SANG PENGACARA

SANG PENGACARA
Persidangan


__ADS_3

Rumah Lisa


Andika tengah duduk di ruang tamu rumah Lisa, matanya fokus menatap laptop, jarinya seakan menari diatasnya, di sebelahnya terlihat tumpukan dokumen maupun buku buku, Andika tengah sibuk memeprsiapkan segala keperluan terkait dengan sidang pertama dari kasus penculikan dan pembunuhan dokter Hendra.


"Lebih baik kamu beristirahat sejenak Andika" tegur dokter Rani yang jengah melihat Andika, sudah hampir 3 jam dia duduk dan sibuk dengan laptopnya.


"Apa kamu tidak mendengarku" dengan sedikit kesal dokter Rani berbicara melihat Andika yang bahkan tidak menoleh ke arah dirinya, Lisa yang baru datang langsung duduk di sebelah dokter Rani, dia kemudian berbisik agar dokter Rani tidak mengganggu Andika saat ini, Lisa sangat mengenal Andika, bahkan Andika pernah duduk seharian di depan laptop ketika menghadapi presdir Romy dulu.


Dokter Rani telah tinggal di rumah Lisa, Andika menyuruhnya untuk berhenti dari pekerjaanya, dia tidak mau jika terjadi sesuatu pada dokter Rani yang akan menambah bebannya saat ini.


"Lisa"


Lisa langsung memberikan sesuatu kepada Andika padahal Andika hanya memanggil namanya, dokter Rani sedikit kagum melihat hal itu, bagaimana Lisa bisa tahu apa yang di butuhkan oleh Andika.


"Akhirnya selesai juga" ucap dokter Rani gembira setelah Andika menutup laptopnya.


"Apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Andika yang seakan sudah tahu dokter Rani ingin berbicara sesuatu padanya.


"Boleh aku ikut besok?" Andika menggeleng dengan cepat mendengar pemintaan dokter Rani.


"Kenapa?"


"Apa kau sudah lupa?" ucapan yang semakin membuat dokter Rani bingung.

__ADS_1


"Lupa apa?" dengan polosnya dokter Rani bertanya, membuat Andika mendesah.


"Anda kemarin tidak menuruti perintah tuan Andika saat kita menjenguk tuan Adrian" Lisa menyadarkan dokter Rani atas kesalahannya.


"Maaf" ucap dokter Rani penuh penyesalan "Entahlah aku tidak bisa menahan diriku saat bertemu Adrian waktu itu".


"Lalu kalau kau ikut, aku tidak yakin kau akan bisa menahan dirimu untuk tidak melakukan kebodohan itu?" hardik Andika.


"Tuan" Lisa memperingatkan Andika saat nada suara Andika sudah mulai meninggi, sebagai sesama wanita Lisa dapat merasakan apa yang dokter Rani kini rasakan.


Andika tetap pada pendiriannya, dia tidak mengizinkan dokter Rani datang ke persidangan Adrian.


"Aku yang akan menjamin dokter Rani tidak akan melakukan kesalahan lagi" dengan mantap Lisa berbicara sembari menatap tajam wajah Andika.


Dokter Rani tersenyum dan mengangguk dengan yakin.


 


Persidangan


Ruang sidang terlihat sangat panas, dimana Andika terlihat beradu argumen tajam dengan jaksa penuntut, semua bukti yang di berikan oleh jaksa berusaha Andika sangkal dengan argumen dan buktinya.


"Penasihat hukum dan jaksa penuntut harap tenang, ini pengadilan" Hakim melerai mereka.

__ADS_1


"Maaf yang mulia" Andika dan jaksa berujar hampir bersamaan.


Situasi persidangan sangat menyudutkan Adrian, dimana jaksa mengeluarkan bukti bahwa dokter Hendra pernah melakukan tindakan sehingga Adrian tidak bisa sembuh dalam waktu yang telah di perkirakan, hal tersebut sangat sulit untuk Andika bantah, apalagi jaksa berujar jika Andika juga pernah melakukan ancaman kepada dokter Hendra walaupun hal tersebut tidak dapat di buktikan secara langsung.


"Tuduhan dari jaksa tidak beralasan yang mulia" Andika berbicara dengan lantang "Bahkan saudara Adrian tidak mengenal dokter Hendra secara pribadi" sanggah Andika "Sehingga hal tersebut tidak bisa di jadikan sebagai motif untuk menyudutkan saudara Adrian, karena kondisi saudara Adrian juga sudah pulih dan tidak ada bukti yang menunjukkan jika Adrian bertemu dengan dokter Hendra sebelum kejadian itu" argumen Andika terlihat sangat masuk akal, tapi semua terbantahkan ketika jaksa memperlihatkan bukti yang terdapat percakapan antara Adrian dan Dion.


"Persidangan di tunda minggu depan"


Tok... tok... tok


Ucap Hakim mengakhiri perdebatan siang itu antara Andika dan jaksa penuntut, dari kursi penonton terlihat dokter Rani menitihkan air matanya melihat suaminya duduk di kursi pesakitan, ingin rasanya dia berlari dan memeluk Adrian jika bukan karena ancaman Andika.


Andika berjalan menghampiri jaksa penuntut, dia hendak meminta waktu sebentar agar Adrian bisa bersua dengan sang istri, permintaan yang di kabulkan oleh jaksa.


"5 menit di mobil tahanan" ucap jaksa.


"Terimakasih" Andika menjabat tangan jaksa.


Andika berjalan menghampiri dokter Rani yang nampak bersusah payah menahan air matanya agar tidak keluar.


"Kau bisa bertemu Adrian" senyum seketika mengembang di wajah dokter Rani "Hanya 5 menit di mobil tahanan, jangan melakukan tindakan bodoh" ucap Andika yang dibalas anggukan kepala oleh dokter Rani.


** Jangan lupa mampir ke novel terbaru Author ya AKU BUKAN PILIHAN

__ADS_1


__ADS_2