SANG PENGACARA

SANG PENGACARA
BIAR AKU YANG MEMILIH


__ADS_3

Mobil berhenti di depan lobby Wibowo group, Andika dan Adrian langsung turun dan masuk ke dalam gedung pusat Wibowo group diikuti Rendy seperti biasa.


Tanpa hambatan Andika bisa langsung menuju lantai tertinggi gedung itu yang terdapat ruangan Presdir Wibowo, Presdir Wibowo masih menyertakan nama Andika sebagai Corporate Lawyer karena dia tidak mau apabila musuh-musuhnya langsung menyerang dirinya bila tahu Andika sudah bukan Corporate Lawyer dari Wibowo group.


Tanpa salam atau mengetuk pintu Andika langsung masuk ke dalam ruangan Presdir Wibowo.


Melihat kedatangan Andika dan Adrian Presdir Wibowo langsung tersenyum sinis, dia pasti menyangka Andika datang untuk mencari Teddy.


"Selamat datang Andika." Presdir Wibowo tersenyum mengejek kepada Andika.


"Tersenyum selagi Anda bisa tuan Wibowo." Jawab Andika dengan nada penuh penekanan.


"Hahaha." Presdir Wibowo terbahak "Apapun bisa aku lakukan apalagi hanya tersenyum."


"Anda benar." Andika menatap tajam Presdir Wibowo "Saya sangat menantikan apakah anda masih tersenyum di depan jasad putra anda nanti."


Brak....


Presdir Wibowo menggebrak meja dengan keras mendengar ucapan Andika.


"Berani kau menyentuhnya akan aku buat kau menyesal seumur hidupmu." Ancam Presdir Wibowo dengan tatapan tajam.


"Ya ya ya, anda mungkin tidak sempat melihat penyesalan ku tuan karena." Andika membalas tatapan tajam Presdir Wibowo "Hari-hari anda hanya akan diisi kesedihan meratapi kepergian putra anda."


"Jangan sentuh putraku." Teriak Presdir Wibowo.


Adrian hanya tersenyum di sebelah Andika, dia merasa senang Andika sudah bisa mempermainkan Presdir Wibowo.

__ADS_1


"Anda tahu bukan hukum yang berlaku di sini."


"Kau tidak akan bisa memenjarakan putraku." Jawab Presdir Wibowo sambil tersenyum lebar.


"Karena saya tahu hal itu makanya kami menginginkan nyawa putra anda sebagai gantinya."


"Kau." Presdir Wibowo menunjuk Andika sambil menatap tajam Andika dengan tatapan membunuh.


"Bahkan anda melakukan sesuatu yang terlihat bodoh tuan, untuk apa anda membuang tenaga untuk mengancam saya tuan." Andika tersenyum sinis pada Presdir Wibowo.


Presdir Wibowo terdiam, dia juga menyadari hal itu, Andika adalah orang yang tidak mempan dengan ancaman apapun, ada sedikit rasa penyesalan di dalam hatinya ketika Presdir Wibowo membiarkan putranya melakukan tindakan bodoh dengan mencelakai Andika.


"Apa mau mu Andika?" Tanya Presdir Wibowo dengan suara lirih.


"Hahaha." Andika dan Adrian terbahak melihat wajah kekalahan dari Presdir Wibowo.


"Katakan!" Bentak Presdir Wibowo, dia tidak mau lebih dipermainkan lagi oleh Andika.


"Rendy." Panggil Andika seperti sebuah kode untuk Rendy.


Rendy langsung menyodorkan sebuah pistol ke hadapan Presdir Wibowo.


"Apa maksudmu?" Tanya Presdir Wibowo menatap pistol yang kini berada di hadapannya.


"Dengarkan baik-baik tuan." Andika menoleh sejenak kearah Adrian.


"Nyawa dibalas dengan nyawa."

__ADS_1


"Jangan bertele-tele." Ucap Presdir Wibowo geram.


"Baiklah" Andika tersenyum lebar "Anda harus membayar nyawa Roy dengan nyawa anda atau putra anda."


"Apa maksudmu hah!" Gelegar suara Presdir Wibowo.


"Saya masih berbaik hati untuk memberi anda pilihan." Andika menatap tajam Presdir Wibowo, dia sedang mengintimindasi Presdir Wibowo.


"Akhiri hidup anda dengan pistol itu atau anda akan melihat putra anda mengakhiri hidupnya ditangan kami." Ucap Andika dengan suara tegas.


"Apa kau sedang mempermainkan ku Andika." Presdir Wibowo terlihat sangat marah.


"Pilihlah tuan."


Presdir Wibowo terdiam, dia tentu saja tahu ucapan Andika bukanlah omong kosong belaka, hanya untuk menghabisi nyawa putranya itu adalah hal mudah baginya.


"Baiklah saya yang akan memilih jika anda memaksa." Ucap Andika karena melihat Presdir Wibowo hanya diam saja.


"Biar aku yang memilih." Ucap Presdir Wibowo.


"Bagus." Jawab Andika.


"Beri aku waktu." Pinta Presdir Wibowo.


"Saya tunggu berita tentang kematian anda paling lama dua hari dari sekarang atau anda yang akan mendengar berita kematian dari putra anda."


Andika langsung keluar dari ruangan Presdir Wibowo diikuti oleh Adrian dan Rendy.

__ADS_1


"Aku yakin besok kita akan mendengar kabar Kematian dari tua bangka itu." Bisik Adrian yang dibalas senyuman dan anggukan kepala oleh Andika.


__ADS_2