
Kala mengeluarkan Keris Garuda Puspa dari cincin interspatial yang ada di saku celananya, Kala menyembunyikan cincin interspatial di dalam saku agar tidak menimbulkan kecurigaan.
Setelah ia turun ke bawah, terlihat hanya tersisa lima paruh baya yang masih duduk minum di sini. Dan nampaknya mereka enggan meninggalkan tempat ini.
“Anak Muda, kenapa kau membuat pacarmu menangis dan pergi?”
“Tidak ada waktunya membahas itu, Orang Tua.” Kala bersikap dingin dan ingin keluar langsung dari penginapan.
“Tahan dulu, Bung. Duduk dan minum dengan kita, mungkin ini untuk terakhir kalinya.”
Kala menghentikan langkahnya. “Apa yang kalian maksud?”
“Tentu saja, duduk dan minum.” Salah satu dari mereka tersenyum. “Kami tidak akan membiarkan kedai tuak ini hancur, jika ini hancur, maka setidaknya kami harus menemaninya mati juga.”
Kala mengerutkan dahinya sebelum mengambil kursi, segelas tuak gratis datang dari si pemilik kedai. Duduk di satu meja bundar besar bersama lima orang tua, termasuk si pemilik kedai.
“Kalian ingin mati hanya demi kedai tuak ini?” tanya Kala keheranan.
“Jika tanpa kedai tuak ini, kami sudah mati.” Seorang dari mereka terkekeh sambil menggeprak meja dengan gelas.
“Bukankah tuak hanya akan memperpendek usia kalian?”
“Kedai ini memiliki banyak kenangan kita yang tertinggal. Mulai dari kisahku sampai kisah kita semua. Kami memang terlihat hanya berburu, namun tidak sesimpel itu.
“Sejak muda, kami memang suka berburu. Tidak sengaja menemukan kedai ini, dan tuak di sini sangat nikmat. Kedai ini adalah tempat pertama di mana aku meminum tuak.”
“Kau terlalu memujiku,” tawa si pemilik kedai.
“Lebih tepatnya ayahmu. Biar aku melanjutkan cerita. Sejak kejadian itu, aku lebih suka singgah di sini ketimbang memburu. Lalu datanglah si antek kerajaan ini, ia berkata bahwa ia sudah pensiun padahal usianya saat itu masih 20 tahun.”
__ADS_1
“Aku sudah katakan sejak ayahmu masih *******, aku bukan antek-antek kerajaan!”
“Tidak ada debat untuk hari ini.” Pria paruh baya lain menolak.
“Aku akan lanjutkan cerita. Si pensiunan ini akhirnya akrab denganku, aku mengajaknya berburu, tapi ia malah menaksir salah satu gadis di desa ini. Sayangnya, dia gagal, dan dia minum banyak di sini sampai aku harus mengantarnya ke kamar atas. Beruntungnya, kamarnya gratis.”
“Hitung-hitung teman,” timpal si pemilik kedai.
“Lalu datanglah seorang buronan, ia berlari dan masuk ke penginapan karena menyangka bahwa ini adalah rumah tabib. Telah tertancap satu panah, menembus perutnya. Beruntungnya si pensiunan ini memperhatikan pelajaran pertolongan pertama saat sedang belajar militer dulu, sehingga nyawa buronan ini aman.”
“Hoho, kau masih mengingat itu dengan jelas.” Pria paruh baya dengan janggut panjang berkata sambil mengelus janggut. “Sampai sekarang mereka belum menemukanku.”
“Lalu yang terakhir. Seorang pria yang masih sangat muda keluar dari hutan sambil membawa sesajen. Ia berpakaian seperti dukun, berniat menyantet gadis di desa sebab cinta tertolak. Ah, gadis desa di sini memang sangat menggoda.
“Jurusnya tidak manjur, ia dikeroyok warga desa dan akan mati sebentar lagi jika dari kami tidak kerja sama.”
“Dan nyawaku terselamatkan, saat itulah kami sadar bahwa kerja sama adalah hal penting.” Pria paruh baya, mungkin saja lebih muda, berkata, “si pemburu, ia memisahkan warga desa dengan tenaganya yang kuat. Si pensiunan muda itu membacakan undang-undang kerajaan dan mengobatiku. Dan si buronan, dengan kemampuan penyamaran, ia bisa menjelma menjadi kepala desa dan menenangkan warga. Dan si pemilik kedai, dengan tuak dan pengaruhnya.”
“Sampai mati!” Mereka berseru bersama, menegak tuak, lalu tertawa lepas seolah tidak tahu bahaya di depan.
Mereka sekumpulan orang aneh.
Kala tersenyum bahagia melihat mereka yang terus tertawa, ia juga menegak tuak di gelasnya, tidak terlalu banyak atau Kaia akan datang membawanya ke kamar lagi.
“Jangan minum banyak, Tuan-Tuan. Ingat, angkat perisai juga perlu kesadaran.” Si pemilik kedai menasihati, tapi ia menegak satu kendi sampai habis. “Aku serius, sekarang mari kita kumpulkan semua warga di tempat kepala desa, di sana tempatnya lebar dan ada tembok tinggi.
“Untuk antisipasi jika kita gagal. Tapi, jangan pernah gagal. Ingat, tidak untuk hari ini. Ada tamu spesial yang ikut bersama kita, Anak Muda yang mencari pengalaman baru.”
“Kau mulai melantur, ayo kita bergerak sekarang.”
__ADS_1
Mereka menaruh gelas ke meja serentak dengan keras. Meja bundar itu bergetar dan mengeluarkan suara.
Kelima orang itu mengambil perisai dan pedangnya masing-masing. Baik pedang maupun perisai, sama-sama memiliki ukuran yang sama. Mereka keluar dari penginapan bersama, Kala masih duduk.
“Kau tidak ikut?”
“Tentu saja aku ikut.” Kala berdiri dari bangkunya sambil menenteng keris seukuran pedang itu yang masih tersarung.
Warga belum mengetahui soal kabar penyerangan yang akan datang. Mereka masih belum selesai dengan kegemparan soal beberapa orang yang mati akibat cincin sakti yang belum mereka ketahui. Mereka terlihat biasa-biasa saja.
“Siapa nama kalian?” tanya Kala memecah keheningan.
“Nama kami? Itu tidak terlalu penting. Pikirkan terlebih dahulu masalah yang di depanmu.”
“Baiklah semuanya, mari bentuk lingkaran kecil,” seru si pemburu, “baik, kita harus pelan-pelan, mereka warga yang bisa sangat panik saat ajal akan menjemput. Sampaikan dengan perlahan, dan jangan percayakan bahwa masih bisa hidup esok kemudian.”
Lima orang itu dipisah, tiga orang untuk menemui warga di pemukiman. Satu orang di sawah, selatan desa. Sedangkan satu orang lagi menjaga pintu desa.
“Anak Muda, pergi ke bukit belakang. Tahan mereka. Aku yakin kau memiliki kekuatan.” Si pemburu memberi arahan terakhir. “Baik teman-teman, jika kita mati, maka kita mati sebagai lelaki yang terhormat. Tapi jika kita menang, maka seribu gelas tuak menanti kita nanti malam. Lakukan ini untuk kedai tuak kita. Bubar!”
Mereka seakan tidak mau lagi berbasa-basi. Tugas masih banyak. Langsung lari ke tempat pembagian tugas mereka. Kala menggunakan Teknik Kapas - Macan Menuruni Gunung untuk sampai bukit lebih cepat.
Hutan masih segar dengan embun dan matahari seolah enggan menerobos ranting dan daun. Kala melompati semak belukar, batu tinggi hingga akhirnya sampai di puncak bukit.
Dari atas puncak bukit, dapat dilihatnya seluruh seantero pemandangan dengan jelas. Desa dan sebagian kecil Hutan Telu dapat dilihat. Yah, desa sedang kacau sekarang jika dilihat dari atas. Saat Kala beralih ke sisi lainnya, terdapat tanah lapang luas yang dipakai sebagai medan perang.
Bendera merah dari Geowedari dominan terangkat sedangkan bendera hijau dari Pandataran terlihat tidur di tanah. Juga terlihat beberapa tubuh yang tergeletak. Pasukan bendera merah bergerak memasuki jalan yang mengitari bukit.
Sudah jelas bahwa Geowedari memenangkan pertempuran kali ini. Maka itu akan berakibat buruk juga.
__ADS_1
Kala bertengger di atas dahan pohon yang besar di atas bukit, menunggu mereka melewati jalan di bawah bukit menuju desa.
Walau desa terlihat kecil dari sini, dan jauh di sana, Kala sangat berwaspada. Ia tidak tahu kecepatan sebenarnya dari pasukan Geowedari.