SANG PENGACARA

SANG PENGACARA
MISSION SUCCESS


__ADS_3

Adrian tengah duduk di sofa ruang tamu, dia sedang menunggu kedatangan Bu Lilis.


Deru suara mesin mobil terdengar, Rendy bergegas keluar rumah setelah mendapat perintah dari Adrian.


Terlihat seorang wanita paruh baya masuk dengan kondisi tangan terikat dan mulut terlakban, Adrian menatap tajam Rendy yang berjalan di di sebelahnya.


"Kenapa kau memperlakukannya begitu?" Tanya Adrian dengan nada tinggi.


"Maaf tuan." Jawab mereka serempak.


"Lepas." Ucap Adrian, tanpa menjawab mereka langsung melepaskan ikatan di tangan Bu Lilis serta lakban yang merekat di mulutnya, matanya sudah keluar air mata Dnegan deras, tangannya gemetar.


"Duduklah Bu." Ucap Adrian lembut tapi terdengar sangat menakutkan di telinga Bu Lilis.


"A... Apa salah saya tuan." Tanya Bu Lilis.


"Maaf kami sudah membuat ibu ketakutan." Adrian menatap Rendy "Ambilkan air." Rendy langsung berjalan ke dapur sesuai perintah Adrian.


"Silahkan nyonya." Bu Lilis menerima gelas dari Rendy dengan tangan gemetar, dia kemudian meminum air putih itu.


"Apa ibu sudah tenang?" Tanya Adrian, Bu Lilis mengangguk lemah.


"Maaf kami sudah membuat ibu takut." Bu Lilis semakin tenang setelah melihat tatapan teduh Adrian.


"Kenapa tuan menculik saya, apa yang tuan inginkan dari orang miskin seperti saya."


Adrian kemudian menjelaskan alasannya menculik Bu Lilis, Adrian hanya ingin meminta bantuan Bu Lilis untuk membebaskan Jeny dari cengkraman Presdir Ferry.


Bu Lilis terkejut setelah mendengar Adrian menyebut nama Presdir Ferry.


"Si..siapa Jeny tuan?" Adrian bingung dengan pertanyaan Bu Lilis, dia kemudian menatap Rendy seakan meminta penjelasan.


"Nona Jeny dipanggil Lita oleh keluarganya tuan." ucap Rendy.


"Jangan sakiti non Lita." Teriak Bu Lilis.

__ADS_1


"Tenanglah ibu, kami justru ingin membantu Lita."


"Membantu apa?"


"Huh." Adrian membuang nafas kasar, dia harus sabar menjelaskan kepada orang tua.


"Ibu dengarkan penjelasan saya ya." Bu Lilis mengangguk.


Adrian kembali menjelaskan semuanya dari awal, dia juga menjelaskan perihal hubungan Jeny dan Andika yang terganjal oleh Presdir Ferry.


"Non Lita sering bercerita tentang tuan Andika, dia sering menangis saat bercerita." Bu Lilis menitihkan air mata mengingat Jeny.


"Apa yang bisa saya bantu tuan?" Adrian tersenyum, dia sudah mendapatkan kepercayaan Bu Lilis, akan lebih mudah kedepannya.


"Bu Lilis tinggal mengikuti perintah saya, dalam beberapa hari Lita akan kesini mencari Bu Lilis."


"Baik tuan."


- - -


Dia semakin gelisah setelah menghubungi keluarga Bu Lilis dikampung yang mengatakan tidak ada yang sakit dan tidak pernah ada yang meminta Bu Lilis untuk pulang kampung.


"Ibu dimana." Gumam Jeny sambil menitihkan air matanya.


Ponsel Jeny berdering, terdapat nomor asing di situ, Jeny terlihat ragu untuk mengangkat panggilan itu.


"Siapa tahu Bu Lilis." Ucap Jeny dalam hatinya.


"Hallo." Sapa Jeny.


"Jika anda ingin bertemu Bu Lilis saya tunggu 30 menit di alamat X atau anda akan menyesal selamanya."


"Hei." Teriak Jeny pada seorang diujung sana, tapi panggilan keburu dimatikan.


Tanpa berpikir panjang Jeny langsung mengambil tas dan kunci mobilnya, dia hanya ingin bertemu dengan Bu Lilis, tidak peduli dengan apapun saat ini.

__ADS_1


Jeny berhenti di depan sebuah rumah mewah, dia kemudian membunyikan klakson beberapa kali hingga pintu gerbang terbuka.


"Silahkan nona tuan sudah menunggu di dalam." Ucap penjaga gerbang sopan.


Jeny kemudian melangkah masuk kedalam rumah, pintu rumah yang tinggi sudah terbuka seakan menyambut kedatangan Bu Lilis


"Ibu." Jeny berteriak ketika melihat Bu Lilis sedang duduk di ruang tamu, dia langsung memeluk Bu Lilis dan menangis dalam pelukannya.


"Ibu baik-baik saja kan?" Tanya Jeny sembari memegang wajah Bu Lilis.


"Kami memperlakukan Bu Lilis dengan baik." Ucap suara laki-laki yang terdengar tak asing di telinga Jeny.


"Adrian." Ucap Jeny dengan tatapan tajam melihat Adrian berdiri di sana.


"Kau." Jeny langsung berlari hendak memukul Adrian, tapi langkahnya terhenti karena ditahan oleh Rendy.


"Lepas." Teriak Jeny.


"Non Lita tenanglah." Bu Lilis menghampiri Jeny yang sedang meronta untuk lepas dari cengkraman Rendy.


"Bibi baik-baik saja non." Bu Lilis memeluk Jeny, Jeny seketika tenang dalam pelukan Bu Lilis.


Setelah Jeny tenang, mereka semua duduk di sofa ruang tamu.


"Apa maksudmu dengan ini semua Adrian?" Tanya Jeny.


"Tenanglah, dengar dulu penjelasan ku."


Adrian kemudian menjelaskan kenapa dia menculik Bu Lilis, dengan sedikit di bumbui agar terlihat lebih dramatis Adrian bercerita bahwa dia hanya ingin membantu Andika.


"Tinggalkan ayahmu hidup bahagia lah dengan Andika dan Bu Lilis." Jeny menatap Bu Lilis seakan meminta jawaban.


"Bibi ikut keputusan non Lita saja,yang penting non bahagia." Ucap Bu Lilis yang di balas anggukan oleh Jeny.


"Baiklah aku mau Adrian." Jawab Jeny yang di balas oleh senyuman Adrian.

__ADS_1


Adrian merasa senang rencananya berjalan dengan sukses, melihat Andika hidup bahagia dengan wanita yang di cintainya adalah keinginan terbesar Adrian setelah dulu dia membuat Andika terpuruk karena cinta bahkan Andika tidak pernah lagi mendekati wanita setelah kejadian dulu antara Adrian, Andika dan Tyas.


__ADS_2