Seni Bela Diri Sejati

Seni Bela Diri Sejati
Turun Gunung


__ADS_3

Gubuknya sudah dirapikan untuk yang terakhir kalinya. Semua persiapan dipastikan lagi agar tak ada yang tertinggal. Kala tak mungkin kembali lagi ke gunung hanya untuk mengambil barang yang tertinggal, ia tak akan sanggup pergi lagi selepas itu.


Ia menghela napas. "Guru, Murid akan turun gunung. Murid akan membanggakan nama Guru sekaligus memenuhi tugas sebagai Kesatria Garuda. Semoga di sini nyaman."


Kala berbalik badan. Menghela napas sekali lagi. Kakinya melangkah tegas, menyusuri jalan setapak untuk turun dari Gunung Loro Kembar yang demikian tinggi itu.


Kabut abadi yang ada di Gunung Loro Kembar mulai dijumpainya. Sudah beberapa tahun kabut itu bertahan di sini, dan akan bertahan untuk waktu yang sangat lama. Kala mengaktifkan Mata Garuda untuk penglihatan yang lebih jelas. Udara mendingin, bahkan lebih dingin ketimbang puncak itu sendiri.


Butuh setengah hari untuk turun gunung melalui jalan tercepat yang cukup berbahaya, atau melewati jalan di pinggiran lereng untuk waktu yang lebih lama dan aman. Kala lebih memilih jalan yang tercepat. Dari kaki gunung, butuh dua-tiga hari untuk sampai pada kota kecil terdekat.


Dahulu burung-burung selalu bernyanyi ria di hutan ini. Sejak kemunculan kabut itu, nyanyian burung itu sirna. Mereka memilih hutan lain sebagai rumahnya. Loro Kembar tak lagi ramah ditinggali hewan-hewan baik seperti mereka. Hanya suara panjang dari serangga saja yang memenuhi hutan. Derap langkah Kala bisa terdengar hingga jauh di tempat sesunyi ini.


Namun, berdasarkan cerita Akhza, keseraman hutan di sini bagai taman yang ceria dibandingkan hutan yang pernah Akhza jelajahi. Hutan Akar Ireng. Di sana benar-benar mengerikan katanya. Hewan-hewan aneh yang tak ramah. Bahkan semak belukar dan rumput di sana berbeda wujud juga sikap. Akhza yang merupakan seniman paling handal setanah Jawa pun tak bisa berjalan lama-lama di sana.


Yang pasti, Akhza mengingatkan bahwa Kala harus menerima dunia luar yang benar-benar berbeda. Tidak seperti di gunung yang selalu damai dan teratur. Di luar sana katanya, tak teratur dan carut-marut. Berkata salah sedikit saja bisa kehilangan nyawa. Harga diri yang terlalu besar sangat diutamakan, tidak seperti di gunung yang selalu memahami dan bisa mengalah asalkan damai bisa dipertahankan.


Akhza juga memperingatkan berulang-ulang bahwa ilmunya tak boleh asal dipakai. Tidak untuk disombongkan. Tidak untuk diperjual-belikan. Tidak untuk kepentingan pribadi.


Satu hal lagi yang Akhza sangat tekankan adalah soal perempuan. "Hati-hati dengan wanita. Mereka lemah lembut dari luar, tapi ganas jika menyerang dari dalam. Bukan hatimu yang diserang, tapi pikiranmu dan perasaanmu. Aih, sangat berbahaya. Tapi aku harap kau tidak sepertiku yang membujang hingga akhir hayat."


***


Kala masuk ke dalam sebuah kedai nasi setelah memasuki kota. Sebenarnya agak susah jika Kala masuk kota melalui pintu masuk, ia tak punya identitas diri sebagai masyarakat. Beruntungnya, tembok kota tak terlalu tinggi untuk dilewati.


Meja kosong di pojok ruangan dipilihnya. Di sini ia bisa mengawasi seluruh ruangan sekali tatap. Posisinya juga tak terlalu mencolok jika di sini. Seorang wanita muda menghampirinya dengan langkah malu-malu begitu juga wajahnya, ia menyerahkan sebuah papan berisi daftar makanan dengan malu-malu pula. Kala meneliti papan itu, harga makanan di sini cukup terjangkau.


"Pesan Ayam Bakar Madu. Juga segelas tua— ... maksudku segelas teh manis yang kaupunya." Kala tersenyum getir, baru ingat bahwa tuak tak terlalu bagus.


Si gadis pelayan tidak hentinya menatap wajah Kala. Senyum-senyum. Seakan tak mendengar perkataan Kala tadi.

__ADS_1


Kala berdeham. "Nyisanak lihat apa?"


Sang gadis tersadar dari lamunannya, lalu tergagap. "Eh, Kakang mau pesan apa?"


Kala menggelengkan kepala kemudian mengucap ulang pesanannya. Bebek Bakar Madu dan segelas teh. Si gadis pelayan mengangguk pelan, malu-malu lagi hingga pipi putihnya semerah tomat.


"Kami punya tuak terbaik di kota ini, apa Kakang tak mau mencobanya. Aku bisa memberinya cuma-cuma untuk Kakang seorang."


Kala cukup melambaikan tangannya sambil tersenyum, itu penolakan yang halus. Gadis itu mengangguk lalu berbalik setelah menoleh lama kepada Kala.


Kala melihat ke sekitar seraya menggoyangkan kakinya. Ini kota terdekat yang didatanginya setelah keluar dari hutan Loro Kembar. Awan Biru nama kota ini, orang sekitar biasa menyebutnya lain dengan bahasanya.


Cukup lama hingga gadis tadi datang bersama pesanannya. Bebek madu itu tersaji di meja. Bebek utuh jika leher, kepala, dan kakinya tak dipotong. Aroma mantap, manis dan gurih. Segelas bambu teh juga tersaji di mejanya.


Kala sudah siap makan, tapi gadis itu tak pergi juga. Ia malah duduk di kursi yang berhadapan dengan Kala. Bertopang dagu. Menatap Kala lamat-lamat. Kala merasa gadis itu ingin memakannya bulat-bulat. Lihat tatapannya yang berbinar-binar bagai menemukan ayam panggang raksasa.


"Kakang datang dari mana? Jarang-jarang aku lihat laki-laki setampan Kakang. Dari kahyangan, ya?"


"Aku datang dari Gunung Loro Kembar. Dan aku tak tampan."


"Ah?" Tangannya tak lagi menopang dagu. Punggungnya tegap, tanda ia serius. "Loro Kembar? Gunung terkutuk itu ... bagaimana bisa Kakang bisa hidup di sana? Bukankah Loro Kembar sudah dilarang untuk dilalui? Itu gunung keramat, Kang, bagaimana bisa ...."


Kala menggelengkan kepala. "Gunung itu sahabatku. Jika kau bisa mendengarnya sekarang, ia sedang marah karena dianggap keramat."


"Ya, mungkin Kakang memang seniman yang luar biasa, hingga bisa mengalahkan kekeramatan gunung itu," katanya semakin berbinar, ingin bicara lebih lanjut. Kala lepas memotongnya dengan pertanyaan.


"Boleh aku tahu tentang kota ini?"


"Boleh saja. Kota ini termasuk ke dalam kategori kota ukuran sedang. Pasti kau sudah tahu namanya, kota ini memang terkenal di mana-mana. Kota ini berada di wilayah kekuasaan Kastel Kristal Es, yang baru saja berubah namanya. Kota ini memiliki ribuan penduduk yang rata-rata berkecukupan, Awan Biru juga pusat perdagangan Kastel Kristal Es.

__ADS_1


"Namun, beberapa minggu lalu Kastel Es menarik semua anggota dan persenjataan di kota ini. Setelah diketahui, mereka menarik semua itu sebab segerombolan hewan perusak datang dari Hutan Telu. Hewan perusak itu dipimpin oleh seorang pranor gila, ada beberapa hewan spirit. Mereka semua berencana menyerbu kota ini. Kau pasti tahu bahwa Kastel Es adalah perguruan aliran hitam, mereka tak mau ambil rugi walau sedikitpun, padahal kami selalu menyerahkan upeti untuk mereka juga."


Kala sedikit tercengang. Itu artinya, kota ini akan berada dalam bahaya. Bagaimana bisa gadis kedai nasi ini bisa santai-santai saja? Pantas saja sedari tadi kedai sepi. Dirinya sendiri bisa dalam bahaya.


"Di mana hewan-hewan itu sekarang?"


"Mereka sedang bertempur dengan beberapa seniman atau pranor di kota ini, manusia pasti menang!" jawab gadis itu semangat seolah kemenangan sudah di depan mata.


"Bagaimana dengan pihak kerajaan? Apa Geowedari mengirim pasukan?"


"Katanya, sih, tidak. Geowedari terlibat kemelut di perbatasan dengan Pandataran. Keamanan kota-kota sudah dititipkan pada perguruan terdekat. Kota Awan Biru dititipkan ke Kastel Kristal Es."


"Apa sudah ada pengungsian?"


"Ada, disiapkan seniman yang akan bertarung, tapi kami tentu tak mau repot-repot mengungsi jika memang akan menang."


"Tidak bisa seperti itu. Jika hanya mengandalkan pranor yang ada di kota tanpa bantuan dari perguruan bahkan kerajaan, kota ini sulit bertahan." Kala mulai gelisah. Memutuskan untuk cepat-menjauh dari kota ini, menghindar dari masalah. "Beri peringatan untuk seluruh warga kota sebisamu bahwa kalian harus mengungsi secepatnya."


"Ada apa?"


"Cepat laksanakan sebelum korban jiwa bertambah banyak!"


Kala membayar makanannya yang belum ia sentuh sebelum keluar kedai. Ia bergerak cepat untuk meninggalkan kota, tetapi sesuatu menahannya.


Akal sehat yang menahannya. Kala sudah menjadi pranor, sungguh dosa baginya jika tidak berjuang membela yang lemah. Kala terus dididik oleh Akhza agar membantu yang lemah, itu adalah tujuan Kala dilatih oleh Akhza.


Masalah seperti ini bukan harus dihindari. Ini harus dihadapi.


Kala berbalik lari, kembali ke kedai. Kala melihat kedai ini sudah tidak ada orang, mungkin gadis itu sudah melaksanakan perintahnya. Tapi sekarang Kala butuh gadis itu untuk menanyakan tempat pertempuran akan berlangsung, tidak mungkin ia mencarinya dengan berlari ke seluruh kota, bisa-bisa ia kelelahan sebelum bertempur.

__ADS_1


Kala berlari lagi mencari orang sekitar, semua sepi sampai Kala mendengar suara keributan dari jauh. Ia berlari ke asal suara. Kala melihat banyak orang yang berkerumun di depannya, mereka berkumpul di lapangan dengan panggung di tengah lapangan. Kala bisa melihat di atas panggung itu berdiri gadis yang tadi bersama seorang pria paruh baya yang kewalahan.


Kala menerobos paksa kerumunan yang histeris. Setelah sampai di depan panggung, ia langsung meloncat dengan ilmu meringankan diri. Dirinya lekas menjadi sorotan baru.


__ADS_2