Seni Bela Diri Sejati

Seni Bela Diri Sejati
Titik Balik


__ADS_3

BOOOM!!!


Letupan api yang terang tetap membuat penglihatan Kala terganggu walau dirinya sudah menutup mata. Hawa panas memeluk seluruh tubuh Kala yang dingin. Suara ledakan yang ingar-bingar membuat telinga Kala sedikit berdengung.


Kala baru membuka matanya saat dirasa ledakan telah usai. Ia melihat tenda sudah dalam kondisi terbakar. Murid-murid Kastel Kristal Es yang ada di sini berlarian ke mana-mana.


Untuk saat ini, api Alang tidak bisa membunuh mereka, hanya akan membuat luka parah. Membunuh mereka adalah tugas Kala.


Kala merasa sesuatu yang sedikit panas menjalar ikatan tangannya, beberapa saat saja tangan Kala terlepas dengan tali yang hangus. Kala dapat melihat bahwa Alang yang melakukan itu dari belakang.


Kala melihat Alang dengan tatapan sedih. “Kau telah menyelamatkanku dua kali, aku tidak tahu bagaimana harus membalas budi.”


“Eak!” Alang lantas menyadarkan Kala bahwa situasi belum juga membaik.


Kala mengangguk tanda mengerti. Walau prana miliknya belum pulih, setidaknya kekuatan fisik miliknya masih bisa mengangkat pedang.


Mereka berusaha memadamkan api dengan ilmu es perguruannya. Kala mengambil pedang yang tergeletak lalu maju dengan senyum lebar.


“Mati kau!”


Kala menebas leher salah satu dari mereka. Namun, itu tidak cukup untuk membunuhnya. Kala menebas lehernya berkali-kali sebelum ia mati dengan menyakitkan.


“Ini akan melelahkan ....” Kala menghampiri satu-satu musuhnya.


***


Kala mengelus cincin interspatial miliknya. Pertarungan telah usai dengan kemenangan telak yang diraihnya. Burung kesayangan Kala kini tengah membakar tumpukan mayat yang berhasil dibunuh majikannya. Kala juga sudah berhasil menghancurkan alat yang membuat cuaca dingin milik Kastel Kristal Es.


“Tidak aku sangka Panji akan mengorbankanku. Manusia memang tidak bisa dipercaya.” Kala berpikir kalau mulai saat ini ia tidak akan memberi tahu siapa pun tentang Kesatria Garuda, setidaknya sampai ia bisa melindungi dirinya sendiri.


“Aku akan merindukan Kak Mahes.” Kala terkekeh mengingat rencananya.


“Alang, kau sudah siap?”


“Eak!”

__ADS_1


Alang merubah ukurannya menjadi kecil lalu hinggap di pundak Kala. Kala memastikan tidak ada yang tertinggal sebelum menuruni bukit.


“Aku juga akan merindukanmu, Gunung Loro Kembar, aku akan mengunjungimu saat aku sudah kuat!”


Suhu udara sudah tidak sedingin tadi, Kala berjalan dengan setelan jubah barunya tanpa memerlukan pakaian hangat tambahan.


Arah Kala berjalan berkebalikan dengan arah jalan pulang. Dirinya berniat pergi jauh dari tempat ini, mengantisipasi jika Panji membocorkan rahasianya ke khalayak luas dan dirinya akan berbahaya jika terus berada di sini.


Kala berniat pergi ke Jawa bagian tengah, tempat di mana Kerajaan Pandataran berkuasa. Ia yakin di sana adalah tempat yang baik untuk latihan sambil mencoba menghentikan perang.


Beban yang Kala tanggung sebenarnya sangat besar, tapi dirinya masih bisa bersiul santai. Dirinya terus memikirkan Maheswari yang mungkin akan mengamuk ke Perguruan Angin Utara nantinya, ia hanya bisa terus berdoa agar hal itu tidak terjadi.


Kala sampai pada jalan utama. Kala bahkan tidak sadar kalau dirinya bisa berjalan secepat ini. Latihan Kala semasa di Gunung Loro Kembar sangat berat, ia harus naik turun gunung dengan membawa batu besar, sangat wajar jika langkahnya terasa ringan dan cepat.


Kala menggaruk pipinya sebelum berjalan di tengah jalan utama. Dirinya sangat bingung dengan situasi ini, ia merasa kalau ada orang yang memantaunya dengan niat yang buruk. Jika orang-orang itu ingin merampok, apa mereka tidak bisa lihat kondisi yang masih buruk ini?


“Tunjukkan diri kalian. Aku sudah tahu dan jangan kalian mencoba untuk bersembunyi.”


“Instingmu kuat juga, Anak Muda.”


“Kalian ingin bertani atau merampok?” tanya Kala heran.


Senjata yang mereka bawa bukanlah golok atau semacamnya, yang mereka bawa adalah cangkul dan peralatan tani lainnya.


“Jangan remehkan peralatan tani, ketajamannya bisa membelah dirimu menjadi seribu bagian.”


Kala kembali menggaruk pipinya, ia merasa kalimat itu berlebihan.


“Kalian yakin ingin menyerangku?” Kala mengeluarkan hawa membunuhnya yang sejak tadi meningkat karena sudah membunuh banyak orang.


Para perampok amatiran itu mencucurkan keringat dingin. Lutut mereka tidak kuasa menahan nafsu, pada akhirnya mereka jatuh dan menatap Kala seolah menatap setan.


“Ampun ... ampun ....”


“Berapa banyak orang yang sudah kalian curi?” tanya Kala dengan dingin.

__ADS_1


“Tidak ada ... tidak ada, Pendekar!”


Kala masih sulit percaya pada manusia, tapi ia melihat bahwa perkataan orang itu bukan tanpa dasar. Melihat dari persenjataan mereka, agak sulit berhasil mencuri walau jumlah mereka banyak. Kala juga tidak melihat mereka memakai barang-barang hasil curian, pakaian mereka murni petani.


“Apa alasan kalian mencuri?”


“Desa kami ....”


Orang itu menjelaskan mewakili teman-temannya. Desa mereka ternyata ikut terdampak penyerangan ini. Mereka tidak mendapatkan dampak suhu udara dingin, mereka mendapatkan dampak yang tidak kalah mengerikan dari cuaca dingin.


Beberapa hari lalu desa mereka kedatangan selusin kelompok tak dikenal, mereka mengaku berasal dari Kastel Kristal Es, tentu saja kelompok itu sekarang sudah binasa di tangan Kala.


Mereka meminta seluruh hasil ternak dan lumbung hasil panen. Mereka juga mengambil paksa gadis-gadis desa. Warga yang memberontak atau menolak akan langsung dihukum pancung, di tempat!


Kejadian itu berlangsung hanya dalam satu malam, kelompok itu kemudian pergi ke desa lain. Mereka meninggalkan begitu saja gadis-gadis desa yang mereka culik, kondisi mereka begitu ironis.


Kelima orang ini merupakan kepala desa yang terdampak. Mereka sepakat untuk merampok di jalan utama walau perjalanan ini akan memakan waktu yang sangat lama, tapi harapan mereka hanya tertanam pada jalan utama karena cukup sepi perampok lain.


Kala menghela napas panjang. “Apa kalian tahu mengapa jalan ini jarang ada perampok?”


Mereka lantas menggelengkan kepala dengan cepat. Kala kembali menghela napas melihat kebodohan para kepala desa ini. Jika Kala datang terlambat, mungkin lima kepala desa ini sudah mati.


“Ini merupakan jalan utama penghubung kota dengan Kerajaan Geowedari, jalan ini hanya dilalui para bangsawan dan pedagang besar. Tentu yang lewat di sini mempunyai penjagaan yang kuat, Kerajaan Geowedari juga tidak akan membiarkan ada perampok di jalan ini. Para perampok besar saja tidak berani merampok di sini.”


Muka para kepala desa semakin kejut. Mereka memang baru datang dan belum melihat rombongan pedagang yang lewat sini, untung saja yang mereka ingin rampok untuk pertama kalinya adalah Kala Piningit.


Para perampok ketakutan kalau Kala akan melaporkan perbuatan mereka pada Geowedari, tentu itu akan berdampak pada desa mereka jika kehilangan sosok kepala desa.


“Pendekar! Ampun! Jangan laporkan kami!”


“Aku tidak perlu melaporkan kalian ke pihak kerajaan, aku bisa membunuh kalian di sini dengan tanganku sendiri.”


“Ampun, Pendekar! Ampun! Kami kapok. Kami akan pulang, mohon ampuni nyawa kami.”


Kala menghela napas lalu menarik nafsu membunuhnya. “Apa kalian sudah meminta bantuan pada tumenggung setempat?”

__ADS_1


“Kami sudah melaporkan ini, Pendekar. Tetapi, mereka tidak membalas apa pun.” Nada bicaranya sudah kembali normal setelah bebas dari nafsu membunuh Kala, tapi mereka masih belum berani untuk bangkit.


__ADS_2