
Kaia kemudian bangkit dan dengan acuh tak acuh pergi ke tempat rumahnya rubuh. Sedangkan Kala berdiri dan melihat tulang di kuali lekat-lekat, ia tak cukup berani untuk mengambil tulang itu.
“Alang, apa kau bisa mengambilkan itu untukku?”
“Eak?”
“Bukannya aku takut, aku hanya malas.”
“Eak!”
“Aih, kau! Pendekar memang tidak boleh malas, tapi ini ....”
Pada akhirnya Kala menjulurkan tangannya untuk mengambil tulang seukuran rokok itu. Ia menutup matanya saat jarinya menyentuh tulang tersebut. Namun, tidak ada reaksi panas yang ia harapkan. Suhu tulang itu biasa-biasa saja, tidak panas juga tidak dingin.
“Hahaha!!! Tidak apa! Ini tidak panas!” Kala bersorak sambil mengangkat tulang itu tinggi-tinggi.
Dengan persepsi miliknya bahwa tulang itu sama seperti esensi prana yang keras tapi akan lumer saat di mulut, Kala menggigit tulang keras itu.
“Ah!”
Rasa ngilu menjalar pada giginya. Ini benar-benar tulang keras yang tidak meleleh saat bertemu liur. Kala memandangi tulang tersebut cukup lama.
“Apa yang harus aku lakukan dengan tulang ini jika tidak bisa dimakan?”
Tulang ini mirip dengan batang rokok, apa sumsumnya enak dan sehat jika dibakar dan dihirup?
Kala mengeluarkan kerambitnya, memotong dua ujung tulang itu lalu meminta Alang membakar salah satu ujungnya.
“Eak?”
“Alang, aku sudah cukup umur untuk merokok. Bakar saja!”
“Eak! Eak!”
“Rokok yang umum memang tidak sehat. Namun, ini adalah tulang yang dibakar. Mungkin saja mengandung prana yang menyehatkan.”
“EAAK!”
“Satu batang saja untuk sekarang, jika tidak sehat maka aku tidak akan menghirupnya lagi.”
Alang menggeleng pelan. Namun, Alang tetap melontarkan api kecil pada ujung tulang itu. Tulang rokok ini seakan mudah terbakar, lebih cepat terbakar daripada rokok biasa. Kala buru-buru meniupnya.
Apa kau yakin untuk merokok? Guru pasti akan memarahimu.
Kala menelan ludahnya sebelum menempelkan ujung rokok yang tak terbakar pada bibirnya. Secara perlahan namun pasti, Kala menghisapnya. Asap rokok itu memenuhi mulutnya dan rongga tenggorokan, membuat dirinya seketika itu juga terbatuk-batuk.
Namun, batuk-batuk adalah hal yang wajar untuk seorang muda yang pertama kali menghirup pipa. Yang lebih mengejutkan, Kala merasa prana miliknya bertambah!
“Benar saja! Tulang ini memberikanku prana!”
Kala menghisapnya lagi, kali ini ia menghisapnya dengan lebih hati-hati. Ia hanya menahan asap itu sampai mulut tak sampai ke tenggorokan, lalu ia hembuskan secara perlahan.
Rasanya manis dan ada rasa daging sedikit. Kala juga merasa lukanya mulai menutup secara perlahan. Benar-benar nikmat dan menyehatkan!
“Alang! Kau harus coba ini!”
Alang menatap Kala dengan malas. “Eak ....”
“Ya, sudah. Aku akan menghabiskan semuanya jika kau tak mau.”
Dengan rokok yang masih menyala di bibirnya, Kala mengambil dua batang lainnya yang tersisa. Kuali itu dimasukkan kembali ke cincin interspatial sedangkan rokok itu disimpan di kantung jubah.
Bertepatan dengan itu, Kaia kembali dengan tangan kanannya menggenggam seutas kain batik. Ia mengatakan dirinya sudah siap walau nadanya acuh tak acuh.
“Apa yang kau bawa?” tanya Kala.
“Kau tidak perlu tahu.”
Kala mengelus dadanya sambil menggeleng pelan. Menghadapi gadis dingin seperti ini yang dibutuhkan hanyalah sabar.
“Kau yakin hanya itu yang kau bawa?”
“Apa itu akan menjadi masalah untukmu?” Kaia menanggapi dingin Kala yang mengelus dadanya lagi.
__ADS_1
“Baiklah, mari kita berangkat sekarang.” Kala melepas napasnya. “Alang, kau terbang untuk mencari kota terdekat di perbatasan Geowedari-Pandataran.”
“Eak!”
Tubuh Alang menjadi besar sebelum melesat ke atas dengan cepat. Kaia melihat itu dengan datar tanpa ekspresi, tidak ada rasa kagum yang terlihat di wajahnya.
Kala dan Kaia menyusuri jalan desa menuju jalan utama. Kala sebisa mungkin menghindari warga dan dia berhasil menghindari semuanya.
Kaia berjalan tanpa bicara sepatah kata pun, padahal ia sendiri tidak tahu mau dibawa ke mana oleh Kala. Entah karena rasa percaya pada Kala atau karena sifat cuek miliknya.
Sedangkan Kala, ia sangat menikmati perjalanan ini. Ia sudah terlalu lama mendekam di Gunung Loro Kembar, perjalanan penuh mara bahaya ini bagaikan hiburan baginya.
Jalan yang biasa saja bagi orang banyak kini terasa luar biasa bagi Kala. Hal itu membuatnya sangat senang sampai bersiul-siul tidak jelas.
“Ah, daripada aku bersiul tidak bernada seperti ini, bagaimana jika aku membuat lagu saja?” Kala berbicara pada dirinya sendiri, namun segera ditanggapi oleh Kaia.
“Sudah cukup. Apa kau tidak sadar diri?”
Kala tidak lagi peduli dengan ucapan Kaia, ia tidak ingin terbawa emosi di jalanan yang begitu menggembirakan seperti ini.
“Terkadang hidup memang harus penuh darah ....”
“Yang tumpah ruah membasahi jalanan ....”
“Terkadang hidup memang harus penuh darah ....”
“Yang tumpah ruah membasahi jalanan ....”
Dua bait itu saja yang Kala lantunkan, dirinya masih belum memikirkan bait-bait selanjutnya.
“Cukup ....”
Kala masih belum menghentikan nyanyian tak bernada itu. Sampai pada akhirnya Kaia berteriak marah, “Cukup!”
“Hm? Kau menyuruhku berhenti, namun kau tidak ingin diajak mengobrol.” Kala tertawa pelan sambil menggelengkan kepala. “Aih, aku masih punya pipa untuk dihisap.”
Kala memang mematikan pipa yang ia hisap tadi saat Kaia datang, ia kemudian menyimpan di cincin interspatial untuk dihisap lagi nantinya. Saat ini, dirinya juga bosan dan mungkin sebatang rokok bisa membantu.
Kala mengeluarkan pipa tulangnya lalu bersuit untuk memanggil Alang. Entah dari mana datangnya, burung itu sudah ada di pundak Kala dalam kondisi kecil.
“Eak! Eak!”
“Alang, ini rokok yang sehat. Lagi pula, orang di sampingku ini sangat dingin.” Kala berbisik pelan pada Alang dengan nada membujuk.
Dengan malas, Alang melemparkan bola api kecil ke ujung pipa itu lalu melesat ke atas. Kala tersenyum puas sebelum memadamkan api tersebut.
Kaia menatap Kala jijik saat dirinya menghembuskan asap dari hidungnya. Ia hanya menatap Kala jijik tanpa melontarkan komentar apa pun.
Kala melihat tatapan itu, ia tidak ingin ada salah paham sehingga langsung menjelaskan pada Kaia tentang rokok ini. Rokok yang sehat dan menambah jumlah prana, Kala juga mengatakan bahwa pipa ini ditemukan secara tak sengaja.
“Apa itu ‘prana’?” tanya Kaia penasaran tapi datar.
“Prana adalah energi yang ada di sekitar kita. Energi ini bisa membuat seorang manusia menjadi manusia super atau yang biasa disebut pendekar.” Kala menatap Kaia dengan sedih. “Tapi, prana adalah energi yang membuat darah selalu tumpah. Perang selalu ada. Dan nyawa seakan hanya daun kering yang bisa kapan saja terlepas dari ranting. Prana membuat kehidupan kehilangan harga diri.”
Kaia tidak berkomentar, tapi sebenarnya ia paham. Setahunya, pendekar akan saling membunuh satu sama lain untuk bertambah kuat. Jika kau ingin hidup damai sebagai orang desa yang lemah daripada menjadi pendekar, maka kau akan ditindas oleh pendekar. Jika kau memilih jalan hidup sebagai pendekar, maka kau harus terus menjadi kuat atau nyawamu akan hilang begitu muda.
“Kaia, aku tidak yakin dengan ini. Namun, aku ingin kau menjadi pranor di bawah didikanku.”
Langkah Kaia terhenti setelah mendengar ucapan Kala. Kala menghela napas panjang.
“Aku tahu, kau tidak ingin bajumu basah dengan darah sepertiku. Namun, kau harus menjadi kuat setelah kehormatanmu dirampas. Mengertilah bahwa hidup tidak semudah yang kau kira.” Kala berbicara tanpa menghadap pada gadis itu. “Ini adalah pilihan satu-satunya jika kau ingin balas dendam. Tapi jika kau tidak setuju, maka kau bisa pergi.”
Kaia mengepalkan tangannya dan dengan teguh berkata, “Terus berjalan.”
Kala tersenyum hangat pada Kaia. Pada akhirnya, dirinya memiliki teman seperjalanan, ia sangat senang.
***
Kala mengeluarkan dua potong daging besar dari cincin interspatial. Tentu saja itu mengejutkan Kaia, tapi Kala segera menjelaskannya dengan perlahan dan berjanji akan membelikannya cincin seperti ini saat sudah tiba di kota tujuan. Kala sebenarnya juga tidak tahu di mana kota yang akan ia tuju, Alang hanya menemukan jalannya saja tanpa menemukan kotanya.
Saat ini, Kala dan Kaia berada di pinggir jalan. Jalan yang tidak besar dan berada di hutan pedalaman, Kala memutuskan berpisah dari jalan utama dan memilih jalan ini sebab menurutnya jalan ini merupakan jalan pintas yang biasa para pranor lewati.
Alang berada di atas pohon tengah bertengger dan memejamkan mata.
__ADS_1
Api unggun di depan Kaia dan Kala menyala terang menerangi pepohonan di sekitar. Kala menusuk dua daging itu lalu memanggang di atas api.
“Kau bahkan belum tahu namaku.” Kala mematahkan jemarinya. “Apa kau tidak ingin tahu?”
Jika dipikir-pikir lagi, Kaia bahkan belum menanyai nama Kala atau mendengar namanya. Ia sampai terlalu cuek untuk menanyai hal dasar itu.
“Apa itu penting?”
Kala tersenyum tipis. Ya, ini bukan hal yang penting untuk seseorang yang akan menolong hidupnya. Bukan permasalahan besar.
“Siapa namamu?” Kaia akhirnya bertanya walau terlihat tidak peduli.
“Namaku Kala Piningit. Kau bisa memanggilku Kala atau sesukamu.”
Kaia tidak menjawab atau mengangguk sekali pun. Kala yang sudah terbiasa dengan sikapnya hanya bisa maklum tanpa bisa marah.
Sebenarnya Kala ingin bertanya lebih lanjut tentang masa lalu atau cerita hidup tentang Kaia, tapi Kala bisa menahan diri tidak menanyai itu sebab pasti akan mendapat tanggapan dingin. Namun untuk mata merah yang dimiliki Kaia, Kala tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya.
“Mengapa matamu merah menyala, Kaia?”
Kaia menaikkan alisnya lalu menjawab, “Apa mata ini akan menghalangiku untuk balas dendam?”
“Bisa jadi seperti itu.” Kala tersenyum lebar. “Bisa saja mata merah milikmu akan membuatku meninggalkanmu di sini. Kau tahu? Aku tidak suka dengan sikap dingin dan aku punya kekuatan untuk membunuhmu sekarang juga.”
Walau nada ucapan Kala terdengar sangat ramah dan halus, tetapi itu cukup membuat Kaia bergidik ketakutan. Kala memang tidak sengaja melepas sedikit nafsu membunuh tadi, itu disebabkan karena dirinya yang ingin membunuh Kaia saat ini juga!
“Kastel Kristal Es yang melakukan ini padaku. Aku tidak tahu apa yang mereka lakukan, tetapi mata merah ini muncul setelah aku disekap di kamar ... bersama para binatang itu ... mereka melakukan itu padaku ....”
Kaia menjelaskan, seharusnya ia sudah mati saat ini jika bukan karena ibunya yang mengorbankan diri untuknya. Para anggota Kastel Kristal Es mencampurkan darah perawan Kaia dengan sebuah kristal berwarna merah. Setelah itu Kaia tak sadarkan diri sampai akhirnya dirinya berada di ruang jagal.
Wajah Kala berubah menjadi buruk. Ia mengetahui apa yang terjadi pada Kaia bukanlah masalah kecil.
Konon, ada sebuah kristal yang sangat langka. Kristal itu akan memberi siapa pun kekuatan yang tinggi tanpa berlatih. Namun, kristal itu membutuhkan ribuan nyawa untuk mengaktifkannya.
Setelah kuota tumbal terpenuhi, kristal harus disiram dengan darah gadis yang masih perawan. Gadis itu kemudian ditumbuhi kristal di sebelah jantungnya, kristal itu yang bisa membuat seseorang mencapai tingkat praktik tertinggi tanpa perlu berlatih.
Kastel Kristal Es memang akhir-akhir ini melakukan perbuatan onar, ternyata inilah tujuan mereka. Mungkin kristal ini akan dimakan oleh patriarknya.
Yang lebih mengerikan lagi. Kristal ini mengambil alih kehidupan gadis yang menjadi inangnya. Jika inangnya mati, maka ia akan mati. Jika kristal itu mati, maka inangnya juga mati. Dan, umur kristal itu tidaklah lama.
“Kaia ini bukanlah masalah kecil yang bisa kau sepelekan. Ini adalah tentang Kristal Mata Iblis yang legendaris itu ....”
Kala menjelaskan sedetil mungkin agar Kaia paham. Wajah Kaia berubah menjadi buruk seiring dengan cerita Kala. Puncaknya saat Kala mengatakan bahwa umur kristal itu tidak akan lama.
“Berapa ... berapa umur kristal itu?”
“Hanya ada beberapa yang melakukan praktik ini, dan mungkin informasi itu tidak benar. Umur kristal itu sekitar tiga sampai lima tahun. Bisa lebih cepat, bisa lebih lama.”
“Kau tidak sedang bercanda, bukan?”
“Apa kau pikir aku sedang bercanda?”
Baik Kala maupun Kaia sama-sama membisu. Kaia akhirnya menguatkan wajahnya untuk kembali bersikap dingin.
“Umurku sedikit. Ajari aku silat lebih cepat agar bisa balas dendam.” Kaia kembali ke sikap dingin miliknya.
“Bukan seperti itu cara minta tolong.” Kala menggeleng kepala pelan lalu menyuruh Kaia duduk di hadapannya.
Tidak ada niat buruk yang terpintas membuat Kaia menurut. Kini jaraknya dengan Kala hanya tersisa satu langkah kaki. Kala menggapai tangan Kaia, namun gadis itu lekas menariknya dengan kasar.
“Apa yang ingin kau lakukan?! Apa kau ingin mengambil kristal yang ada di tubuhku?”
“Aku tidak ingin mengambil kristal itu. Tapi aku bisa mengambilnya sekarang jika aku mulai muak denganmu.” Senyum Kala menghilang dan nada bicara sangat dingin.
Kala masih menjulurkan tangannya sampai tangan Kaia yang menggapainya sendiri. Kala memejamkan mata sambil mengalirkan prana ke lengannya.
Kaia merasakan perasaan hangat dan nyaman merambat dari lengannya sampai mengisi seluruh tubuhnya. Ia memejamkan mata untuk menikmati perasaan nyaman ini.
Yang Kala lakukan adalah memeriksa tubuh Kaia. Gadis ini berumur delapan belas tahun. Kristal itu benar-benar ada di sebelah jantungnya. Dan, gadis ini memiliki bakat sebagai pranor.
Setiap manusia memiliki yang namanya akar prana. Akar prana berfungsi untuk menyerap prana di alam semesta dan langsung mengalirkannya ke pusat prana. Semakin banyak akar, maka akan semakin pesat tingkat pratiknya.
Pada umumnya, seseorang memiliki sepuluh sampai dua puluh akar prana. Dikatakan berbakat jika mempunyai dua puluh lima akar prana.
__ADS_1
Setiap manusia akan bertambah tiga akar saat dirinya menjadi pranor. Dan saat ini, Kaia memiliki tiga puluh akar prana. Ia akan menjadi seorang pendekar hebat jika berlatih sejak kecil, dan akan banyak perguruan silat yang mencari batu berharga seperti ini.
Sayangnya, Kaia adalah seorang warga desa yang bakatnya tidak diketahui banyak orang. Ini membuat Kaia telat berlatih.