
Meskipun sikapnya tampak tenang-tenang saja, namun sebenarnya jantung Kala berdebur kencang. Pikirannya begitu liar. Berterbangan tak tentu arah.
Segera ia menepis segala pikiran buruk tersebut. Gadis itu tidak terlihat memiliki ketertarikan terhadap Kala, sedikitpun tidak, apa lagi jika ingin 'menikamnya' langsung. Konyol betul pikirannya.
Jiwa Kala masih sangat polos, ia berada di pertengahan antara naif dengan jujur. Sejujur-jujurnya, ia menginginkan hal ‘itu’; senaif-naifnya, ia tidak dapat mengungkapkan hal ‘itu’.
Gadis itu memiliki kulit jernih dan sedikit kuning langsat, teramat bersinar, seolah saja kulitnya akan menyala terang ketika keadaan ruangan ini sedang gelap. Tubuhnya ramping dan proposal, memenuhi kecantikan fisik yang berada di atas rata-rata. Matanya sewarna dengan tanah, tampak jernih dan sedikit sayu tetapi teramat meneduhkan bagi siapa pun yang memandanginya. Syahdu. Bibirnya merah, tidak terlalu menor, dan terlihat sedikit mengilat; seolah mengundang siapa saja untuk langsung menggigitnya.
Gadis cantik itu duduk di sebelah Kala. Jantung Kala semakin berdebar kuat saat tak hanya mengingat bahwa mereka hanya berdua di ruangan ini, tapi juga berdebar bilamana ia merasa bahwa Sang Hyang menjadi pasang mata ketiga yang memantau segala tindak-tanduk mereka.
Kala sebisa mungkin menghindari segala perbuatan yang dapat membuatnya mendapat amarah dari Yang Maha Tunggal, sehingga Kala sedikit menggeser posisi duduk agar berjauhan. Sungguh meskipun ia muda dan sedikit berpikiran nakal, ia masih mengingat Sang Hyang. Itu sudah diajarkan sedari dirinya masih kecil. Menjadi sebuah aturan yang secara tak sadar melekat dalam alam bawah sadarnya.
"Kakak hendak berbuat apa?" tanya Kala dengan gugup.
Gadis bidadari itu terdiam sejenak. Sebentar kemudian, dia telah mampu membaca jalan pikiran Kala. Dengan sedikit kesal, dirinya berkata, "Tidak perlu khawatir, aku adalah tabib yang dipesan oleh Pak Tua Akhza. Beliau memintaku untuk mengobatimu. Tidak usah berpikir macam-macam."
"Maafkan aku." Kala tersenyum malu, betapa ia tidak pernah menyangka isi pikirannya dapat ditebak dengan begitu mudahnya oleh gadis itu. "Tetapi jika boleh aku bertanya, siapakah itu Pak Tua Akhza?"
"Aku tidak tahu secara pasti. Sebatas yang kutahu, dia membawamu ke penginapan ini. Dan nama miliknya sedikit mirip dengan nama sesosok seniman[1] legenda di tanah Jawa, tetapi sepertinya perkiraanku itu salah besar sebab tidak memiliki dasar yang kuat," balasnya.
"Penginapan? Jangan-jangan kakek tua itu ...."
"Sudahlah, kamu jangan terlalu banyak berpikir untuk saat ini." Gadis itu mengibaskan lengannya sambil tersenyum tipis. "Namaku Kelana Maheswari. Kau bisa memanggilku Maheswari."
"Aku Kala Piningit, bersumpah untuk selalu mengingat nama Kakak." Kala balas mengenalkan diri sambil tersenyum
"Nah, sekarang kamu berbaringlah. Aku akan memeriksamu."
Kala hanya dapat menuruti Betapa pun juga gadis yang menamai dirinya Kelana Maheswari itu adalah seorang tabib yang harus dituruti segala permintaannya oleh pasien. Kala kembali merebah di atas kasur meski perasaannya sangat canggung. Dirinya tidak mengenakan baju, hanya sekadar celana lusuh sepanjang lutut, dan dalam keadaan itulah dirinya berbaring di hadapan seorang wanita cantik!
Maheswari segera melaksanakan tugasnya. Dengan cekatan gadis itu memeriksa denyut nadi Kala, suhu tubuh Kala, bahkan lidah Kala pun tak luput dari pemeriksaannya. Bocah remaja tanggung itu menjadi tegang sepenuhnya sambil terus menceramahi dirinya sendiri di dalam benak. Ingat-ingat ajaran yang pernah diberikan oleh orang-orang yang pernah mengasuhnya.
__ADS_1
Maheswari menaruh telapak tangannya tepat di dada Kala sambil menutup matanya. Saat Maheswari melakukan itu, Kala mendapati sebuah perasaan nyaman yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Rasa ini hangat, lembut, dan apa pun itu yang mampu membuat Kala merasa sangat nyaman.
Rasa pening di kepalanya sirna, seketika! Tubuhnya kembali dipenuhi tenaga!
Apa-apaan? Tabib Maheswari ini adalah seorang seniman?
Kala beralih menuju wajah Maheswari yang bertambah indah saat menutup mata. Gadis itu terlihat sangat tulus dan meneduhkan, seakan dirinya sedang membacakan sebeuah dongeng sebelum tidur kepada Kala.
Tabib ini sangat cantik, dan Kala bisa dikatakan bagai tahi jika dibandingkan dengan Maheswari, ia merasa sangat tidak pantas. Apalagi untuk berpikir mampu mendapatkan Maheswari. Ia ingin sesegera mungkin meninggalkan ruangan ini, lalu mencari orang yang bernama Akhza untuk meminta penjelasan.
Maheswari kembali membuka matanya setelah beberapa saat berlalu. Menatap Kala. Sial, jantung Kala kembali berdebar!
"Kondisimu bukanlah sakit luar. Hanya saja, pikiranmu sedang sangat tertekan. Satu-satunya yang perlu kamu lakukan adalah membebaskan semua atau sebagian beban pikiran itu." Maheswari menghela napas panjang. "Apa yang membuatmu tertekan? Sudikah kamu berbagi cerita denganku?"
"Tidak perlu lebih jauh."
Suara pria tua terdengar dari pintu, sekonyong-konyong Kala dan Maheswari menoleh ke arah suara itu. Tampaklah pria tua yang Kala selamatkan tempo lalu di kaki Gunung Loro Kembar, kini dia kelihatan sehat dan bugar.
"Tabib Maheswari, kau bisa keluar sekarang," ujarnya kemudian, sambil tersenyum.
"Baik, Bapak Akhza." Maheswari balas mengangguk sebelum berdiri dan permisi dari kamar itu.
Kala berniat bertanya agak kasar pada Akhza. Ia merasa berhak mendapatkan penjelasan dari pria tua ini dengan sejelas-jelasnya, sekaligus pula memintainya uang ganti rugi karena pak tua itu telah membawanya sangat jauh dari Gunung Loro Kembar.
Sungguh belia usianya untuk tahu bersikap sopan pada orang tua asing. Yang ia tahu hanya harus bersikap sopan pada orangtua yang mengasuhnya. Sebatas itu ....
Terlihat dari mimik mukanya, kekek tua itu ingin membicarakan sesuatu. Akhza menutup pintu sebelum duduk di sisi ranjang. Kala bangkit duduk.
"Pasti kau lapar." Perkataan yang keluar dari mulut Akhza itu terdengar seperti kalimat tawaran, tetapi bisa juga sebagai kalimat pernyataan.
Kala menganggukkan kepalanya. Tidak jadi marah, setidaknya untuk sekarang. Dia memang lapar. "Namun sebelum itu, biarkanlah aku bertanya. Mengapakah Kakek memelototiku saat itu? Itu terlihat sangat menakutkan bagiku. Apa yang sebenarnya terjadi?"
__ADS_1
"Kau makan, aku akan menjelaskannya," katanya dengan sangat lembut disertai senyuman menenangkan.
Akhza mengibaskan telapak tangan. Secara tiba-tiba, bagai tanpa sebab-musabab, muncul berbagai macam makanan di atas kasur. Kala mengedipkan matanya beberapa kali, untuk memastikan bahwa dirinya tidak sedang salah lihat. Lalu melirik ke Akhza yang tersenyum.
"Ba-bagaimana bisa?" Kala tidak mengerti lagi, pria tua itu terlalu menakutkan. Tidak bisa ditanggung lagi, ia melompat dari kasur, sangat tinggi lompatannya, lantas berlari kencang ke arah pintu. Keinginannya hanya satu: cepat-cepat pergi dari hadapan kakek menyeramkan itu!
"Tenanglah!"
Saat bentakan itu terdengar, maka seketika itu pula Kala berhenti berlari. Langkahnya tertahan, atau lebih tepatnya ditahan. Suatu daya yang tidak bisa dijelaskan telah menghentikan gerak tubuhnya secara keseluruhan—kecuali organ bagian dalam yang tetap bekerja sebagaimana mestinya.
Kala hanya bisa memutar bola matanya. Bahkan untuk mengedipkan kelopak mata, ia tidak bisa!
"Jangan berisik, itu akan memancing keributan. Semua ini memang muncul secara tiba-tiba, tapi ada penjelasannya, termasuk mengapa dirimu tidak dapat bergerak saat ini. Mohon kembalilah, kau tak tahu betapa pak tua renta ini sangat ingin bicara denganmu. " Akhza menghela napas panjang, lalu melanjutkan, "dan kau juga tak tahu betapa Nusantara membutuhkanmu."
Kala menenangkan diri, ia sangat berharap tindakan itu dapat segera membuat tubuhnya kembali bergerak secara leluasa lagi. Semoga pula, pria itu mengampuninya. Tidak jadi membunuhnya.
Dasar setan gunung. Memperlakukan manusia sembarangan. Itulah jalan pikiran Kala saat ini.
"Kau sudah tenang? Ayo, makan. Semua hidangan enak ini aku dapatkan dari seorang juru masak terhebat di kota ini, rasanya enak sekali. Aku sudah mencobanya. Kau harus kemari dan mencobanya juga! Marilah!."
Namun, bagaimanakah kiranya Kala bisa berjalan ke sana dan makan, jika untuk menggerakkan jarinya saja tak bisa?
"Ayo, kemari!" ajak Akhza kembali, masih penuh semangat.
Kekesalan Kala balik lagi. Dengan susah payah ia menggerakkan bibirnya dan berusaha berucap walau dengan putus-putus. Sebenarnya, Kala tidak sama sekali berucap, ia hanya mengeluarkan udara dari mulutnya. Yang terdengar hanyalah dengus napas kencang. Kenyataan ini membuat Kala menjadi semakin kesal.
Akhza memincingkan matanya, heran melihat Kala yang tidak juga mendatanginya. Mengira bahwa bocah itu telah kehilangan sopan santun. Sampai pada akhirnya, ia tersadar bahwa dirinya masih memberi tekanan Prana yang cukup besar pada Kala sehingga bocah itu tidak dapat bergerak sama sekali!
"Hahaha! Bocah, maafkan aku yang sangat pikun ini." Akhza tertawa terbahak-bahak. Tawaan yang membuat Kala semakin merasa gondok. Semua penderitaannya dianggap sebagai lelucon oleh pria tua itu!
Sekejap mata kemudian otot Kala melemas. Ia berbalik dengan wajah sangat buruk. Jelas saja marah!
__ADS_1
"Jangan masam begitu wajahmu! Kewibaanmu jadi berkurang, wahai anak pilihan semesta!"