SANG PENGACARA

SANG PENGACARA
MATA- MATA MAHESA GROUP


__ADS_3

Roy pergi meninggalkan kantor Adrian karena mendapatkan perintah dari Andika, dia kemudian melajukan mobilnya dengan perlahan menuju rumah Deni, Andika meminta Roy untuk menjemput Deni dan mengantarnya ke restauran gold.


Tok tok tok


Deni membuka pintu, dia langsung melotot dan mundur beberapa langkah melihat Roy berdiri dengan ekspresi wajah dingin di depan pintu rumahnya.


"Silahkan ikut saya Deni." Suara Roy langsung membuat Deni ketakutan.


"A.. Ada apa Roy?"


"Tuan Andika ingin menemui anda?" Seringai di wajah Roy semakin membuat Deni takut, wajahnya memucat seketika.


"Kenapa tuan Andika ingin bertemu ku Roy?" Tangan Deni langsung gemetar begitu mendengar nama Andika.


"Entahlah." Roy menarik ujung bibirnya sambil menatap tajam Deni.


"Bukankah anda tahu tuan tidak suka menunggu." Suara Roy menyadarkan Deni dari lamunannya.


"Baiklah." Deni melangkah menuju mobil yang terparkir di halaman rumahnya, Roy mengikutinya dari belakang sambil memasang sikap waspada.


Mobil melaju menjauhi rumah Deni, di dalam mobil Deni terlihat sangat gelisah, dia meremas kedua tangannya untuk menyembunyikan rasa gelisahannya dari Roy.


"Anda tidak perlu takut pada tuan Andika, tuan tidak akan menyakiti anda."


"Benarkah Roy?" Deni menatap Roy dengan tatapan lega mendengar penuturan Roy


"Tentu saja."


"Ah syukurlah, tuan memang baik hati." Gumam Deni sambil tersenyum tipis.

__ADS_1


"Tuan tidak menyakiti anda dengan tangannya sendiri, tuan akan memerintahkan saya untuk melakukan hal itu." Deni menatap Roy tajam sambil mengutuki nya dalam hati.


"Terkutuk kau Roy."


Roy tersenyum sinis melihat wajah Deni yang kembali memucat, dia senang bisa mengerjai Deni dan menikmati rasa ketakutan yang terlihat jelas di wajah Deni.


Mobil berhenti di depan restauran gold, Deni tidak bisa menyembunyikan rasa gelisahannya ketika berjalan mengikuti Roy.


Andika terlihat duduk di salah satu kursi yang berada di ujung restauran, wajah Andika yang terlihat tidak bersahabat membuat Deni semakin ketakutan.


"Duduk." Roy langsung menarik kursi di depan Andika untuk Deni duduk, dia kemudian berjalan memutari meja dan berdiri di belakang Andika.


"Ma maaf tuan." Deni menunduk sambil meremas kedua tangannya di bawah meja.


"Angkat wajahmu." Deni langsung mendongakkan kepalanya, tatapan Andika langsung membuat Deni membuang wajahnya.


"Ma.. ma... maafkan saya tuan." Suara Deni bergetar, mungkin lebih baik mati saat ini dari pada harus berhadapan dengan Andika.


"Jelaskan semuanya, jangan bertele-tele jika kau masih menyayangi nyawamu." Suara yang terdengar biasa saja tapi sangat menyiksa telinga Deni.


Deni kemudian menceritakan semuanya pada anda, mulai dari awal dia mendapatkan tawaran dari Mahesa group dengan bayaran yang menjanjikan, karena tergiur dengan uang yang Mahesa group tawarkan Deni pun menerima pekerjaan yang sangat mudah untuknya, dia hanya perlu melaporkan kegiatan Andika sehari-hari.


"Siapa yang menemui untuk pertama kali untuk menawarkan pekerjaan itu Deni?" Mata Deni mengarah pada Roy yang sedang berdiri di belakang Andika.


"Roy."


"Iya tuan."


"Kenapa kau tidak bicara dari awal."

__ADS_1


"Saya merasa jika kehadiran saya di sebelah tuan cukup untuk membuat Deni menutup mulutnya."


"Kenapa kau masih berhubungan dengan mereka setelah melihat Roy menjadi asisten ku Deni?"


"Mereka mengancam saya tuan."


Roy sudah memperingatkan Deni untuk tidak lagi memberi informasi apapun pada Mahesa group, tapi beberapa orang datang mengancamnya akan melaporkannya pada Andika, Deni akhirnya menerima tawaran dari Mahesa group, dia harus menceritakan hal yang selama ini belum pernah dia laporkan, Mahesa group akan melepaskan Deni setelah itu.


Deni kemudian menceritakan perihal Andika yang menyukai Jeny, Deni memang belum mengetahui Jeny merupakan putri dari Mahesa oleh karena itu dia tidak berpikir hal itu akan merugikan Andika, karena dia pikir sama saja dengan laporan biasa yang dia berikan pada Mahesa group setiap harinya.


"Menghilang lah dari hidupku untuk selamanya Deni jika kau masih menyayangi nyawamu."


"Maafkan saya tuan sungguh maafkan saya." Deni langsung bangkit dari duduknya dia kemudian bersimpuh di samping Andika.


Melihat hal itu memunculkan ide di kepala Roy, dia kemudian membisikkan sesuatu di telinga Andika.


"Apa kau yakin Roy?"


"Tentu saja tuan."


"Deni." Deni mengangkat kepalanya "Aku akan memaafkan mu dengan satu syarat." Mata Deni berbinar, dia merasa sudah memiliki harapan baru.


"Apapun itu tuan."


"Kau akan menjadi mata-mata ku untuk Mahesa group." Deni langsung menelan salivanya mendengar syarat yang diajukan oleh Andika, dia diam sejenak untuk berpikir.


"Bagaimana?"


"Baiklah tuan." Andika menarik ujung bibirnya mendengar jawaban dari Deni, Deni menerima syarat dari Andika bukan tanpa alasan, Andika adalah orang yang paling berjasa dalam hidup Deni, dia merasa bodoh telah dibutakan oleh uang untuk menghianati orang sebaik Andika, dia rela menyerahkan nyawanya untuk menebus kesalahan pada Andika.

__ADS_1


__ADS_2