
Empat orang itu tidak lagi berbasa-basi dan langsung menerjang Kala. Di saat yang bersamaan, Kala berbisik pelan pada Alang, “Aku membutuhkan bantuanmu.”
Alang terbang dari pundak Kala, badannya membesar dan segera dipenuhi kobaran api. Burung itu kemudian menyerang dua lawan yang menerjang Kala dari sisi kanan.
Sedangkan Kala memberikan serangan tapak pada dua orang lain yang menyerang dari sebelah kiri. Serangan tapak itu bertemu dengan dua pedang pranor itu.
Di sisi lain, Kaia menahan napas sebab menyangka Kala akan kehilangan tangan kanannya akibat serangan bodoh itu.
Namun, pedang-pedang itu hancur berkeping-keping saat menyentuh tapak tangan Kala. Dua pranor di hadapan pemuda itu seakan tidak percaya dengan apa yang terjadi, tetapi Kala tidak memberi mereka waktu untuk terkejut, ia segera memberikan serangan tapak lainnya.
Mereka tanding dengan tangan kosong saja. Sebenarnya Kala kalah jumlah dan secara tingkat praktik pun dirinya kalah, tetapi ilmu tangan kosong yang diajarkan gurunya bisa membuat ia jauh lebih unggul dari dua lawannya.
Pertarungan tak berlangsung lama, dua lawan Kala tumbang dengan banyak tulang yang patah. Sedangkan dua lawan Alang juga tumbang dengan luka bakar yang tidak sedikit.
Kini Kala menuju pria yang menggoda Kaia. Orang itu bergemetar hebat dan langsung melepaskan cengkramannya pada lengan Kaia, sehingga gadis itu langsung berlari ke arah Kala.
“Jika dari awal kau sudah melepaskannya, aku mungkin juga akan melepaskanmu.” Kala menatap dingin pada pria itu.
“Jangan berani macam-macam denganku! Aku adalah anak dari Tumenggung di sini! Apa kau berani ... ahkhh!”
Sebelum anak tumenggung sialan itu menyelesaikan kalimatnya, Kala telah mematahkan lengan kanannya. Pria itu memegangi tangannya sambil terus berteriak, pengunjung yang lain menutup mulutnya dengan tangan seolah tak percaya dengan apa yang terjadi.
Aditya baru sampai di tempat itu saat semuanya telah terjadi, dia dapat melihat empat orang tak sadarkan diri dan satu orang lainnya memegangi tangan. Aditya lekas-lekas menghampiri Kala dan bertanya apa yang terjadi.
Suhu ruangan kembali normal ketika Kala menarik semua nafsu pembunuhnya. “Tanyakan itu pada yang lain. Sekarang, aku butuh pil penyembuh untuknya.”
Aditya tidak tahu apa yang terjadi, tetapi ia lekas-lekas memberikan Kala banyak pil dari cincin interspatial. Kala hanya mengambil satu pil yang dikenalinya untuk menyembuhkan tulang.
“Makan ini.” Kala melempar pil itu pada Kaia. “Kau tak pernah berhenti merepotkanku. Sungguh.”
__ADS_1
Kaia mendengus kesal sebelum melahap pil tersebut. Perhatian Kala kembali pada pria bangsawan yang merintih kesakitan, ia menatapnya dengan geram.
“Orang sepertimu sama seperti sampah busuk yang hanya akan menyebabkan masalah. Seharusnya aku menghabisimu saat ini juga, tetapi aku berpikir untuk memberimu kesempatan. Berhenti bermain-main dengan wanita, mereka bukan mainan.” Kala berdalih pada Aditya. “Aditya, aku harap kau tidak keberatan atas hal yang baru saja terjadi di penginapanmu ini.”
Alang hinggap di pundak Kala setelah memberi selebrasi kemenangan. Kala mengajak Kaia pergi meninggalkan penginapan ke toko baju.
“Bagaimana kau bisa tahu saat aku diganggu?” Kaia membuka pertanyaan.
Kala mengangkat bahunya. “Firasatku mengatakan untuk tidak pernah mempercayaimu.”
“Kau datang terlambat. Tanganku sampai harus menanggung rasa sakit ini.”
“Hm? Itu adalah ucapan terima kasih yang paling luar biasa sepanjang hidupku.” Kala berkata dengan suka ria padahal ia menyindir keras.
Kaia hanya mendengus kesal dan menendang kerikil di dekatnya. Kala menggelengkan kepalanya lalu bertanya pada orang sekitar tentang arah ke toko baju terdekat.
Dari masyarakat sekitar, Kala dapat menentukan toko busana. Katanya, toko ini adalah toko yang paling pas dengan mereka berdua. Terletak sekitar lima menit dari penginapan jika berjalan kaki.
“Setelah aku berjualan sigaret, aku akan membelikanmu banyak barang. Tenang saja, kau bisa beli banyak manisan,” kata Kala santai.
“Aku tak yakin sigaret yang kau jual itu laku.” Kaia membalas dengan dingin, tapi itu tidak mematahkan semangat Kala.
Tak lama perdebatan, mereka sudah sampai di toko baju yang ditunjuk. Suasana toko cukup ramai. Nuansa hijau di dinding toko menambah kesan mewah dan berkelas. Kala segera mengajak Kaia masuk ke toko, Kaia juga sedikit antusias di dalam hatinya.
Pelayan menyambut mereka dengan ramah, ia bahkan mempersilakan Kala untuk bersantai di luar sedangkan dirinya menemani Kaia memilih baju. Kala mengatakan bahwa hal ini lebih baik dari pada ia haru menemani seorang gadis memilih pakaian, itu hal yang buruk.
Kala menahan Kaia yang akan memasuki toko. “Kaia, aku pergi sebentar. Aku akan kembali nanti, di sini. Jika aku masih belum datang tapi dirimu sudah selesai, tunggu aku di depan toko.”
Kala memberikan Kaia kerambit miliknya. Ia berpesan agar menyembunyikannya di dalam baju, lagi pula kerambit itu sudah Kala gulung dengan kain. Ia juga berpesan agar menggunakan benda itu saat keadaan benar-benar darurat.
__ADS_1
“Kau mau pergi ke mana?”
“Ah, paling ke kedai tuak.” Kala menggaruk kepalanya dan tersenyum canggung. “Sana, nikmati waktu belanja ini.”
Kala kemudian pergi menjauh dari toko baju. Ia terus berjalan dengan cepat, menembus keramaian yang ada sampai ia berada di tempat yang sempit dan sepi. Tempat di mana Kala berada tepatnya pada jalan pemisah antar bangunan terbengkalai. Tidak ada orang di sini, bahkan burung saja seperti enggan terbang di sekitar.
Ia tidak merasa takut walau tempat ini terlihat sangat seram, Kala malah tersenyum sinis. “Jika kau ingin bertarung, maka di sini tempatnya.”
Beberapa detik kemudian terdengar suara pria tertawa lantang, berikut dengan tubuhnya yang keluar dari bayangan bangunan. Pria itu mengeluarkan aura pembunuh yang sangat pekat juga dengan tatapannya.
Lalu ia berujar, “Aku kira kau ingin buang air di tempat sepi ini, ternyata dugaanku salah.”
Pria itu menggunakan jubah hitam lengkap dengan tudung dan topeng harimau. Di jari-jari tangannya, terpasang cincin interspatial. Tatapan matanya tidak bersahabat. Jelas ini adalah orang yang berbahaya.
Tingkat prana miliknya berada di Alam Kristal Spirit, tapi Kala tidak bisa merasakan aura itu terlalu jelas. Kemungkinan ia adalah pranor di Alam Formasi Spirit yang menutupi auranya.
Bahkan Alang saja merasa pria ini adalah ancaman besar, padahal kekuatan Alang lumayan besar.
“Apa maumu?” Kala berkata dengan dingin.
“Cukup mudah, aku ingin kepalamu. Ada yang membayar mahal untuk itu.” Si pria terkekeh pelan. “Aku harap kau tak melawan atau ini akan lama dan menyakitkan.”
Kala tersenyum lebar. “Jadi, ada yang membayar mahal kepalaku? Sangat menarik, aku tidak pernah mengira diriku seberharga itu.”
“Anak muda, nyalimu cukup besar.” Pria itu menjilat bibirnya. “Tapi, aku masih berbaik hati. Kemarilah dan serahkan nyawamu, aku menjamin prosesnya akan cepat dan kau tak merasakan apa pun.”
“Kepalamu aku hargai satu perak.” Kala memotong ucapan.
“Anak muda, jangan main-main.”
__ADS_1
“Main-main bapakmu!” Kala mengeluarkan keris pedang spirit dari cincinnya.
“Keparat ini sepertinya mau main-main dulu.” Pria itu bergumam pelan. “Baiklah, aku akan menemaninya bermain.”