Seni Bela Diri Sejati

Seni Bela Diri Sejati
Siluman yang Cantik


__ADS_3

Alang terbilang masih baru di dunia ini, ya walau pengetahuannya masih misterius, tapi ia tidak punya dongeng anak-anak.


“Aku ada sedikit dongeng anak-anak yang dulu ayahku ceritakan padaku,” tawar Kaia secara tidak langsung.


“Kau begitu dingin saat bercerita, aku tidak tidak mau cerita dingin.”


“Tidak untuk kali ini.” Kaia mengambil napas panjang sebelum bercerita begitu panjang.


Tentang perjalanan seorang pria kecil di tengah malam, mencari sebuah cahaya lilin yang terbang, menuntunnya ke hutan. Sesekali Kaia bernyanyi, karena memang begitulah cara menceritakan sebuah dongeng.


Cahaya itu menuntunnya keluar dari rumah. Menuju kebun lalu melompati pagar. Hap! Sampailah ia pada perbatasan hutan yang menyeramkan.


Cahaya itu berbisik, pelan, suara yang merdu, menangkis iblis jahat yang mengintai dari balik semak tajam.


Cahaya itu terbang di atas jalan setapak, menuntunnya ke sebuah tempat yang sangat gelap.


Tapi sayangnya, oh, kunang-kunang tidak akan terlihat saat cahaya merajalela. Oh, sayangnya, kunang-kunang akan menari di dalam kegelapan pekat.


Percayalah anakku, oh permataku, tidak semua yang terlihat buruk benar-benar buruk.


“Tapi, aku bukan anakmu.”


“Bisakah kau diam?”


“Oh, kau kembali pada sifat dingin,” ucap Kala setengah bernada.


“Jadi, apa yang kau bisa petik dari dongeng ini?”


“Kunang-kunang itu indah.” Kala memandang langit kosong. “Lain kali kita akan melihat kunang-kunang lagi. Tanpa perang. Tapi sesudah semua tugasku selesai.”


“Yah, itu bisa.” Kaia turut memandangi langit kosong. Begitu juga Alang.


“Kapan kita bisa jalan?” tanya Kala memecah kesunyian.


“Memangnya, apa lagi tujuanmu saat ini?”


“Mencari tahu dalang di balik hilangnya dimensi cincin interspatial.” Kala berbohong, sebenarnya ia lebih takut dengan ramalan gurunya tentang kegelapan. “Aku rasa kita masih punya tenaga untuk melanjutkan perjalanan.”


“Ya, tapi yang pasti, aku butuh tas untuk menyimpan barang-barangku sendiri.” Nada Kaia tetiba dingin, Kala berkeringat dingin, tentu saja semua barang Kaia termasuk pakaian dalam ada di cincin interspatial miliknya, dan ia bisa bebas kapan pun melihatnya.


“Tentu.” Kala pura-pura tidak tahu lalu mengeluarkan ransel kulit dari cincin interspatial, berikut dengan beberapa barang Kaia.


“Mengapa kau tas ini begitu kecil? Dan kenapa kau hanya mengeluarkan sebagian kecil barang-barangku?”


“Jangan bawa lebih banyak barang, itu hanya membuat punggungmu sakit,” jelas Kala, “lagi pula aku tidak akan mau melihat ....”


“Melihat apa?” Kaia menangkap mata Kala tajam.


“Tidak, bukan apa-apa. Yang pasti, aku tidak seperti yang kau pikirkan.”


Pada akhirnya Kaia hanya bisa mempercayai Kala lalu mengemas barang-barangnya. Setelah sarapan, mereka melanjutkan perjalanan. Tujuan utamanya adalah keluar dari Hutan Telu secepatnya.


Menurut peta, di samping Hutan Telu, ada Hutan Akar Ireng, Hutan Kembang, dan Hutan Cawan Abang. Di antara semuanya, Akar Ireng sangat berbahaya oleh tumbuhan-tumbuhan yang menyeramkan. Hutan Kembang, banyak misteri di dalamnya. Sedangkan Hutan Cawan Abang adalah hutan yang paling aman dan paling besar, sebagai jalur perdagangan dan juga berdekatan dengan kota besar, bendungan, serta pelabuhan yang sibuk.


Hutan Cawan Abang berbatasan dengan Kerajaan Bulan Hitam. Perbatasannya sendiri berupa tembok tinggi kuat yang memanjang dari selatan Jawa hingga ujung utara Jawa, bahkan pantai saja tidak terlepas dari pautan tembok itu. Semuanya dilakukan sebab kerajaan itu begitu mengerikan, banyak kejadian di luar nalar terjadi di sana, bagi mereka sangat lazim, misalnya adalah ilmu santet dan perbudakan makhluk tak kasat mata.


Bagi rakyat biasa di wilayah tengah-barat Jawa, mendengar nama Bulan Hitam bisa membuat bulu kudu mereka berdiri, termasuk juga Kaia. Ia begitu ketakutan saat mengetahui akan pergi ke kota perbatasan dengan kerajaan itu.


“Tidak-tidak, lebih baik kita tinggal di Geowedari dari pada berada di Bulan Hitam walau hanya sedetik!”


“Siapa yang bilang kita akan pergi ke Bulan Hitam? Bahkan ke tembok perbatasannya mungkin saja tidak.”

__ADS_1


Tidak ada jalan di sini, mereka harus melompati semak-semak yang masih basah oleh embun pagi. Ada jalan, tapi jaraknya lumayan jauh dari tempat mereka sekarang, Kala memilih memotong jalan meskipun tidak aman.


Kala terlihat menikmati perjalanan, tapi sebenarnya ia sama sekali tidak menikmati ini. Kematian banyak warga semalam ditambah oleh kematian Wironegoro membuatnya sangat tertekan. Bahkan Kala menyebut bahwa ini adalah kekalahan terbesar dan kepengecutan terbesar. Namun, ia mencoba melupakan kejadian semalam dengan secepatnya pergi dari sini.


Jalanan terjal hingga harus melompati jurang dalam. Mereka bertemu dengan lembah, di samping kanan-kiri mereka terdapat tebing batu kapur tinggi yang diselimuti lumut serta rumput.


Setelah melewati lembah, mereka akhirnya bertemu dengan jalan setapak yang biasa dilewati pemburu, sejak saat itu langkah mereka lebih cepat sebab jalan melandai.


Hingga siang hari, matahari serasa menyengat punggung mereka. Keringat mulai membasahi baju, kecuali Alang. Kala memutuskan untuk mengambil istirahat.


“Biasanya kau akan tega membuat aku kelelahan berjalan,” kata Kaia sebelum meneguk air.


“Nikmati perjalanan,” jawab Kala singkat yang bersender di pohon mangga yang rindang. “Kaia, bisa kau ambilkan aku mangga di atas? Kelihatannya segar dan manis?”


“Mengapa kau tidak menyuruh Alang?”


Kala melirik Alang di pundaknya, burung itu menggelengkan kepala, Kala kembali melirik Kaia serta memberi isyarat.


“Ah, mengapa harus aku ....” Dengan malas, Kaia melompat ke pohon yang tidak terlalu tinggi ini, mengambil beberapa mangga dan melemparnya ke bawah, Kaia kembali turun ke bawah.


Kala mengambil salah satu mangga yang Kaia lempar. Dikupas dengan pisau kecil lalu memakannya. Rasanya manis dan benar-benar menyegarkan, ini adalah mangga terenak yang pernah ia makan!


Kaia membersihkan tangannya lalu mengambil salah satu potongan mangga segar dari tangan Kala. Hanya Alang yang rasanya enggan mencicipi mangga tersebut.


“Baiklah, sepertinya kita harus berjalan,” ucap Kala setelah menyelesaikan potongan terakhirnya. Kaia mengangguk, lagi pula ia tidak merasa lelah sama sekali.


“Tunggu sebentar, Sayang, biarkan aku melayani aku terlebih dahulu.” Langkah Kala berhenti saat mendengar kata-kata itu.


Semulanya Kala mengira bahwa Kaia yang berbicara seperti itu, tapi Kaia juga tampaknya bingung dan mencari asal suara itu.


“Aku di atasmu sayang.”


Mereka bertiga mengadah ke atas dan menemukan sesosok wanita berbaju putih dengan kulit yang putih jelita turun perlahan sampai menginjak tanah seringan kapas.


Lalu dengan satu sentak, pakaiannya terlepas. Memperlihatkan isi di balik kain putih tipis transparan itu. Kaia membeliakkan mata kaget, tapi ia tidak bergairah sama sekali.


Alang, ia seakan-akan tidak melihat apa pun, merasa sangat bingung sampai panik.


Sedangkan Kala.


“Bagaimana kau bisa muncul dari atas?” Kala mengerutkan dahinya.


Kini Kaia menjadi sangat kaget dengan sikap Kala yang biasa-biasa saja. Bisa diakui, bahwa ini adalah tubuh paling seksi yang pernah Kaia lihat, belum lagi secara telanjang. Tapi Kala, dia adalah pria, seharusnya Kala akan kehilangan akal dan menerjang wanita itu.


“Ayo layani aku,” kata wanita itu memperkecil jarak dengan Kala.


Kala sangat tidak tertarik, ia hanya merasa bahwa wanita ini gila atau dia adalah hantu. Tentu saja, Kala tidak mengalami ketertarikan seksual di sini. Sehingga saat wanita itu maju, Kala mundur.


“Hentikan langkahmu.” Kala berkata dingin.


“Eak?”


“Kau tidak melihatnya, Alang?” tanya Kala aneh. “Dia ada tepat di depanmu. Apa kau serius?”


“Eak eak!”


“Kalau begitu, aku sudah tahu apa ini sebenarnya.” Kala menggelengkan kepalanya pelan, mengambil Keris Garuda Puspa, lompat ke depan pohon mangga tersebut, lalu menebas kerisnya.


“Hentikan itu, hentikan!” jerit wanita itu seakan dia yang kesakitan.


Kala tidak menghentikan pekerjaannya, ia masih terus menebas pohon tersebut hingga sekali tebasan lagi pohon itu tumbang.

__ADS_1


“Ada kata-kata terakhir?”


“Bangsat kau!”


“Betina yang garang.” Kala berdecak kagum sebelum menyelesaikan tebasan terakhir, wanita itu bersimpuh lutut lalu perlahan menghilang menjadi asap hitam yang berbau wangi.


Kala melihat sekitar, di mana pohon mangga menimpa pohon dan semak-semak. Ia baru sadar, di sana ada banyak tengkorak manusia serta tulang belulang lainnya. Beruntung saja gurunya memberi pelajaran tentang wanita, sehingga ia selamat hari ini.


“Kaia, mangga tadi beracun. Aku sudah pernah mendengar racun semacam ini. Ada beberapa tumbuhan yang jika dimakan buahnya, maka pikiranmu akan berada di bawah kendali tumbuhan itu. Biasanya dagingmu akan dimakan,” kata Kala santai, “jika kau bertemu dengan pohon laki-laki, jangan marah jika aku menahanmu.”


Kaia yang masih bingung tidak bisa berkata apa pun. Sikap Kala yang sama sekali tidak terpancing gairah membuatnya tidak habis pikir untuk bertanya.


“Mengapa kau, mengapa kau seakan sama sekali tidak tertarik dengan wanita tampang bidadari itu?”


“Memangnya kenapa? Kecantikannya biasa saja.” Kala berjalan lebih dulu meninggalkan Kaia di belakangnya.


Kaia menyusul. “Dia adalah wanita tercantik yang pernah aku temui, dan kaukatakan bahwa kecantikannya biasa saja?!”


“Itu artinya kau belum pernah lihat Maheswari.”


“Itu artinya Maheswari lebih cantik dari pada wanita tadi?!”


“Ya, itu hanya menurutku saja. Dia sedikit lebih cantik, hanya sedikit.”


“Dan dari kisahmu dulu, dia tampak menyukaimu. Kau, bagaimana bisa kau ....”


“Bagaimana bisa apa? Aku tidak peduli siapa yang mencintaiku, menyukaiku, membenciku. Toh, tidak terlalu berguna.”


“Hmph! Jika Maheswari yang sangat cantik itu saja kau anggap biasa, bagaimana denganku.” Kalimat Kaia terdengar seperti memancing.


“Kau adalah gadis paling galak yang pernah aku temui dan aku kenal.” Kala tertawa lepas. “Aku hanya bercanda, kau adalah gadis cantik yang pernah aku temui dan aku kenal. Aku serius.”


Awalnya wajah Kaia terlihat marah, tapi kemudian wajahnya berubah semerah tomat saat tersipu malu. Yah, walau dia agak meragukan perkataan Kala. Sedangkan Alang, burung kecil itu sekuat tenaga menahan ketawa.


Mereka melanjutkan langkah dengan riang. Jalan melandai memang membuat hati senang, banyak pemandangan yang bisa dinikmati di sini selain udara segar ketimbang harus bersusah payah mendaki di jalan terjal.


Tiba saatnya mereka harus berpapasan di persimpangan. Ada dua jalan yang berbeda arah, Kala membuka peta tapi salah satu jalan sama sekali tidak ada di peta, lebih buruknya lagi Kala tidak mengetahui jalan mana yang ada di peta.


Peta ini baru dibuat, dan hanya ada satu jalan di peta ini tanpa adanya persimpangan. Jika begitu, seharusnya jalan yang salah adalah jalan yang masih baru dibuat, tapi kedua jalan ini tampak sangat tua. Kala menggaruk kepalanya bingung.


“Kiri atau kanan?” tanya Kaia juga bingung.


“Aku tidak tahu mana jalan yang benar, mana yang salah,” jawab Kala, “jalan ini tidak ada di peta.”


Kala menyuruh Alang untuk melihat-lihat dari atas, mana jalan yang mirip dengan peta dan mana jalan yang mengarah pada kebuntuan atau berbahaya.


Sementara Alang melesat ke atas, Kala bersandar pada pohon sambil menegak air. Kaia tidak tahu harus apa, tapi ia tidak mau duduk, kakinya masih kuat berjalan selama semalaman penuh. Entah mengapa Kala berubah, menjadi pribadi yang terlalu santai.


Tak lama berselang, Alang kembali sambil menjelaskan yang ia lihat. Jalan ke arah kanan menuju pada sebuah rumah tua yang sepertinya berpenghuni, Alang tidak berani memastikan itu sebab rumah tersebut sangat menyeramkan. Jalan ke kanan adalah jalan yang sesuai dengan peta, itu seingat Alang. Burung itu menambahkan bahwa di belakang rumah tua itu, terdapat jalan setapak suram menyeramkan yang juga terhubung dengan jalan di peta.


“Rumah tua berpenghuni, siapa yang cukup gila membangun rumah di hutan yang menyeramkan ini?” Kala tidak habis pikir. “Tapi jika itu tidak berpenghuni, kita bisa tidur di sana malam ini.”


“Tidak-tidak.” Kaia menolak cepat. “Rumah itu pasti menyeramkan.”


“Kau belum melihatnya langsung, tidak terlalu seram, bukan?” Kala tersenyum lebar dengan mata melotot pada Alang. Burung itu mengangguk, tapi tubuhnya bergidik ngeri. “Akan lebih bagus jika rumah itu berpenghuni, kita bisa menumpang untuk satu malam. Itu pun jika penghuninya bukan hantu.”


Kala tertawa lepas sebelum memilih jalan sebelah kiri. Kaia takut bukan main kali ini, ia sangat gelisah dan langkahnya gentar. Tidur di rumah menyeramkan, bagaimana jika hantu akan memakan mereka? Atau mengikuti mereka bahkan setelah meninggalkan rumah tersebut?


Belum lagi jalan semakin lama semakin menyeramkan. Di sini pepohonan mengering dan tanah berwarna hitam. Sangat sunyi, jangkrik seakan enggan bersuara, bahkan suara langkah kaki mereka menggema seantero hutan. Matahari tertutup ranting-ranting dahan kering yang rapat, membuat suasana hutan semakin menyeramkan.


Kaia tanpa sadar mendekat pada Kala sampai akhirnya mengalungi lengan Kala. Yah, walau jalan itu hanya setapak, tapi mereka masih bisa berjalan beriringan. Kala membiarkan saja Kaia memegangi lengannya, terkadang gadis dingin itu suka tidak sadar.

__ADS_1


Perhitungan Alang benar. Mulai dari sini, terpampang jejak-jejak sepatu atau tapak kuda. Itu bukan mengurangi keseraman, malah menambahnya.


Dari jauh, terlihat sebuah bangunan di antara reranting. Semakin lama semakin jelas bahwa bangunan tua itu terpampang. Bangunan tersebut memiliki bentuk yang lebih tradisional dari pada bangunan umum pada biasanya. Terlihat ada sepatu kulit panjang di teras rumah yang tak terlalu besar tersebut.


__ADS_2