Seni Bela Diri Sejati

Seni Bela Diri Sejati
Wasiat dari Aditya


__ADS_3

Tanpa basa-basi berlebih lagi, Kala menunjukkan gulungan emas pemberian Aditya. Raut wajah para prajurit itu berubah drastis, rasa hormat, waspada, dan takut menyatu jadi satu. Mereka sepertinya sudah mengetahui soal gulungan itu walau kondisi masih tertutup. Posisi mereka yang sebelumnya menghunus Kala, kini berganti menjadi mengitari Kala dan melindunginya dari segala penjuru.


“Kisanak, kami akan membawamu ke rumah Tumenggung dengan aman.” Dengan lindungan dari segala arah, mereka mulai membimbing Kala masuk ke dalam kota. Gerbang ditutup dan sejumlah pasukan pemanah dikerahkan di atas tembok kota.


Kala digiring menuju kediaman para bangsawan di sebelah barat kota. Penduduk kota belum pernah melihat kejadian ini sebelumnya, mereka terheran-heran dan mengikuti rombongan Kala walau itu sudah dilarang.


“Siapa pun yang berani mendekat, akan mati!” teriak prajurit yang melindungi Kala.


Setelah sampai di kediaman bangsawan, pasukan dilipatgandakan yang dilengkapi perisai besar dan tombak. Kini kala mengetahuinya dengan jelas, gulungan ini sangat penting sampai mereka melakukan semua prosedur ini.


Kala ditunjukkan pada rumah tingkat dua yang megah dan penuh dengan ukiran-ukiran khas Jawa.


Kala membuka pintu langsung tanpa ada lagi prajurit yang mengawalnya—mereka semua membuat barikade pelindung di sekitar rumah ini. Kala melangkahkan kaki di lantai kayu aula yang dingin, beberapa saat kemudian seorang pria paruh baya berpakaian lengkap adat Jawa tergopoh-gopoh menyambut Kala.


“Kisanak, aku dengar membawa berita penting.” Orang paruh baya itu sepertinya tidak ingin berbasa-basi, ia jelas mengerti kondisi.


“Ya, benar. Tapi aku ingin bertemu langsung dengan Tumenggung.”


“Aku adalah Tumenggung-nya, maaf berpakaian kurang rapi.” Si pria paruh baya itu tertawa pelan.


Kala mengeluarkan gulungan emas itu dari cincin. “Jika begitu, Tumenggung harus menerima ini.”


“Terkutuklah ....” Tumenggung itu mengumpat pelan setelah membuka gulungan tersebut. “Suto! Kemari!”


Seorang pria muda berjalan dengan badan rendah menghampiri si tumenggung. Terdengar bahwa pria paruh baya itu memerintahkan beberapa hal.


“Siaga satu, perintahkan semua prajurit kota untuk mengirim pasukan ke Hutan Telu. Termasuk prajurit dari Progo,” titah si tumenggung dengan tangkas sebelum pria muda itu pergi berlalu.


“Bagaimana caranya Kisanak mendapat surat ini,” tanya si tumenggung pada Kala.


“Ini adalah wasiat dari Aditya, ia meminta agar aku mengantar gulungan kepadamu.”


“Wasiat? Itu artinya ....”

__ADS_1


Kala mengangguk pelan, raut muka si tumenggung berubah menjadi kemarahan.


“Iblis-iblis terkutuk. Mereka akan mendapat balasannya.” Tumenggung meremas jarinya.


Kala menggeleng pelan. “Baiklah, Tumenggung, aku sudah menyelesaikan tugasku dan ini saatnya aku mohon diri.”


“Kalau boleh tahu, ke mana Kisanak akan pergi?”


“Maaf, Tumenggung, bukan kewajibanmu untuk tahu urusanku.” Sesaat Kala berkata dengan dingin tersebut, tubuh Kala menghilang dari hadapan Tumenggung.


Dengan menggunakan Teknik Kapas, Kala bisa meninggalkan kediaman tumenggung dengan cepat, bahkan saat ini ia sudah melewati tembok kota.


***


Kala sampai di tempat Kaia dan Alang saat malam menjemput. Mereka berdua segera menyambut Kala dari atas pohon, tapi Kala sudah keburu hilang kesadaran. Berlari dengan Teknik Kapas bukan hanya lebih cepat, tapi juga menghabiskan banyak Prana. Belum lagi Kala menggunakan Teknik Wedhus gembel yang menghabiskan sangat banyak Prana, bahkan tanpa ia sadari tubuhnya melepuh akibat jurus itu.


Awalnya Kaia dan Alang tengah bersantai di atas pohon sekaligus menanti Kala, kini Kaia meloncat langsung ke bawah untuk melihat muka pucat pasi Kala.


Sisa arang pembakaran api unggun tadi malam masih membara, Alang tertidur tak jauh dari arang-arang itu. Tampaknya ia menjaga api agar terus menyala sampai fajar menjemput.


Melihat lagi ke arah Kaia, ia tidur dengan nyenyak seolah tidak ada predator di sekitarnya. Kala tertawa pelan, saat tertidur gadis dingin itu terlihat lucu dan cantik.


Tubuhnya dirasa sudah membaik, tetapi belum sepenuhnya juga. Kala mengambil sebuah pil lalu menelannya sampai ia sadar pil itu tersangkut di tenggorokan.


Tenggorokan masih kering!


Nyawa belum terkumpul, mengambil air saja tidak terpikirkan olehnya, alhasil Kala hanya terbatuk-batuk kencang.


Suara batuk itu cukup untuk membangunkan Alang dan Kaia dengan panik juga. Tubuh Alang tiba-tiba terbakar api dengan waspada, sedangkan Kaia menggapai pedangnya yang di samping.


“Tidak ada apa-apa, tak perlu panik.” Kala berhasil menggapai konsentrasi lalu mengambil minum di gelang interspatial. “Kewaspadaan kalian sangat bagus, tapi kalian sangat bodoh dengan menyalakan api unggun di tengah medan perang seperti ini.”


Kaia menggosok matanya beberapa kali lalu memandang Kala dengan seksama beberapa detik.

__ADS_1


“Kau sudah bangun? Kau tidak berbuat macam-macam denganku, bukan?”


Wajah Kala berubah menjadi kecut. “Tentu saja aku sudah bangun, tapi kau tidak cukup cantik dan menggoda untukku.”


“Apa kau bilang?!”


Kala tertawa pelan sebelum raut mukanya berubah serius. “Mengapa kalian menyalakan api di tengah konflik seperti ini? Tentara tidak akan memandangmu sebagai warga sipil jika berada di medan perang!”


“Tubuhmu menggigil hebat tadi malam. Kabut turun dengan lebat dan dingin.” Kaia mendengkus kesal, lalu melanjutkan, “kita sepakat untuk menyalakan api dari pada harus memelukmu.”


“Eak eak.” Alang mendukung.


Kala mengerutkan dahinya lalu memandangi tulang-tulang yang berserakan di dalam tumpukan arang, seperti sengaja ditutupi.


“Oh, ya? Atau kalian baru saja berpesta tanpaku?” Kala menatap Kaia dan Alang dengan sinis satu persatu.


“Ti-tidak, sama sekali!”


“Aku tidak bermasalah jika kalian makan-makan tanpaku, yang bermasalah adalah keselamatan kalian. Bukannya sudah kuberi kue kering untuk kalian makan? Aku sengaja membelinya untuk makanan darurat di saat-saat seperti ini, bukan untuk menyiksa kalian.”


Kaia dan Alang sama-sama menunduk. Kala tersenyum hangat melihat tingkah mereka, sama seperti saat ia dimarahi Akhza dulu.


“Aku minta maaf sebab belum bisa memberikan kalian makanan enak untuk sekarang, tapi nanti siang kupastikan kalian dapat makanan enak dari masakanku.”


Kaia kembali menaikkan kepalanya dengan angkuh. “Bagus jika kau sudah sadar akan kesalahanmu!”


Tiba-tiba senyum Kala berubah menyeramkan. “Tapi untuk sarapan, kau makan ini dulu.”


Kala melempar selembar kue kering pada Kaia dan dua batu energi untuk Alang. Kaia menangkap kue kering itu dengan refleks, tapi raut mukanya terlihat tidak bagus. Sedangkan Kala sudah menggigit sepotong kecil kue kering.


Setelah selesai makan, Kala kembali melihat peta. Rencana untuk ke Kota banyu Bening dibatalkan, sepertinya kota itu akan dipenuhi konflik. Kala memilih melihat beberapa desa di pinggiran hutan yang diprediksi terkena dampak buruk dari perang.


“Kaia, kita tidak akan lagi bersantai ria di kota. Kita akan pergi ke desa-desa dan mengamankan penduduk dari perang,” jelas Kala seraya menggulung peta.

__ADS_1


__ADS_2