Seni Bela Diri Sejati

Seni Bela Diri Sejati
Bangsawan Tirto


__ADS_3

Kala melihat ekspresi Kaia yang penuh rasa bersalah. Rasa bersalah yang sangat mendalam sampai Kala sendiri tidak ingin mencobanya.


“Tapi, siapa sangka doaku malah membuat orang tuaku terbunuh. Aku ... aku ... ini salahku ....”


Kala menghela napas panjang saat melihat air mata mulai mengalir di pipi yang indah itu. “Semua sudah berlalu, bukan? Jangan mengira ini adalah sesuatu yang buruk, kau tidak akan pernah mengira bahwa ini akan menjadi keberuntungan. Jika kau terus menghadap ke belakang tapi waktu terus membawamu ke depan, maka kau akan menabrak bahkan jatuh ke dasar sumur tak berujung.”


Sampai sini, ucapan Kala berhenti. Ia merasa ada getaran di tanah yang ia pijak. Juga, instingnya mengatakan bahwa ada yang mendekat. Kala langsung berdiri dan mengaktifkan Mata Garuda.


Dari penglihatannya yang tajam, Kala bisa melihat ada rombongan kereta kuda yang mendekat ke arahnya dari arah kanan jalan. Rombongan kereta kuda ini bukanlah kereta pedagang dari rupanya, ini seperti kereta bangsawan!


Tetapi, untuk apa bangsawan mau melewati jalan tikus yang tak rata ini? Biasanya, mereka akan memilih melalui jalan utama yang tak bergelombang walau jarak tempuhnya akan lebih jauh.


Kecuali, mereka sedang terburu-buru. Namun, kecepatan rombongan ini relatif santai, atau ... mereka sedang bersiaga penuh.


Kala berdiri, berniat menyapa rombongan itu sekaligus menanyakan arah jalan. Kala juga menyuruh agar Kaia berada tepat di belakangnya.


Siapa yang akan menyangka rombongan itu akan memperlakukan Kala dengan sangat kasar? Kereta kuda pertama yang berisi prajurit tidak bersikap ramah pada Kala. Ada tiga kereta kuda lagi di belakangnya.


“Untuk apa kalian ada di sini?!”


“Kami hanya ingin menuju kota, apa Kisanak bisa memberi kami arahnya?” Senyum Kala hilang, tapi dirinya masih bisa bernada ramah.


“Lari jauh ke dalam hutan atau kami akan memisahkan kepala kalian?”


“Tapi, untuk apa kami harus melakukan itu?”


“Tidak perlu banyak bicara! Cepat atau aku tidak akan berbaik hati lagi!” Komandan itu mengeluarkan pedang dari sarungnya, diikuti yang lainnya. “Atas nama Keluarga Sundoro, aku memerintahkanmu menjauh dari jalan kami!”


“Aku rasa, kau tidak perlu melakukan ini.” Kala tidak lagi berbicara secara sopan. “Jalan ini bukan kepunyaan nenekmu!”


“Berani bicara, berani mati!” Komandan itu lompat dari kereta kuda dan mengayunkan pedangnya secara mendatar ke leher Kala.


Kala berdecak atas keberanian komandan ini, tapi serangannya terlihat banyak celah. Kala dengan mudah melayangkan pukulan ke dada sang komandan.


Komandan itu terdorong mundur lalu muntah darah. Prajurit yang lain bersiap menyerang Kala, tapi seorang pemuda turun dari kereta ke dua menghentikan mereka.


“Cukup! Tidak perlu dilanjut!”


Kala menaikkan alisnya. Pemuda ini, pembawaannya tenang dan berwibawa. Pakaiannya khas bangsawan Jawa. Tatapannya tajam, namun tenang. Jelas orang ini adalah bangsawan sedangkan prajurit-prajurit ini adalah pengawalnya.


Bangsawan itu berpaling ke Kala lalu menampilkan senyum ramah. “Maafkan aku atas sikap mereka, Kisanak. Mereka terlalu waspada sampai bersikap seperti ini.”


Jelas bangsawan ini juga waspada dengan Kala dan satu pemikiran dengan prajuritnya. Nyatanya, ia tidak turun dari kereta saat mengetahui pasukan pengamanan sedang adu mulut dengan Kala, tapi saat Kala mengalahkan komandannya baru dirinya muncul.


Diam-diam, punggung bangsawan muda itu berkeringat dingin. Ia tidak pernah menyangka bahwa pemuda dengan pakaian dekil dan penuh dengan robekan memiliki kekuatan untuk mengalahkan komandannya yang juga merupakan pranor.


Jelas, Bangsawan Sundoro ini tidak ingin membuat masalah dengan ahli silat hebat seperti Kala. Pada umumnya, para ahli silat akan membunuh siapa yang membuatnya tersinggung. Itulah yang dikhawatirkan bangsawan muda ini, ia terlalu dini untuk mati.


“Lain kali, jangan asal mengusir orang lain padahal ini bukanlah jalanmu.” Kala berkata dengan tenang.


“Maafkan kami, Pendekar. Kami terlalu bersiaga sampai-sampai tidak bisa melihat bahwa Kisanak adalah orang yang baik.” Bangsawan itu merendahkan badannya sedikit. “Sebagai permintaan maaf, bagaimana jika kalian ikut denganku ke kota. Aku akan memberikan kalian kompensasi yang pantas, saat ini aku tak membawa banyak uang.”


Kala mengibaskan tangannya. “Tidak perlu memberikan kompensasi. Namun, kami harap Kisanak tidak keberatan jika kami menumpang sampai kota.”


“Ah! Tentu saja aku tidak keberatan! Mari masuk ke keretaku.” Bangsawan muda mempersilakan.


Kala menyuruh Kaia untuk mengikutinya, tapi ia segera mengingatkan Kala.


“Bagaimana dengan Alang?”

__ADS_1


Kala menggaruk kepalanya sambil tersenyum canggung. Ia hampir saja melupakan Alang. Jika saja Kaia tidak mengingatkan, mungkin Alang akan meraung-raung di sini.


“Maafkan aku, Kisanak. Namun, aku harus di sini. Semoga perjalanan Kisanak akan aman.” Kala membungkuk rendah.


“Sepertinya kau menunggu seseorang, maka aku tidak akan bisa memaksa. Kami akan beristirahat nanti malam, mungkin kita akan bertemu lagi.” Bangsawan muda itu tersenyum lalu masuk ke dalam keretanya, sepertinya ia sedang terburu-buru.


Rombongan segera meninggalkan Kala dan Kaia sendirian. Mereka bergerak sangat cepat seolah-olah dikejar oleh matahari. Kala menggelengkan kepala pelan lalu kembali duduk di pinggir jalan.


“Kaia, tadi kau membuatkanku jahe tumbuk, bukan? Dari mana kau dapatkan jahe itu?”


“Aku berpikir luka-lukamu akan semakin parah setelah terkena air. Maka dari itu, aku mencari tanaman jahe saat kau mandi dan berniat membuatkanmu obat.”


Kala merasa hangat di dadanya. Ia tidak berpikir Kaia akan peduli dengan luka-luka ringannya bekas pertarungan dengan Kastel Kristal Es di desa. Ternyata, di balik sikap dingin Kaia terkandung rasa kepedulian yang tinggi.


Dirinya merasa agak kasar kepada Kaia tadi, mungkin membelikan beberapa barang di kota akan cukup sebagai permintaan maaf.


Gadis ini begitu baik, tetapi sayang sekali ditutupi oleh sifat dingin.


“Untuk itu, aku mengucapkan terima kasih.” Kala berkata singkat, tapi sangat tulus.


“Eak!” Jeritan elang menggema di seluruh langit. Beberapa saat kemudian Alang turun dari langit menuju pundak Kala.


“Alang, aku sudah tahu arahnya. Mari kita berangkat sekarang.” Kala berdiri lalu berjalan di depan, diikuti oleh Kaia.


***


Hari sudah benar-benar gelap. Kala baru saja selesai membuat obor saat ia menemukan pohon kapas. Ia hanya membuatkan satu obor saja, minyak yang ada di cincin interspatial tidak cukup untuk membuat dua obor.


Obor itu diberikan kepada Kaia, Kala lebih suka menggunakan Mata Garuda yang lebih baik daripada obor.


Kaki Kaia seperti sudah tidak sanggup berjalan lagi, tapi Kala mengatakan agar terus berjalan tanpa memberikan alasan. Apa lagi, perutnya juga sudah meminta diberi jatah! Lagi-lagi Kala tidak memberinya makanan.


Jalan ini tergolong sepi. Selain bangsawan tadi, tidak ada lagi yang melewati jalan ini. Kala merasa ini cukup baik sebab ia memiliki kepribadian yang suka menyendiri.


Dari kejauhan, Kala bisa melihat setitik cahaya berwarna kuning. Sepertinya itu adalah cahaya dari api sebab cahayanya berkedip-kedip. Siapa lagi yang menyalakan api di sini selain bangsawan tadi. Namun, ini dini untuk beristirahat.


Mereka memiliki kuda yang berjalan jauh lebih cepat dari Kala dan Kaia. Jika mereka beristirahat saat hari mulai gelap, seharusnya mereka berada jauh di depan Kala dan Kaia, bukan di sini.


Seperti biasa, insting Kala merasakan sesuatu yang tidak beres sudah terjadi. Pedang spirit dari cincinnya dikeluarkan, terhunus ke depan. Kala juga menyuruh agar Kaia lebih cepat lagi serta bersiaga penuh.


Mereka setengah berlari menghampiri setitik cahaya tersebut. Lama-kelamaan, setitik cahaya itu terpecah menjadi banyak bagian dan semakin terang. Itu artinya, banyak sumber api di sana.


Kala semakin mempercepat langkahnya, hampir meninggalkan Kaia yang ada di belakang. Desingan besi yang ia taksir sebagai suara pedang mulai terdengar. Bentakan demi bentakan juga terdengar.


Sesampainya Kala di sana. Disuguhkan dengan pemandangan mengerikan. Pertarungan terjadi antara prajurit pengamanan yang Kala kenal dengan sekelompok orang bertopeng. Kedua belah pihak sama-sama merupakan pranor, bedanya kelompok bertopeng memiliki tingkat praktik lebih tinggi.


Tiga kereta kuda mereka sedang terbakar, dan hampir habis. Ini menandakan pertarungan sudah terjadi cukup lama. Beberapa prajurit pengamanan sudah terbaring tak bernyawa dengan darah menyatu dengan tanah, tapi tidak ada satu pun dari kelompok bertopeng yang sudah mati!


Tidak ada bangsawan yang Kala kenal di medan pertempuran. Sepertinya ia sudah dilarikan ke dalam hutan, itu biasanya akan dilakukan jika kondisi sudah tidak memungkinkan untuk menang.


Disebabkan oleh bangsawan tadi yang sudah berbaik hati menawarkan tumpangan bahkan kompensasi, Kala ikut masuk ke dalam pertempuran membela prajurit pengamanan.


Kala menusuk punggung seorang bertopeng yang hampir membunuh prajurit pengamanan. Orang bertopeng itu tidak pernah menyangka akan ditusuk dari belakang, ia mati dengan mata terbuka.


Kelompok bertopeng itu melihat anggotanya mati disebabkan oleh orang yang baru saja datang. Mereka menjadi semakin beringas dan tidak bermain-main lagi, tapi sayangnya Kala juga tidak berniat untuk main-main di sini.


Pertempuran tetap berat sebelah, bedanya saat ini prajurit keamanan yang lebih unggul. Berkat kedatangan Kala, semuanya menjadi terbalik. Kelompok bertopeng sudah kehilangan lima anggotanya di tangan Kala, mereka lekas-lekas mundur ke hutan.


Kala tidak berniat mengejar mereka, dirinya tidak punya masalah dengan kelompok itu dan tidak mengenal mereka. Kala juga belum tahu kejelasannya.

__ADS_1


Para pasukan pengamanan langsung bersujud di depan Kala. Mereka menganggap Kala sebagai malaikat yang datang menyelamatkan nyawa mereka. Padahal, Kala tidak menggunakan kemampuannya secara maksimal dan tidak dibantu oleh Alang.


“Jangan bersujud untuk manusia.” Kala segera membantu mereka berdiri lalu menanyakan lokasi bangsawan itu saat ini.


“Tuan Muda Tirto pergi ke dalam hutan mengamankan gulungan-gulungan penting. Saat ini mungkin sudah berada di dalam hutan.”


Kala melirik Kaia yang termenung tak jauh darinya. Kaia tentu saja terguncang melihat cara Kala membunuh seperti binatang perusak. Kala merasa Kaia harus melihat semua ini untuk memahami dunia pranor.


“Kaia, kau tunggu di sini. Aku akan mencari bangsawan.” Kala melirik Alang. “Alang, kau tunggu di sini juga. Berjaga jika mereka datang dengan pasukan yang lebih besar.”


Dengan semua itu, Kala langsung masuk ke dalam hutan sesuai petunjuk arah dari prajurit pengamanan. Mata Garuda miliknya diaktifkan lagi setelah tidak nampak oleh pasukan pengamanan, dengan begini malam yang gelap menjadi sedikit terang di matanya.


Ia melihat tanda-tanda jejak yang ditinggalkan Tirto itu. Mulai dari ranting patah sampai dengan rumput yang terinjak. Kecepatan larinya juga sangat cepat dengan menggunakan ilmu meringankan tubuh, dengan mudah ia menemukan tubuh Bangsawan Tirto yang sedang berlari.


Tentu saja bangsawan muda ini semakin cepat berlari saat mendengar suara di belakangnya. Ia berpikir bahwa orang bertopeng yang mengejarnya, itu sama saja dikejar oleh maut.


Bangsawan itu tidak akan pernah menyangka bahwa yang mengejarnya adalah Kala!


“Tunggu! Berhenti!” teriak Kala yang percuma saja karena bangsawan tersebut tidak ingat suara Kala.


Mata Kala fokus ke tubuh bangsawan, ia tidak memperhatikan pohon besar yang ada di depannya. Sedangkan kakinya masih terus berlari.


Bum!


Krrrrk ....


Kala menghantam pohon tersebut, anehnya pohon itu yang seakan menghantam Kala. Pohon besar tersebut langsung tumbang sedangkan Kala hanya tersungkur tanpa luka.


“Apa aku sekuat itu?”


Kala berdecak kagum pada dirinya sendiri sedangkan bangsawan muda itu semakin berlari ketakutan.


“Aih, aku membuat kesalahan ....” Kala bangkit dan mengejarnya lagi.


Kecepatan antara pranor dan manusia biasa memang terbukti kesenjangannya. Kala dengan cepat menyusul Tirto dan menyuruhnya berhenti, Kali ini Tirto berhenti karena Kala mengenalkan dirinya.


“Apa yang terjadi? Bagaimana kondisi ....” Tirto terengah-engah, tak sanggup meneruskan ucapannya.


“Tenang saja, mereka selamat walau sebagian tidak begitu.” Kala menepuk pundak Tirto. “Mengapa orang-orang bertopeng itu menyerangmu? Apa yang kau bawa?”


Tirto melihat Kala dari atas sampai bawah walau dirinya masih terengah-engah. Ia masih belum percaya pada Kala, ia juga tidak mengetahui bagaimana Kala bisa sampai ada di sini.


“Tidak perlu ragu padaku. Aku yang menyelamatkan kalian. Dan, untuk apa aku ingin membunuhmu sekarang sedangkan tadi aku bisa melakukannya?”


Tirto berpikir sejenak lalu menarik napas dalam-dalam. “Aku membawa berkas-berkas penting soal perjanjian wilayah milik Pandataran. Kelompok bertopeng itu adalah pasukan khusus dari Geowedari yang ditugaskan untuk mengambil berkas-berkas ini, bagaimana kau bisa mengalahkan mereka?”


“Jadi kau sekarang membawa berkas penting sedangkan prajurit di sana berperang mati-matian?” tanya Kala dengan sinis, ia tidak terlalu peduli tentang kehebatannya mengalahkan pasukan khusus dari Geowedari.


“Ini gulungan-gulungan yang sangat penting. Aku harus menyelamatkannya sejauh mungkin dari Geowedari, walau aku harus kehilangan nyawa.”


Kala mengangguk pelan. “Sebaiknya kita pergi dari hutan ini, banyak pasang mata di kegelapan sedang menatap kita. Kau bisa bercerita lebih detail saat di jalan.”


***


Kaia membantu sebisa yang ia bisa lakukan. Ia mengikatkan kain pada luka-luka prajurit dan membantu mereka menghentikan pendarahan atau operasi kecil. Saat ini, ia sedang menahan tangan prajurit yang sedang dikeluarkan besi panah dari kakinya.


Saat itu juga, Kala dan Tirto keluar dari hutan. Kala melihat kondisi prajurit ini sangat memburuk karena kehabisan darah, ia lekas-lekas mengalirkan prana agar kematiannya tidak terlalu menderita.


Teman-temannya masih terus berusaha mengeluarkan panah, tapi hanya Kala yang tahu akan berakhir seperti apa. Kematian menunggunya, darahnya sudah terbuang begitu banyak.

__ADS_1


Tubuh prajurit ini mengejang beberapa kali sebelum tak bergerak. Matanya terbuka dengan raut kesakitan. Teman-temannya seakan tak percaya dengan apa yang terjadi; dia adalah prajurit yang humoris dan selalu menghibur di saat genting.


__ADS_2