Seni Bela Diri Sejati

Seni Bela Diri Sejati
Serangan dari Tabib


__ADS_3

Kala kembali ke penginapan setelah Alang menyelesaikan makanannya. Ia lekas-lekas naik ke atas, tempat kamarnya. Di mana ada tungku yang masih menyala dan kuali gosong dengan tulang-tulang yang menyusut di dalamnya.


Kala perlahan mengambil tulang-tulang itu menggunakan pedang rusak. Berdasarkan pengalaman, Kala tidak akan menyentuh tulang itu sampai beberapa saat.


Apinya ia padamkan sambil mengisi kuali dengan air, rempah-rempah, batu energi, dan daging lalu merebus lagi. Setelah itu, Kala memastikan tulang yang diangkat tadi sudah mendingin.


“Totalnya sepuluh tulang. Menghisapnya satu batang bukanlah kerugian besar.”


Alang memutar bola matanya menanggapi hal itu. Kala bersikap seperti itu membuat Alang merasa heran dengannya, bagaimana bisa seorang harapan Nusantara senang dengan kegiatan merokok.


“Sudahlah Alang. Ini adalah rokok yang sehat, bukan masalah besar.”


Kala mengambil satu pipa tulang yang terlihat sempurna. Sungguh luar biasa, permukaannya licin dan bersinar selayaknya batu akik. Serta aroma sumsum yang menggugah selera. Kala memaksa Alang untuk menghidupkan api lalu menghirup rokok itu dalam-dalam.


“Ah, sungguh kenikmatan dunia.” Kala menghembuskan asap lewat hidungnya. “Yang sehat, tentunya.”


Sembilan rokok yang tersisa ini akan Kala hargai cukup mahal di pasaran mengingat lama dari proses pembuatan. Kala menaksir sekitar lima puluh koin emas atau dua puluh batu.


“Selain rasanya yang nikmat, rokok ini bisa membantu perkembangan prana. Tidak seperti rokok yang lain, ini pasti akan cukup laku.” Kala menghirup lagi.


Kala menyuruh Akang untuk menjaga api di sini. Walau pernah meninggalkan tungku ini tadi dan kembali dengan tanpa kebakaran, Kala tetap tidak mengambil risiko.


Ia pergi ke bawah. Mengambil tungku kecil dan panci kecil serta beberapa sayuran. Kala membawa semua itu ke atas dan menyalakan tungku itu di samping tungku besar.


Yang ia ingin masak adalah sup tulang. Untuk Kaia lagi. Tapi bedanya, ia memasukkan beberapa pil yang tadi ia beli ke dalamnya. Sayuran-sayuran yang ia bawa juga bukan sayur sembarangan, itu adalah sayuran rempah-rempah yang pahit, tapi Kala bisa memasaknya hingga gurih tanpa pahit.


Pagi berganti siang, siang berganti sore, dan sore berganti malam. Kala berhasil mengumpulkan sekitar seratus tulang hasil dari menyeduh. Di tangannya kini terdapat semangkuk sup tulang, atau bisa dibilang bubur tulang karena tulang yang tadi ia masak sudah meleleh menjadi bubur.


Kala memasak sup ini dari pagi hingga malam. Setiap air habis karena menguap, Kala menambahkannya lagi hingga tulang ini hancur tiada ampun. Bentuk dan penampilannya terlihat sedikit menjijikkan, tapi rasanya sungguh fantastis.


Kala pergi turun ke bawah. Sepanjang hari ini ia sudah turun-naik banyak kali, bagi manusia biasa itu sangat melelahkan tapi bagi Kala tidak. Rasanya seperti berjalan di permukaan landai.


Kala membuka kamar Kaia. Seperti biasa, dua perawat perempuan yang menjaganya langsung keluar dari kamar. Namun, yang membuat ini berbeda adalah kehadiran wanita muda yang berpakaian seperti tabib.

__ADS_1


Tabib itu memberi salam pada Kala. “Selamat malam, Pendekar.”


Kala melihat tabib ini dari atas sampai bawah. Ia memang sangat cantik, tapi bukan itu yang Kala kejutkan. Wanita ini merupakan pranor, dengan tingkat yang samar-samar dan tidak menentu.


Wanita muda ini ... Formasi Prana.


“Selamat malam juga, Tabib. Bagaimana kondisi Kaia?”


Wanita itu tersenyum anggun. “Lebih baik dari kemarin, tapi ia membutuhkan beberapa hari lagi sampai luka dalamnya sembuh.”


“Tabib, sepertinya kau sudah tahu satu hal tentangnya.” Kala tertawa pelan. “Kau pasti sudah mengetahui keberadaan Kristal Mata Iblis di dalam tubuhnya.”


“Apa yang kau maksud?” Tabib itu berusaha mengelak.


“Tidak perlu berbohong.” Kala mengeluarkan Keris Garuda Puspa.


Sialnya, Alang ditugaskan untuk menjaga api di atas. Ia akan menyadari Kala dalam bahaya saat pertarungan sudah berlangsung.


Tabib itu akhirnya tertawa sinis. “Dugaanmu benar. Aku sudah mengetahui tentang kristal itu di tubuhnya. Namun, aku sama sekali tidak ingin mengambilnya. Jika aku ingin mengambilnya, maka sudah kulakukan dari kemarin.”


“Namun, kau tidak bisa mengambil kristal itu dari tubuhnya kemarin. Keadaan Penginapan Progo sedang dalam kondisi siap tempur saat pasukan mengepung. Kau tidak mungkin membunuh Kaia dan berakhir di tangan pranor Penginapan Progo.


“Sekarang, pengamanan penginapan sudah tidak terlalu ketat. Kau bisa kabur dengan mudah saat selesai membunuhnya. Namun, sebelum kau membunuhnya ... maka aku yang akan membunuhmu?”


Kaia menatap Kala dan tabib secara bergantian dan cemas. Kala berkata bahwa Kaia tidak perlu takut apa pun yang terjadi. Di sela lain, Kala mulai mengalirkan Prana dalam jumlah besar.


Satu guci sudah cukup untuk membunuhnya. Aku yakin, tubuhku hanya akan keletihan setelah keris ini kehabisan Prana. Prana-ku sudah mulai berkembang.


Kala menguatkan dirinya sendiri bahwa dirinya tidak akan pingsan setelah mengisi satu guci penuh di dalam keris, tidak seperti hari-hari sebelumnya yang selalu pingsan.


Keris Kala bergetar sebentar sebelum berhenti dengan memancarkan aura hebat, seakan senjata ini sudah membunuh jutaan orang dan haus dengan jutaan lainnya. Tabib cantik di depan itu bergetar sambil menutupi mulutnya dengan tangan sendiri.


“Keris Garuda Puspa?! Ba-bagaimana senjata ini bisa ada di tanganmu?!” kata si tabib bergetar.

__ADS_1


Keris Garuda Puspa merupakan senjata terkuat di pulau Jawa, disusul dengan tongkat api Satrya yang menghilang entah ke mana. Bentuk dan aura keris ini sudah banyak dikenali pranor-pranor, banyak yang ingin mendapatkannya.


“Apa kau membunuh Sepuh Akhza dan mengambil kerisnya?!”


Kala mengangkat alisnya. “Membunuhnya? Apa kau yakin bisa membunuh orang sakti seperti Akhza? Lebih baik kau diam dan nikmati kematianmu.”


Si tabib tidak tahu apa yang membuat senjata terkuat itu ada di tangan Kala, yang pasti ini bukan hal baik untuknya. Ia melirik Kaia yang ketakutan di tempat tidur, berniat menjadikannya sandera tapi Kala sudah lebih dulu menyerbu.


Si tabib menangkis serangan Kala dengan pedangnya. Desingan logam yang beradu memenuhi ruangan, cukup untuk membuat kuping berdengung. Tabib itu terdorong sampai menabrak tembok hanya dengan satu serangan.


“Baiklah, kau yang memaksa.” Si tabib tertawa ngeri lalu melempar sebuah pil ke mulutnya. “Aku akan mendapatkan keris itu!”


“Manusia memang makhluk yang tidak pernah puas.” Kala menggelengkan kepala. “Tugasku adalah menekan jumlah orang dengan sifat sepertinya, itu artinya aku benar-benar harus membunuh wanita ini.”


Sesaat Kala mengatakan itu, tubuh si tabib diselimuti aura hitam yang berputar-putar layaknya angin badai. Mata si tabib berubah menjadi hitam begitu juga pedangnya. Ia memancarkan aura yang berbeda dari sebelumnya.


“Mati kau!” Si tabib menjerit seperti kerasukan setan.


Ia menyerang Kala dengan brutal. Serangannya minim celah dan selalu mengincar daerah vital. Kala menangkis sambil lompat ke belakang.


Sebuah serangan tabib datang dari arah kanan, sedangkan keris Kala berada di sebelah kiri usia ia menangkis serangan. Serangan ini mustahil dihindari, gerakan tabib terlalu cepat. Dengan kata lain, Kala bisa mati di sini karena serangan itu mengarah ke lehernya.


Tidak akan ada yang membantuku di sini, tidak untuk kali ini. Aku harus menghadapinya.


Sadar tidak ada yang akan menyelamatkannya, Kala melompat ke belakang sedikit, tebasan itu gagal mencapai leher dan hanya mengiris bahu Kala cukup dalam. Kala menggigit bibirnya tidak menghiraukan darah yang terus mengucur di bahu kanannya.


Aku sudah sering diselamatkan di waktu genting. Kini giliranku menyelamatkan Kaia.


Kala berteriak keras lalu menyerang dengan brutal. Ia tidak ingin menangkis lagi, ia akan menyerang sampai titik darah penghabisan. Jika ia mati di sini, itu artinya dirinya tidak pantas menjadi Kesatria Garuda di masa depan.


Trang!


Zhing!

__ADS_1


Peng!


__ADS_2