
RS Khusus Jiwa
Suara teriakan yang begitu menyayat hati tedengar menggema dari sebuah ruangan berukuran 2x3 meter, dari luar terlihat wajah wajah pias sedang menatap seorang laki laki yang tengah berbaring di atas ranjang besi itu.
"Mengapa semua harus berakhir seperti ini" Adrian terduduk lemah, dokter Rani terus berusaha menguatkan suaminya.
Chandra dan Amanda hanya diam membisu tak mampu berkata apapun, bagaimana seorang laki laki yang mereka kenal kuat, memiliki mental baja dan tak takut apapun, hari ini mereka saksikan tengah tumbang karena penderitaan yang mana hanya dia saja yang bisa merasakannya.
Lisa bahkan hanya diam, tidak ada ekspresi apapun di wajahnya, air matanya sudah kering menangis berhari hari melihat penderitaan orang yang dia kenal sangat baik dan tulus menyayanginya, orang yang selama ini menjaga dirinya, dan rela berkorban apapun untuk kebahagian orang orang yang dia sayangi.
Rendy terpaku dengan rasa bersalah begitu dalam, sudut bibirnya terlihat darah yang sudah kering namun dia tak ingin menghapusnya.
Bekas luka itu dia peroleh dari Adrian, jika tidak ada dokter Rani mungkin Rendy kini sedang meringkuk diatas tempat tidur dengan baju pasien, beruntung dokter Rani menahan Adrian untuk tidak melakukam hal gila lainnya.
__ADS_1
Dokter telah memvonis Andika mengalami depresi berat, dia kini bidup di alam bawah sadarnya, ketika Adrian bertanya apakah Andika masih bisa sembuh, jawaban dokter sekan menampar semua orang yang mendengarnya agar tidak berharap apapun lagi.
Semenjak kepulangan Rendy yang ternyata membawa kabar duka terkait Jeny, semua kekacauan ini di mulai, hari itu Rendy mendapatkan pesan jika Jeny telah di temukan, dia pun izin pergi untuk memastikan kebenarannya.
Rendy hanya mendapati tubuh Jeny yang sudah tak bernyawa, Jeny telah dinyatakan meninggal bunuh diri, setelah mengurus semuanya Rendy kemudian kembali untuk menyampaikan kabar tersebut pada Andika, Rendy pada awalnya ingin membawa Jeny pulang untuk dimakamkan, namun karena Rendy tidak memiliki hubungan apapun dengan Jeny dia tidak bisa melakukan hal tersebut, hingga Jeny akhirnya harus dimakamkan di negeri yang Rendy sendiri asing dengan tempat itu.
"Saya sebagai dokter tidak ingin memberi harapan apaun untuk kalian, jangan berharap lagi untuk kesembuhan Andika" ucapan dokter masih terngiang dengan jelas di telinga mereka.
Mereka harus menerima kenyataan pahit ini, di saat semua masalah sudah berlalu, yang seharusnya mereka bisa menikmati kebahagiaan tapi harus berakhir dengan kesedihan.
Satu tahun berlalu
Tidak ada perubahan apapun terkait kondisi Andika, semakin hari tubuhnya terlihat semakin kurus, bahkan kini Andika tidak dapat di kenali lagi.
__ADS_1
Jiwanya telah mati meski raganya masih hidup, jiwa Andika telah terkubur bersama cintanya.
Adrian, dokter Rani, Rendy, Lisa, Chandra dan Amanda tangah berdiri menatap ruangan yang akan menjadi tempat pembaringan Andika hingga ajal menjemputnya, semua bergandengan tangan, berusaha menguatkan satu sama lain, tidak ada suara yang terdengar, semua sibuk dengan pikirannya masing masing.
"Andika" setelah beberapa lama dalam keheningan Adrian membuka suara.
"Kami semua berharap kau bahagia, dapat menemukan kebahagiaan setelah kepergian Jeny" dokter Rani mempererat genggaman tangannya pada Adrian.
"Andai kau masih bisa mendengarku, seseorang yang sangat kau cintai tengah bersedih di sana melihat dirimu"
"Jika aku masih bisa meminta satu hal saja, pergilah dan hidup bahagia bersama wanita yang kau cintai di sana".
..."Bahagia secukupnya, Sedih seperlunya, mencintai sewajarnya, membenci sekedarnya"...
__ADS_1
SANG PENGACARA END.
** Jangan lupa mampir ke novel terbaru Author ya AKU BUKAN PILIHAN