SANG PENGACARA

SANG PENGACARA
AKU MENCINTAIMU LITA


__ADS_3

Andika terus menatap Jeny dengan tatapan penuh kasih sayang, Andika seakan sedang mencurahkan rasa rindu yang selama ini dia pendam.


"Apa kamu akan menikah Jeny?" Jeny menggeleng di sela-sela isak tangisnya.


"Jangan menangis, bagaimana pun kamu sedang bersama Teddy." Andika berusaha menghentikan tangis Jeny, sungguh dia tidak bisa melihat Jeny menangis.


"Apa kamu akan menikah Lita?" Jeny langsung menatap Andika, dia terkejut Andika langsung memahami situasi ini, dia memahami bagaimana dia harus bertanya.


"Ayah menjodohkan ku." Suara Jeny terdengar sangat lirih.


"Ckckck." Andika berdecak "Pernikahan bisnis." Gumam Andika.


"Aku tidak menginginkan perjodohan ini sebagai Jeny, tapi aku tidak bisa menolak sebagai Lita." Jeny sudah bisa mengehentikan tangisnya, dia kini sudah bisa menguasai diri kembali.


"Jadilah Jeny sekarang, aku sedang menjadi Andika laki-laki biasa." Jeny tersenyum mendengar ucapan Andika.


Mereka kemudian berbincang dan mengobrol beberapa hal, mereka sedang sama-sama melepas kerinduan, pasangan yang sedang dimabuk kasmaran merasa dunia hanya ada mereka berdua.


Andika dan Jeny bahkan seakan lupa ada Teddy yang berdiri tak jauh dari mereka, Teddy cukup lama berbincang dengan seseorang di ujung telpon sana.

__ADS_1


"Kamu sekarang tinggal dimana Jeny?"


"Aku kembali kerumah ayah."


"Kenapa kamu tidak pernah menjawab panggilan ku." Terlihat raut kecewa di wajah Andika.


"Maafkan aku Andika." Kata Jeny dengan wajah bersalah.


"Sudahlah, jangan terlalu banyak minta maaf." Andika tersenyum.


"Jeny kan memang seperti itu." Jeny memasang wajah cemberut yang membuat Andika tertawa.


"Aku sudah sangat bahagia bisa melihat tawamu Andika."


Andika dan Jeny tertawa dan terlihat sangat bahagia, mereka seakan sangat menikmati waktu kebersamaan mereka.


Andika melirik kearah Teddy yang terlihat sudah selesai menelpon, dia memberi tahu Jeny untuk bersikap seperti semula karena Teddy sedang berjalan menuju meja mereka.


"Jadilah Lita sampai aku datang untuk meminang mu Jeny." Jeny mengangguk kemudian tersenyum, dia menatap Andika dengan penuh keyakinan.

__ADS_1


"Aku akan menunggu sampai kamu menjemput ku Andika."


"Maaf membuat anda menunggu tuan Andika." Teddy langsung duduk kembali.


Mereka kemudian berbincang banyak hal, terutama masalah Wibowo group yang saat ini sedang ditangani oleh Andika.


Andika bukanlah orang sembarangan tentu saja Teddy sangat hormat pada Andika, tidak mudah dulu saat dia meminta Andika untuk menjadi pengacara perusahaannya, dia membutuhkan waktu lama untuk membuat Andika mau membantu masalah perusahaannya.


"Saya dengar anda sedang memiliki masalah dengan Aras group tuan Andika." Andika langsung menatap tajam Teddy sedangkan Teddy yang melihat reaksi Andika yang terlihat tidak senang langsung meminta maaf.


"Maafkan saya tuan Andika telah mencampuri urusan anda." Teddy berkata sambil menunduk, Jeny yang melihat hal itu langsung menatap Andika dan Teddy bergantian.


"Bagaimana bisa seorang Teddy yang selalu terlihat angkuh bahkan sampai menunduk di depan Andika." Gumam Jeny, Jeny tidak bisa membayangkan seberapa bahayanya Andika sehingga banyak pemilik perusahaan besar takut dengan dirinya.


"Saya harus pergi dulu, maaf telah mengganggu makan siang kalian."


"Tidak masalah tuan Andika, saya senang berbincang dengan anda."


"Sampai jumpa lagi tuan Andika." Teddy bersalaman dengan Andika, Andika kemudian menyalami Jeny, dia menatap Jeny sesaat, Jeny mengangguk seakan mengerti arti tatapan dari Andika.

__ADS_1


"Aku mencintaimu Lita." Ucap Andika tanpa mengeluarkan suara.


__ADS_2