SANG PENGACARA

SANG PENGACARA
PUTUSAN


__ADS_3

Andika duduk dengan mengenakan toga kebesarannya, di seberang Andika terlihat Adrian yang tengah tersenyum lebar menanti hakim yang sebentar lagi akan membacakan putusan sidang, Presdir Romy terlihat menunduk, dia seakan sudah mengakui kekalahannya, kepergian Chandra membuat Presdir Romy lebih terpuruk dari pada kehilangan perusahaan yang sudah lama dia bangun.


Di kursi pengunjung sidang terlihat Presdir Ferry duduk bersama Jeny dengan tatapan tajam pada Adrian, sedangkan Presdir Wibowo hanya diam bersama Teddy di sebelahnya.


Rendy dan Roy berdiri di ujung ruangan dekat dengan pintu masuk, mereka menajamkan pandangan untuk memperhatikan gerak gerik dari Presdir Ferry.


Hakim memasuki ruang persidangan, serentak semua orang berdiri, setelah membuka sidang hakim langsung membacakan isi putusan.


"*Putusan."


"Mengabulkan seluruh gugatan penggugat."


"Mengadili menolak seluruh keberatan tergugat dan menyatakan tergugat mengganti seluruh kerugian yang ditimbulkan sebesar 50 T*."


Tok tok tok


Suara tepuk tangan langsung terdengar riuh setelah hakim selesai membacakan putusan, Adrian dan Andika tersenyum lebar.


"Apakah pihak tergugat akan mengajukan banding?" Hakim bertanya pada Presdir Romy.


"Pengacara saya yang akan menjawab yang mulia." Dengan suara lirih dan wajah putus asa Presdir Romy menjawab pertanyaan hakim.

__ADS_1


"Kami tidak akan mengajukan banding, terimakasih." Jawab Adrian dengan lugas.


Presdir Romy langsung keluar ruang persidangan setelah hakim meninggalkan ruang persidangan, Adrian dan Andika berjalan beriringan keluar dari ruang persidangan.


Prok prok prok


Presdir Ferry bertepuk tangan ketika Adrian dan Andika berjalan melewatinya, Adrian dan Andika langsung menoleh ke arah Presdir Ferry.


"Selamat atas kemenangan kalian para pengkhianat."


"Hahahaha." Adrian terbahak "Ucapkan kata-kata itu nanti tuan, ketika kami menang dalam gugatan dengan Mahesa group."


"Brengsek, apa ini caramu membalas semua kebaikanku Adrian."


Di sisi lain Andika hanya diam menatap Jeny, dia seakan tidak perduli dengan suasana tegang yang diciptakan oleh perdebatan Adrian dan Presdir Ferry.


Andika ingin sekali berbicara pada Jeny tapi Jeny langsung menggeleng saat Andika terlihat akan menyapanya, Jeny kemudian melirik kearah Presdir Ferry yang sedang adu mulut dengan Adrian seakan berkata


"Ada ayah disini jangan tunjukkan kelemahan mu di depan ayahku."


Andika hanya mengangguk, dia mengerti arti tatapan Jeny, dalam diam Andika bersumpah akan membawa Jeny dan hidup bahagia bersamanya sampai takdir yang akan memisahkan raga mereka untuk tak lagi bisa bersama.

__ADS_1


Andika langsung menarik Adrian untuk pergi meninggalkan Presdir Ferry, dia takut tak akan bisa menahan diri lebih lama lagi karena melihat wanita yang dicintainya sedang tersenyum manis dihadapannya.


"Kenapa kamu hanya diam, itu kesempatan kita untuk menjatuhkan mental Ferry." Ucap Adrian kesal setelah mereka berada di luar ruang persidangan.


"Jeny."


"Huh menyebalkan." Ucapan singkat dari Andika yang langsung bisa dipahami oleh Adrian.


"Andika." Presdir Wibowo menyapa menghampiri kemudian berjabat tangan dengan Andika.


"Datanglah untuk makan malam dirumahku malam ini."


"Baik tuan, saya akan datang bersama Adrian."


"Oh iya, apa kabar kabar Adrian." Presdir Wibowo terlihat kaku setelah Andika mengingatkan keberadaan Adrian disana


"Seperti yang anda lihat tuan." Suara Adrian menunjukkan nada ketidaksukaan terhadap Presdir Wibowo.


"Baiklah sampai jumpa nanti malam Andika." Presdir Wibowo meninggalkan Andika dan Adrian setelah berjabat tangan.


"Intuisi ku mengatakan dia akan menjadi lawan kita selanjutnya." Bisik Adrian

__ADS_1


"Kita harus berhati-hati, dia terlihat lebih licik dari pada Romy." Andika mengangguk menyetujui ucapan Adrian.


__ADS_2