
Pantai
Jeny langsung berlari melepas genggaman tangan Andika ketika kakinya menyentuh pasir pantai, melihat hal itu Andika hanya mengulum senyum di wajahnya.
"Andika ayo sini." Jeny berteriak kepada Andika yang masih berdiri sambil melihat tingkah Jeny yang sedang bermain air.
"Apa?" Teriak Andika.
"Sini." Jeny melambaikan tangannya.
Andika berjalan menuju arah Jeny, mereka tertawa bersama menikmati setiap moment yang mungkin jarang mereka alami.
"Aku sangat bahagia Andika." Ucap Jeny sambil menggenggam tangan Andika erat.
"Aku sangat sangat bahagia Jeny." Andika mengecup punggung tangan Jeny dengan lembut.
"Aku mencintaimu Andika." Jeny berteriak ke arah lautan lepas.
"Hahahaha." Andika terbahak "Apa kamu begitu mencintai ku Jeny."
Jeny langsung merengut "Gak romantis." Ucap Jeny sebal membuat Andika tertawa keras sambil mencubit pipinya.
Mereka duduk di tepi pantai sambil menyaksikan matahari yang sebentar lagi akan bergeser dari peraduannya, Jeny bersender di lengan Andika.
"Jeny." Andika mengecup pucuk kepala Jeny.
"Aku mencintaimu dengan seluruh hidupku." Bisik Andika di telinga Jeny.
"Andika." Jeny mengangkat kepalanya kemudian menatap Andika.
"Aku mencintaimu di setiap nafasku."
Andika menarik tubuh Jeny dan memeluknya erat, mereka diam memandang lautan lepas.
"Jeny."
"Hemm."
"Berjanjilah padaku apapun yang terjadi kamu akan selalu berada di sampingku."
"Aku tidak akan pergi Andika."
Perasaan berbeda tiba-tiba muncul pada diri Andika, dia merasa seakan ini adalah hari terakhirnya memeluk Jeny, entahlah hari esok hanya tuhan yang tahu, yang pasti hari ini tak akan pernah terlupakan sampai kapanpun.
__ADS_1
"Kamu lihat itu Jeny." Andika menunjuk kearah matahari yang sudah berwarna orange.
"Hu'um."
"Aku seperti matahari yang hanya pergi untuk kembali."
Ikatan batin Jeny dan Andika sudah begitu kuat, Jeny menatap wajah Andika lekat-lekat, dia tidak bisa membohongi perasaannya saat ini yang tiba-tiba menjadi gelisah.
"Andika." Andika menoleh kearah Jeny.
"Aku mau menikah denganmu." Ucap Jeny sembari menitihkan air mata kebahagiaan.
Andika terkejut "Apa kamu.." Jeny memotong ucapan Andika "Aku mendengarnya waktu itu." Jawab Jeny.
Andika tersenyum lebar, dia mengecup kening Jeny dengan sangat lembut.
"Terimakasih sudah ada di sampingku Jeny." Jeny mengangguk, dia kemudian menangis dalam pelukan Andika.
"Ayo kita pulang." Andika menggenggam tangan Jeny, mereka berjalan kembali ke mobil yang terparkir tidak jauh di pinggir pantai.
- - -
"Andika." Presdir Ferry meremas ponsel ditangannya dengan keras, baru saja dia menerima pesan dari seseorang yang dia tugaskan untuk mengawasi Jeny.
"Iya tuan."
"Siapkan mobil."
"Baik tuan." Deni bergegas keluar dari ruangan Presdir Ferry.
Setelah kepergian Deni, Presdir Ferry membuka laci meja kerjanya, dia mengambil sesuatu yang dia letakkan di tempat khusus dalam laci itu.
Presdir Ferry menyeringai sembari menggenggam erat barang itu di tangannya.
"Kau sudah berani bermain-main denganku Adrian."
Presdir Ferry kemudian bangkit, dia berjalan keluar dari ruangannya.
- - -
Adrian baru saja sampai dirumahnya, dia melihat sekeliling tapi tidak mendapati mobil Andika disana.
Adrian langsung masuk ke dalam rumah dan mencari seseorang.
__ADS_1
"Bu Lilis." Ucap Adrian setelah mendapati wanita paruh baya itu sedang berada di dapur.
"Iya tuan."
"Kemana Andika?"
"Tuan Andika dan non Lita pergi tuan."
"Kemana?" Tanya Adrian dengan suara berat dan tatapan tajam
"Saya tidak tahu tuan." Bu Lilis menundukkan kepalanya, dia sedikit merasa takut dengan sikap Adrian yang terlihat sedang marah.
Bunyi klakson mobil terdengar, Adrian segera berlari kedepan untuk melihat siapa yang datang.
Terlihat Andika dan Jeny sedang bergandengan tangan setelah mereka turun dari mobil.
"Ckckck." Adrian berdecak "Kalian sangat bahagia sepertinya." Ucap Adrian sembari tersenyum sinis.
"Masuklah Jeny ada seseorang yang iri melihat kita." Bisik Andika dengan suara yang dapat di dengar oleh Adrian.
Jeny langsung masuk ke dalam rumah setelah memberi senyum perpisahan pada Andika, di dalam mobil Andika sudah berpesan akan langsung pulang setelah mereka sampai di rumah Adrian.
"Apa yang baru saja kamu lakukan Andika?" Tanya Adrian dengan sorot mata tidak suka.
"Jalan-jalan." Jawab Andika sembari tersenyum.
"Bodoh." Hardik Adrian.
"Kamu tahu apa yang baru saja kamu lakukan bisa membahayakan Jeny."
"Apanya yang bahaya?" Tanya Andika dengan mimik wajah angkuhnya.
"Apa kamu lupa dengan pesan Deni." Andika mengerutkan dahinya, mengingat pesan apa yang dimaksud Adrian.
"Tuan Ferry sedang mencari keberadaan nona Jeny."
"Apa yang harus kita takuti dari Ferry."
Mereka kemudian berdebat kecil, Adrian terlihat kesal dengan sikap Andika yang terlihat menggampangkan sesuatu, lebih tepatnya dia kesal dengan Andika karena terlihat bodoh ketika bersama Jeny.
Perdebatan mereka terhenti ketika melihat seseorang yang sudah sangat mereka kenal bahkan mereka benci sedang berdiri mematung dengan wajah marah dari jarak beberapa meter.
"Lihat akibat kebodohan mu." Hardik Adrian sambil tatapan tidak lepas dari Presdir Ferry yang sedang berdiri sambil menggenggam pistol di tangan kanannya.
__ADS_1