SANG PENGACARA

SANG PENGACARA
SURAT WASIAT


__ADS_3

Liang kubur baru saja di tutup dengan tanah, Teddy masih terus menangisi kepergian sang ayah, dia mungkin tidak menyangka ayahnya akan pergi dengan cara seperti ini.


Andika dan Adrian berdiri dari jarak yang cukup jauh, mereka malas berada dekat dengan pusara Presdir Wibowo, apalagi Andika yang terus menerus diajak berbincang oleh petinggi Wibowo group, hal yang dilakukan untuk menjilat Andika dan mendapatkan simpatinya, mereka tentu saja memiliki tujuan melakukan hal itu karena Andika orang yang memegang kunci penting kelangsungan Wibowo group kedepannya.


"Kita harus mewaspadai bocah itu." Adrian menunjuk Teddy.


"Kenapa?" Tanya Andika.


"Kamu tahu intuisi ku tidak pernah salah."


"Ada apa dengan intuisi mu kali ini?" Tanya Andika dengan tatapan mengejek, dia memang selalu merasa kesal jika Adrian membahas intuisinya yang memang entah kenapa tidak pernah meleset.


"Aku rasa dia akan melakukan hal gila, kita harus bisa membungkam mulutnya atau melenyapkan nya secepatnya."


Andika tersenyum dengan tatapan merendahkan kearah Adrian.


"Kenapa kamu melihatku seperti itu?" Ucap Adrian kesal.


"Tanpa intuisi mu aku juga sudah tahu hal itu, makanya aku membuat rencana konferensi pers besok." Jawab Andika yang dibalas tatapan kesal oleh Adrian.


Satu persatu orang meninggalkan pemakaman setelah acara selesai, Andika terpaksa berbasa-basi kepada beberapa orang yang kembali menyapanya.


Setelah merasa cukup menikmati kesedihan Teddy, Andika dan Adrian akhirnya pergi, Andika langsung menuju kantornya dia ingin memastikan tugas yang dia berikan pada Lisa sudah selesai.


Andika meminta Lisa untuk membuat surat wasiat Presdir Wibowo, dia ingin terlihat semua berjalan sesuai dengan rencananya.


- - -


Kantor Andika Law Firm


Adrian langsung pergi tanpa masuk dulu kedalam kantor Andika, dia beralasan ada pertemuan dengan client yang tidak bisa di tunda.


"Lisa." Lisa yang sedang termenung terkejut kedatangan Andika yang sudah berdiri di depannya.

__ADS_1


"I.. iya tuan." Jawab Lisa tergagap.


"Bagaimana pekerjaan mu?" Tanya Andika.


"Sudah selesai tuan." Lisa memberikan beberapa lembar kertas yang berisi surat wasiat Presdir Wibowo, Andika kemudian membaca berkas itu dengan serius.


"Kerja bagus Lisa." Ucap Andika dengan senyum lebar di wajahnya. Andika langsung pergi kedalam ruangannya setelah sedikit berbasa-basi dengan Lisa.


- - -


Ruang aula gedung pusat Wibowo group.


Kesibukan terlihat sedari pagi, banyak kamera dan wartawan yang ada dalam ruangan itu, tidak lupa para petinggi Wibowo group hadir hari ini.


Andika sudah memberi tahu akan mengadakan konferensi pers terkait dengan surat wasiat Presdir Wibowo, dia beralasan ini adalah perintah Presdir Wibowo untuk membacakan surat wasiat itu di depan umum.


Andika memasuki ruangan konferensi pers, beberapa orang langsung berdiri untuk menyambut kedatangan Andika, mereka kemudian bersalaman, Adrian langsung menuju kursi tamu yang sudah di sediakan sedangkan Andika langsung naik keatas panggung yang sudah ada beberapa orang disana.


Andika langsung menaiki podium setelah di persilahkan oleh pembuka acara yang merupakan sekretaris dari Presdir Wibowo.


"Terimakasih atas kehadiran semuanya hari ini, salam hormat saya kepada para petinggi Wibowo group."


"Saya menyampaikan rasa duka cita sedalam-dalamnya pada tuan Teddy atas meninggalnya tuan Wibowo." Andika mulai berbicara membuka acara konferensi pers.


"Hari ini saya berdiri disini untuk menyampaikan surat wasiat dari Wibowo group."


Setelah beberapa lama berbasa-basi membuka acara, Andika langsung membuka dokumen yang dia bawa.


"Ada tiga poin yang tuan Wibowo amanat kan dalam surat wasiat ini."


"Pertama Wibowo group kedepannya akan dipimpin oleh putra semata wayang Presdir Wibowo yaitu Teddy Wibowo."


"Kedua Wibowo group akan memutuskan segala bentuk kerjasama dengan Mahesa group."

__ADS_1


"Dan yang terakhir Apabila tuan Teddy Wibowo melanggar surat wasiat ini maka posisi Presdir dari Wibowo group selanjutnya akan di serahkan kepada orang kepercayaan dari Presdir Wibowo."


Beberapa wartawan langsung mengangkat tangannya setelah Andika selesai membacakan surat wasiat itu.


"Silahkan." Andika menunjuk salah satu orang yang mengangkat tangan.


"Siapakah orang kepercayaan yang Presdir Wibowo maksud dalam surat wasiat itu?" Tanya wartawan, semua orang langsung menajamkan pandangan mereka kearah Andika.


"Amanat dari Presdir Wibowo, saya akan kembali mengadakan konferensi pers ketika tuan Teddy melanggar wasiat dari beliau." Wajah kecewa langsung terlihat setelah Andika selesai menjawab.


Andika langsung turun dari podium, dia tidak lagi memindahkan teriakan dari para wartawan yang masih ingin bertanya banyak hal.


Andika berjalan mendekati Teddy yang sedang tertunduk memegang dahinya.


"Nikmati saja hari anda selanjutnya tuan, jangan melakukan hal-hal bodoh yang akan membuat anda rugi, berterimakasih lah untuk sedikit pengampunan yang saya berikan hari ini." Bisik Andika di telinga Teddy.


Teddy mengangkat wajahnya, dia langsung menatap tajam Andika sedangkan Andika justru merendahkan Teddy lewat tatapannya.


"Lihat saja apa yang akan aku lakukan Andika." ucap Teddy geram.


"Jangan berbuat macam-macam, karena anda tahu mulai sekarang semua rencana anda akan gagal walau hanya ada di pikiran anda." Teddy mengepalkan tangannya, ingin rasanya dia memukul wajah Andika saat ini.


Andika meninggalkan Teddy dengan senyum penuh kemenangan, dia kemudian menghampiri Adrian dan berjalan keluar aula beriringan.


"Apa kamu yakin ini cukup untuk membuat anak manis itu diam?" bisik Adrian.


"Anak itu tidak akan bisa berbuat apa-apa tanpa ayahnya." jawab Andika tanpa melihat kearah Adrian.


"Aku akan memerintahkan Rendy untuk selalu mengawasi Teddy." ucap Adrian.


"Terserah kamu saja."


Andika bisa saja langsung membuat seorang Teddy jatuh saat ini, tapi dia ingin melihat Teddy jatuh dengan perlahan karena para petinggi Mahesa group yang menyerangnya.

__ADS_1


__ADS_2