Seni Bela Diri Sejati

Seni Bela Diri Sejati
Suhu yang Teramat Dingin


__ADS_3

"Kak Mahes ... dia benar-benar lelah. Aku sangat berutang padanya." Kala bergumam pelan.


Tak seberapa lama kemudian, Maheswari mengubah bentuk tidurnya menjadi meringkuk. Pagi ini sangat dingin walau tenda sudah disekat. Tak ingin Maheswari sampai terbangun akibat kedinginan, Kala bangkit dari ranjangnya dan maju ke arah gadis itu.


"Dia terlalu lelah, jangan sampai terbangun."


Ia menggapai selimut dan digunakannya untuk menutupi tubuh Maheswari. Setelah itu, Kala keluar dari ruang sekatan. Namun seketika itu juga telinganya berdengung. Suara sunyi yang sedari tadi Kala dengar di dalam sekat kamarnya berubah menjadi hiruk pikuk yang menyeramkan!


"Selimut! Butuh selimut di sini!"


"Mohon selimut di sini!"


"Kain tebal, jubah, air panas atau apa pun! Ada pasien sekarat di sini!"


Insting tempur Kala terjaga. Baru ia sadari ternyata hawa di luar tenda terasa jauh lebih dingin dari suhu di dalam ruang sekat. Sangat dingin sampai cukup membuat air seketika membeku. Bahkan selama berada di Gunung Loro Kembar, Kala tidak pernah mengalami suhu dingin seperti ini. Pasti ada yang tidak wajar!


Kala ingin membantu sebisanya, namun tidak ada yang bisa ia berikan selain jubah merah miliknya. Ia segera melepas jubah itu dan memberikannya pada salah satu tabib yang lewat di dekatnya.


Selepas itu, Kala keluar tenda untuk menemui Patriark. Namun pemandangan di luar tenda lebih menyeramkan. Air becek benar-benar hampir membeku, ada beberapa es putih di beberapa sudut. Suhu di luar tenda juga sangat dingin, jauh lebih dingin dari suhu ruangan di dalam tenda.


"Ada apa ini?!"


Kala berlari menuju tenda patriark. Ia berlari bukan tanpa alasan, itu dilakukan agar tubuhnya tetap hangat walau tidak pakai jubah.


Kala sampai tenda Yudistira dengan cepat. Ia bergegas masuk ke dalam tenda, udara dingin membuatnya sangat merindukan masuk tenda. Seorang murid mengalangi dari dalam.

__ADS_1


"Ada apa asal masuk?!"


"Aku ingin ...." Belum Kala menyelesaikan ucapannya, Patriark Yudistira lebih dulu menyanggah.


"Biarkan dia masuk!"


Murid itu menggeser tubuhnya membiarkan Kala masuk. Kala langsung bergegas ke arah Yudistria yang sedang menatap peta di meja bersama beberapa orang. Patriark Perguruan Angin Putih itu menyambut Kala dengan raut wajah khawatir.


"Kala! Apa kamu baik-baik saja? Di mana jubahmu?!"


"Patriark, ada yang lebih genting daripada itu ...."


"Bawakan aku satu selimut, siapa pun tolong!" perintah Yudistira agak kencang. "Tunggu sebentar, Kala. Selimut akan datang untukmu, aku tidak punya persediaan jubah lagi, tadi sudah aku bagikan."


Seseorang membawakan selimut dan memberinya pada Yudistira, yang lalu lalu diberikan kepada Kala. Mau tidak mau, Kala menyelimuti dirinya sendiri.


Yudistira tidak langsung menjelaskan, melainkan bertanya, "Bagaimana keadaan Tabib Maheswari? Aku dengar dia tidur bersamamu tadi malam."


Kala tersedak ludahnya sendiri, hampir tidak percaya Yudistira menanyakan hal itu dalam situasi segenting ini, tetapi ia tetap menjawab, "Kak Mahes baik-baik saja, Patriark."


Patriark mengangguk pelan sebelum mulai menjelaskan, "Kemungkinan terbesar, suhu yang sangat dingin ini memang disengaja. Menurut berbagai informasi, kota ini tidak pernah mengalami suhu yang sangat rendah seperti ini." Yudistira tiba-tiba mengeraskan rahang. "Ini merupakan serangan balasan dari pihak musuh."


"Ini ulah dari Perguruan Danau Hitam?!" geram Kala, rahangnya ikut mengeras.


"Danau Hitam tidak bisa melakukan ini, hanya ada satu perguruan yang bisa melakukannya." Yudistira berkata. "Sekutu dari Perguruan Danau Hitam, Kastel Kristal Es."

__ADS_1


"Aku belum pernah mendengar itu sebelumnya. Nama yang aneh," komentar Kala.


"Aku setuju, namanya memang agak feminin." Yudistira tetap bermuka serius. "Namun, kekuatannya tidak feminin. Mereka sudah membunuh orang banyak sekali, tak lagi terhitung kota-kota yang lenyap di tangan mereka."


Kala berubah menjadi serius. "Apa yang akan Patriark lakukan?"


Patriark tersenyum. "Aku akan membentuk sebuah kelompok yang nantinya ditugaskan untuk menghancurkan sumber hawa dingin ini." Patriark melanjutkan, "Ada sejumlah seniman sihir yang menyegel kota ini dengan sihir pendingin. Mereka membentuk pola dan berkumpul di tempat yang tak jauh dari kota. Kemampuan bela diri mereka sangat rendah karena seumur hidupnya hanya belajar tentang sihir."


"Aku akan ikut dengan kelompok itu," ujar Kala tanpa basa-basi, ia tidak bisa diam saja tanpa membantu.


"Ini terlalu ...."


"Aku akan ikut, Patriark. Mereka akan membunuh banyak orang tak bersalah, ini adalah tugasku untuk menumpas kejahatan." Kala berkata dengan percaya diri tanpa menyadari orang lain di sekitarnya.


Orang lain selain Yudistira dan Maheswari sama sekali tidak mengetahui rahasia Kala, namun kini Kala keceplosan. Patriark langsung tersenyum canggung begitu juga dengan Kala. Orang lain di dalam tenda serentak mengerutkan dahi mendengar ucapan patriark.


Dengan gugup, Kala berkata, "Semua manusia memiliki tugas untuk saling menolong dan melindungi, bukan? Ini adalah tugasku sebagai manusia."


Patriark menyahut dengan panik. "Ya, ya! Itu benar!"


"Nah kalau begitu, aku bisa ikut, bukan?" tanya Kala dengan senyum lebar.


Yudistira tersenyum kecut, Kala benar-benar mengambil kesempatan di dalam kesempitan. "Ya, kau boleh ikut. Aku izinkan, namun mungkin pacarmu tidak memperbolehkanmu."


Senyum Kala pudar. Jelas dia tahu apa yang dimaksud oleh Yudistira, tidak lain adalah Maheswari. Maheswari tentu saja tidak akan mengizinkan Kala pergi ke sana, mengingat Kala masih dalam masa pemulihan. Kala begitu meyakini obat Maheswari begitu mujarab, nyatanya ia bisa sembuh hanya dalam satu hari. Kala yakin ia tidak akan mengalami masalah kesehatan saat bertarung nanti.

__ADS_1


"Patriark, bantu aku." Kala memelas.


__ADS_2