
“Apa kau sudah buta?” sahut Kala, membuat pria sangar itu mengerjap mata beberapa kali.
Ia memang menyadari sebelumnya bahwa aura pembunuh besar ini datang dari Kala, tapi ia masih tidak percaya bahwa pemuda culun itu bisa mengeluarkan nafsu pembunuh sebesar ini!
“Bagaimana? Apa kau memperbolehkan aku masuk?” Kala tersenyum lebar.
Pria sangar itu tersadar setelah beberapa saat. “Ah-ah! Tentu saja! Andika bisa menginap di penginapan ini dan makan sepuasnya! Hahaha, aku yang akan membayar semuanya.”
“Tutup mulutmu atau kau tidak akan bisa membukanya lagi.”
“Ah, baik-baik.” Pria sangar itu mengangguk-angguk seperti anak ayam yang mematuk, tapi ia sadar bahwa baru saja membuka mulutnya lagi. Dengan panik, ia memukul mulutnya sendiri berkali-kali sampai bibirnya pecah.
Kala dan Alang hanya bisa menggelengkan kepala, berbeda dengan Kaia yang merasa kasihan. Tidak menghiraukan perbuatan aneh si pria sangar, Kala mengajak Kaia ke meja penerimaan tamu.
Setelah merasakan sendiri kekuatan Kala, penerima tamu menjadi takut luar biasa. Terlebih lagi ia hanya warga desa biasa, bukan pranor.
“Aku ingin memesan dua kamar, tolong.” Kala berkata dengan ramah, di luar bayangan si penerima tamu.
“Ba-baiklah. Eh, maaf Tuan Pendekar, kamar tersisa satu.” Pelayan itu berusaha agar bibir naik agar senyum tercipta.
Kaia memandang Kala tajam, takut apa yang ia takutkan sejak awal terjadi: tidur di kamar yang sama atau lebih buruk satu kasur yang sama!
“Itu bukan masalah. Mohon siapkan.” Kala mengeluarkan uang sesuai nominal.
Setelah selesai administrasi, si penerima tamu pergi ke atas untuk membuka kunci kamar. Kala dan Kaia mengikuti di belakang.
“Apa yang kau lakukan? Aku tidak ingin tidur satu kamar denganmu,” Kaia membisik keras pada Kala.
“Kau pikir aku mau tidur satu kamar denganmu?”
“Lalu?”
“Kamar itu untukmu dan Alang.”
“Kau?”
__ADS_1
“Tidak butuh tidur.” Kala berkata dengan singkat, sebenarnya ia mau menjelajahi desa ini lebih jauh. “Jangan membantah lebih jauh.”
Si penerima tamu membuka pintu kamar yang dituju lalu mempersilakan mereka masuk. Hanya Kaia yang masuk, ia masih merasa sedikit tidak enak pada Kala, sudah mau berbuat baik tapi malah menduga yang bukan-bukan.
Alang memilih untuk ikut dengan Kala, ia juga berpesan agar Kaia selalu membuka jendela kamar. Kala turun ke lantai bawah, disambut dengan pria yang tadinya sangar.
“Ah, Andika pasti ingin pergi mencari hiburan. Mari biar aku temani. Aku, Bajul Sarna, akan membayar semua belanjaan Andika.”
“Bajul buntung.” Kala bergumam pelan.
Walau ucapan Kala sangat pelan, Bajul Sarna itu masih mendengarnya. Ledekan Kala malah ia anggap sebagai pujian.
“Hahaha, aku ini memang buaya buntung. Jika Andika ingin memanggilku demikian, maka aku akan terhormat.”
“Terserah apa katamu, jangan ikuti aku.” Kala memilih bangku di pojok ruangan serta memesan segelas tuak.
“Eak eak?” tanya Alang penuh harap.
“Tidak, tuak bukan untuk hewan.” Kala menolak permintaan Alang.
“Eakk ....”
Alang terlihat cemberut setelah permintaan untuk minum tuak tidak dikabulkan. Entah mengapa, ia merasa bahwa Kala semakin keras. Sebenarnya, Kaia juga merasa demikian, entah mengapa ia tidak bisa lagi mengalahkan Kala dengan sikap dinginnya.
Segelas tuak dengan gelas dari kayu datang. Saat Kala ingin membayar, si pengantar berkata bahwa Bajul Buntung alias Bajul Sarna itu membayarnya. Kala hanya menggeleng pelan.
“Apa kalian punya daging?”
“Maaf, Kisanak, kami memiliki prinsip: hanya akan menjual minuman tuak yang terbaik untuk peminum,” kata sang pengantar ramah dan bangga.
Kala melebarkan senyumnya. “Prinsip yang bagus. Lalu di mana aku bisa membeli makanan?”
“Kisanak bisa membeli makanan di luar, ada pasar di dekat sini dekat pintu masuk. Aku jamin pasar itu bersih. Kisanak bisa membawa makanan ke penginapan sebab tak ada aturan untuk itu.”
“Terima kasih, kau bisa pergi sekarang.” Si pengantar dengan cepat pergi, mungkin masih banyak hidangan yang harus disajikan.
__ADS_1
Kala menikmati tuak dengan perlahan, rasanya masih di bawah Tuak Kunyuk Gunung, tapi itu tidak masalah untuk saat ini. Kala juga mengeluarkan sebatang pipa tulang. Sekarang ia terlihat seperti pria yang buruk.
Selesai menikmati asap sehat dan tuak yang sedikit menyehatkan, Kala keluar dari penginapan. Kala tahu persis bahwa Bajul Sarna mengikutinya agak jauh di belakang, tapi Kala memilih untuk tak peduli.
Kala bergerak ke arah pintu masuk desa lalu melihat beberapa tenda jual dan kios-kios kecil di sebelah kanan. Kios-kios dan tanda-tenda saling berhadapan satu sama lain di dua sisi yang berbeda, menyisakan jalan cukup besar di tengahnya untuk pembeli.
Kebanyakan kios yang menjual senjata dan pil-pil spirit. Namun, di pojok-pojok ada yang menjual makanan lezat. Kala membeli daging panggang untuk Alang dan untuk dirinya sendiri, rasanya cukup luar biasa lezat.
Ia juga membeli beberapa barang yang dirasanya menarik dan berguna. Sistem yang dipakai desa ini membuat rasanya aman dan tenteram. Kala menyukai kehidupan yang damai seperti ini.
Sebenarnya tidak sulit jika mau tinggal di sini agar hati terus damai. Tapi, tugas Kala adalah menciptakan kedamaian di seluruh Nusantara. Bukan berpangku tangan di sini sedangkan keadaan luar tidak damai.
Ada beberapa kue tradisional di sini, tapi Kala memilih untuk membeli kue-kue bersama Kaia nanti, ia pasti akan suka. Saat siang sudah jatuh menjadi sore, Kala kembali ke penginapan dengan sejumlah barang dibawanya.
“Kenapa kau begitu lama?” tanya Kaia setelah Kala membuka pintu kamar.
“Begitu lama? Aku membelanjakan beberapa barang untukmu.” Kala mengeluarkan sejumlah pisau lempar.
“Bagaimana cara pakainya?”
“Cukup lempar, semudah itu.” Kala berniat keluar kamar, tapi Kaia menahannya.
“Cincin interspatial milikku agak sulit dibuka.” Kaia melepas cincin interspatial miliknya.
Kala mengambil cincin tersebut lalu memeriksanya. Tidak seperti biasanya, tidak ada dimensi yang terlihat di sini. Beberapa kali muncul; beserta kilatan bayangan barang-barang yang ada di dalamnya, tapi lebih sering menghilang.
Ia meragukan kualitas cincin dari Asosiasi Manuk Wengi, tapi segera menepisnya. Tidak mungkin asosiasi sebesar itu berani menjual parang yang tidak berkualitas.
“Apa kau menjatuhkannya?” tanya Kala penuh selidik.
Kaia menggelengkan kepalanya pelan. Tidak ada kebohongan di matanya, atau tangannya yang gelisah, tidak ada. Kala masih menatapnya penuh selidik lalu mencopot cincin interspatial pemberian Maheswari.
Anehnya, cincin interspatial miliknya juga sama seperti itu. Bahkan Kala mendengar kehebohan di bawah sana yang meributkan tentang cincin. Dengan panik dan heran, Kala memeriksa gelang interspatial miliknya juga.
“Loh?” kata Kala heran, “ada apa ini? Ayo, Kaia, kita harus mencari keterangan dari masalah ini di bawah.”
__ADS_1
Mendengar suara keributan di bawah, Kala berpikir bahwa lebih baik bertanya soal masalah cincin pada mereka. Mungkin saja ada yang mengetahui tentang masalah ini.
“Aku sendiri tidak tahu.” Orang yang ditanya menggelengkan kepala. “Yang lain juga sudah seperti ini, bahkan sedari pagi.”