan balasan dari Adrian setelah Andika mengabarkan perihal Presdir Ferry yang akan mengajak mereka berdamai.


"Tunggulah sebentar lagi Jeny, aku akan menjemputmu sesuai dengan janjiku." Gumam Andika sembari meletakkan ponselnya diatas meja.

__ADS_1


__ADS_2