
“Tentu saja. Sebelum itu, aku akan memberimu banyak perbekalan. Kau punya cincin interspatial, bukan? Itu buatan langsung dari gurumu, dia sudah tahu bahwa pada suatu saat nanti dimensi interspatial akan rusak.” Mahanta pergi ke belakang, seperti mengambil beberapa barang.
Dia kembali dengan tumpukan gulungan tua. Pastinya berisi ilmu, yang sangat berharga.
“Ini semua adalah buatan kami, aku dan Akhza.” Mahanta menaruh gulungan-gulungan itu di depan Kala, lalu kembali ke belakang.
Kali ini ia membawa kotak-kotak kayu dengan ukiran-ukiran wayang dan batik.
“Di dalamnya adalah pil dan beberapa bibit tanaman yang kau sangat butuhkan nantinya. Ini buatan aku dan Akhza juga, aku sangat sarankan jangan berikan pada siapa pun selain kalian bertiga.” Mahanta mengeluarkan satu gulungan dari kantungnya. “Nah, kalau ini adalah resep makanan yang belum kami coba. Dulu kami berjanji akan memasak ini untuk murid kami. Kami bermimpi akan berkumpul saat memiliki murid dan mencoba resep ini. Untuk sekarang, aku tidak bisa memasaknya sebab Akhza tidak ada di sini.”
“Mahanta, seandainya kau tahu bahwa Guru telah ....”
“Tahan itu, aku tidak mau mendengar kabar tentangnya. Walau hanya sedikit, aku tidak mau mendengarnya!” serunya. “Ini sudah tengah malam. Kau harus tidur untuk menyiapkan tenaga besok hari.”
Kala menghela napas lalu pergi ke kamarnya, sebelum itu, ia berpesan untuk membangunkannya sebelum matahari terbit. Setelah itu, ia tidur nyenyak. Benar-benar tidur, tidak seperti biasanya yang hanya bermeditasi.
***
Kala merasa ada yang menggoyangkan tubuhnya, ia bangun dari tidur dan mendapati ruangan gelap gulita tanpa ada satu pun lilin menyala. Di dalam remang jendela, Kala melihat bayangan Mahanta yang kedapatan membangunkan dirinya.
“Mereka sudah sampai di sini. Mereka menemukan tempat ini, aku tidak tahu bagaimana mereka bisa menembus formasi milikku. Namun, itulah kenyataannya, kau harus diamankan.”
Kala langsung terjaga. Alang sudah bangun lebih dulu. Semua lilin di rumah dimatikan. Mereka hanya mengandalkan insting untuk menerka-nerka jalan.
Setelah itu, mereka sama-sama mengendap menuju kamar Kaia, membangunkannya dengan sangat perlahan. Mahanta menjelaskan kondisi pada Kaia, gadis dingin itu setengah mengantuk tapi panik, lekas-lekas mengambil pedangnya di bawah tempat tidur.
“Dengar, aku punya ruangan bawah tanah. Sangat aman di sana,” bisik Mahanta, “rapikan kasur se-rapi mungkin, buat seolah-olah bahwa kasur ini tidak terpakai. Aku akan tidur di kasur Kala agar mereka tidak curiga.”
Kaia dibantu Kala merapikan kasur dengan cepat walau keadaan gelap. Setelah itu Mahanta mulai menunjukkan arah menuju ruang bawah tanah. Kala dan Kaia bergegas jalan cepat menuju kamar mandi, di mana pintu ruang bawah tanah tepat di lantai kamar mandi.
Setelah masuk ke lubang itu, Kala kembali mengunci pintu tersebut. Ia menuntun Kaia menuruni tangga menggunakan Mata Garuda. Saat kaki mereka menyentuh lantai dasar, ruangan seketika terang dengan cahaya kuning. Lilin-lilin secara otomatis menyala, sebuah keajaiban di rumah tua ini.
Terpampang jelas isi ruangan ini. Ada karung-karung beras, senjata, buku, cerobong udara, dan tungku untuk membuat makanan skala kecil, dan satu kasur keras.
“Ya, di sini lah kita. Hanya untuk sementara saja,” kata Kala, “jika kau mengantuk, tidur di kasur itu.”
“Kita sedang dikejar oleh makhluk mengerikan yang kita sendiri tidak tahu, bagaimana aku bisa tidur dengan tenang?” Mata Kaia setengah tertutup dan ia juga setengah tertidur.
“Sudah, tidur saja. Besok kita harus berjalan jauh, atau bahkan berlari.” Kala tersenyum sambil mendorong Kaia ke kasur. “Kau juga Alang, besok aku akan sangat mengharapkanmu. Mungkin saja kau akan terus berada di udara seharian.”
Alang sempat menolak, tapi akhirnya menuruti dan tidur bertengger di kayu tempat tidur sebelah Kaia.
“Kau tidak tidur?” tanya Kaia dalam posisi berbaring.
“Jika pun aku mau tidur, aku akan tidur di bawah. Nah, sekarang kau harus tidur.” Kala bersender pada dinding bata di belakangnya dan kantuk mulai menyerangnya.
***
“Hei, Bocah Muda! Kalian harus bangun!”
Kala bangun setelah mendengar suara pintu terbuka dan teriakan Mahanta. Kala cukup tidur, tapi sepertinya Mahanta sama sekali tidak tidur semalam.
“Mahanta, bagaimana kondisinya?”
__ADS_1
“Mereka sudah pergi, tapi tidak jauh dari sini. Mungkin saja masih berkeliling hutan mencarimu.” Mahanta menggosok matanya. “Bukan maksudku mengusir, tapi kalian harus segera pergi dari sini. Mereka begitu berbahaya, bahkan aku hampir mati tadi malam.”
Kala mengangguk lalu mengajak Kaia dan Alang ke atas. Terlihat ruangan di atas sudah tidak dalam kondisi baik. Banyak bercak noda hitam seperti darah di dinding, dan beberapa perabotan terbelah menjadi dua. Laci-laci terbuka dan semua barang di dalamnya sudah bercecer di bawah.
“Mereka menggeledah seisi rumah, aku mengalahkan mereka setengah mati sampai hampir terbunuh.” Mahanta terus menuntun mereka ke ruang tengah. “Mereka sama seperti manusia biasa. Pedang mereka hitam, dan mereka memakai zirah besi yang sama hitam. Aku tidak lihat wajah mereka, tertutup bayangan!”
“Bagaimana dengan kekuatan mereka, Mahanta?” tanya Kala, Mahanta menghentikan jalannya dengan wajah ngeri.
“Sulit dijelaskan, tapi mereka sangat kuat! Aura mereka penuh dengan kebencian dan kematian. Saat kau berada di dekatnya, mungkin kau tidak bisa bergerak saking takutnya!”
Mahanta menyuruh mereka mengemas ulang barang-barang, sebab ransel Kaia sudah terkoyak oleh mereka, berikut dengan isinya. Mahanta mempunyai beberapa baju gadis yang bagus, entah bagaimana ia bisa memiliki itu, Mahanta menolak bercerita.
“Oh, Tamuku yang baik. Maafkan Mahanta yang tidak bisa menjamu kalian dengan baik.” Mahanta lesu. “Jika kalian tidak pergi, mungkin mereka akan kembali ke sini dengan jumlah yang lebih banyak. Tadi malam mereka hanya mundur, aku hanya berhasil membunuh satu.”
Setelah menyiapkan ransel baru, Mahanta menyajikan makanan. Hanya beberapa kali kunyah sambil berdiri, tidak spesial dan lama.
“Dengar, Kala. Mereka tidak akan berani menyerang di keramaian. Setidaknya akan begitu sampai mereka membawa pasukan, karena itulah sifat kegelapan. Yang harus kau lakukan adalah sampai ke Kota Cawan Merah, kota yang paling dekat dari sini.”
“Ya, Mahanta. Aku sangat berterima kasih atas perlindunganmu. Aku akan membalas kebaikanmu jika situasi sudah damai kembali.”
“Tidak perlu pikirkan itu,” kata Mahanta lalu tertawa, “sudah tugasku melindungi kalian, sebagai paman guru, atau kakek guru. Nah, sekarang kalian harus pergi, ada jalan di belakang rumah, ikuti aku.”
Mahanta menuntun mereka ke rumah bagian belakang. Pintu dibuka, udara dingin masuk saat langit masih remang-remang. Alang terbang ke langit, sesuai dengan rencana, menyelinap di antara kerumunan burung kecil yang pergi mencari makan.
Kala menganggukkan kepala lalu keluar dari pintu, menginjak tanah yang masih basah disusul Kaia. Mahanta berdiri di ambang pintu, diam-diam mengelus luka fatalnya akibat pertarungan tadi malam, tepat di sebelah jantung. Ia sudah menahan rasa sakit sejak lama agar Kala dan Kaia tidak khawatir.
Mahanta tentu tahu pertempuran Kala saat melindungi banyak warga desa dan bagaimana penyesalan akibat orang yang berharga mati untuk dirinya. Mahanta tidak mau Kala kembali tertekan oleh penyesalan, jika ia harus mati.
“Ah, mereka sudah pergi. Aku bisa tidur nyenyak.” Mahanta menutup pintu lalu tubuhnya jatuh ke lantai tanpa bergerak lagi.
Hutan semakin gelap saat mereka bergerak semakin ke dalam, sampai mereka kembali mendengar suara jangkrik dan bertemu dengan jalan yang ada di peta. Tapi Kala menolak menggunakan jalan utama, ia memotong jalan ke tenggara.
Walau berjalan membelah hutan lebih sulit ketimbang berjalan di jalan yang sudah dibuat sebelumnya, Kala lebih memilih untuk menyelinap di antara pepohonan agar tidak terlihat.
Matahari mulai naik, tapi hari mendung. Mereka terus berjalan, kecuali Alang yang memantau keduanya dari atas.
Hutan bambu yang sangat luas membentang di depan mata mereka, itu yang terlihat di peta. Kala memutuskan istirahat makan siang, ia juga memanggil Alang.
“Makanan kali ini tidak istimewa, tapi aku usahakan tetap enak.” Kala mengeluarkan beberapa kue kering dan daging bakar, tapi ia baru sadar bahwa daging bakar sudah membusuk.
Sepertinya kerusakan dimensi interspatial bukan tidak terpengaruh pada cincin milik Guru, makanan pun bisa busuk padahal baru berapa hari lalu aku membakarnya.
Mengetahui daging bakar tidak bisa dimakan, mereka hanya makan kue kering, kecuali Alang yang makan batu energi. Kini dapat diketahui oleh Kaia, kue kering terasa sangat nikmat dalam kondisi seperti ini.
“Hutan bambu ini sangat gelap, sepertinya tidak aman jika di sini terus, Kala?”
“Aman saja, yang terpenting tidak ada bukit di dekat, mereka tidak bisa melihat kita. Tidak mungkin juga jika kebetulan bertemu kita di sini, hutan sangat luas.” Kala menjelaskan. “Terlebih lagi, mereka memakai zirah besi, yang pasti akan terdengar dentingannya jika mereka dekat dengan kita, ditambah dengan aura yang mengerikan itu.”
Kaia mengangguk mengerti, tapi ia masih belum merasa aman. Kala bisa memahami itu, Kaia terbiasa hidup di desa yang tenang dan damai, kini ia harus berlari-lari ketakutan dikejar makhluk kegelapan, Kaia juga harus menerima bahwa ia tidak memiliki rumah.
“Kaia, maafkan aku yang harus melibatkanmu.” Kala tersenyum lesu. “Setelah sampai di Kota Cawan Merah, kau harus berhenti mengikutiku. Aku akan membuatkanmu sebuah toko baju atau apa pun itu, agar kau bisa hidup damai. Aku juga akan meminta obat dari Maheswari untuk menyembuhkanmu, setelah itu aku dan Alang bisa meninggalkanmu.”
“Apa yang kau katakan? Lagi-lagi hanya omong kosong!”
__ADS_1
Kala hanya menggeleng pelan dengan senyum lesu.
“Aku akan mengikutimu, ke mana pun! Bahkan jika itu ke Bulan Hitam atau Negeri Kegelapan! Camkan itu dan hentikan omong kosongmu.”
“Kau harus pergi dariku! Itu hanya akan membahayakan nyawamu!”
“Oh, kalau begitu, mari kita perkirakan sejenak.” Kaia menarik napasnya. “Jika obat untukku tidak bisa ditemukan, lalu aku akan mati. Seandainya aku hidup berjualan di kota, maka aku akan mati sia-sia.”
“Tidak, Kaia. Kau bisa menikmati masa damai sebelum kau mati.” Kala berbicara setelah sebisa mungkin menahan amarah, Kaia kembali membahas hal ini lagi!
“Aku tidak mau mati seperti itu. Aku mau mati di sebelahmu. Aku mau mati setelah selesai membantumu, sampai akhir. Aku mau mati setelah selesai menikmati masakan-masakanmu sepanjang sisa hidupku. Biarkan aku mendapatkan ini, aku mohon.”
Kala tidak menjawab Kaia, dirinya sudah terlalu marah. Kaia sama saja meragukan kemampuannya untuk menyembuhkan dirinya, tapi di sisi lain Kala juga memikirkan kemungkinan terburuk itu: Kaia mati.
Kala berdiri, membersihkan bajunya lalu berkata singkat, “Kita harus pergi.”
***
Sudah dua hari merek bergerak. Keadaan sudah sangat lusuh, kurang istirahat dan makan enak. Kini mereka bersembunyi di balik semak-semak, menunggu keputusan Kala.
Lembah hijau tersebut sangat terbuka, dengan banyak bukit tinggi dan tebing-tebing di kedua sisi. Lebih tepat disebut sebagai ladang rumput, sebab hampir tidak ada pohon di lembah tersebut.
“Tidak ada jalan lain, kita harus melewati lembah tersebut,” celetuk Kala.
Kaia memandangi Kala beberapa saat dengan tatapan heran. Hal ini adalah sesuatu yang sangat berisiko. Mereka tidak tahu seberapa cepat para kegelapan itu, atau mengetahui pasti kekuatan mereka. Walau pada akhirnya mereka berjalan di lembah tersebut, Kaia tetap merasa kesal.
Baru kali ini. Di siang hari yang hangat, pemandangan terbuka bagus dengan bukit-bukit cantik, udara sejuk, tapi begitu menakutkan. Seakan-akan tengah berjalan membelah lautan kuburan tua angker di malam tanpa bintang dan bulan, bahkan lebih menakutkan.
Kala merasa dirinya seakan telanjang dan dilihat di depan umum, dirinya benar-benar merasa sangat enggan berdiri di tengah lembah terbuka ini.
Rumput-rumput sedikit lebih tinggi dari lutut, membuat mereka tidak bisa bergerak terlalu cepat, ya walau sebenarnya Kala bisa lebih cepat, tapi tidak mungkin meninggalkan Kaia di belakang.
Lembah yang sangat panjang itu terasa semakin panjang. Mereka mulai pusing bukan kepalang saat merasa belum sampai pada ujung lembah.
Namun, setelah beberapa saat tidak melihat bayangan hitam atau sesuatu yang berbahaya, mereka mulai lebih santai dan menikmati perjalanan.
Mereka berhasil melewati lembah dengan aman. Jalan menikung ke kanan, sedikit menanjak ke arah timur. Setelah itu jalanan kembali menurun hingga mereka bertemu dengan sungai kecil yang airnya jernih dan arusnya tenang, terlihat beberapa ikan kecil berenang cepat di bawahnya. Kala memutuskan istirahat sejenak.
“Kita tidak tahu di mana tepatnya kegelapan itu berada sekarang, aku harap mata kalian tidak santai untuk sekarang, teruslah melihat sekitar.” Kala memberi peringatan. “Setelah kita sampai Cawan Merah, maka kita akan aman. Setelah itu, lupakan kejadian persetan ini.”
Mereka mengisi botol dengan air baru yang lebih segar, makan siang sejenak dengan kue kering, lalu kembali melanjutkan perjalanan. Kala memilih untuk masuk ke hutan, tidak lewat jalan umum.
***
Setelah melalui sungai, tanah menjadi gersang dan terik matahari seakan mengganas berkali-kali lipat. Seandainya tidak ada air jernih dari sungai tadi, maka mereka tidak akan bertahan. Belum lagi Kala terus memaksa berjalan.
“Ini tidak benar, aku tidak bisa berjalan lagi.” Kaia jatuh ke tanah.
“Aku tidak mau mengambil risiko. Hutan ini kering, daun-daun tidak rimbun dan itu membuat tubuh kita terlihat bahkan dari jarak yang sangat jauh.”
Baru selesai Kala berkata seperti itu, suara gemersak terdengar dari barat kejauhan. Kala lekas mengeluarkan Keris Garuda Puspa dengan siaga dan sangat ketakutan menghadapi kemungkinan terburuk: zirah hitam dari kegelapan!
Suara gemersak itu berpindah dengan sangat cepat ke arah lain. Kala bingung harus menghunus keris ke mana.
__ADS_1
Alang menyadari bahaya, ia bersorak dengan kencang sebelum terbang ke langit. Kaia yang lemas seakan mendapat seluruh tenaganya kembali, ia bangun dengan pedang terhunus, tapi tubuhnya bergetar hebat.