
Kedua pedang itu diarahkan pada Kala. Kala mengalirkan prana pada pedangnya sebelum menangkis dua serangan yang datang. Seorang pemuda yang berada di Pondasi Prana melawan seorang wanita di Alam Formasi Spirit adalah tindakan yang sangat gila, tapi Kala tidak terlalu memikirkan tingkatan karena ia sudah percaya dengan kemampuannya.
Percikan api akibat pertemuan pedang itu tercipta! Desingan pedang memekakkan seantero hutan. Kala mundur beberapa langkah sedangkan wanita itu berdiri tegap di depannya.
“Kau masih berada di Pondasi Prana, jelas akan kalah telak melawanku. Lebih baik biarkan aku membunuh para perampok itu.”
“Tidak akan pernah!” Kala menyentak kakinya, pedangnya berkelebat dari samping kanan menebas ke kiri.
Si gadis menangkis pedang Kala dengan pedang di tangan kirinya sedangkan pedang di tangan kanannya digunakan untuk menusuk perut Kala.
Menyadari serangan yang akan datang, Kala memilih melompat jauh ke belakang. Dadanya naik turun, prana miliknya terkuras cukup banyak.
“Sial, inti prana milikku masih belum pulih sepenuhnya.” Kala bergumam sambil menelan pil penyembuh dan esensi prana.
“Kau memiliki mata yang bagus, Pria Tampan.” Wanita itu seakan tidak menyadari bahwa Kala adalah Kesatria Garuda dan masih saja bertanya, “apa kau adalah Kesatria Garuda?”
Kala memilih tidak menjawab melainkan maju menyerangnya lagi. Gadis itu hanya bisa menggelengkan kepala dan menyambut serangan yang datang.
Diri Kala kewalahan saat si gadis mulai menyerang balik. Pedang spirit miliknya sudah mengalami beberapa keretakan dan sepertinya sudah tumpul. Meskipun keadaan sudah sangat tidak memungkinkan untuk keluar sebagai pemenang, Kala tetap tidak ingin menyerah.
Kala melepas pedangnya sebelum membuka mulutnya lebar-lebar. Suara pekikan elang terdengar keras seantero hutan, tapi wanita yang di depannya tidak mendengar apa pun melainkan suara hening.
Jurus yang Kala pakai sekarang tidak lain dan tidak bukan adalah Jurus Suara Hening, jurus yang hanya bisa dikuasai oleh Kesatria Garuda dan merupakan jurus yang sangat mematikan.
Gadis itu menyadari bahwa suara hening yang ia dengar sebenarnya adalah suara yang keras. Ia segera melakukan mantera tangan sebelum kepalanya meledak akibat suara keras itu.
Kubah es secara tiba-tiba menyelimuti tubuhnya. Kala sangat terkejut akan hal ini, satu-satunya perguruan yang menguasai es adalah Kastel Kristal Es yang merupakan perguruan aliran hitam. Bagaimana bisa orang ini mengatakan dirinya adalah penegak keadilan?
Kala berhenti memekik saat sadar suaranya tidak bisa menembus kubah itu. Prana miliknya hampir terkuras habis begitu juga energi jiwanya. Kala bersimpuh lutut dan berusaha mengatur napasnya.
“Yang tadi itu, boleh juga.” Gadis itu keluar dari kubah yang sudah ia hancurkan dari dalam.
__ADS_1
Kala tidak berujar apa pun melainkan memandang wanita itu tanpa kuasa untuk menyerangnya. Ia merasa kalau malam ini adalah malam terbodoh yang pernah ia lakukan, ia mengorbankan nyawanya untuk para kepala desa tanpa hasil.
Gadis itu berada di hadapan Kala yang bersimpuh lutut, pedangnya menyentuh leher Kala. “Selama berada di Alam Formasi Spirit, aku belum pernah kalah dengan orang yang berada di tingkatmu. Kau akan mati malam ini. Namun, setidaknya kau tidak kalah telak.”
“Bagaimana bisa kau menyebut dirimu sebagai penegak kebenaran?” Kala tertawa pahit.
“Apa maksudmu?!”
“Kubah es tadi melindungimu dari seranganku, apa bisa kau jelaskan dari mana kau belajar tentang es selain dari Kastel Kristal Es?!”
“Hmph! Kini setelah kau menebak itu, aku semakin yakin untuk membunuhmu.” Pedang itu semakin ditekankan pada leher Kala sampai darah mulai mengalir pelan.
“Sebelum aku mati, setidaknya berikan aku pemahaman mengapa dirimu mau repot-repot menegakkan kebenaran padahal kau berasal dari aliran hitam. Aku ingin tahu arti semua ini sebelum aku mati.” Kala tersenyum pahit.
Gadis itu terkekeh pelan. “Apa orang yang berasal dari aliran hitam tidak bisa berbuat baik?”
“Aku rasa, orang yang berasal dari aliran hitam sudah menyatu dengan kejahatan.” Kala tersenyum tipis.
Kala terlihat merenung sebentar sebelum memejamkan mata. “Terima kasih sudah memberiku pemahaman, sekarang lakukan apa yang tadi ingin kau lakukan.”
Gadis itu menarik pedangnya dan mengangkatnya tinggi-tinggi berniat menghunjam Kala, ia merasa menebas kepala seorang pria yang baik bukanlah suatu kehormatan.
Walau pedang itu sudah diangkat tinggi-tinggi, tapi pedang itu tidak juga menusuk Kala. Raut wajah gadis pemegang pedang itu terlihat ragu, tapi ekspresinya tidak terlihat karena ia memakai topeng.
Pada akhirnya, dirinya menghela napas panjang. “Kau sepertinya merupakan orang yang baik, tapi mengapa kau menolong para perampok itu?”
Kala membuka matanya dan melihat kedua pedang itu sudah disarungkan. “Aku sudah katakan, mereka bukan perampok.”
“Ya, terserah katamu. Namun, mereka tetap saja pernah hampir merampokmu.” Gadis itu membuka topengnya tapi Kala tidak menatapnya. “Aku sudah menjawab pertanyaanmu tadi, sekarang jawab pertanyaanku.”
“Kastel Kristal Es mengirim muridnya untuk menyerang kota. Namun, mereka juga menjarah semua harta bahkan gadis-gadis dari lima desa. Kelima orang yang tadi bersamaku adalah kepala desa, mereka berniat merampok dengan senjata kurang memadai untuk menyelamatkan kampung mereka yang krisis makanan.” Kala juga menjelaskan niatnya untuk membantu kelima desa itu.
__ADS_1
“Tapi, mereka tetap saja berniat merampok. Setidaknya kau bisa menangkap mereka dan membawa mereka ke tumenggung sekitar. Dan biarkan saja pemerintahan yang mengurus krisis pangan ini.” Si gadis berkata dengan pelan.
“Percuma, mereka sudah melapor pada tumenggung sekitar, tapi tidak mendapatkan balasan.” Kala menghela napas panjang. “Aku curiga akan suatu hal.”
“Curiga apa?”
“Aku curiga bahwa mereka sudah bekerja sama dengan tumenggung setempat.” Kala akhirnya membeberkan kecurigaannya selama ini.
“Kau tidak bisa menyimpulkan begitu saja.” Si gadis ikut menghela napas panjang. “Namun, aku sangat menyayangkan perbuatan perguruanku ini. Mohon maafkan mereka.”
Kala akhirnya memandang ke atas. Namun, ia kembali memandang bawah saat melihat wajah si gadis. “Aku tidak bisa membiarkan perbuatan perguruanmu ini, aku tetap akan berusaha sebisa mungkin untuk mereka.”
“Aku ikut.”
Kala menaikkan alisnya. Bukannya tadi gadis ini yang ingin menghalanginya? Mengapa sekarang ia malah mau ikut Kala untuk membantu menyelamatkan desa?
“Apa kau ingin ikut untuk mengacaukan semuanya?” Kala menatap lagi ke atas.
Gadis itu mengetahui kalau Kala sekarang melihat wajahnya, ia segera memalingkan muka. “Aku tidak akan mengacau. Mengapa kau malah berburuk sangka kepadaku? Padahal aku hanya ingin memperbanyak kebaikan.”
“Aku masih tidak yakin denganmu.” Kala tertawa kecil. “Melihat cara berpikir dirimu yang aneh, aku tidak bisa gegabah membiarkanmu ikut dengan kami.”
Gadis itu memiringkan kepala. “Apa aku tidak dibolehkan ikut?”
Kala menggeleng pelan. “Maaf. Namun, kau bisa mencari kebaikan dengan hal yang lain. Mohon jangan ganggu kami.”
Gadis itu memiringkan kepalanya. Alisnya berkedut. Ia sama sekali tidak menduga penolakan ini, ia malah menduga kalau pemuda tampan ini sangat senang karena menerima bantuan dari pranor Alam Kristal Spirit.
“Baiklah, jika itu maumu.” Ia kembali memasang topengnya lalu berkelebat, menghilang entah ke mana menyisakan Kala yang menghela napas panjang.
“Aih, apa keputusanku salah?” Kala juga kembali teringat wajah gadis itu. “Ah, sudahlah. Hidup gadis itu sepertinya tidak akan lama lagi, membantuku justru akan memperpendek usianya.”
__ADS_1
Kala berdiri lalu kembali ke tempat peristirahatan. Ia masih saja terus menggerutu dalam hati karena tidak melihat Alang menolongnya tadi.