
Sederhananya, buaya ini tidak menyerang Kala tadi sebab Kala memancarkan aura pranor. Tentunya buaya tersebut tidak ingin mencari masalah walau perutnya lapar. Dan pada saat giliran Kaia yang mandi, buaya tersebut menyerang.
Alang tidak terlihat. Atau lebih tepatnya ia sedang berada di mulut buaya itu!
Sorot mata Kala tidak sengaja menyapu sosok Kaia, yang tengah hampir tidak berpakaian dan berusaha menggapai pakaiannya pinggir kolam.
Lekas-lekas Kala memalingkan matanya. Kini ia menatap kepala buaya yang masih menyembul itu dengan marah. Ia menggapai Keris Garuda Puspa di dalam cincin interspatial.
Ia mengalirkan prana dalam jumlah besar ke permukaan keris besar tersebut. Dirinya seakan masuk ke dalam ruangan itu lagi, enam guci dengan satu guci yang terisi.
Kala memejamkan matanya. Saat dibuka, dirinya sudah berada di lokasi air terjun itu lagi.
Tubuhnya menjadi ringan dan matanya menjadi tajam walau ia tidak memakai Mata Garuda. Kala melompat ke atas moncong hidung buaya tersebut.
Kerisnya diangkat tinggi-tinggi lalu ditusuk ke hidung buaya tersebut. Buaya itu membuka mulutnya lalu meraung-raung, Alang keluar dari mulut buaya itu dengan tubuh berapi-api.
Buaya itu menarik diri ke dalam air lagi, tapi Kala tidak memberi jeda. Ia menebaskan kerisnya ke sekujur kepala sang buaya. Tubuh Kala masuk ke dalam air saat kepala buaya itu juga masuk ke dalam air.
Buaya spirit ini bersembunyi di dalam lubang yang ada di bawah kolam, dan sekarang ia terus masuk ke dalam.
Kala tidak membiarkan buaya itu lolos, buaya ini merupakan tangkapan besar untuk makanan Alang. Juga, Kala sudah menghabiskan hampir semua prana yang ia miliki untuk mengaktifkan kerisnya, ia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini.
Kala menyelam. Lalu dengan tangkas, ia menancapkan kerisnya pada tengah kepala buaya tersebut, di mana otaknya berada. Kulit buaya yang seharusnya keras itu menjadi seperti sebatang kayu di tangan Kala, atau memang kulit buaya ini tidak terlalu keras?
Darah mengucur dan menyatu dengan air, membuat kolam air terjun sekarang berwarna merah. Dari atas, Kaia sangat panik karena mengira darah itu adalah darah Kala. Kaia memutuskan berlari untuk mengantisipasi jika Kala kalah dan buaya itu menargetkan dirinya.
Tetapi, sebelum ia masuk ke dalam rimbun pepohonan, langkahnya terhenti. Bagaimana bisa ia meninggalkan orang yang bertarung demi dirinya? Bisa saja Kala hanya terluka parah, pasti akan membutuhkan bantuan dari Kaia.
Kaia kemudian memantapkan hati, langkahnya kini berbalik menuju kolam yang berwarna merah tersebut. Sebelum itu, ia memastikan terlebih dahulu bahwa dirinya sudah benar-benar tertutup pakaian.
Beberapa saat kemudian kepala Kala menyembul dari tengah kolam, ia kemudian berenang ke pinggir kolam berusaha menggapai tanah. Namun, Kala sudah tak sadarkan diri di dalam air.
Tubuh Kala mengambang dan mungkin sebentar lagi akan tenggelam. Tanpa pikir panjang, Kaia meloncat ke air. Dirinya tidak memikirkan kemungkinan buaya yang masih hidup di dalam air, ia hanya memikirkan kemanusiaannya.
Kaia menggapai Kala sesaat sebelum ia tenggelam. Ia menarik Kala sampai pada akhirnya menidurkannya di pinggir kolam. Kaia segera mengecek Kala, pemuda ini sepertinya sudah kemasukan air, napasnya hampir tidak ada!
Kala masih tak sadarkan diri! Ini yang membuat Kaia cemas, ia bukanlah orang yang ahli dalam memberi napas buatan. Dan dia tidak mau melakukan itu. Namun, melihat kondisi Kala yang seperti ini, ia tidak ada pilihan lain atau pemuda yang baik ini akan mati.
Kaia kembali memantapkan hatinya lalu mendekat ke wajah Kala.
Sedangkan Alang, ia sudah terbang tinggi-tinggi dan sekarang melesat menuju kolam. Ini bisa membuat buaya itu mati dalam satu serangan ledakan. Namun, Alang melihat bahwa Kala berada di pinggir kolam bersama Kaia, ini akan membahayakan keduanya jika Alang lanjutkan.
Alhasil, Alang menggerakkan sayapnya untuk kembali terbang dalam ketinggian normal. Ia masih terus memantau keadaan Kala di bawah sekaligus tanda-tanda pergerakan di pinggir sungai.
***
“Puah!”
Kala memuntahkan sedikit air yang tadi mengisi paru-parunya. Kala membuka matanya secara perlahan dan menemukan wajah Kaia yang sangat dekat dengan wajahnya. Pemuda ini berusaha mencerna situasi sampai pada akhirnya ia menarik satu kesimpulan.
Kaia segera menyingkir dari hadapan Kala dan berdiri agak jauh dari lokasi Kala terbaring. Kala juga mengubah posisi menjadi bersila untuk menyerap sebanyak mungkin prana.
Kala merasa Alang hinggap di pundaknya. Alang seperti mengisyaratkan sesuatu pada Alang.
Dengan senyum lebar dan tangan yang bergemetar, Kala mengeluarkan pipa terakhir yang ia miliki. Alang segera mengirim bola api kecil sebelum Kala menghirup pipa tersebut.
Kaia mengerutkan dahinya walau wajahnya memerah. Baru terbangun dari pingsan dan langsung merokok? Apa malaikat maut tadi menyuruhnya merokok?
Prana dengan cepat mengisi inti prana milik Kala. Kala merasa tenaganya pulih walau tidak secara keseluruhan. Ia bisa menggerakkan bibir untuk berbicara.
__ADS_1
“Terima kasih ... kau menyelamatkanku. Tanpa dirimu, aku ....”
“Tidak perlu banyak bicara dan jangan pernah mengingat itu lagi.” Kaia berkata dengan dingin sebelum berjalan entah ke mana.
Kala memejamkan matanya lagi. Menunggu proses pemulihan.
“Alang, kau pasti sangat lapar. Buaya itu sudah mati, ada di dasar air ... kau bisa mengambilnya saat dia mengambang.”
Entah kebetulan atau takdir, tubuh buaya itu mencuat dari permukaan air. Kematiannya sangat menyakitkan karena Kala butuh beberapa saat sampai kerisnya menyentuh otak, matanya terbuka lebar dengan ketakutan seolah tidak percaya bahwa dirinya sudah mati!
“Eak ....” Sedangkan Alang yang masih tidak rela meninggalkan Kala, ia tidak akan pergi.
“Aku baik-baik saja.” Itu yang hanya Kala dapat ucapkan sebab tidak mampu mengucap lebih jauh lagi.
Burung itu meninggalkan pundak Kala dengan terpaksa. Ia akan memakan daging sebanyak mungkin untuk menyerap prana yang ada di daging, itu setara dengan makan beberapa batu energi.
Kala membuka matanya sedikit, melirik Kaia yang sepertinya sedang menumbuk jahe yang ia dapatkan di atas batu dengan beberapa tanaman spirit lainnya. Kala tidak tahu apa yang Kaia lakukan tapi beberapa saat kemudian Kaia menghampiri Kala dengan jahe tumbuk itu.
“Makan ini.” Jahe tersebut berada di atas piring daun seadanya, Kala membuka mata berusaha menggerakkan tangannya.
Kala bisa saja menggapai jahe itu, tapi untuk menyuapnya ia sangat tidak yakin bisa melakukannya. “Aku ... sepertinya tidak bisa.”
“Jangan memintaku untuk menyuapimu.”
Daripada membuang tenaga untuk menjawab gadis tersebut, Kala memilih memejamkan matanya lagi. Rokoknya diapit di mulut lalu dihisap perlahan, kemudian dihembuskan dari hidung. Dengan tindakan Kala yang seperti itu, Kaia merasa sedikit kesal dan pada akhirnya meletakkan piring daun itu di depan Kala. Kaia beranjak pergi duduk di batu besar tak jauh dari Kala.
Sedangkan Kala, ia masih memikirkan pertanyaan yang sulit dijawab.
Buaya itu tidak memiliki kulit yang tajam.
Dan seharusnya, bagian dalam mulut buaya adalah titik paling rentang untuk diserang. Tapi mengapa Alang tidak bisa mengalahkannya di dalam mulut? Sedangkan aku malah bisa mengalahkannya di luar mulut?
Jawaban itu baru bisa dijawab setelah Kala memeriksanya sendiri. Namun, untuk memakan ramuan ini saja Kala tidak bisa, apa lagi untuk membedah buaya tersebut.
Kala terus mengumpulkan prana walau rokoknya sudah habis. Ia tidak tahu sudah berapa lama ia begini, atau seberapa bosannya Kaia yang menunggu dirinya.
Prana Kala sekarang terisi setengahnya, itu sudah lebih dari cukup untuk menyuap ramuan.
Pemuda itu mengangkat ramuan itu lalu memakannya dengan lahap. Walau rasanya tidak enak, tapi Kala sangat yakin bahwa ini adalah ramuan yang sehat.
“Ramuan ini, terbuat dari apa saja?” Kala membuka suaranya.
“Apa kau perlu tahu? Bukankah kau bisa makan ramuan tersebut tanpa perlu tahu komposisinya.”
Kala menggertak giginya. “Jika bukan karena kau sudah menyelamatkanku, aku pasti akan membunuhmu saat ini juga.”
Nafsu membunuh Kala tiba-tiba menyebar, membuat Kaia sesak napas dan jatuh berlutut. Ia sekarang menatap Kala bagaikan menatap binatang buas!
“Tunggu dulu. Bukankah aku sampai seperti ini karena menyelamatkanmu? Mengapa aku harus berutang budi padamu?” Kala tiba-tiba bangkit dan menarik kerisnya dari cincin interspatial. “Aku bisa saja membunuhmu sekarang karena kita tidak mempunyai utang budi.”
Kala berjalan pelan ke arah Kaia, sengaja memperlambat gerak jalannya agar Kaia merasakan ketakutan yang teramat sangat. Dengan perlahan namun pasti, sekarang Kala sudah berdiri di depan Kaia dengan Keris Garuda Puspa di dekat lehernya.
“Eak!” Alang tentu saja berusaha menghentikan Kala walau ia juga merasa kesal terhadap Kaia.
“Gadis ini sudah keterlaluan Alang, tapi aku memberi muka kepadamu.” Kala menarik semua nafsu membunuhnya lalu berjalan ke dekat Alang.
Ia menceburkan diri ke sungai dan menarik buaya itu ke darat. Alang yang sedang makan di atas buaya tersebut tidak pergi malah merasa terhibur.
Kala membuka mulut buaya tersebut dan dengan kerisnya menyundul-nyundul langit-langit mulut sang buaya. Kala mengangkat alisnya, kulit di dalam mulut buaya ini sungguh berbeda dan sangat keras, dan juga bukan merupakan selaput daging melainkan sisik-sisik.
__ADS_1
Kala memutuskan menguliti kulit mulut buaya dan menyimpannya di cincin interspatial. Mungkin saja akan dibutuhkan suatu hari nanti.
Matahari sudah berada di tengah ketika ia menyelesaikan semua pekerjaannya. Alang juga sepertinya sudah kenyang dan tubuhnya sudah tidak terlihat lemas. Kala memutuskan untuk melanjutkan perjalanan, tapi ada sesuatu yang berbeda di perjalanan ini.
Kala meninggalkan Kaia yang masih ketakutan begitu saja. Rasa pedulinya sudah dimakan habis oleh kesabaran yang juga sudah melampaui batasan. Alang segera menyusul Kala ke pundaknya, tanpa mempedulikan Kaia yang masih termenung.
“Apa ... apa kau mau meninggalkanku?”
Kala terus melangkah tanpa mempedulikan Kaia yang baru saja berbicara.
“... setelah sejauh ini? Kau membawaku ke dalam hutan lalu meninggalkanku?”
“Mengapa kau tidak membiarkan saja diriku mati malam itu?”
“Apa kau tidak merasa bahwa dirimu jauh lebih kejam dari mereka?”
Langkah Kala terhenti sampai di sini. Ia tidak tahu harus pergi atau meninggalkan gadis ini. Tadi, dia tidak bersikap seperti ini. Entah mengapa, Kala merasa harga dirinya sebagai laki-laki akan lenyap jika meninggalkan Kaia di sini.
“Jika kau ingin ikut, maka ikutlah. Aku tidak akan melayani secara berlebihan mulai sekarang. Namun, kau bisa memilih untuk tinggal di hutan ini sendirian.” Kala berbicara tanpa menoleh ke belakang, tapi ia bisa mendengar Kaia yang buru-buru menghampirinya.
Kala kembali melangkahkan kaki saat Kaia sudah tiba di belakangnya. Ia mengingat kejadian tadi di mana dirinya diselamatkan oleh Kaia dengan napas buatan, ia tidak tahu harus menangis atau tertawa.
Dirinya ingin melupakan kejadian itu. Lagi pula, Kaia juga mengatakan tadi agar tidak perlu dibahas lagi. Kala meringis saat membayangkan kemarahan Maheswari jika dirinya tahu apa yang dilakukan Kaia!
Mereka terus berjalan dengan Kala di depan menembus semak-semak. Tidak ada istirahat karena Kala tidak lagi memanjakan Kaia. Gadis itu pun sudah bersyukur Kala masih mau menerimanya.
Hingga sore hari, Kala yang sedang membuka jalan di semak belukar menemukan jalanan umum. Kala beramsumsi bahwa mereka sudah dekat dengan kota, itu biasanya ditandai oleh banyaknya jalanan-jalanan kecil menuju jalan utama.
Jalan seperti ini biasanya dilalui oleh pedagang dengan kuda. Terlihat dari jalan yang dikeraskan dan juga bekas roda gerobak. Kala menoleh ke kanan dan ke kiri, berusaha memahami arah mana yang akan menuju kota.
Kala menggaruk kepalanya. “Aduh, sepertinya aku memerlukan peta.”
Mata Kala melirik burung kecil di pundak kanannya sambil mengangguk, Alang segera mengerti dan terbang ke atas untuk mencari arah jalan. Sementara Kala memilih berjongkok di pinggir jalan menunggu Alang.
Kaia bersender pada pohon, cukup jauh dari Kala sebab dirinya masih mempunyai rasa takut pada Kala. Nafsu membunuh yang Kala keluarkan tadi malam memang sangat besar karena Kala sangat ingin membunuh Kaia saat itu juga.
Ia menggerakkan lengannya, seketika itu juga botol labu berisi air sudah ada di tangan Kala. Dirinya meneguk air secukupnya lalu menyodorkan ke arah Kaia.
“Kau haus?”
Kaia melirik botol itu, menelan ludah lalu menggelengkan kepala. Kala menggelengkan kepala pelan.
“Aku tidak suka kebohongan ....” Kalimat pertama Kala sangat dipenuhi oleh dendam dan amarah, tapi kalimat ke dua menjadi lebih halus. “Jika kau memang haus, katakan saja.”
Kaia melirik mata Kala sebentar lalu menghampirinya, disambar botol itu lalu air di dalamnya habis diteguk. Kaia memberikan botol itu kembali pada Kala setelah hanya tersisa beberapa tetes air.
Kala menggelengkan kepalanya pelan sebelum menyimpan botol itu kembali ke cincin interspatial. Sedangkan Kaia kembali menyender di pohon yang sama.
Embus demi embus berlalu. Angin semilir membawa aroma hujan yang khas mulai tercium. Hari telah senja, tapi cakrawala tidak jingga melainkan abu-abu. Hujan sudah dekat dan akan menimpa hutan ini habis-habisan.
Kala tersenyum tipis. Jika ia berada di dalam gubuk lamanya, hujan seperti ini sangat ia nantikan sekaligus sangat ia benci. Hujan yang datang akan membuat jamur tumbuh pada kayu yang sudah Kala siapkan, tapi hujan juga membuat dirinya hampir mati kedinginan setiap malam.
“Kaia, bisa kau ceritakan riwayat hidupmu? Aku rasa ini penting jika kau masih ingin bersamaku.” Kala berkata dengan sinis, “atau, kau ingin tinggal di kota yang nanti akan kita kunjungi? Itu pilihanmu.”
Sepertinya Kala tidak memberi pilihan pada Kaia melainkan ancaman. Jika Kaia tidak ingin menceritakan riwayat hidupnya, maka Kala akan meninggalkannya di kota. Jika tinggal di kota dalam kondisi sudah kehilangan kehormatan, apa yang bisa membuatmu hidup tak terasa seperti mati?
Kala menghela napas panjang sebelum duduk bersila tak jauh dari Kala dan mulai bercerita. “Ayahku adalah prajurit dari pasukan inti Geowedari. Sayangnya, ayahku meninggalkan pekerjaannya demi cinta ....”
“Aku tak mempertanyakan tentang ayahmu.”
__ADS_1
Kaia mengepalkan tinjunya kuat-kuat. “Aku adalah warga desa yang sudah tinggal di sana sejak lahir. Kecantikanku menjadi berkat bagi keluargaku, aku akan menjalani pertunangan yang seharusnya dijadwalkan hari ini dengan seorang bangsawan muda. Aku sebenarnya tidak setuju, dan Tuhan benar-benar mengabulkan doaku agar pertunangan itu dibatalkan.”