
“A-apa itu, dar-dari kegelapan?!” Kaia berkata dengan gemetar. Kala tidak menjawab melainkan memfokuskan pendengaran.
Suara gemersak itu hilang. Dentuman Alang terdengar sesaat sesudah suara gemersak menghilang. Hutan kembali tenang untuk beberapa saat, sebelum suara desir angin terdengar dari atas. Saat Kala menoleh, ia menemukan kilatan-kilatan besi yang terpantul cahaya matahari, menghunjam cepat ke bawah.
Kala mendorong Kaia menjauh dengan kakinya, lalu menangkis besi-besi tajam yang rupanya seperti mata pedang. Besi-besi itu terpental ke mana-mana, tapi ada beberapa yang berhasil menancap pada tanah kering di dekat Kala.
Kala mundur ke dekat Kaia yang tersungkur untuk melindunginya. Desir angin terdengar lagi, kali ini dari arah pepohonan dan dari empat arah mata angin.
Sekelebat empat bayangan berwarna merah melesat dan berhenti beberapa tombak dari tubuh Kala dan Kaia. Empat orang dengan seragam merah dengan sarung batik yang tersampir di pinggang. Mereka memakai topeng hitam dengan senyum menakutkan. Di tangan mereka, sebilah golok terhunus. Dari kuda-kuda mereka, terlihat bahwa yang datang kali ini adalah orang-orang profesional.
Dari tingkat Prana, mereka berada di Alam Kristal Spirit, tapi bayangannya tentang tingkatnya sangat kabur, kemungkinan mereka jauh lebih tinggi dari tingkatan itu.
“Apa mau kalian?” kata Kala tenang. Mereka tidak langsung membunuhnya, itu artinya mereka punya beberapa penawaran.
“Kalian ini dari mana?” tanya salah satu dari mereka, cukup ketus.
“Dari mana kami? Itu tidak penting, bukan urusan kalian.” Kala menjawab tak kalah ketus.
“Ini kawasan hutan kami, dari mana kalian adalah urusan kami,” katanya, “jangan memaksa kami.”
Mereka mempersempit jarak dengan Kala sambil mengeluarkan aura mengancam.
Kala tersenyum samar. “Bisa saja aku mengaku-ngaku bahwa ini adalah kawasanku. Ya, tentu saja ini kawasanku. Lebih baik kalian minggir sebelum aku marah.”
Mereka saling pandang, memberi isyarat tapi tetap tidak menyerang. Kala tersenyum tipis, mereka orang profesional yang sangat terlatih, terbukti ucapannya tadi tidak memberi emosi sekali pada mereka.
“Saudara, kami berusaha bersikap sopan santun denganmu. Kami adalah telik sandi dari Perguruan Golok Emas. Wajar jika kami bertanya-tanya, kalian tidak melewati jalan melainkan masuk ke hutan langsung. Belum lagi peliharaan Saudara telah menyerang kami lebih dulu.”
“Alasan kalian masuk akal.” Kala tersenyum. “Kami dari Hutan Telu, ingin pergi ke kota Cawan Merah.”
“Dan mengapa Saudara tidak menggunakan jalan utama?”
Kala kembali tersenyum dingin. “Ada alasan khusus untuk itu.”
Mereka kembali saling pandang lalu mengangguk sekali.
“Saudara-Saudari sekalian harap ikut kami.” Mereka menyarungkan golok.
“Enak saja! Siapa kalian? Mau menculik kami?!” Kaia berkata dengan emosi, Kala memberi isyarat agar Kaia tenang.
“Dengar, aku tidak tahu persis tentang Golok Emas. Kami tidak bisa ikut dengan kalian, ke mana pun itu. Mohon jangan halangi jalan kami. Anggap saja bahwa kami adalah pemburu yang biasa berkeliaran di belantara.”
“Tidak bisa. Kami harus melindungi kalian.” Ia membantah. “Kami akan membawa kalian ke perguruan kami. Di sana dapat dipastikan, Saudara-Saudari sekalian bisa duduk dengan aman.”
Kala menggeleng pelan sebelum menyebarkan aura pembunuh yang pekat. Ia juga memberi tanda kepada mereka, bahwa di atas masih ada Alang. Empat orang itu tetap diam.
“Biar kami pastikan jika begitu, agar kalian percaya.” Orang bertopeng itu kembali berkata. “Kalau tebakan kami benar, Saudara adalah orang yang menyelamatkan satu desa dari serangan Geowedari. Jika itu benar, kami mencari Saudara. Tapi jika itu salah ....”
“Ya, itu benar.”
“Nah, Saudara yang terhormat. Bolehlah kiranya saya memanggil Anda sebagai Pahlawan.” Ia menunduk sedikit. “Kiranya kami sudah mengetahui sedikit tentang masalah Pahlawan. Perguruan kami bisa memberikan perlindungan sepenuhnya. Patriark kami juga secara pribadi ingin bertemu dengan Pahlawan.”
Kala memincingkan matanya. “Kalian tahu bahwa kami tengah diburu pasukan dari kegelapan?”
“Iya. Tapi kami tidak tahu pasti. Yang pasti adalah, kami diperintahkan untuk menjemput Pahlawan oleh Patriark.”
__ADS_1
Kala menyelidiki mata mereka, tidak melihat kebohongan dari mereka semua. Ia akhirnya tersenyum ramah lalu memasukkan keris ke sarung. Kala tidak menyimpan kerisnya pada cincin interspatial, tentu ia tidak terlalu bodoh untuk menimbulkan kecurigaan. Dengan begitu, untuk pertama kalinya, ia mengikat Keris Garuda Puspa pada punggungnya.
“Terima kasih sudah secara khusus menjemput kami. Sepertinya kami akan merepotkan Perguruan Golok Emas untuk malam ini.” Kala tertawa ringan.
Mereka mengangguk dengan puas. “Di sini jalannya, Pahlawan.”
Kala tersenyum canggung. “Maaf, sepertinya istirahat terlebih dahulu.”
Kaia yang tadinya dapat bangkit, kini benar-benar tidak dapat bangkit. Kala tidak memaksa Kaia berjalan, mereka sudah mendapat perlindungan untuk saat ini.
Mereka tertawa sebentar sebelum membuat api di lingkaran tengah, mereka duduk mengitari api. Asapnya terbang pucat ke langit, Kala tahu bahwa dengan asap itu maka posisi mereka akan ketahuan, tapi Kala juga tahu bahwa mereka tidak berani menyerang lima pranor terkuat sekaligus. Kecuali jika jumlah mereka teramat banyak.
Alang turun ke bawah, menyapa empat orang dari Golok Emas sedangkan Kaia menggeser tubuhnya menjadi bersandar di pohon. Kala bergabung dengan empat orang itu, mereka membakar beberapa potong daging segar.
“Kalau boleh tahu, mengapa Patriark kalian mencariku?”
“Kami tidak tahu, seandainya kami tahu, kami juga dilarang menyebarkan pada orang lain.”
Kala mengangguk pelan, ia hanya menguji kekuatan Perguruan Golok Emas. Jika mereka sudah sampai pada taraf berhasil mendidik murid menjadi pranor profesional, itu artinya Golok Emas bukan perguruan sembarang.
“Eak ....” Alang berbisik pelan pada Kala, dengan ketakutan.
Kala lekas menoleh ke belakang, di mana terdapat bukit yang cukup tinggi. Dari situ, ia melihat sesosok bayangan hitam berdiri, tepat di puncaknya. Perlahan muncul bayangan-bayangan tubuh hitam lainnya, totalnya ada enam bayangan hitam. Bulu kudu Kala berdiri, selama ini dia berlari dari mereka, dan saat ini keduanya bertatap mata walau dari jarak yang sangat jauh.
Kala tidak bisa melihat rupa wajah mereka walau dengan Mata Garuda. Dengan segera, Kala mengabari empat pranor dari Golok Emas.
“Arah barat, di bukit tinggi, enam bayangan hitam.”
Mendapat arahan Kala, mereka serentak melihat ke arah yang sama. Enam bayangan hitam masih berdiri di sana, tidak bergerak sama sekali.
Saat daging sudah matang, enam bayangan itu sudah menghilang dari atas bukit. Kala tidak tahu harus senang atau takut sebab ia tidak mengetahui ke mana enam bayangan itu pergi.
Empat Pranor Golok Emas membagikan daging bakar yang cukup kering, tapi bagi Kaia, itu adalah makanan mewah setelah seminggu makan kue kering hambar. Keempat dari mereka tidak ada yang makan, mungkin mereka sudah sangat terlatih atau mereka tidak mau membuka topeng. Yang jelas, pranor bisa menahan lapar dengan Prana, tapi rasanya sangat tidak enak.
Mereka tidak menikmati makanan, atau dengan kata lain tidak sempat menikmati makanan; berkemas lalu pergi menuju Perguruan Golok Emas.
***
Walau mereka sudah bergerak cukup cepat, Perguruan Golok Emas masih belum terlihat hingga malam menjemput. Empat pranor itu memperingatkan bahwa saat malam hari, kekuatan dari kegelapan akan meningkat, tapi mereka harus tetap beristirahat usai kantuk menyerang.
“Kalau dari sini, mungkin Perguruan Golok Emas kami bisa dicapai siang hari esok, itu saja jika kita bangun pagi-pagi dan berjalan cepat. Jika kita bersantai, mungkin akan memakan satu hari penuh,” jelas salah satu dari mereka sambil menatap api.
“Asalkan mereka tidak menyerang,” kata Kala, “bahkan berjalan seminggu penuh bukan masalah.”
Setelah beberapa perbincangan ringan. Kecuali satu pranor yang sedari tadi diam saja, hanya mendengarkan. Sepertinya ia adalah orang yang sarkasme atau orang yang sudah gila akibat sering perang.
Mereka mulai menyiapkan tempat tidur. Kaia mungkin akan tidur selama semalam penuh, tapi Alang beserta lima orang pria akan bergantian tidur.
Yang mendapat giliran pertama tentunya dari Golok Emas, Kala tidur cepat sebisa mungkin. Dan untuk mengantisipasi bahaya yang menyambar pada Kaia, ia tidur di sampingnya. Kaia tidak menolak, ia tahu sifat Kala.
Kala dibangunkan saat dua orang itu merasa kantuk tak tertahan. Kala berjaga dengan salah satu orang Golok Emas, Alang juga bangun berjaga bersama Kala.
Kala melihat Kaia, dia tidur begitu nyenyak dengan selimut tebal. Tidur seolah berada di atas kasur rumahnya sendiri, bukan di hutan liar dalam kondisi diawasi bahaya besar. Kala hanya bisa tertawa pelan sambil menggelengkan kepala.
Untuk mencairkan suasana, mereka mengobrol di temani teh panas. Kala lebih banyak mendengar, karena ia hanya perlu mendengar.
__ADS_1
“Cawan Merah beserta seluruh perguruan di sana tengah menumpuk pasukan di Tembok Abu. Ada pergerakan dari Bulan Hitam, mereka beberapa kali menyerang dengan melemparkan proyektil ke dalam wilayah Pandataran.
“Itulah mengapa kami tahu bahwa kegelapan yang diramalkan sudah datang. Tidak seharusnya Pandataran dan Geowedari berperang. Mereka hanya terhasut adu domba yang intens dilakukan Bulan Hitam. Dan seandainya mereka tahu bahwa Hutan Telu sudah dikuasai Kastel Kristal Es yang agaknya pihak Bulan Hitam.”
“Tembok Abu adalah tembok yang membentang memisahkan Jawa Barat-Tengah dengan Jawa Timur?”
“Ya itu benar. Tembok itu dibangun leluhur dan persekutuan Pandataran-Geowedari untuk menangkal serangan hitam dari Wilayah Timur,” jawabnya. “Pada masa-masa Garuda, belum lama saat ia menghilang dan diduga wafat. Tembok itu sangat sulit ditembus, Prana kuno para leluhur masih menyertai Tembok Abu.”
Singgh ....
Kuping Kala menangkap suara besi. Sangat pelan tapi telinga tetap menangkap suara tersebut, tapi bukan hanya telinga Kala saja.
“Musuh!”
Dengan sigap mereka berdiri. Desing besi dengan keluarnya golok dan keris dari sarangnya mengisi keheningan. Tiga kawannya yang lain langsung bangun dan bersiap juga, sedangkan Kala masih telat merespons, ia bangun paling akhir dengan kondisi setengah tidur.
Alang yang entah kapan terbang kini sudah memberi serangan pembuka. Kala menarik kaki kanannya ke arah kanan tepat di mana Alang membuka serangan.
Api menyambar pepohonan. Hutan yang semulanya tenang menjadi riuh. Musuh terlihat dengan setengah tubuh dilalap api, mereka berdiri berjejer dengan pedang besar panjang yang di angkat ke wajah. Mereka melangkah maju dengan tenang dan langkah yang bagus.
Kala melompat lebih dulu ke hadapan musuh, melakukan gerakan menusuk ke jantung. Pedang musuh memutar dan dengan cepat menangkis serangan Kala. Dengan serangan Kala yang gagal, kawannya yang lain memberikan serangan balasan sekaligus.
Kala mundur ke belakang lalu empat pranor itu maju menyerang. Dari serangan tadi itu, Kala menjadi khawatir. Kekuatan musuh cukup besar, belum lagi teknik bertarung mereka mengimbangi silat yang biasanya diajarkan di Nusantara. Kala khawatir musuh yang akan datang nanti akan membuat perang besar tak berkesudahan sebab kekuatan seimbang.
Tidak ada waktunya merenung, empat orang dari Golok Emas itu kewalahan melawan enam musuh sekaligus. Kala memberikan serangan pencak silat digabungkan dengan teknik pedang dan Teknik Kapas.
Tubuh Kala berputar membawa pedangnya, bagai kincir angin dengan mata pisau tajam. Itu cukup membuat musuh terdesak sampai akhirnya mereka terpisah satu sama lain.
Sebenarnya mereka berusaha keras untuk mundur, tapi Kala tidak membiarkan mereka lari begitu mudah, alhasil mereka malah terpisah cukup jauh. Satu pranor Golok Emas melompat ke belakang membiarkan lawannya mundur, tapi serangannya beralih pada musuh lain yang terdesak. Alhasil, satu berhasil lari, tapi satu malah mendapat dua lawan sekaligus. Belum lagi temannya tidak mau membantu dan terus mundur di balik kegelapan.
Kala tidak setuju dengan cara bertarung seperti pengecut itu, tapi ia harus senang karena satu lawan berhasil mereka bunuh, belum lagi lawan yang Kala hadapi saat ini sudah banyak terluka.
Empat orang kegelapan mundur, sedangkan dua temannya mati. Satu dikeroyok; satu dihabisi Kala sendirian.
Mereka menghilang tanpa jejak di bayangan gelap. Kala tidak ada niat untuk mengejar mereka, itu ide buruk.
Dengan napas yang masih naik-turun, Kala memeriksa tubuh lawan. Keseluruhan tubuh ditutupi baju zirah besi hitam, atau mungkin baja hitam. Baja ini sangat kuat, Kala bahkan butuh usaha kuat untuk menembus zirah tersebut sebelum melakukan serangan ke dalam tubuh.
Wajah mereka juga ditutupi topeng aneh yang tak lazim di Jawa. Topeng itu bentuknya sedikit mirip dengan kambing. Kepala mereka juga ditutupi pelindung kepala besi hitam, lengkap dengan tanduk seperti kambing.
Melihatnya saja sudah sangat menakutkan. Seperti inilah orang dari kegelapan. Kala memberanikan diri membuka paksa topeng tersebut. Saat wajah di balik topeng terpampang, Kala terkejut sampai mundur beberapa langkah.
Wajah di balik topeng itu pucat pasi, seakan tidak ada darah mengalir di dalamnya. Belum lagi kelopak mata yang sedikit menghitam dengan mata hitam setengah terbuka. Tampangnya tiada ubah dari setan.
“Orang kegelapan sangat menakutkan.” Kala bergidik ngeri sebelum maju memeriksa bagian tubuh lainnya.
Selain mata dan kelopak mata yang berwarna hitam, darah dari orang ini juga hitam pekat. Tidak berbau amis melainkan bau busuk menyengat seperti bau bangkai tikus.
Kala memeriksa pedang hitam itu, meraba sedikit dinginnya mata pedang yang begitu tajam. Pedang yang besar dan cukup ringan, dapat disebut pedang bagus di Nusantara.
Kaia ikut memeriksa orang-orang itu dengan muka jijik dan ketakutan. Empat orang dari Golok Emas menghela napas panjang.
“Lebih baik kita bergegas ke Perguruan Golok Emas,” kata salah satu dari mereka.
“Tengah malam seperti ini?” Kaia melontarkan protes, kantuknya masih dibilang cukup berat.
__ADS_1
Kala yang menjawab. “Kaia, apa kau mau orang-orang mengerikan itu datang kembali membawa teman-teman atau bahkan pasukannya?”