
“Ini adalah tuak yang paling enak seantero Jawa. Aku membelinya di wilayah Bulan Hitam, jadi tuak ini termasuk barang ilegal.” Walageni tersenyum bangga sambil memandangi cangkir tuaknya.
Kala tersenyum tipis dan menggelengkan kepalanya pelan. Seandainya Walageni mencicipi Tuak Kunyuk Gunung, maka sudah pasti dirinya tidak akan berani berkata begitu. Tetapi karena tidak mau menyinggung perasaan orang tua itu, Kala memilih diam saja.
“Pak Tua, jika aku boleh tahu, siapakah kelompok orang yang menyerang kedai ini tadi?” Kala mengalihkan arah pembicaraan.
“Hmph! Mereka adalah tentara bayaran dari Geowedari. Mereka tahu bahwa kami, Laskar Progo, akan terlibat dengan perang. Kau tahu konflik yang baru-baru ini terjadi, bukan?”
Kala mengangguk. “Ya, aku tahu.”
“Nah, Laskar Progo akan menjadi ancaman besar bagi mereka. Kami adalah pasukan bayaran yang terkenal sangat jarang gagal dalam tugas, selain itu kami juga memiliki banyak informasi untuk dijual. Tentu saja, kami akan berpihak penuh pada Pandataran. Sangat wajar jika mereka menyerang kami.”
“Mengapa Laskar Progo campur tangan dalam konflik itu?” Kala merasa herean sebab seingatnya tentara bayaran tidak akan terlibat dalam konflik politik yang tidak menguntungkan mereka.
“Kami punya alasan tersendiri, Nak. Tambang batu itu merupakan sumber penghasilan bagi kami semua yang tinggal di Kerajaan Pandataran. Kami tidak mau jika rakyat jadi kelaparan. Meskipun kami adalah pasukan bayaran, kami tidak lantas menjadi buta kemanusiaan karena harta.”
Kala tersenyum senang, tetapi pertanyaannya masih belum tuntas. “Mengapa Laskar Progo tidak merebut tambang itu saja bersama pasukan Pandataran?”
Walageni menggeleng pelan sambil menghela napas panjang. “Jika saja itu bisa, kami sudah melakukannya sejak dahulu.”
__ADS_1
Kala menggaruk kepalanya lalu tersenyum canggung, menyadari pertanyaannya sangatlah aneh. “Aku baru turun dari gunung setelah melewati latihan yang panjang. Aku tidak terlalu mengetahui persoalan seperti ini. Jadi jika Pak Tua tidak keberatan, mohon jelaskan kepadaku tentang bagaimana batu energi menjadi alat tukar yang adil selain keping emas.”
Walageni tersenyum hangat. Tanpa merasa keberatan, dia mengeluarkan tiga batu energi dari cincin interspatial.
“Ambil salah satu batu itu dan amatilah.”
Kala mengambil salah satu batu sebelum memandanginya dengan teliti. Batu ini berwarna merah tembus pandang, ada lambang Kerajaan Pandataran di dalamnya walau samar-samar.
“Di dalam batu itu terdapat lambang kerajaan Pandataran, bukan? Nah, batu itu adalah alat tukar yang sah. Kau bisa membeli barang-barang bagus dengan batu energi itu.” Walageni menjelaskan. “Sekarang, coba kau ambil dua batu lainnya.”
Kala mematuhi perintah itu. Kedua batu itu memiliki ukuran yang sama, tetapi potongannya tampak tidak rapi dan tiada tanda kerajaan di dalamnya.
“Jadi, jika kelompok atau perguruan tertentu menguasai tambang batu, ia harus menyetornya pada kerajaan. Banyak perguruan yang berlomba-lomba mencari sumber tambang baru sebab mereka akan mendapatkan bagian yang tidak sedikit dari kerajaan.
“Kami adalah kelompok besar yang bergerak secara rahasia. Bagi kami, pertambangan bukan sesuatu yang menggiurkan.” Walageni menutup penjelasannya.
“Ah, seperti itu ....” Kala mengelus dagunya. “Terima kasih, Pak Tua!”
Walageni mengangguk mantap, bertepatan dengan itu Kaia muncul dengan tampang yang lebih segar.
__ADS_1
Tubuh Kaia sedikit menggigil, mandi di tengah guyuran hujan bukanlah sesuatu yang cukup bagus. Ketika Kala baru saja ingin membeli Kaia selimut, Walageni tiba-tiba menyambar dengan perkataannya.
“Hei, gadis kecil, kau sepertinya kedinginan. Tuak bisa menghangatkan tubuhmu, kemarilah dan minum bersama kami.”
Kala menatap dingin Walageni. Pria tua itu mengangkat bahunya untuk mempertanyakan tatapan Kala. Tatapan itu tidak mengandung rasa bersalah sama sekali.
“Terima kasih, Pak Tua. Namun, selimut dan teh hangat jauh lebih bagus untuk gadis kecil seperti dirinya.” Kala bangkit dan mengeluarkan selimut dari cincin interspatial kemudian berkata pada Kaia, “Ambil ini dan pergilah ke kamar, jangan minta Alang menyalakan api untukmu jika kau tak ingin penginapan ini terbakar.”
Kaia mengangguk lalu pergi ke kamarnya dengan selimut di tangannya.
“Apa yang salah dengan tuak?” Walageni bertanya setelah melihat punggung gadis itu menghilang.
“Pak Tua, dia adalah perempuan baik-baik, aku berusaha agar dirinya tetap begitu. Jangan sampai dia ketagihan tuak dan berakhir merepotkanku.” Setelah mengatakan itu, Kala berpamitan untuk pergi ke dapur, namun lagi-lagi Walageni menahannya.
“Tunggu dulu. Hendak berbuat apa kau di dapur?”
“Membuatkan dia minuman hangat. Aku akan membayarnya nanti.”
“Perhatianmu terhadapnya terlalu berlebihan untuk sekadar teman.” Pak Tua Walageni memincingkan mata, menatap Kala penuh selidik. “Apakah dia istrimu?”
__ADS_1