
“Tutup mataku dan jangan melawan.” Kala meletakkan jari telunjuknya ke dahi Kaia sambil mengalirkan Prana pelan-pelan dalam jumlah besar.
Kaia sedikit merasa pusing di kepalanya dan itu menjalar ke seluruh tubuhnya, namun, perlahan-lahan rasa pusing itu berganti dengan rasa hangat yang nyaman. Tubuh Kaia mengendur dengan keenakan, seakan ia bisa tertidur kapan saja.
Sedangkan Kala, seluruh tubuhnya berkeringat dingin. Cara yang digunakan untuk membantu Kaia termasuk metode yang berbahaya. Metode mengalirkan Prana dalam jumlah yang besar ke tubuh pasien untuk membersihkan seluruh racun di dalamnya.
Seluruh racun yang mengendap di tubuh Kaia diserap ke dalam tubuh Kala. Salah sedikit saja, maka racun itu akan mengendap di tubuh Kala selamanya. Racun ini adalah racun umum akibat salah makan atau hal lainnya, tidak dirasakan tubuh tapi akan mematikan pada masa depan.
Proses ini berlangsung beberapa menit sampai Kala memuntahkan darah hitam ke atas lantai. Seluruh mukanya pucat tapi ia lebih mengkhawatirkan Kaia yang terlihat segar dan bugar.
“Kau tidak apa-apa?” Kaia bertanya lebih dulu dengan wajah khawatir.
“Bukan apa-apa, makan pil ini.” Kala menyerahkan pil berwarna hijau pada Kaia.
Kaia agak ragu dengan kondisi Kala, tapi Kala bersikeras bahwa dirinya baik-baik saja, Kala juga menekankan agar Kaia memakan pil itu secepatnya. Pada akhirnya Kaia melahap pil tersebut walau ia sangat khawatir pada Kala, bagaimana pun pria ini baru sadarkan diri.
Kaia memejamkan matanya saat tubuhnya seperti mau meledak. Ia benar-benar dipenuhi oleh energi Prana dari pil yang baru saja dimakan. Ia berteriak kencang dan seluruh tubuhnya berkeringat dingin.
Energi di tubuh Kaia mulai surut dan tubuhnya mulai stabil. Tapi, ada beberapa perubahan yang Kaia rasakan di tubuhnya. Tenaganya seakan tak terbatas! Tubuhnya seakan sama beratnya dengan kapas! Dan matanya seperti mata elang!
“Selamat, Gadis Kecil. Kau telah menjadi pranor.” Kala menggosok-gosok rambut Kaia, membuatnya tampak berantakan.
“Apa kau serius? Aku jadi pranor?!”
Kala mengangguk pelan dengan senyum lebar. Kaia lompat dari kasur dengan kegirangan, tapi lompatannya terlalu tinggi dan jauh sampai ia membentur meja. Kaia benar-benar tidak terbiasa dengan kekuatannya sekarang.
“Kau harus membiasakan dirimu terlebih dahulu, jangan banyak tingkah.” Kala mengingatkan sedangkan Kaia mengaduh kesakitan. “Lebih baik sekarang kita keluar untuk meninjau kabar.”
Kala turun dari kasurnya, ia sendiri sampai terkejut karena tubuhnya benar-benar enteng. Kala menggaruk kepalanya saat ia lupa bahwa dirinya baru saja menembus ke Alam Kristal Spirit.
Kaia mengikuti Kala di belakang sambil mengusap-usap lututnya yang tadi terbentur. Saat Kala membuka pintu kamar, ada beberapa tokoh penting yang sudah menantinya.
Mereka semua tentu terkejut melihat kondisi keduanya saat keluar dari kamar.
Kaia dengan baju yang basah keringat, rambutnya kusut tapi menambah kecantikannya. Ia terlihat sangat kegirangan.
__ADS_1
Kala yang tampak kelelahan dengan baju yang basah juga.
Mata semua orang beralih pada Alang di pundak Kala, hanya ia saksi mata satu-satunya.
“Ada apa?” Kala bertanya dengan heran.
“Ah ... bukan, bukan apa-apa.” Semua orang itu tertawa canggung.
Kala menggelengkan kepalanya dan bertanya tentang kabar terbaru dan juga strategi.
Mereka sudah menunggu lama di sini untuk mengucapkan selamat sembuh pada Kala, tapi mereka segera sadar bahwa ada yang lebih penting dari itu.
“Aditya pergi ke tembok kota untuk melakukan negoisasi dengan mereka. Kabar burung juga berkata bahwa Walageni, Ketua Penginapan Progo, dalam perjalanan ke sini dengan tersembunyi,” kata salah satu dari mereka.
“Baiklah, antar aku ke lokasi Aditya melakukan penawaran.”
“Pendekar, Anda baru saja pulih.” Mereka langsung mencegah Kala.
Semua orang ini adalah utusan dari penginapan pusat untuk menjaga keselamatan Kala, mereka semua merupakan pranor senior. Saat mereka sudah dikirim untuk melakukan misi, itu artinya misi tersebut sangat penting. Mereka sebisa mungkin menghindari kecelakaan pada Kala.
“Aku akan bugar dalam beberapa saat, tenang saja.” Kala berkata dengan tenang.
Mereka semua menggaruk kepalanya. Tidak mudah membiarkan sosok yang harus mereka lindungi ke luar kota yang berbahaya, bahkan di dalam kota saja sudah tidak aman lagi oleh penyusup.
“Kalian hanya perlu mengantar aku, jika nanti diriku mati maka bukanlah kesalahan kalian.” Kala memberi jaminan.
Dengan sedikit rasa enggan dan khawatir, mereka mengantar Kala ke bawah. Bahkan mereka dengan cepat menyiapkan kereta kuda terbaik dengan pengawalnya juga.
“Kami tidak perlu kereta kuda, jalan kaki saja sudah cukup cepat. Bukan begitu, Kaia?”
Kaia menatap Kala bingung dan hanya mengangguk pelan.
“Pendekar tidak perlu kelelahan di dalam kereta kuda, dan juga mengurangi risiko.” Seseorang menyanggah dengan sopan.
“Maaf, tapi kuda hanya memperlambat saja. Aku sangat menghormati apa yang ingin kalian berikan.” Kala mengibaskan lengannya pelan.
__ADS_1
“Baiklah, kami akan memberi beberapa pengawal.” Ia juga sadar bahwa kecepatan pranor dalam berlari lebih cepat dari kecepatan kuda.
“Itu juga tidak perlu. Aku bisa melindungi diri sendiri. Lebih baik kalian berpencar ke seluruh kota, Kastel Kristal Es sangat nekad dan bejat, mereka tidak akan berbaik hati pada warga sipil sekali pun.” Kala kembali menolak, kali ini disertai aura membunuh agar lebih meyakinkan.
Aura pembunuh Kala segera dirasakan cukup kuat dan sangat menakutkan. Mereka sekaan merasakan harimau kelaparan di sampingnya. Itu cukup membuat mereka mematuhi Kala.
“Baik-baiklah ....”
Kala tersenyum ramah lalu mengajak Kaia meninggalkan penginapan. Kaia bertanya-tanya terus sepanjang perjalanan, Kala menjawabnya dengan sabar.
“Mengapa tadi kau terlihat mengerikan dalam sekejap?”
“Aku mengeluarkan aura pembunuh, ini adalah aura yang bisa menakuti lawan.”
“Dari mana kau mendapatkannya?”
“Dari banyaknya membunuh.” Kala menyunggingkan senyum.
Kaia sedikit bergidik ngeri, Kala membunuh banyak manusia! Itu pikirnya, padahal Kala lebih banyak membunuh hewan ketimbang manusia.
“Apa aku bisa mendapatkan aura itu tanpa membunuh?”
“Tentu tidak. Maka dari itu, kau harus banyak membantu dalam pertempuran.”
Kaia kembali bergidik ngeri. Membunuh bukan gayanya, tapi itu jalan satu-satunya untuk balas dendam. Kaia meremas jemarinya dengan kuat sekuat tekadnya.
“Tapi, membunuh banyak tidak terlalu bagus. Kau masih berada di Pengumpul Prana.” Kala mengingatkan.
“Aku tidak peduli,” kata Kaia datar.
“Ya, ya, kau selalu begitu, tidak pernah berubah.” Kala tertawa mengejek.
“Memangnya itu masalah untukmu?”
Kala tidak menjawab Kaia, ia lebih memilih memperhatikan suasana kota. Sejak peringatan yang disebarkan, semua penduduk serentak mengunci rumahnya. Mereka tidak ingin keluar rumah jika tidak benar-benar perlu.
__ADS_1
Toko-toko juga tutup kecuali toko pangan yang memang wajib buka, toko pangan dijaga oleh sejumlah pranor untuk keamanan.