
"Aku datang ...." Kala berdiri, ia menjauh beberapa langkah dari pintu sebelum berlari kencang dan menghantamkan tubuhnya ke permukaan pintu.
Bam!
"Masih belum terbuka." Kala melakukannya sekali lagi.
Bam!
"Masih belum ...."
Bam!
"SEKALI LAGI...!!!"
BAM!
Pintu terbuka lebar. Sekonyong-konyong, Kala terjatuh di lantai ruangan.
"Kala ...." Suara perempuan lirih memanggil namanya.
Kala membuka matanya. Dilihatnya Maheswari yang diikat, posisinya menggantung dengan dua rantai di masing-masing tangannya. Maheswari sedikit bersimpuh. Wajahnya yang pucat tertutup oleh rambutnya yang acak-acak, tetapi betapa juga dia masih terlihat sangat cantik.
Melihat kondisi Maheswari yang demikian menyedihkannya membuat Kala melupakan nyeri di seluruh tubuhnya. Senang rasanya melihat Maheswari namun itu tidak melunturkan kejernihan Kala dalam berpikir.
Kala memegang rantai yang mengikat Maheswari.
"Rantai ini bukanlah rantai biasa," kata Kala.
Memang, itu bukan rantai biasa. Rantai itu merupakan Pusaka Spirit. Rantai yang tiada lain dan tiada bukan adalah rantai segel, pantas Maheswari tidak bisa berbuat apa pun di bawah segel ruangan beserta segel rantai.
Kala menghela napas. Akan sulit jika merusak rantai jika tidak menggunakan Prana, sedangkan ruangan tersebut Prana tidak dapat berfungsi sama sekali. Pada akhirnya Kala memutuskan pamit keluar dari ruangan untuk mengakses cincin interspatial.
Setelah Kala keluar, ia mulai menjelajah cincin interspatial untuk melihat apa yang bisa ia gunakan. Gergaji? Tidak, itu akan memakan waktu lama. Palu? Itu akan menyakitkan Maheswari jika memaksa menggunakan palu.
Atau, tuak?
__ADS_1
"Bagaimana dengan tuak?" gumam Kala, "mungkin saja bisa untuk berpikir lebih jernih."
Kala akhirnya mengeluarkan Tuak Kunyuk Gunung, ia meminum setegak saja dan berharap bahwa itu dapat membantunya berpikir lebih jernih.
Setelah beberapa saat, Kala kembali bergumam, "Jika aku tidak bisa memutuskan rantai itu karena segel sihir di ruangan, maka segel itu harus aku buka."
Bagaimana pun, percayakan pada tuak!
Kala kembali berujar, "Namun bagaimana?"
Seingat Kala, ia pernah diajari gurunya untuk membuat segel sihir. Segel tersebut adalah sekumpulan pola yang terbentuk dari energi Prana. Untuk segel yang seperti yang dihadapinya saat ini, Prana yang berada di segel itu mengambil wilayahnya dan tidak membiarkan Prana lain bisa keluar di daerah itu.
Untuk membuka segel, diperlukan keahlian menghisap prana yang ada di pola segel tersebut. Kala yang mempunyai bakat Garuda mempersilakan dirinya dapat menghisap Prana dengan mudah dalam jumlah lebih dari pranor pada umumnya.
"Aku akan menghisap segel itu."
Kala kembali ke ruangan. Ia menempelkan telapak tangannya pada lantai di sana. Ia berusaha menyatu dengan segel itu sebelum ia bisa melihat semua deretan pola itu. Kala memusatkan fokus pada telapak tangan, ia berusaha menarik energi yang ada di dalam pola tersebut.
Berhasil!
Bukan saja tekanan pada Kala berkurang, Prana miliknya juga meningkat. Kala tidak henti-hentinya tersenyum dengan mata terpejam.
***
Butuh waktu lima menit sampai ruangan itu tidak memiliki segel lagi. Tenaga dalamnya bisa terpakai lagi sedangkan Maheswari sudah bisa berdiri tegak dengan berusaha melepas rantai di tangannya.
"Kak Mahes, sepertinya kau mengalami luka dalam. Jangan banyak bergerak."
Kala mengeluarkan pedang spirit miliknya. Ia mengalirkan tenaga dalam pada pedang itu sebelum menepas kedua rantai yang mengikat Maheswari. Rantai yang terputus sambungannya itu berubah menjadi debu karena formasi sihirnya telah rusak.
Maheswari memandang Kala sejenak sebelum memeluknya lembut. Kala menjadi salah tingkah, tetapi menyadari bahwa Maheswari baru saja melalui kondisi berat, menyadari itu membuat Kala membalas pelukan Maheswari.
"Terima kasih," ujar Maheswari pelan.
"Terima kasih kembali, Kak Mahes, kau lebih banyak berjasa bagiku," Kala melepas pelukannya dan mulai memberi instruksi sebelum suasana menjadi canggung. "Kak Mahes, mohon obati para tahanan lainnya di bawah. Aku akan menyelamatkan nenek pemilik kedai."
__ADS_1
Kala beranjak pergi namun tangannya digapai Maheswari. "Kala, nenek malang itu sudah mati."
Kala tertegun. Pandangannya kosong. Ia sangat menyukai gaya nenek itu yang menurutnya sama dengan kepribadiannya. Kemarahan memuncak namun dirinya segera meredam kemarahan itu. Ini adalah dunia seni persilatan, apa pun yang terjadi adalah risiko!
"Siapa yang membunuhnya?" kata Kala dengan tajam.
"Pemimpin wanita itu. Apa kau sudah melihat orang itu?"
"Aku sudah membunuhnya, dan sekarang kita tidak punya banyak waktu." Kala kembali tersenyum hangat. "Kak Mahes harus segera mengobati mereka yang berada di bawah. Dan jika Kak Mahes melihat ada burung api, janganlah khawatir sebab burung itu merupakan peliharaanku. Aku akan memeriksa ruangan yang lain."
Maheswari penasaran dengan peliharaan Kala namun ia tahu bukan waktu yang tepat jika menanyakan hal itu. "Baiklah. Sekarang cepat kamu selamatkan yang lain."
Kala masih diam di tempat dengan senyum canggung. Maheswari mengerutkan dahinya karena bingung, atau lebih tepatnya tidak sadar akan suatu hal.
"Kak, tolong lepaskan."
Maheswari tersadar bahwa ia masih menggenggam lengan Kala. Lekas-lekas ia melepaskan genggaman itu dan membiarkan Kala pergi. Suasana canggung yang sedari tadi Kala sangat hindari akhirnya terjadi pula.
***
Kala baru saja selesai menebas kepala pranor yang tadi menipunya dan telah membawanya ke ruang segel. Orang itu terlalu pandai berbohong, jadi Kala memilih membunuh orang ini karena merasa dunia tidak memerlukan orang sepertinya.
Kala juga menyelamatkan tiga pranor lain yang berada di lantai empat. Tiga pranor itu sepenuhnya adalah pranor-pranor wanita tingkat awal.
Sedangkan itu, Elang Api terus berputar-putar di atas langit menjaga mereka dari segala serangan diam-diam.
Saat ini Kala sudah berhasil mengumpulkan pranor-parnor kelompok Harimau Besi yang masih selamat, mereka semua tengah berbaris dengan kondisi bersimpuh lutut. Tangan mereka terikat dan senjata mereka dilucuti, empat wanita pranor menjaga mereka agar tidak kabur. Nantinya, pranor-pranor aliran hitam itu akan diserahkan pada penegak hukum di daerah itu. Hanya hukuman mati atau hukuman budak yang menanti mereka.
Sementara itu, Maheswari duduk di samping Kala untuk sekadar bercakap-cakap ringan, tetapi pemuda itu segera pergi dengan alasan ingin memeriksa keadaan sekitar padahal ia pergi untuk duduk di bawah sebatang pohon saja. Kehidupan sebatang kara di gubuk Gunung Loro Kembar membuat ia sudah menyatu dengan kesepian, Kala lebih bisa menenangkan diri jika kondisi sekitar sepi tanpa ada orang lain.
Warna langit sudah membiru tanda matahari akan segera menyambut. Kala kembali ke Maheswari setelah merasa lebih tenang dan mengatakan bahwa mereka berdua harus kembali ke perkemahan di kota.
Maheswari mengangguk dan bersiap-siap untuk pergi. Sedangkan para wanita tahanan, kondisinya sudah begitu buruk sehingga mereka tidak ingin kembali ke rumahnya yang hanya akan menjadikan mereka sebagai aib keluarga. Wanita-wanita itu berencana pergi ke suatu kota untuk memulai kehidupan baru. Maheswari membekali mereka dengan keping-keping emas yang banyak.
Saat mereka sudah pamit dan pergi keluar dari benteng, Kala memulai percakapan. "Apakah Kak Mahes punya banyak uang sampai bisa memberi mereka banyak emas?"
__ADS_1
Maheswari tertawa pelan. "Bukan bermaksud sombong, namun aku adalah tabib yang sedikit ternama. Aku sungguh berbeda dengan yang kamu temui pertama kalinya, Kala."