
Sebagai orang yang cerdas, Kala dengan cepat bisa memahami maksud dari pria sepuh itu. Kala berada dalam masa di mana ia berada di puncak kesenangan, ia sampai lupa melihat ke bawah di mana banyak yang kesusahan. Seharusnya ia membasmi kejahatan, kemiskinan, kelaparan, dan tangisan, bukan berdagang seperti ini.
Kala bersandar pada tembok, pandangannya masih kosong. “Apa yang telah aku lakukan?”
Seharusnya berdagang hanya sebagai penyokong agar perjuangannya berjalan lancar, bukan ia berjuang di perdagangan. Kala merasa sangat bersalah pada si kakek itu, si kakek membuatnya sadar tapi ia hanya memberinya lima batang rokok?
“Apa yang aku lakukan?”
Kala sadar, tidak ada yang bisa disesali. Ia hanya bisa memperbaikinya. Pergi dari kota dan mengurus kejahatan serta kemiskinan adalah ide yang bagus.
Belum lama setelah Kala bertekad, Kaia datang padanya dengan wajah yang kesal.
“Kau bilang jika kau akan berada di lantai empat? Mengapa kau berada di lantai lima? Aku lelah mencarimu!”
Kala menggaruk kepalanya dan tersenyum canggung. “Maafkan aku, ada perubahan rencana mendadak.”
Kaia mendengkus kesal. “Aku sudah selesai berbelanja, kau harus membayarnya di bawah.”
“Bantu aku menutup tokoku.” Kala menunjuk tokonya.
“Ini tokomu? Apa kau berjualan?”
“Ya, aku menjual rokok. Andai kau tahu, ini sangat laku keras.”
“Aku tidak peduli, sekarang cepat tutup toko ini dan bayar barangku di bawah.”
Kala menepuk jidatnya, jika begini, ia terlihat seperti asisten Kaia. Seharusnya gadis itu yang melayani Kala, bukan seperti ini!
Walau Kaia terlihat malas, ia tetap membantu Kala, sedikit. Ia hanya menyapu ruangan yang bersih, selebihnya hanya membantu dalam melihat. Lagi pula, tidak banyak yang harus dibenahi di sini.
“Baiklah, mari kita urus urusanmu.” Kala menggosok telapak tangannya setelah selesai menutup toko.
Ia pergi ke petugas dan melapor bahwa ia sudah selesai dengan kios itu, lalu pergi ke bawah.
__ADS_1
Tepat di lantai tiga, Kaia mengarahkan Kala ke meja kasir. Kala tidak terlalu fokus dengan jalannya, ia merasa takjub dengan barang-barang yang dijajakan di sini.
Setelah sampai di meja kasir, Kaia terlihat berbicara pada si kasir. Setelah selesai berbicara, ia mengadah pada Kala.
“Aku butuh seratus batu energi.”
Kala mengernyitkan dahi. “Apa yang kau beli?”
“Apa itu terlalu mahal?” Kaia terlihat cemas, bagaimana pun dirinya merasa tidak enak menghabiskan uang Kala secara langsung.
“Jumlahnya terlalu sedikit.” Kala langsung menghadap kepada si kasir. “Barang apa yang dia beli?”
Si pelayan itu terlihat agak takut dengan Kala sebab terpancar aura pembunuh di dalamnya. Dengan hati-hati, ia mengeluarkan cincin yang terbuat dari batu akik. Kala menyentuh cincin itu untuk merasakan daya simpan cincin ini.
“Apa yang kau beli, Kaia? Kapasitas cincin ini hanya satu ruangan kecil. Dan mengapa kau hanya membeli cincin saja?”
“Aku suka dengan modelnya, itu saja.”
Kala bertanya pada kasir, “Apa ada model yang sama dengan kapasitas lebih besar?”
“Biar aku yang menemanimu berbelanja.” Kala menggapai tangan Kaia meninggalkan kasir.
Setelah agak jauh dan sepi, Kaia memberontak dengan menarik keras tangannya. Kini matanya sudah berlinang air mata.
“Tidak perlu membelikanku barang mahal! Sebentar lagi aku akan mati oleh Kristal Mata Iblis di dalam dadaku.” Air mata jatuh di pipi kiri Kaia.
“Tidak, tidak, tidak. Pasti ada jalan, pasti ada jalan. Kau tidak bisa berpikiran seperti ini! Jika kau berpikir seperti ini lagi, aku akan membunuhmu!”
“Kyak!” Alang menimpali.
Kaia mengangguk-angguk dengan pipinya yang sudah basah air mata. “Kau membentakku dengan keras, itu artinya memang tidak ada jalan lain.”
“Kau tidak bisa asal beramsumsi bahwa tidak ada jalan!”
__ADS_1
“Kata-katamu sebaiknya kau telan sendiri! Pria tua yang menjual tanaman herbal tadi mendatangiku. Ia sudah mengetahui keberadaan kristal itu di dalam tubuhku. Dia berkata agar aku menghabiskan hidup dengan lebih senang dan bermanfaat bagi sekitar.
“Dia memang memberiku beberapa obat yang bisa menahan rasa sakit jika Kristal Mata Iblis ini bereaksi, tapi itu tetap tidak bisa menyelamatkanku! Aku bisa mati kapan saja!
“Apa kau puas?!”
Kala memalingkan wajahnya dan pandangannya kembali kosong. Ia sendiri sadar bahwa Kristal Mata Iblis tidak bisa diobati. Namun, entah mengapa harapannya sangat besar.
“Jadi, jangan terlalu memanjakanku. Aku tidak ingin selama hidup ini hanya merepotkanmu, aku hanya akan mati sia-sia.”
Kala menekan gigi-giginya. “Aku akan mencari jalannya. Aku berjanji. Yang kau perlukan hanya semangat hidup. Tidak ada yang mustahil bagi Tuhan jika ia berkehendak menyembuhkanmu.”
“Semoga saja begitu.” Kaia mengelap air matanya, berusaha untuk tegar.
“Aku tetap akan membelikanmu barang-barang. Aku merasa berdosa jika kau tidak bahagia. Kau adalah tanggung jawabku.” Kala menarik tangan Kaia untuk menjelajah lantai tiga lebih jauh.
Kala mengambil beberapa baju yang terlihat anggun untuk Kaia. Gadis itu dipaksa untuk mencobanya terlebih dahulu agar ukurannya tidak salah. Alhasil, Kala berhasil memborong banyak baju.
Baju-baju seperti ini tidak bisa dimasukkan ke cincin interspatial karena masih tersegel, sehingga bisa menghindari pencurian. Segel ini termasuk sangat murah sehingga bisa dibeli rakyat golongan bawah. Segel bisa saja dirusak, tapi itu akan segera diketahui si pemilik barang.
Kala membawa baju-baju itu ke meja kasir. Ia juga membelikan Kaia cincin interspatial dengan model yang sama, tapi daya tampungnya lebih luas dari cincin yang ingin Kaia beli sebelumnya.
Total harga semua baju dan cincin adalah 1.000 batu energi. Itu bukan masalah bagi Kala. Si kasir menerima uang sebanyak itu dengan bergemetar. Setelah segel dilepas, Kala bisa memasukkan semua barang itu ke cincin interspatial milik Kaia.
“Jaga cincin ini,” imbuh Kala memberi cincin itu pada Kaia.
Kaia hanya mengangguk pelan dan memasang cincin itu di jari telunjuknya. Kala tersenyum bahagia saat melihat Kaia juga bahagia, ia kemudian mengajak Kaia pergi ke lantai paling atas di gedung ini.
“Menurut informasi yang aku dapat dari salah satu pelanggan, lantai paling atas adalah tempat untuk pranor tingkat tinggi dengan barang yang relatif mahal. Aku akan membelikanmu pedang yang bagus.”
“Itu tidak perlu.”
“Eak!”
__ADS_1
Kala tersenyum lembut. “Alang benar, kau perlu pedang yang bagus untuk balas dendam.”
Kaia tidak bisa merespons apa pun, ia hanya bisa mengikuti Kala di belakang.