SANG PENGACARA

SANG PENGACARA
KEKASIH?


__ADS_3

Jeny diam mematung setelah Andika menyebutkan nama lengkapnya, mungkin Jeny akan pingsan jika saat ini Andika memasang wajah dinginnya, untung saja Andika datang dengan raut wajah yang memang terlihat sangat bersahabat.


Jeny belum bisa menguasai dirinya, pikirannya sangat berkecamuk, dia tidak menyangka jika Andika bisa tahu nama lengkapnya yang berarti Andika tahu latar belakang Jeny.


Jeny tidak habis pikir bagaimana Andika bisa tahu tentang dirinya, Jeny sudah menutup serapat mungkin identitas aslinya, bahkan orang sekelas Presdir Romy saja tidak bisa mengetahui siapa Jeny yang asli.


Jeny langsung mengutuki dirinya sendiri, bagaimana dia bisa lupa siapa Andika yang sebenarnya, Andika adalah orang yang sangat cerdik dan licik, dia orang yang sangat berbahaya, bahkan orang sekelas Presdir Romy saja tidak mampu berbuat banyak dalam menghadapi Andika, apalagi ayahnya Ferry Mahesa yang notabenenya masih berada di bawah Presdir Romy dalam segala hal.


"Aku datang sebagai laki-laki biasa, dan aku mendatangi Jeny asisten Presdir Romy, bukanlah Jenyca putri dari Ferry Mahesa." Andika menatap Jeny dengan tatapan penuh kasih sayang, dia benar-benar menjadi Andika sang laki-laki biasa.


Jeny tetap diam, mulutnya seakan terkunci dengan kalimat Andika, dia tidak mampu walaupun hanya sekedar mengeluarkan suara nafasnya.


"Aku tidak akan melihatmu sebagai putri dari Ferry Mahesa."


"Tapi aku mencintai dan menyayangi mu Jeny, baik sebagai asisten Presdir Romy ataupun putri Ferry Mahesa."


Andika kembali terdiam, dia menunggu Jeny yang sedari tadi hanya diam, Andika dapat melihat raut wajah terkejut dari Jeny.


"Andika." Jeny sudah bisa menguasai dirinya, dia mulai berbicara pada Andika.


"Kenapa Jeny?"

__ADS_1


"Bisakah kita berbicara sebagai Andika laki-laki biasa dan Jeny sebagai asisten Presdir Romy." Jeny menatap Andika dengan tatapan sayu.


"Tentu saja Jeny."


"Bolehkan aku bertanya satu hal Andika."


"Aku sudah tahu apa yang akan kamu tanyakan Jeny, jadi dengarkan saja apa yang akan aku ceritakan."


Andika kemudian bercerita mulai dari rasa tertariknya pada Jeny saat awal pertemuan mereka yang lambat laun berubah menjadi rasa cinta, Andika kemudian menceritakan dari mana dia tahu Jeny yang memata-matai dirinya.


"Andika." Jeny tidak jadi melanjutkan ucapannya setelah melihat Andika menempelkan jarinya di depan bibir.


Andika kemudian melanjutkan ceritanya, dia bercerita secara lengkap tentang asal usul Jeny dan bagaimana Andika bisa mengetahui itu semua, Andika tidak menyebutkan nama Adrian, Andika tentu tahu Adrian saat ini berdiri di sebelah Mahesa group hanya untuk satu kepentingan.


"Andika." Suara Jeny mulai terdengar parau.


"Iya Jeny."


"Apa kamu benar-benar mencintai ku." Andika menatap Jeny kemudian dia mengangguk.


"Apa kamu mau mendengar balasan dari itu."

__ADS_1


"Tentu saja Jeny."


"Baiklah." Jeny kembali menarik nafas dalam.


"Kamu mau mendengar perasaan Jeny sebagai asisten Presdir Romy atau sebagai putri dari Presdir Mahesa group." Andika terdiam sejenak.


"Aku ingin mendengar perasaan dari keduanya." Jeny terlihat tersenyum mendengar pertanyaan Andika.


"Aku juga mencintaimu Andika." Andika langsung tersenyum lebar.


"Tapi aku tidak bisa menerima cintamu sebagai seorang putri dari Presdir Mahesa group." Jeny menatap aneh Andika yang tidak ada perubahan ekspresi diwajahnya, Andika tetap tersenyum lebar.


"Aku sudah tahu jawaban yang akan kamu berikan Jeny." Ucap Andika yang membuat Jeny langsung melotot.


"Sambutlah aku ketika aku datang sebagai laki-laki biasa, setelah ini aku akan terus berusaha mendapatkan cinta dari Jenyca Arnelita Mahesa."


Andika kemudian berdiri, dia berjalan menghampiri Jeny yang duduk di depannya.


"Aku pulang dulu Jeny."


"Kita akan bertemu sebentar lagi, pertemuan yang tidak aku harapkan karena kamu akan menjadi Jeny dari putri Presdir Mahesa group saat itu." Andika mengusap lembut kepala Jeny, tanpa sadar Jeny menitihkan air matanya, Andika kemudian melangkah keluar tanpa menunggu jawaban dari Jeny.

__ADS_1


Jeny menatap Andika yang sedang berjalan keluar, hanya dengan melihat punggung Andika Jeny seakan tahu bahwa Andika telah berubah menjadi Andika sang pengacara bukan lagi Andika laki-laki biasa.


"Tetaplah mencintaiku Andika." Kata Jeny dalam hatinya setelah Andika menutup pintu.


__ADS_2