
“Aku akan mengantar kalian ke tempatnya, mohon ikuti aku.” Seorang pelayan secara khusus mengawal Kala dan Kaia.
Di sini adalah surga bagi peralatan mahal, pelanggan di sini adalah pranor tingkat tinggi yang bisa merusak segel dengan mudah. Tidak mengawal pelanggan adalah tindakan yang bodoh. Selain itu, mengawal pelanggan juga memudahkan transaksi.
Di sini, ada dua tingkat yang disatukan menjadi satu lantai. Itu membuat ruangan ini terlihat lebih luas dan tinggi, belum lagi di atas masih ada satu lantai yang sama besarnya.
Saat awal pelayan itu menyambut, Kala sudah berkata bahwa dirinya mencari pedang untuk perempuan dengan tingkat tinggi. Tentu saja ini pedang spirit dengan tempaan khusus yang bagus. Si pelayan membawa mereka bertiga ke rak senjata perempuan berada.
Semuanya memancarkan aura mengerikan dari badan pedangnya. Kala segera mengenali bahwa pedang-pedang ini adalah pedang yang sudah pernah digunakan dengan jam terbang tinggi.
“Aku tidak mencari pedang yang sudah pernah digunakan, aku mencari pedang-pedang yang masih baru.”
Walau pedang-pedang di sini terlihat anggun dan menakjubkan, tapi Kala lebih memilih kualitas. Pedang ini selanjutnya akan menjadi teman hidup-mati Kaia di medan perang, tidak boleh sembarang.
Si pelayan terlihat memaksa senyumnya tetap tampil. “Maaf, tapi senjata yang masih baru memiliki harga yang sangat mahal.”
“Tunjukkan padaku.”
Dengan sedikit terpaksa, si pelayan membawa Kala dan Kaia ke lantai berikutnya. Aura yang berbeda segera menyambut Kala dan Kaia setibanya di lantai atas, rasa aura yang anggun dan penuh dengan keangkuhan.
“Selamat datang di ruangan ‘Surgawi yang Mematikan’. Di ruangan ini, kami hanya menyajikan barang-barang yang berkualitas tinggi. Berdasarkan sejarah, ruang Surgawi yang Mematikan pernah didatangi sejumlah tokoh silat besar.”
Pelayan itu menceritakan sedikit sejarah tentang ruangan ini. Kala, Kaia, Alang menatap takjub senjata-senjata yang berada di tingkat akhir ini.
Senjata tombak emas dengan mata berlian terlihat terpajang di sudut ruangan. Pedang dengan mata bergerigi juga disusun di sebelah kotaknya. Seluruh senjata apik mengisi ruangan, tetapi hanya ada satu senjata yang paling menarik di ruangan ini.
Itu adalah pedang ramping yang tertancap di batu yang besar. Batu ini besar, tapi pedangnya berukuran seperti pada umumnya dengan tubuh ramping, agak tidak cocok.
Permukaan pedang itu sepenuhnya karatan, hampir sama dengan pedang tua yang rusak. Mata pedangnya terlihat tumpul bahkan jika dilihat dari kejauhan.
“Pedang itu adalah pedang misterius yang leluhur kami temukan di Gunung Kalisan, Kerajaan Bulan Hitam. Pedang itu tertancap di batu, leluhur kami mencoba menariknya tapi pedang tersebut enggan berpisah dengan batu.
“Leluhur merasakan bahwa pedang ini istimewa, sehingga mereka membawanya bersamaan dengan batunya. Yang lebih menakjubkan, mereka menggotong batu dan pedang itu karena tidak bisa masuk ke cincin interspatial!”
Kala juga merasakan sebuah aura keangkuhan pada pedang tersebut, menujukan bahwa dia bukan pedang sembarangan. Entah mengapa Kala merasa bahwa pedang itu memilih Kaia sebagai jodohnya.
Kala sudah berpikir bahwa perasaan hanyalah halusinasi, tapi di sisi lain pedang itu seakan meminta perhatian.
“Berapa harga pedang itu?” Kala bertanya secara spontan, tanpa ia sadari.
“Kami tidak memasang harga untuk pedang ini, tapi bagi siapa pun yang berhasil mencabut pedang ini dari batu, maka ia boleh membawanya secara percuma.” Si pelayan berkata dengan bangga.
“Siapa namamu?” tanya Kala.
“Tjakra, Tuan Pendekar,” jawabnya sopan.
“Baiklah Tjakra, biar aku mencoba mencabutnya.” Kala menggosok.
“Tentu, Sampeyan bisa mencobanya.” Tjakra mempersilakan, lagi pula sudah banyak yang mencobanya tapi tidak pernah ada yang berhasil.
__ADS_1
Alang memilih terbang ke pundak Kaia saat mengetahui bahwa Kala akan melakukan sesuatu.
Kala mendarat di atas batu itu dalam sekali lompat. Gagang pedang ia pegang, lalu dengan mengalirkan Prana ia mencoba menarik ke atas. Namun, hasilnya nihil. Kala malah merasa Prana miliknya tersedot saat berusaha menarik pedang itu.
“Ah, ini hanya akan sia-sia saja.”
Bukannya bersedih, Kala justru senang dengan hasilnya. Itu artinya pedang ini bukan menarik perhatian bukan karena dirinya, tapi benar karena Kaia. Jika sudah berjodoh, maka pasti akan menyatu.
“Kaia, tarik pedang ini.” Kala lompat dari panggung batu, Tjakra dan Kaia mengernyitkan dahi.
“Hah? Apa kau bercanda?”
Jika Kala yang ganas itu tidak bisa menarik pedangnya, itu artinya Kaia sangat mustahil, begitu konsepnya. Bahkan Tjakra sampai menganga tidak percaya.
“Aku tidak bercanda, tarik pedang ini, lakukan itu saja dan berhenti banyak bicara.” Kala berdiri di samping Tjakra sambil mengangguk-angguk pelan pada pedang itu.
“Eak ....” Alang mendukung Kala, ia juga merasakan aura dari pedang itu.
“Itu hanya akan jadi hal yang sangat memalukan,” bisik Kaia pelan.
“Eak eak eak. Eak, eak!” Alang menjelaskan bahwa pedang itu mengarahkan auranya kepada Kaia. “Eak!”
“Baiklah-baiklah, aku akan mencobanya.” Kaia akhirnya mau setelah Alang membujuknya, kini burung kecil itu terbang ke pundak Kala.
Kaia melangkah mendekat dengan gugup. Batu itu terlalu tinggi, Kaia harus memanjatnya. Tapi, memanjat bukanlah keahliannya, bahkan kelemahannya. Ditambah, permukaan batu yang licin. Sempurna.
Kaia berusaha menggapai sudut batu, tapi ia terpeleset dan jatuh. Sedikit mengaduh tapi tetap mencoba lagi. Kala tersenyum bangga melihat kegigihannya.
Tjakra dengan lekas membalik ke belakang, tapi tidak dengan Kala.
“Berbalik ke belakang!”
“Tidak mau. Kau pikir bisa sesuka hati mengatur diriku?” Kala tersenyum sinis. “Bukan begitu, Alang?”
“Eak?” Burung kecil itu tidak tahu harus menjawab apa.
“Lakukan lagi, Kaia. Gunakan Prana.”
Kaia menepuk jidatnya, sedari tadi ia tidak menggunakan Prana. Tentu saja ia tidak terbiasa dengan kekuatan barunya, bahkan untuk mengendalikannya saja masih ambigu.
Kaia mencoba memanjat dengan Prana dialirkan ke tangan dan kaki. Ia terjatuh dua kali, tapi untuk percobaan ketiga hasilnya sangat memuaskan. Kala berhasil mencapai puncak. Namun, keberhasilan Kaia seakan nampak sebagai bintang redup mengingat Kala sampai di atas dengan satu loncatan santai.
Kini Kaia menatap pedang itu dengan perasaan campur aduk. Setelah sampai di sini, ia baru merasakan bahwa pedang tersebut seakan berbisik padanya, sebuah bisikan yang ia sendiri tidak bisa menjelaskannya.
Dengan perlahan dan takut, Kaia memegang gagang pedang tersebut. Saat tangannya menyentuh permukaan karatan tersebut, perasaan dingin yang menyejukkan segera menjalar ke seluruh tubuhnya.
“Perasaan apa ini?” Kaia bergumam pelan.
Kala melihat perubahan ekspresi Kaia, ia berubah menjadi serius. Kaia memejamkan matanya lalu dengan perlahan menarik pedang karatan itu.
__ADS_1
Sriiing ....
Pedang itu perlahan tertarik dari singgasananya. Kala dan Alang membeliakkan mata, walau sebenarnya mereka sudah menebak ini sejak awal! Tjakra langsung berbalik saat mendengar suara desing pedang, mulutnya terbuka lebar.
“Bagaimana bisa?!”
Kala segera memberi isyarat agar Tjakra tidak bicara terlebih dahulu.
Pedang dengan perlahan tapi pasti keluar sepenuhnya dari batu. Saat pedang itu sepenuhnya keluar, semua permukaan karat terhempas ke udara lalu pedang bersinar dengan terang.
“Jodoh telah ditemukan.” Kala tersenyum tipis.
Sinar pedang itu perlahan redup sepenuhnya, menampilkan bukan sebuah pedang karatan lagi. Pedang yang dipegang sekarang adalah pedang yang fantastis! Berkilau besinya, gagang pedang hitam dengan permata di antara mata dan gagang, dan mata pedang terlihat sangat tajam. Yang lebih menakjubkan lagi, pedang itu memancarkan aura yang luar biasa dingin.
“Pedang yang pas untuk Kaia.” Kala tertawa pelan.
Tjakra tergagap-gagap. Tentu ia tidak pernah menduga bahwa pranor tingkat rendah seperti Kaia mencabut pedang legendaris seperti tanpa usaha. Namun, seperti leluhurnya berwasiat, pedang itu akan diberikan kepada siapa pun yang berhasil mencabutnya dari batu.
“Apa pedang itu bisa kami bawa pulang, Tjakra?” tanya Kala santai.
“Ini ... ini adalah hal luar biasa. Aku .... aku akan memanggil manajer.” Tjakra berlari cepat.
“Tentu.” Bahkan Kala terlambat mempersilakannya pergi.
Kaia memandangi Kala dengan tatapan tak percaya, bahkan ia memegang pedang dengan tangan bergemetar.
“Kemari, Kaia.” Kala berkata dengan lembut.
Kaia meloncat dari batu dan mendarat dengan mulus, setelah itu ia menghampiri Kala walau pikirannya berada di tempat lain.
“Apa kau senang?”
“Aku tidak tahu, ini perasaan aneh.” Kaia berkata dengan terbata-bata.
“Itu artinya kau terlalu senang. Nah, sekarang pedang itu akan menjadi temanmu.”
Baru selesai Kala berkata seperti itu, Tjakra kembali bersama seorang pria paruh baya dengan tergesa-gesa. Saat melihat Kaia memegang pedang dan pedang di batu sudah lenyap, si pria paruh baya tak kuat lagi berdiri. Dalam kondisi bersimpuh, ia terus memandangi pedang itu.
“Aku tak percaya ini, tapi pedang itu sudah menemukan jodohnya!” Si manajer berteriak setinggi langit lalu bangkit mencengkeram kedua pundak Kaia. “Kau adalah jodohnya!”
Melihat si manajer mencengkeram pundak Kaia sambil berteriak senang, Kala berubah suram. Melihat perubahan raut wajah Kala, Kaia segera bergerak mundur. Si manajer paruh baya itu menyadari kesalahannya dan meminta maaf.
“Leluhur kami pernah berkata bahwa pedang ini hanya akan tunduk pada jodohnya, dan aku merasa bangga karena si jodoh bertemu di masa-ku.” Si manajer menahan kegembiraannya. “Dan sesuai wasiat leluhur, kami akan memberikan pedang itu secara cuma-cuma, kau juga akan mendapatkan status sebagai tamu kehormatan di sini.”
“Ekhem.” Kala berdeham, dirinya seakan tidak dianggap di sini. “Itu bagus, terima kasih, Pak.”
“Ah, tentu-tentu!” Pria paruh baya itu mengangguk bagai ayam. “Biar aku jelaskan, pedang ini ditemukan dua ratus tahun yang lalu saat para leluhur mencari benda pusaka. Karena sifatnya, mereka menamai pedang ini sebagai ‘Pedang Batu Keramat’.”
“Itu nama yang bagus,” Kala bergumam. “Tapi pedang ini terlalu memancarkan aura kuat, pasti akan menarik perhatian. Apa kalian ada sarung pedang yang cocok untuk pedang ini? Agar aura dari pedang bisa ditutupi.”
__ADS_1
“Ah, kalau begitu biar aku lihat terlebih dahulu bentuk pedangnya.”