Seni Bela Diri Sejati

Seni Bela Diri Sejati
Cara Wanita Makan


__ADS_3

Apakah ini adalah cara makan wanita?


Kala sedikit bergumam dalam hati sebelum tertawa pelan, dengan sabar ia menunggu Maheswari. Tentu saja tidak sopan jika Kala menyantap makanan tanpa Maheswari padahal gadis itu yang memasaknya.


Maheswari dengan tenang makan, tidak menghiraukan Kala yang menantinya. Kala beberapa kali membuka mulutnya untuk berbicara, namun tidak ada kata yang benar-benar terucap.


Kala terus menggerutu dalam hatinya, namun ia tetap tersenyum. Senyum Kala kali ini bukan senyum khas miliknya, melainkan adalah senyum gemas. Bagaimana bisa Maheswari menyuap dengan pelan dengan sama sekali tidak melihat tatapan Kala?


"Mengapa kamu tersenyum seperti itu?" tanya Maheswari setelah melirik Kala.


"Oh! Itu bukan apa-apa, mungkin senyum ini karena aku masih lapar saja." Kala tertawa kecil.


"Masih lapar? Ini, makan punyaku." Maheswari menyodorkan mangkuknya, lalu Maheswari beralih ke kalkun bakar.


Kala memandang Maheswari heran. Apa dirinya disuruh makan makanan bekas sedangkan Maheswari memakan kalkun yang selama ini Kala nanti? Apa itu adil?


Maheswari memotek paha kalkun, gerakannya lambat dan itu semakin membuat Kala tersiksa! Maheswari diam-diam menahan tawanya.


"Baiklah, aku akan memakan sup Kak Mahes." Kala tidak ingin dikatakan hanya berpura-pura lapar, sehingga dengan nekad ia mengambil sup Maheswari dan segera menyuapnya.


Maheswari tidak bisa menahan tawanya. "Kala, aku tidak benar-benar serius! Aku hanya bercanda."


Dalam kunyahannya, Kala menggerutu, "Kak Mahes sungguh tidak tahu cara bercanda."


Maheswari menyodorkan kalkunnya ke hadapan Kala. "Aku ini tentu peka, aku tahu jika kamu menginginkan segera kalkun itu. Tidak sepertimu, kamu tidak peka."


Kala sedikit heran. Setahunya, dirinya sudah cukup peka untuk memahami manusia lain, namun wanita sangat sulit dipahami. Namun, Kala mengambil sikap tidak peduli dan ikut memotek paha kalkun yang tersisa.

__ADS_1


Hanya dengan gigitan pertama, Kala sudah bisa merasakan rasa yang luar biasa! Gurih di luar, lembut di dalam. Madu yang dioleskan ke permukaan daging benar-benar meresap sampai dalam, menambah cita rasa yang sangat gurih. Rasanya seperti ayam panggang namun yang ini lebih luar biasa!


Kala terus mengunyah dengan membeliakkan mata. Maheswari yang melihat ekspresi Kala menjadi puas, inilah yang ia inginkan.


Mereka menghabiskan kalkun besar itu dengan cepat. Kala yang makan paling banyak, sedangkan Maheswari hanya sebagian kecilnya saja. Untuk seorang pranor, mereka makan dengan sangat berlebihan.


"Kak Mahes, aku sungguh kenyang dengan keadaan puas!" seru Kala.


Maheswari menyunggingkan senyumnya. "Bagus jika kamu sudah kenyang, aku juga sudah kenyang."


Kala menggeleng pelan. "Kak Mahes makannya hanya sedikit, tidak mungkin kenyang."


"Perutku dan perutmu tentu berbeda, Kala."


Kala tersenyum canggung sebelum menjawab, "Mungkin perutku sedikit lebih besar dari Kak Mahes."


Lain kali, aku akan makan lebih sedikit jika seperti ini.


Kala menggerutu dalam hati, namun senyuman indah di bibirnya tetap tampil. Suatu penghinaan bagi Kala jika dikatakan makan banyak, ia tidak akan bisa makan dengan tenang lagi di depan Maheswari.


Maheswari tertawa. "Aku hanya bercanda, Kala. Aktivitas pria dan wanita sangat berbeda, pria akan bekerja lebih keras dari wanita, sedangkan wanita melakukannya dengan lembut dan tidak mengeluarkan banyak tenaga. Apalagi, tadi kamu sudah bertempur."


Kala teringat sesuatu. "Ah, iya! Bagaimana Kak Mahes bisa berada di pintu utara?"


Maheswari tersenyum aneh. Senyum Maheswari sama seperti senyum seorang guru yang akan memberikan tugas berat kepada muridnya. Kala secara otomatis merinding ngeri.


"Aku berhasil melewati para penjaga." Maheswari mengibaskan tangannya.

__ADS_1


"Bagaimana bisa? Penjagaan di pintu utara sangat ketat agar tidak ada penyusup."


Maheswari menjawab, "Tentu saja dengan kecantikanku."


Kala membuka mulutnya, kelopak mata dan alisnya sedikit berkedut. Dengan kecantikan? Apa yang Maheswari lakukan? Apakah itu terlalu ....


"Itu demi kamu, Kala!" sanggah Maheswari, ia tidak mau Kala cemburu walau Kala sama sekali tidak cemburu, itu hanya antisipasi jika Kala benar-benar cemburu. "Aku hanya memberikan kata-kata, mereka tidak fokus dan aku lari masuk. Mereka mengejarku, tapi mereka tidak bisa, kecepatanku jelas lebih cepat. Dan pada akhirnya aku menyelamatkanmu, bukan? Jangan cemburu ...."


"Ah, benar! Kak Mahes menyelamatkanku dari maut. Tapi, aku tidak cemburu." Kala menjawab dengan enteng, ekspresi mukanya sudah seperti biasa lagi.


Kepercayaan diri Maheswari sangat besar, Kala heran namun menghargai itu. Setahu Kala, mukanya tidak terlalu tampan namun Maheswari begitu agresif dalam mencoba mendapatkan Kala. Kala mulai menebak-nebak, apa mungkin ini berkaitan dengan pesan dari Akhza?


"Jadi kamu tidak cemburu, maaf aku sudah menebak yang bukan-bukan ...." Maheswari menunjukkan sedikit kekecewaan, tidak ada kecanggungngan sedikit pun.


"Tidak apa, Kak Mahes." Kala mulai teringat lagi dengan suasana hatinya yang sedih, makanan yang tadi hanya mengalihkan rasa sedih untuk waktu yang singkat saja.


Maheswari merupakan orang yang bisa melihat hati seseorang hanya dari matanya saja. Maheswari melihat kesedihan kembali lagi masuk ke dalam hati Kala. Jika Maheswari tidak peduli dengan kesedihan Kala, maka namanya bukanlah Maheswari!


Maheswari mendekat sampai di samping Kala. "Kamu tahu, Kala? Aku tidak punya siapa-siapa lagi. Seluruh keluargaku sudah tiada, mereka semua terbunuh. Terbunuh akibat sebuah wabah."


Kala melirik Maheswari, Maheswari melanjutkan, "Aku sedang berada di luar kota saat kejadian itu. Keluarga yang kumiliki adalah keluarga pedagang kaya, namun mereka tetap tidak bisa kebal terhadap wabah. Hampir seluruh warga mati, itu termasuk keluargaku."


Kala belum pernah mendengar masa lalu Maheswari sebelumnya, ia begitu tercengang dan dengan nada lirih mengatakan, "Kak Mahes ...."


"Aku mengalami kesepian, sepi yang sungguh tidak pernah kamu rasakan. Aku hidup dengan berkecukupan setelah keluargaku tiada, namun tidak ada yang menemaniku." Maheswari menyandarkan kepalanya pada bahu Kala, air matanya mengalir ke pipi indahnya. "Aku bertekad menjadi dokter, agar aku bisa melindungi keluarga lain, agar tidak ada yang kesepian seperti yang aku rasakan."


Kala tahu bahwa tidak baik jika mereka berdua dalam posisi seperti ini, ditambah mereka hanya berdua saja. Namun, Kala membiarkannya saja, ia tahu kondisi yang Maheswari alami bukanlah kondisi yang mudah.

__ADS_1


"Lalu kamu datang. Entah ... entah mengapa aku merasa kehilangan sepi." Maheswari memandang lurus ke depan.


__ADS_2