SANG PENGACARA

SANG PENGACARA
AKU MENCINTAIMU JENY!


__ADS_3

Andika masuk ke dalam unit apartemen Jeny, Andika merasa terkejut melihat keadaan apartemen Jeny, dia mengedarkan pandangannya ke setiap sudut apartemen itu, Andika sangat kagum melihat bagian dalam apartemen yang di tempati oleh Jeny, apartemen yang sangat mewah bahkan untuk asisten pribadi Presdir Romy sekalipun, apartemen ini sangat mewah untuk seorang asisten.


"Silahkan duduk tuan." Jeny yang melihat Andika sedang memperhatikan apartemennya langsung mengalihkan perhatian Andika, supaya Andika tidak bertanya suatu hal yang akan membuat Jeny bingung untuk menjawabnya.


Andika langsung duduk sofa yang ditunjuk Jeny, sedangkan Jeny menuju dapur untuk membuat minuman untuk Andika.


"Silahkan tuan." Jeny menghidangkan cappucino yang langsung membuat Andika tersenyum, cappucino adalah minuman kesukaan Andika.


Andika langsung menyeruput capuccino panas yang dihidangkan oleh Jeny


"Awas panas tuan." Jeny berkata sambil tersenyum melihat Andika sedang mengelap bibirnya karena kepanasan.


"Sudah kebal bibir ku." Andika mengipasi bibirnya dengan tangan yang membuat Jeny tertawa lebar.


Jeny terus tertawa melihat kelakuan Andika yang benar-benar bukan seperti Andika yang dia kenal sebelumnya, Jeny menatap Andika dengan tatapan bahagia.


"Oh tuan andai aku mengenalmu dari dulu mungkin aku sudah menikah dengan mu."


Jeny kembali ke dapur untuk mengambil air putih, dia merasa iba melihat Andika yang bibirnya memerah karena kepanasan.


"Terimakasih nona." Andika mengambil gelas yang berisi air putih dan langsung meminumnya.


"Sama sama tuan." Jeny kembali duduk di sofa.

__ADS_1


"Panggil saja Andika ketika aku datang sebagai laki-laki biasa." Andika meletakkan gelas air putih ke atas meja.


"Kalau begitu panggil saja Jeny ketika tuan berkunjung sebagai laki-laki biasa." Jeny tersenyum sangat manis yang membuat Andika berdetak lebih cepat jantungnya.


"Kamu masih memanggil ku tuan."


"Hahaha." Jeny benar-benar tertawa melihat setiap tingkah Andika, apalagi Jeny melihat ekspresi wajah Andika yang sangat menggemaskan.


"Iya Andika." Jeny tersenyum malu memanggil nama Andika tanpa ada sebutan tuan di depannya terasa sangat asing di lidahnya.


"Lebih enak di dengar ternyata."


"Bisa Jeny ulangi." Andika menatap Jeny dengan tatapan memohon.


Mereka melanjutkan obrolan di selingi dengan suara tawa, seperti sudah tidak ada skat lagi antara mereka, Andika seakan melupakan dirinya adalah seorang anak dari orang yang pernah di sakiti oleh ayah Jeny, sedangkan Jeny lupa dengan dunianya sebagai alat untuk menghancurkan Andika.


"Jeny."


"Iya Andika."


"Tujuan ku kesini ingin menyampaikan satu hal penting."


"Penting?" Jeny mengerutkan dahinya, Andika menggeleng.

__ADS_1


"Sangat penting." Kata Andika meralat ucapannya


"Apa dia akan berubah menjadi seorang tuan Andika."


"Apa itu Andika." Jeny menatap Andika dengan tatapan serius.


"Hahaha." Andika tertawa karena melihat ekspresi wajah Jeny.


"Kenapa?" Jeny bingung melihat Andika tertawa.


"Kamu tidak pantas memasang mimik wajah serius di wajah cantikmu." Jeny tersipu karena ucapan Andika, pipinya seketika berubah menjadi merah merona.


"Tidak usah malu, kamu memang cantik." Kata Andika yang membuat Jeny semakin tersipu.


"Baiklah, aku akan berbicara serius Jeny." Andika menatap mata Jeny, sedangkan Jeny terlihat gelisah dengan tatapan teduh Andika.


"Jeny." Andika mengambil nafas.


"Aku sangat mencintaimu Jeny." Jeny melotot mendengar ucapan Andika.


"Aku sangat menyayangimu Jenyca Arnelita Mahesa."


Jeny benar-benar tidak bisa berkata-kata kali ini, dia sangat terkejut.

__ADS_1


__ADS_2