
Suasana hening hanya terdengar hembusan nafas berat dari Andika, tatapannya masih sangat tajam tapi perlahan emosinya sudah mulai turun.
"Lepaskan" ucap Andika pelan, Rendy perlahan mengendurkan cengkramannya dari tangan Andika, setelah dia yakin Andika sudah bisa mengontrol diri akhirnya Rendy melepaskan cengkramannya.
"Mengapa kau melakukan ini Rani". Nada suara andika sudah berubah menjadi dingin yang artinya dia sudah berhasil mengontrol emosinya.
"Maaf". Dokter Rani menangis, dokter Hendra mengelus lembut punggung sang kakak, berusaha menenangkannya.
"Maaf?" Andika mengangkat kedua alisnya menunggu penjelasan lebih lengkap dari dokter Rani
Setelah sedikit tenang dokter Rani lalu menjelaskan semuanya, awalnya dia memang tidak mengetahui perihal yang dilakukan oleh dokter Hendra, setelah 6 bulan berjalan tidak ada perubahan berarti dari Adrian dia pun merasa curiga, lalu dia menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi, dia pun menemukan penyebabnya yaitu dokter Hendra.
"Lalu kau hanya diam saja dan mendukung apa yang dilakukan dia". Andika menunjuk dokter Hendra.
Dokter Rani menggelengkan kepalanya "Tidak". dia menarik nafas dalam sebelum melanjutkan ucapannya "Awalnya aku sepertimu, tidak terima dengan apa yang dilakukan Hendra". Dokter Rani melirik Dokter Hendra.
Setelah tahu penyebab Adrian tidak kunjung sembuh dokter Rani sangat marah kepada dokter Hendra, tapi setelah mendengar semua penjelasan dokter Hendra akhirnya dokter Rani pun mau tidak mau harus mengikuti saran dokter Hendra karena semua demi kebaikan mereka termasuk lelaki yang sangat di cintai oleh dokter Rani.
"Cihh". Andikan memandang jijik terhadap dokter Rani setelah mendengar penjelasannya.
"Kenapa kalian sebodoh itu". ucap Andika "terutama kau". lanjut Andika sembari mengarahkan jari telunjuknya tepat ke muka dokter Rani.
"Aku hanya tidak ingin kalian juga terlibat, aku menyayangi kalian sebagai keluarga". jelas dokter Rani.
"ckckckck". Andika berdecak "apa kau sudah di beritahu Rami sebelumnya Rendy?" tanya Andika tanpa melibat Rendy "Pantas kau hanya diam seperti orang tak berguna saat ini". hardik Andika setelah tidak mendapat respon dari Rendy yang berarti Rendy membenarkan ucapan Andika.
"Apa kau menikah dengan Adrian karena rasa bersalahmu atau ingin bersembunyi di balik kesalahanmu?" tanya Andika dengan suara yang mengerikan
__ADS_1
"Aku benar benar mencintainya". jawab yakin dokter Rani "bahkan sebelum tahu masalah ini". imbuhnya.
Andika diam, dari raut wajahnya dia nampak sedang berfikir, di sisi lain dokter Hendra sedang menguatkan dokter Rani, mereka tahu saat ini mereka tidak mempunyai daya apapun untuk menolak keputusan dari Andika, apapun itu.
"Baiklah". Suara Andika sedikit mengagetkan kedua dokter yang sedang tenggelam ke dalam pikirannya masing masing.
"Kau". Tunjuk Andika pada dokter Rani "Kuampuni karena istri Adrian, "dan kau" kini Andika menunjuk dokter Hendra "Apa aku harus mengampuni mu?" ucap Andika di barengi sengan seringai yang muncul.
"Bukan kah tuan sudah tau alasan di balik saya melakukan itu". ucap dokter Hendra dengan tatapan memohon
"Hanya 1 alasan yang bisa ku terima". Andika mengangkat jari telunjuknya, "Karena kau bodoh". lajutnya.
"Andika terimakasih kau bisa mengerti". dokter Rani berusaha meredam Andika agar tidak melanjutkan vonisnya untuk dokter Hendra.
"Hahahahaha". Andika tertawa keras "Jangan senang dulu aku mengampuni kalian bukan berarti kalian akan hidup tenang setelah masalah yang kalian buat".
Glek... Dokter Rani dan dokter Hendra sama sama menelan salivanya.
"Kau pergi dari kehidupan Adrian selamanya".
dokter Rani langsung menghambur duduk di bawah Andika setelah mendengar vonis dari Andika untuk dirinya.
"Andika aku mohon jangan pisahkan kami, aku benar benar mencintai Adrian, aku mohon Andika". tangisan pilu seketika terdengar menggema di ruangan itu.
Andika mengibaskan tangannya berusaha menyingkirkan tangan dokter Rani yang menyentuh kakinya, "Aku mohon tuan, hukum aku saja, jangan kak Rani"' dokter Hendra ikut bersimpuh di sebelah dokter Rani.
"Aku tidak sedang bernegosiasi dengan kalian". Andika berdiri "Rendy". Panggil Andika, dengan sigap Rendy langsung mengangkat dokter Hendra dan dokter Rani yang sedang bersimpuh.
__ADS_1
"Singkirkan mereka jika tidak patuh" ucap Andika sembari menyilangkan kedua tangannya.
Dokter Rani menatap Rendy yang berusaha membantunya berdiri "Aku mohon Rendy beri aku kesempatan untuk memohon kepada Andika" Rendy pun mengurungkan niatnya.
"Kau sudah pandai membangkang Rendy". Hardik Andika, namun Rendy tetap diam tidak bergerak sama sekali.
"Andika aku mohon". dokter Rani berusaha menggapai kaki Andika lagi.
"Aku bahkan ingin membunuh kalian saat ini". tatapan Andika membuat dokter Rani mengurungkan niatnya.
"Setidaknya biarkan aku bersama Adrian untuk menebus semua kebodohanku Andika". dokter Rani mengutuki dirinya sendiri saat ini.
Andika sudah tidak tahan mendengar rintihan dari dokter Rani, sesungguhnya Andika bisa melihat ketulusan dari dokter Rani kepada Adrian.
"Satu kesempatan". senyum seketika mengembang di bibir dokter Rani saat mendengar kata kesempatan keluar dari mulut Andika "Temui Adrian saat dia sembuh, saat ini menghilanglah dari kehidupan Adrian seakan kau tidak pernah ada di dunia". ucap Andika yang memudarkan senyum dari dokter Rani.
"Baiklah aku akan memastikan itu tuan". ucap dokter Hendra yang di balas tatapan tajam.
"Tapi". Andika langsung menatap tajam mendengar dokter Rani akan berbicara. "Untuk mu jangan pernah sampai aku melihatmu lagi atau aku akan membuat kau menyesal pernah terlahir di dunia". tunjuk Andika pada dokter Hendra.
"Pergilah sebelum aku merubah keputusannku, aku sudah terlalu baik pada kalian hari ini".
Rendy langsung membantu dokter Rani berdiri, dia tahu betul saat ini Andika sangat berbaik hati dengan mengampuni kedua orang yang telah membuat kesalahan besar.
"Tolong dokter mengerti saat ini, sungguh tuan Andika telah sangat berbaik hati kepada kalian". kata Rendy sembari menuntun dokter Rani untuk keluar dari ruangan Andika.
"Rendy". Rendy mengangguk seakan sudah mengerti apa yang akan di ucapkan oleh dokter Rani.
__ADS_1
"Saat ini lebih baik dokter menuruti perintah tuan Andika, tenang saja aku yang akan memastika tuan Adrian sembuh dan aku akan menjemput dokter saat itu untuk bertemu tuan Adrian".
Dengan langkah yang di seret dokter Rani meninggalkan kantor Andika, dokter Hendra memapah dokter Rani yang sangat lemah saat itu.