
Kala mengerjapkan mata beberapa kali. Pandangannya yang pada awalnya buram perlahan menjadi jernih kembali. Namun, kepalanya masih sangat pusing, ia merasa dirinya sedang berputar-putar.
Kala menggerakkan tangannya, namun sepertinya terikat di belakang. Posisinya sedang berdiri dengan tangan dan kaki terikat pada sebuah tiang.
Kala melirik sekitarnya. Hari sudah benar-benar malam. Ada api unggun sebagai penerang, selusin orang sedang duduk di sekitar api itu. Samping kanan dan kiri Kala juga terdapat tiang-tiang di mana ada sebagian pasukan telik sandi yang tersisa.
Di sisi kiri Kala, Panji terikat dan sudah sadarkan diri. Kala ingin berucap pada Panji namun dirinya masih belum mencerna situasi dan juga masih belum memiliki tenaga.
Kala memejamkan mata dan berusaha mengalirkan prana pada tangannya. Namun, sebuah hal mengejutkan membuat mata Kala terbialak. Pusat prana miliknya sudah rusak parah, prana miliknya tidak tersisa karena kebocoran.
Tapi, Kala adalah seorang Kesatria Garuda, pusat prana miliknya sedang memulihkan diri. Kala hanya akan mengalami kelumpuhan prana untuk sementara. Kala sendiri tidak tahu apa yang membuat pusat prana miliknya rusak parah seperti ini.
"Apa yang ... terjadi?" tanya Kala pada Panji setelah berhasil mengumpulkan tenaga.
Panji diam saja, ia seperti kehilangan sinar hidupnya. Kala dengan cepat menebak bahwa pusat prana milik Panji juga telah dirusak agar dirinya tidak bisa memberontak, pranor seperti Panji tentu tidak bisa mengembalikan pusat prana sedangkan Kala bisa karena ia memiliki kemampuan khusus.
Kala tidak berniat bertanya lagi pada Panji, apa yang Panji alami pastinya sangat berat. Kala hanya bisa memandangi selusin orang itu yang tengah bersenda gurau di sekitar api unggun.
Di balik api unggun, Kala bisa melihat ada satu tenda. Keadaan di dalam tenda cukup terang, Kala yakin ada pimpinan kelompok ini di dalam tenda itu.
Kala mencoba mendengarkan percakapan dari orang-orang yang ada di depannya. Dari percakapan itu, Kala bisa menyimpulkan beberapa hal
"Mereka kalah hanya dalam satu serangan, sungguh bocah-bocah ingusan."
"Ya, rumor tentang kehebatan telik sandi dari Angin Utara sangat bohong! Anjing-anjing ini hanya bisa menyombongkan dirinya tanpa bisa melawan!"
"Hmph! Nanti mereka akan binasa, dan pada saat itu mereka akan bertemu Tuhannya!"
__ADS_1
"Tuhan terkutuk!"
Selusin orang itu tertawa lepas lalu melanjutkan candaan-candaan tidak pantas tentang Tuhan. Kuping Kala sangat panas mendengar nama Tuhan diolok-olok. Mulutnya juga tidak kuasa lagi menutup bibir.
"Hoi, Keparat! Aku tidak peduli siapa kalian, namun jika sekali lagi aku dengar kalian mengejek nama Tuhan, maka tanganku akan mematahkan lehermu!"
Kala berteriak dengan dingin. Selusin orang itu berhenti tertawa dan menatap Kala dengan tatapan sinis. Kala meludah ke tanah dan balas menatap mereka dengan tajam.
Salah satu dari mereka berdiri, tangannya memegang sebilah pedang yang tersarung. Ia menolehkan kepala lalu merubah ekspresi seperti orang yang susah mendengar.
"Apa? Bisa kau ulangi perkataanmu tadi? Aku tidak mendengarnya?"
"Keparat!" balas Kala lalu meludah lagi.
"Apa? Aku tidak dengar ...."
Pria itu tiba-tiba muncul di hadapan Kala. Kupingnya diarahkan pada muka Kala. Kala sesungguhnya terkejut, namun emosi menutupi kekejutan itu.
"Keparat!"
Bak!
"Katakan sekali lagi, aku tidak mendengarnya."
Mulut Kala kini penuh dengan darah, ia memuntahkannya sedikit. Hulu hatinya mendapatkan sebuah tinjuan yang luar biasa keras dari pria tersebut setelah Kala mengumpat seperti itu.
Kuping kembali didekatkan pada wajah Kala seolah-olah suara Kala sangat kecil sampai ia tidak bisa mendengarnya. "Ayo, katakan lebih keras."
__ADS_1
"KEPARAT!!!"
Bak!
"Puah!"
Kala meludahkan darah tepat di kuping pria yang memukulinya. Wajah pria itu memerah akibat amarah yang sangat dahsyat. Tangannya terkepal sampai tulang-tulangnya berderak. Tubuhnya mengeluarkan aura membunuh yang kuat.
Bak!
Bak!
Bak!
Wajah Kala menghadap tanah. Darah terus mengalir dari mulutnya sampai jatuh ke tanah. Pria itu belum puas dan terus memukul Kala dengan tenaga dalam. Andai tubuh fisik Kala tidak kuat, mungkin nyawanya sudah tidak ada sekarang.
"Hentikan itu! Kita masih membutuhkannya hidup-hidup!"
Pria yang memukuli Kala mendengus pada Kala. Sesuai perintah temannya, ia berhenti memukuli pemuda malang itu dan kembali ke api unggun.
Wajah Kala masih terus tertunduk. Kepalanya seperti dibawa berputar-putar. Kala benar-benar membutuhkan darah! Dan darah dalam kondisi seperti ini hanya bisa diperoleh dari pil Maheswari, namun cincin Kala tidak ada. Jika pun cincin Kala masih ada, akan mustahil menggapai obat itu dalam kondisi terikat seperti ini.
Mereka masih membutuhkanku dalam kondisi hidup-hidup? Mau apa mereka?
Kala memandang sekitar. Ia melihat Panji tidak begitu peduli apa yang baru saja dirinya alami, sedangkan yang lain melihat Kala dengan khawatir namun tidak berani bicara sepatah kata pun.
Kala memilih untuk memejamkan mata daripada mendengarkan mereka bersenda gurau. Kondisinya yang sangat lelah mengizinkan ia tertidur walaupun dalam kondisi berdiri. Kesadaran Kala perlahan masuk ke alam bawah sadar.
__ADS_1