
Sudah hampir satu bulan Andika sibuk mempelajari berkas yang di berikan oleh Adrian, Andika sudah memahami sepenuhnya isi dari berkas itu, Andika berencana akan bertemu dengan beberapa lembaga dan mengajak mereka membahas tentang Aras group, Andika akan mengajukan tuntutan melalui lembaga terkait untuk menuntut Aras group atas kerusakan lingkungan yang ditimbulkan oleh salah satu anak perusahaan dari Aras group.
Siang hari dikantor Andika, dia sedang merapikan beberapa berkas yang akan dia bawa, Andika sudah memiliki janji bertemu dengan lembaga terkait, rencananya dalam beberapa hari dia akan mengajukan tuntutan pada Aras group.
"Lisa, keruangan saya." Andika menutup telponnya kemudian
"Masuk." Ucap Andika setelah mendengar suara ketukan pintu.
"Permisi tuan." Lisa sudah berdiri di depan Andika.
"Buat menjadi tiga rangkap." Andika memberikan berkas kepada Lisa "Siapkan semuanya, 10 menit lagi kita berangkat."
"Baik tuan."
Setelah kepergian Jeny, Andika menjadikan Lisa sebagai asisten pribadinya kembali.
"Huh lebih enak berada di kantor, dari pada harus mengikuti tuan Andika kemanapun." Gumam Lisa saat sedang memfoto copy berkas yang di berikan Andika.
Andika langsung turun ke loby, Lisa baru saja mengabari Andika bahwa semuanya sudah siap.
Mobil melaju meninggalkan kantor Andika, mereka akan menuju ke restauran tempat yang sudah di sepakati untuk melakukan pertemuan dengan lembaga pemerhati lingkungan.
Andika memasuki restauran diikuti Lisa dari belakang, dia langsung menuju meja yang sudah dipesan sebelumnya, sudah ada dua orang yang menunggu Andika di meja itu.
Setelah saling menyapa dan sedikit berbasa-basi, Andika langsung berbicara mengenai rencana penuntutan terhadap Aras group, dua orang yang sedari tadi sibuk membaca berkas yang diberikan oleh Lisa langsung mendengarkan ucapan Andika.
"Kami bersedia bekerjasama dengan tuan Andika, sudah lama kami tahu tentang masalah ini, tapi tidak ada pengacara yang berani untuk melakukan pendampingan kepada kami." Ucap salah satu orang yang terlihat sebagai ketua lembaga itu.
__ADS_1
"Baiklah, besok saya akan mengajukan gugatan ke pengadilan."
"Terimakasih tuan anda sudah mau bekerjasama dengan kami " ucap dua orang itu dengan tersenyum.
Tiba-tiba Andika mendengar suara yang sudah sangat dia kenal, Andika mengedarkan pandangannya ke setiap sudut restauran.
"Jeny." Gumam Andika
Di meja yang terletak cukup jauh dari tempat Andika duduk, terlihat Jeny sedang bersama seorang laki-laki sedang menikmati makan siang mereka.
"Baiklah tuan kami permisi dulu, sekali lagi kami mewakili masyarakat mengucapkan terimakasih pada tuan Andika."
Mereka kemudian saling berjabat tangan, mata Andika tidak pernah lepas dari Jeny yang sedang duduk dan terlihat tersenyum.
"Tunggu di mobil Lisa." Lisa mengangguk dan langsung berjalan keluar, dia tidak bertanya apapun pada Andika.
"Jeny." Jeny langsung yang sedang berbincang dengan Teddy langsung menoleh kearah suara yang memanggilnya.
"Andika." Ucap Jeny dalam hati
Teddy ikut menoleh mendengar ada suara yang memanggil seseorang meskipun dia tidak tahu siapa yang dipanggil, Teddy langsung tersenyum ketika melihat Andika berdiri disana.
"Tuan Andika." Teddy berdiri menghampiri Andika, tentu saja Teddy sangat mengenal Andika, Andika adalah pengacara andalan Wibowo group, hampir semua kasus dapat Andika selesai dan berakhir dengan kemenangan.
Andika menatap wajah laki-laki yang tadi duduk membelakanginya, dia langsung membalas dengan anggukan kepala setelah tahu Teddy yang menyapanya.
"Sedang apa tuan disini?" Tanya Teddy setelah mempersilahkan Andika untuk duduk, Andika diam sesaat dia melirik Jeny yang sedang menatapnya.
__ADS_1
"Bertemu klien."
"Oh begitu, maaf sudah menggangu tuan Andika."
"Tidak, sudah selesai tuan Teddy."
Andika melirik Jeny yang duduk di depannya, Teddy yang mengetahui hal itu langsung mengenalkan Jeny.
"Perkenalkan tuan, ini Lita calon istri saya." Andika mengerutkan dahi ketika Teddy mengenalkan Jeny dengan nama Lita.
"Andika."
"Lita." Jeny menerima jabat tangan dari Andika.
"Apa tuan Andika datang sebagai seorang pengacara."
"Hahaha." Tedy tertawa "kamu kenal tuan Andika, memang dia seorang pengacara."
"Saya permisi sebentar tuan Andika." Teddy langsung mengangkat ponselnya yang baru saja berdering.
"Apa kabar Jeny?" Ucap Andika setelah Teddy pergi menjauh.
"Kabar baik sebagai Jeny, tapi tidak dengan Lita." Andika mengangguk dia seakan bisa membaca arti dari tatapan Jeny.
Mereka kemudian terdiam dan saling menatap, terlihat air mata mulai menggenang di pelupuk mata Jeny.
"Jangan menangis Jeny, aku tidak menyukai itu." Andika mengusap air mata Jeny menggunakan tissue.
__ADS_1