
Seluruh rombongan bergerak dengan cepat. Mereka adalah pasukan telik sandi, mereka bisa bergerak secara sembunyi-sembunyi dan tidak gaduh sekalipun merupakan rombongan besar. Kala berjalan di samping Panji, meskipun temannya itu mulai tidak suka berdekatan dengan Kala.
Bukit tersebut sudah mulai terlihat di balik rindang dahan pepohonan. Kala semakin mempersiapkan mentalnya untuk bertarung. Sang kapten juga menyuruh mereka untuk mengelilingi bukit.
"Kala Piningit, kau dan Panji daki bukit dari sisi timur. Berjaga-jagalah, kemungkinan besar mereka sudah mengetahui kehadiran kita."
Kala mengangguk begitu juga dengan Panji, si kapten tersenyum puas lalu beralih ke yang lain.
"Lebih baik kita berangkat sekarang, Kala." Panji menghunuskan pedangnya.
Kala tersenyum tipis sambil mengeluarkan kerambitnya. "Ayo, ini waktunya kita menegakkan kebenaran."
Sisi timur memiliki lereng yang lebih curam dari sisi yang lain, namun ini bukanlah masalah bagi pranor berkemampuan seperti Kala. Mereka bersembunyi di balik semak belukar hingga ada tanda untuk menyerang.
"Biasanya, tanda untuk menyerang berupa suara suitan," jawab Panji menjawab pertanyaan Kala.
Kala mengangguk pelan. Ia tatap mata kerambit yang memantulkan bayangan dirinya. Kala teringat akan Alang dan Maheswari, Kala sangat rindu dengan Alang yang telah menyelamatkan nyawanya dan belum sama sekali menjenguknya.
Kuping Kala menangkap suara desiran angin tepat di depannya. "Menunduk!"
Peng!
Kala menatap anak panah yang menancap di tanah, matanya membeliak. Serangan panah dari arah depan, sangat cepat dan Kala hanya bisa mendengar desiran anginnya saja. Beruntung Panji lekas menunduk setelah mendengar perintah Kala, atau panah itu bukan menancap di tanah ....
Telinganya menangkap desiran angin lagi.
Arah depan lagi, menujuku!
Kala berguling ke kiri dan itu berarti ia keluar dari persembunyiannya. Satu panah lagi menancap di tanah. Kala lekas berdiri dan bersembunyi di balik pohon. Ia sangat yakin serangan itu berasal dari atas bukit.
"Serangan panah dari atas bukit!" seru Kala pada Panji.
Peng!
Satu panah menancap di tempat Panji semulanya duduk, beruntung ia lekas berguling dan turut bersembunyi di balik pohon. Suasana menjadi menegangkan karena mereka masih belum melihat si penembak.
__ADS_1
Kala menoleh sedikit.
Peng!
Satu panah menancap di pohon tempatnya bersembunyi, Kala lekas menarik kepalanya kembali. Tubuhnya merapat sebisa mungkin ke pohon, jangan sampai ada bagian tubuhnya yang lepas dari pohon.
"Suit!"
Panji bersuit dengan nyaring dan bingar. Mungkin suitan ini merupakan suitan meminta bantuan. Kala mencari sebuah benda dari cincin interspatial, benda ini baru ia beli sebelum perang di pintu utara.
"Dapat." Kala melempar sebuah benda berbentuk bola kecil ke arah tanah, bola itu pecah dan asap menyerbak ke mana-mana.
"Aih! Aku tidak terpikirkan," seru Panji lalu melempar benda yang sama.
Sisi timur bukit dipenuhi oleh asap putih yang membuat tubuh Kala dan Panji tertutup asap. Si penembak yang tidak bisa melihat tubuh mereka memilih menembak dengan asal namun cepat.
Kesempatan ini dipergunakan Kala dan Panji untuk kabur. Meskipun cukup berisiko terkena panah nyasar, namun mereka tidak punya pilihan yang lebih baik.
Kala keluar dari persembunyiannya dan lari ke arah atas bukit. Panji tidak mengetahui tindakan gila Kala, ia berlari ke bawah untuk meninggalkan bukit dan masuk ke hutan.
Peng!
Peng!
Wush ... anak panah lepas dari busur, mengarah langsung ke tubuh Kala yang terus berlari. Kala melirik anak panah itu lalu melompat dengan cepat ke samping.
Kala berhasil menghindari anak panah itu namun tubuhnya terjatuh dengan keras. Kala melempar lagi bola dan asap kembali menyerbak.
dengan sekuat tenaga, Kala bangkit berdiri dan berlari menyamping ke arah kanan. Kala kembali muncul keluar dari asap, si pemanah melihat Kala kini meluncur dari kanan dan membidik lagi.
Kala kembali melirik anak panah itu.
Akhirnya, aku menemukan pemanah sialan itu!
Kini mata Kala sudah menangkap tubuh dari si pemanah, ia berada di atas pohon puncak bukit dengan baju yang dipenuhi dedaunan sebagai penyamaran, Mata Garuda memang tidak bisa dibohongi.
__ADS_1
Kala melompat ke samping kanan sambil melempar bola asap. Lagi-lagi ia terjatuh namun bisa menghindari panah itu. Kala bangkit dan kini berlari ke arah kanan, tubuhnya diselimuti asap.
Saat panah kembali lepas, Kala melompat ke arah kiri sambil melempar bola asap, ia kemudian berlari ke arah kiri.
Kala mengambil rute zig-zag dan terus melakukan itu sampai ia dekat dengan lokasi si pemanah yang sudah berkeringat dingin. Kala memang sengaja melakukan ini sampai ia bisa menyentuh pemanah itu.
Kala baru saja muncul dari arah kanan dan itu artinya Kala akan bergerak ke kiri. Jarak antara Kala dengan pemanah sudah sangat dekat, si pemanah memilih melompat ke bawah dan memotong pergerakan Kala yang bergerak ke kiri.
Si pemanah lompat dari atas pohon ke arah kiri, ia prediksi dengan pasti kalau Kala bergerak dengan ke kiri-kanan. Tubuh si pemanah masuk ke dalam gumpalan asap, jarak pandangnya benar-benar sedikit, ia mengeluarkan belati dan menghunjam ke bawah.
"Apa?!"
Saat dirinya menusuk belati ke bawah, si pemanah tidak mendapati tubuh Kala, padahal seharusnya Kala ada di sini. Ia lalu melakukan sabetan memutar untuk mendapati tubuh Kala, namun hasilnya nihil. Dan yang lebih parah lagi, ia tidak bisa melihat apa pun selain asap putih!
Kala tersenyum tipis. Sedari tadi, dirinya memang melakukan gerakan zig-zag, namun tidak untuk kali ini. Ia berpura-pura lari ke kiri namun sebenarnya ia diam seperti paku di sisi kanan. Mata Garuda miliknya tentu bisa melihat dengan jelas tubuh si pemanah yang sedang menyerang asal-asalan.
Kala menghampiri si pemanah dengan pelan. Kerambitnya dialiri prana dan diangkat tinggi-tinggi di atas kepala si pemanah yang terdiam bingung. Saat Kala menghunjam, maka saat itu juga nyawa si pemanah melayang.
Asap berangsur-angsur menghilang. Terlihat Kala sedang memegang kerambit yang penuh dengan darah, di bawahnya terdapat sesosok tubuh dengan darah yang bersimbah. Dada Kala naik turun, pada akhirnya ia harus kembali membunuh.
Kala menatap puncak bukit yang berisik dengan suara-suara. Suara itu bermacam-macam, ada suara dentingan logam, ada suara semak yang tersibak, ada juga suara ranting patah.
Dari ketinggian yang berada di tengah bukit, Kala bisa melihat ada lima orang dengan tingkat prana berada di Alam Kristal Spirit, kelima orang itu sedang menatapnya sambil berkacak pinggang.
Salah satu dari mereka tertawa lantang, lalu berkata, "Ada satu orang lagi yang ketinggalan."
Kala meringis dalam hatinya saat mengetahui bahwa mereka punya niat membunuh. Tentu dirinya yang berada di Pondasi Prana tidak akan mampu menahan mereka semua.
"Tunggu apa lagi?" sahut yang lainnya, "teman-temannya sudah menunggu."
Kala memegang erat kerambitnya. Ini adalah situasi yang sangat genting, namun dirinya masih belum punya senjata yang memadai. Keris Garuda Puspa merupakan pusaka terkuat di seluruh Jawa, namun dirinya masih belum mampu mengalirkan prana pada keris tersebut. Jika keris tersebut tidak dialiri prana, maka senjata itu tidak ada ubahnya dengan senjata biasa.
Lima orang itu berkelebat, hilang dari tempatnya. Kala menangkap desiran angin dari sebelah kiri, ia dengan cepat membabat kerambitnya ke arah kiri, gerakan ini berhasil menangkis pisau terbang yang mengarah padanya.
Kala cukup senang karena merasa kemampuan mereka rendah sampai-sampai tidak bisa melempar pisau dengan cepat. Kesenangan Kala berhenti saat kepalanya dihantam benda kuat dari belakang, Kala terhuyung beberapa saat sebelum jatuh tak sadarkan diri.
__ADS_1
"Hanya bocah ingusan ...."