SANG PENGACARA

SANG PENGACARA
BERITA KEMATIAN


__ADS_3

Kantor hukum Andika Law Firm


Andika kembali menjalani rutinitas seperti biasa, Lisa kini menjadi asisten Andika lagi setelah kepergian Roy.


Di dalam ruang kerjanya terlihat Andika sedang sibuk dengan beberapa berkas di depannya, banyak kasus yang terlewat karena masa berkabung untuk menghormati Roy kemarin.


Andika menakan tombol extension pada telpon diatas mejanya.


"Lisa."


"Iya tuan."


"Keruangan ku."


"Baik tuan."


Andika menoleh setelah mendengar suara pintu didorong, Lisa masuk sambil menunduk dan menghampiri Andika.


"Permisi tuan."


"Bereskan ini Lisa, sudah ku tandai semua yang salah." Andika menyodorkan berkas kehadapan Lisa.


"Baik tuan." Lisa mengambil berkas kemudian memeluk di berkas itu.


"Lisa."


"Iya tuan." Lisa mengangkat wajahnya.

__ADS_1


"Jadilah seperti Lisa yang dulu, kita semua juga bersedih atas kepergian Roy." Ucap Andika karena melihat gurat kesedihan di wajah Lisa.


"Saya sedang mencoba berdamai dengan hati saya tuan." Jawab Lisa lirih.


"Hubungi aku ketika kamu memerlukan teman bicara Lisa."


"Terimakasih atas perhatiannya tuan." Andika mengangguk.


"Saya permisi dulu tuan." Lisa keluar dari ruangan Andika, sedari tadi dia berusaha menahan air matanya agar tidak jatuh di depan Andika.


Perlakukan Andika pada Lisa akhir-akhir ini sedikit lembut, Andika tidak pernah lagi berbicara dengan nada tinggi dan sorot mata tajam, awalnya Lisa merasa canggung dengan sikap Andika tapi lama kelamaan dia mulai terbiasa dengan hal itu.


Andika menatap kepergian Lisa, dia kemudian melamun, rasa bersalah masih menghinggapi Andika, apalagi dia setiap hari harus melihat raut wajah sedih dari Lisa, Andika memaklumi apa yang terjadi pada Lisa.


"Tenanglah di sana Roy, aku akan menjaga Lisa dan membalas dendam pada orang yang telah membuatmu pergi." Ucap Andika dalam hatinya sembari mengepalkan tangannya dengan erat.


"Hallo." Sapa Adrian.


"Ada apa?" Tanya Andika dengan nada malas.


"Kamu sudah melihat berita." Andika bisa tahu bahwa Adrian sedang bahagia dari nada suaranya.


"Berita apa?" Tanya Andika penasaran .


"Buka saja berita online, ada kabar menggembirakan." Terdengar suara tawa Adrian.


"Baiklah."

__ADS_1


Andika langsung mematikan panggilan dari Adrian, dia kemudian membuka aplikasi berita online.


Andika langsung membelalakkan kedua matanya, sesaat kemudian timbul seringai di bibirnya setelah selesai membaca berita itu.


"Presdir Wibowo group ditemukan tewas bunuh diri di rumahnya."


"Hahahaha." Andika terbahak dengan cukup keras, dia langsung membuka daftar kontak dan mencari nama Adrian.


"Pilihan yang salah tuan." Gumam Andika sambil menunggu panggilannya dijawab oleh Adrian.


"Bagaimana apa kamu sudah membacanya?" Tanya Adrian setelah panggilan terhubung.


"Tentu saja, berita yang sangat menggembirakan." Jawab Andika sembari tertawa "Tapi apakah benar Wibowo sudah mati?" Tanya Andika untuk memastikan.


"Rendy sudah memastikan hal itu." Jawab Adrian.


"Hahahaha." Andika terbahak bersama dengan Adrian.


"Datanglah kekantor ku, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan." Pinta Andika.


"Tentang apa?" Tanya Adrian.


"Apa kamu tidak dengar." Ucap Andika kesal.


"Iya baiklah, aku akan datang kekantor mu sebentar lagi." Adrian memilih mengalah dari pada harus meladeni Andika, dia sudah sangat paham dengan sikap Andika yang tidak mau membahas hal penting di telpon.


Andika mengakhiri panggilan, dia masih memegang ponselnya dan meremasnya dengan kuat.

__ADS_1


"Sekarang giliran aku menghancurkan mu Teddy." Gumam Andika di sertai dengan seringai di wajahnya.


__ADS_2