
"Aih, urusanku banyak sekali. Aku tidak bisa membantumu. Sekarang kau bisa keluar tenda, pergi untuk minta izin padanya," kata Yudistira.
Kala meneguk ludah sebelum pada akhirnya keluar dari tenda Yudistira. Selimutnya masih terus menggulung di tubuhnya. Udara luar semakin dingin, mata Kala sampai terasa perih seakan hendak membeku.
Kala terus berjalan dengan cepat ke arah tenda medis tempat ia dan Maheswari tidur sebelumnya. Kala ingin saja pergi secara diam-diam, tapi itu adalah cara pengecut.
"Ketakutan terbesarku adalah wanita." Kala tersenyum pahit, sebelum menyadari sesuatu. "Eh, bukan! Ketakutan terbesarku hanya pada Sang Hyang, setelah itu baru wanita."
Kala sampai pada tenda medis, ia masuk ke dalam dan menemukan bahwa orang sakit di dalam tenda ini semakin banyak. Tenda sepenuhnya tertutup, jendela-jendela semuanya tertutup dan tirai pintu juga selalu dijaga tertutup. Suhu di dalam tenda juga lebih baik daripada suhu di luar.
Kala masuk ke ruang sekat kamarnya. Semua suara berisik langsung hilang seketika saat Kala masuk ke kamarnya. Kala menemukan Maheswari yang tengah berdiri sambil memegang selimut.
"Kala, ke mana saja kamu! Tubuhmu masih perlu istirahat!" seru Maheswari dengan raut wajah yang jelas-jelas menunjukkan bahwa dirinya amat sangat merisaukannya!
Kala kembali menelan ludahnya. Jika Maheswari sudah seperti itu, maka pekerjaan ini akan bertambah sulit.
Belum apa-apa saja sudah seperti ini.
"Kala! Jawab aku!"
"Aku pergi ke tenda Patriark Yudistira tadi," jawab Kala dengan cepat.
"Tenda Patriark itu jauh! Dan kau membawa tubuhmu yang masih belum sehat itu menempuh jarak yang tidak masuk akal, cari penyakit saja!"
"Obat Kak Mahes begitu manjur! Aku sudah tidak ...." Kala berhenti berucap saat Maheswari menatapnya dengan tajam. Benar-benar menyeramkan!
Namun, Maheswari kemudian menghela napas panjang. "Kala, aku tidak bercanda soal kesehatanmu. Obat dariku tidak sepenuhnya dapat menyembuhkanmu. Juga, masih ada racun dalam tubuhmu yang bisa bereaksi kapan pun. Aku hanya mengkhawatirkanmu, tolong jangan salah paham."
"Kak Mahes, aku sangat berterimakasih untuk yang tadi malam. Namun saat ini, aku ingin meminta izin darimu."
"Izin apa pun itu, tidak aku berikan! Kembali tidur di kasurmu sampai sembuh!"
"Kak Maheswari!"
__ADS_1
Kala menatap Maheswari dengan tajam dan tegas. Dua tatapan tajam itu saling bertemu. Kala paling tidak bisa menatap mata wanita secara langsung, namun kini ia harus menahannya di bawah tatapan tajam.
"Keadaan di luar sangat kacau! Udara membeku! Bukan waktunya bagiku untuk tidur di ranjang," lanjut Kala, "Kak Mahes bisa lihat sendiri keadaan di luar!"
Maheswari tersentak ketika Kala membentaknya. Sungguh sangat jarang. Pada biasanya, Kala hanya menurut saja. Untuk kali ini, Maheswari yang menurut. Kala kembali tersenyum lembut saat melihat tidak ada tanda-tanda perlawanan dari Maheswari.
"Aku akan berganti baju terlebih dahulu lalu melihat kondisi di luar," ujar Maheswari.
Kala mengangguk pelan, tetapi kemudian Maheswari menatapnya ketus. "Kamu bisa keluar."
Kala terperanjat sadar sebelum berjalan dengan cepat ke luar. Kala menghela napas panjang, jika saja dirinya datang lebih lambat, ia akan melihat Maheswari tanpa pakaian. Jika itu terjadi, akan kehilangan kesuciannya sepasang mata Kala.
"Hampir saja ...."
Maheswari baru keluar setelah lutut Kala mulai sakit kelamaan berdiri. Maheswari tampil dengan gaun putih seperti biasanya, gaun putih yang sepertinya banyak sekali, tampilan Maheswari sama seperti bidadari yang singgah ke bumi.
Maheswari mengerutkan dahinya sesaat setelah ia keluar dari ruang sekat. Suara hiruk pikuk yang bersahutan memenuhi telinga Maheswari, suara ini tidak ia dengar saat berada di ruang sekat. Kala jelas menangkap keterkejutan Maheswari.
"Kala, apa yang terjadi di sini?"
Banyak sahut-sahut orang yang meminta selimut. Ada yang menggigil. Ada yang kulitnya sudah membiru beku. Maheswari adalah tabib, dan seorang tabib adalah orang yang memiliki jiwa penolong, Maheswari jelas merasa gundah dengan ini. Dan udara di sini jelas lebih dingin dari udara di dalam ruang sekat.
"Kak Mahes. Kemungkinan, ada sejumlah orang yang sengaja mendatangkan suhu dingin ekstrem ke kota ini. Patriark membentuk kelompok telik sandi untuk mencari dalang dari semua ini." Kala meringkas. "Dan aku akan ikut."
"Di mana orang-orang yang berbuat seperti ini?"
"Aku tidak tahu, namun sepertinya tidak jauh dari kota."
"Dan apa itu artinya kamu akan bertarung?" tanya Maheswari mengakhiri senyum Kala.
"Betul."
"Aku tidak memberimu izin."
__ADS_1
"Ini tugasku."
"Aku tetap tidak memberimu izin."
"Ini tugasku!"
"Tidak!"
"INI TUGASKU!"
Maheswari memandang Kala dengan khawatir. "Kala, kondisi kesehatanmu masih rentan."
"Kak Mahes cukup memberiku beberapa pil saja untuk jaga-jaga nanti."
"Masih ada racun dalam tubuhmu, itu bisa bereaksi sewaktu-waktu dan sangat berbahaya jika tidak ada aku."
"Aku ambil risiko." Kala menatap Maheswari dengan penuh arti. "Aku adalah orang yang ditakdirkan untuk tugas seperti ini. Jika aku mati nanti saat bertempur, maka itu adalah hal baik sebab aku tidak pantas menjadi penyelamat Nusantara."
Hiruk pikuk membuat ucapan Kala tidak terdengar, dan juga orang lain terlalu sibuk dan tidak sempat peduli pada mereka. Kala mengatakan hal penuh risiko itu dengan perhitungan yang matang.
Maheswari melangkah pelan tepat ke hadapan Kala. Dengan gerakan tenang selembut air, Maheswari berjinjit lalu mengecup kening Kala. Pemuda itu membeliakkan matanya bulat-bulat, ia sama sekali tidak bergerak!
Maheswari tersenyum tipis. "Kamu sudah besar, Kala. Aku sampai berjinjit."
Kala masih tidak bereaksi. Tentu saja bagi pria lain dikecup Tabib Maheswari adalah keberuntungan terbesar dalam hidup, namun itu tidak berlaku bagi Kala sama sekali!
"Anggap saja tadi adalah izin dariku. Berhati-hatilah, Kala. Ada yang akan menunggumu di sini, dan percayalah bahwa itu adalah aku." Maheswari melangkah menjauh dari Kala untuk membantu para tabib lainnya.
"Apa-apaan?" ujar Kala sambil meraba keningnya.
Namun, ia tidak punya waktu lagi, dengan selimutnya, ia melangkah ke luar tenda menuju patriark. Kala sebenarnya sangat senang karena Maheswari sudah memberi izin kepadanya. Di sisi lain, Kala sangat tidak senang dengan Maheswari yang tiba-tiba menciumnya.
"Guru pasti menghajar aku ketika aku sampai di surga nanti, itu pasti ... itu pasti." Kala terus melangkah cepat.
__ADS_1
Saat Kala sudah tiba di tenda patriark, ia melihat Yudistira sudah berada di ambang pintu tenda ingin keluar. Kala langsung mencegatnya.
"Patriark, aku telah dapat izin!"