Seni Bela Diri Sejati

Seni Bela Diri Sejati
Memasuki Alam Lain


__ADS_3

Serangan Kala yang brutal cukup merepotkan di tabib, tapi serangan Kala membuka banyak celah. Kini perut Kala sudah teriris walau tidak dalam; bahkan dirinya belum melukai si tabib satu goresan pun!


“Hahaha! Kau akan kalah! Aku akan menjadi sakti! Sakti!”


Siapa yang tidak kesetanan saat dijanjikan Kristal Mata Iblis dan Keris Garuda Puspa di depan mata? Ia akan menjadi pranor puncak dengan senjata yang bagus.


“Tidak semudah itu.” Kala tersenyum tipis saat memahami pola serangan si tabib.


Sang tabib menyerang ke kanan, lalu memutar tubuhnya dan menyerang ke kiri mengarah langsung ke leher. Kala bisa menangkis semuanya dan ia mulai melihat celah.


Saat serangan pertama, si tabib akan menyerang ke kanan atau kiri dengan serangan mengarah ke paha. Itu bukan serangan vital, tapi Kala menangkisnya. Senjata lawan akan berada di sisi bawah saat selesai menangkis, si tabib memanfaatkan itu untuk menebas langsung ke leher dari arah berlawanan.


Setelah memahami pola serangan si tabib, Kala segera menentukan rencana, tapi serangan seperti itu datang memburu bahkan saat Kala belum selesai berpikir.


Kala membiarkan serangan pertama mengenai betisnya, ia sama sekali tidak menangkis. Si tabib terlihat bingung dan panik saat Kala tidak menangkis, tapi serangannya sudah terlanjur jalan dan tidak bisa dihentikan.


Saat pedang itu menancap di daging dan otot Kala, terlihat celah terbuka lebar. Keris Kala bisa menyerang kapan saja sedangkan pedang tabib masih tertancap di paha Kala.


Kala berteriak kencang lalu mendorong kerisnya ke depan, tepat menembus perut di tabib. Serangan ini merupakan serangan pertama yang berhasil menggores tubuh si tabib, tapi jelas ini bukan sekadar menggores, ini adalah serangan penutup!


Si tabib mundur beberapa langkah ke belakang lalu bersandar pada tembok. Mulutnya membuka lebar begitu juga matanya. Seakan tidak percaya dengan apa yang dia alami sekarang. Perlahan wanita itu terduduk sambil bersandar di tembok, darahnya terus mengucur dari perutnya turun ke lantai, matanya menutup saat jiwanya melayang.


Kala menghela napas panjang saat melihat hanya tersisa beberapa air di guci kerisnya. Lukanya banyak, dan ia kekurangan banyak darah. Jika bukan ditopang oleh kekuatan keris ini, Kala sudah tak sadarkan diri dari tadi.


Sepertinya hari ini ia akan tetap pingsan, tapi kemenangannya besar.


Seorang pranor di tingkat Pondasi Prana bisa menumbangkan lawan Alam Formasi Spirit yang memakai ilmu terlarang, dan dia menumbangkan lawan dengan cepat. Tidak ada yang bisa melakukan kegilaan ini selain Kala! Bahkan Kala tidak terlalu puas dengan hasil kemenangan ini.


Kala tersenyum ramah sambil mendelik pada Kaia di kasur. “Tidak ada kemenangan tanpa pengorbanan.”

__ADS_1


Bruk!


***


“Di mana ini?” Kala mengerjap matanya beberapa kali.


Seingatnya, tadi ia tak sadarkan diri saat Air Prana di guci habis. Sekarang, ia terbangun di tempat yang tidak dikenalinya. Ini bukan di penginapan atau di Jawa.


Langit berwarna hitam. Awan berwarna emas terang, seakan menjadi lampu. Bulan berwarna biru. Bintang-bintang bergerak dengan cepat. Dan banyak kunang-kunang di sini.


Kala sendiri terbaring di atas rerumputan, menghadap ke langit. Kala bangkit duduk dan melihat ke sekeliling sekaligus kondisi tubuhnya. Cincin interspatial hilang!


“Tidak perlu panik, Anak Muda.” Terdengar suara berat yang rapuh dari belakang.


Kala menoleh ke arah suara, tapi ia tidak menemukan apa pun. “Di mana kau?”


“Lalu, aku di mana dan untuk apa aku di sini.”


“Aku tidak bisa menjelaskan rupa tempat ini, yang pastinya kau menerobos ke Alam Kristal Spirit saat selesai bertarung.”


Kala mengangguk pelan dan tersenyum puas, ada beberapa pranor yang menembus tingkat di tengah tekanan pertarungan. Ini baik dan akan menjadi kebanggaan tersendiri.


“Bagaimana aku memanggilmu, Suara?” tanya Kala usai menenangkan diri.


“Hm, aku tidak punya nama, tapi kau bisa memanggilku ... ah terserahlah.” Suara itu terlihat kesal. “Sejak enam ribu tahun yang lalu, tidak ada yang menanyai namaku, aku sungguh kesal karena kau tidak sopan padaku!”


“Enam ribu tahun? Apa kau bercanda?”


Seribu tahun merupakan waktu yang tidak sebentar, dan rata-rata pranor kuat hidup sampai seribu tahun. Dua ribu tahun sudah sangat sulit, dan tiga ribu tahun mustahil; suara itu secara tidak langsung mengatakan bahwa dirinya hidup lebih dari enam ribu tahun.

__ADS_1


“Untuk apa aku bercanda!” Ia semakin kesal. “Awalnya aku senang karena ada orang yang menjumpaiku setelah enam ribu tahun. Tapi kini, aku menyesal.”


“Suara, kau yang membawaku ke sini tanpa permisi! Mengapa kau yang marah-marah?”


Suara itu terlihat geram beberapa saat lalu ia menghela napas panjang. “Aku hanya akan menjalankan tugas. Aku sangat menyarankan dirimu untuk mengikuti kunang-kunang itu, mereka akan mengantarmu ke sebuah tempat.”


Suara itu berubah menjadi tenang dan damai; sekumpulan kunang-kunang terbang ke arah Kala. Suara itu berkata untuk mengikuti mereka.


Kunang-kunang menuntun Kala masuk ke dalam semak belukar dan pelosok yang lebih jauh. Kala sendiri masih bingung dengan apa yang terjadi saat ini.


***


Kala dihadapkan dengan bantaran sungai berbatu. Air sungai ini mengalir dari titik terendah ke titik tertinggi, berkebalikan dengan ada yang di bumi. Kala hanya menggaruk kepalanya bingung.


Tiba-tiba kunang-kunang itu berpecah belah, pergi kembali ke semak-semak. Kala tentu tidak bisa mengikuti mereka yang sudah tidak bergerombol, jadi ia beramsumsi bahwa ini adalah tempat tujuan.


“Apa aku harus mandi?” Kala tidak menemukan apa pun yang bisa ia lakukan di sini selain bernapas.


Bertepatan setelah Kala mengatakan itu, tiba-tiba muncul cahaya biru dari atas turun ke bawah. Cahaya ini mendekati Kala dan semakin jelas wujudnya, perlahan cahayanya meredup hingga seperti cahaya kunang-kunang yang terang.


“Tidak perlu mandi.” Suara wanita tenang yang menghanyutkan datang dari cahaya itu.


Cahaya biru perlahan menjelma menjadi gadis bergaun biru yang dikelilingi kupu-kupu biru. Ia bagai bidadari yang turun dari langit. Kulitnya bersih bagai salju di Kastel Kristal Es. Bibirnya mungil dan wajahnya sangat cantik, Kala bahkan tidak bisa menatap langsung ke arah wajahnya.


Kaki si bidadari menginjak tanah di dekat Kala dengan tenang. Kupu-kupu masih mengelilinginya, seolah menjadi prajurit abadi yang melindunginya.


“Apa kunang-kunang tadi menuntunku untuk menemuimu?” tanya Kala meniru sikap tenang si bidadari.


“Itu benar,” katanya pelan, “aku sangat senang berjumpa dengan seseorang setelah sekian lama.”

__ADS_1


__ADS_2