Seni Bela Diri Sejati

Seni Bela Diri Sejati
Menyelamatkan Kaia


__ADS_3

Kala membelah kerumunan dengan cepat sampai pada akhirnya sampai di tengah kerumunan. Terlihat seorang gadis dengan pakaian baru tapi penuh robekan bersimpuh sambil menangis, keadaannya hampir setengah telanjang.


Kala lekas berlari ke hadapan si gadis. Ia mengeluarkan kain selimut lalu menutupi tubuh gadis itu. Tangan Kala bergetar hebat menahan emosi, tapi ia tetap berkata dengan lembut pada gadis tersebut.


“Kaia, tetap diam di sini. Jangan takut, ada aku.” Kala mengusap kepala gadis itu pelan. “Berhenti menangis.”


Kini Kala memandang lautan massa di depannya, aura pembunuhnya menyeruak tapi tidak diarahkan pada Kaia. “Baiklah. Kalian ingin uang atau menelanjangi gadis ini? Biar kita selesaikan semua masalah ini.”


Para warga ingin membalas Kala, tapi rasa takut menahannya, ini membuat Kala punya kesempatan berbicara lagi.


“Yang menyentuhnya walau hanya sehelai rambut, maju ke hadapanku. Sekarang!”


Tidak ada yang bergerak, bahkan mengembuskan napas saja perlahan. Ini malah membuat Kala semakin marah, perlahan sebuah kabut tipis keluar dari tubuhnya dan menyebar ke lautan massa.


“Maju sekarang atau semua dari kalian mati. Kabut ini bisa meledak kapan saja jika aku mau, kalian bisa menjadi monyet panggang sekarang juga.”


Seluruh massa berkeringat dingin, mulai menyesali keputusan mereka datang ke sini yang hanya membahayakan nyawa. Jika tak ada yang maju, maka bersiaplah menjadi daging gosong.


Satu orang terlihat menyeruak dari kerumunan, ia mendatangi Kala dengan wajah yang ketakutan. Ia merupakan seorang pria yang terlihat bukan orang baik dari pakaian dan tampangnya.


Lima orang lainnya menyusul; raut wajah ketakutan tapi juga terlihat bukan orang baik.


“Baiklah, enam saja cukup.” Kala tersenyum ramah lalu berbisik perlahan, “bersiaplah untuk mati.”


Kala terkekeh pelan sedangkan enam orang itu semakin dibasahi keringat dingin.

__ADS_1


“Kaia, di mana senjata yang aku berikan padamu?” tanya Kala yang dibalas geleng kepala Kaia. “Tidak perlu takut, katakan saja. Aku akan melindungimu.”


Agak lama, Kaia berkata dengan terbata-bata. “Diambil ... aku ... aku tidak tahu, tapi sudah hilang.”


“Bagus.” Kala menganggukkan kepalanya lalu menaruh pedang rusaknya di samping Kaia. “Bunuh mereka.”


Kaia yang masih terisak-isak menggelengkan kepalanya. Bagaimana pun juga, tidak sampai hati membunuh mereka. Dengan kondisi seperti ini, Kaia hanya bisa memaafkan mereka walau ia tidak tahu mengapa dirinya diserang.


“Hari ini, kau harus menurut padaku. Bunuh mereka.” Nada bicara Kala mulai naik, warga semakin berkeringat dingin sedangkan Kaia menggelengkan kepalanya.


“Ah, baiklah. Jika kau tidak mau membunuh enam orang ini, maka biar aku yang membunuh semua orang di sini.” Kala tersenyum lebar. “Yang berani menjauh satu langkah saja, maka sama saja kau memotong antrean, biar aku membunuhmu lebih dulu.”


Kaia terus menggelengkan kepala sambil menatap Kala dengan muka memohon, tapi Kala ingin bersikap keras hari ini. Bagi sebagian orang, tindakan Kala adalah tindakan yang tidak manusiawi sebab memaksa seorang gadis tangan bersih untuk membunuh. Namun, tidak ada seorang pun yang memahami Kala.


Dia menghela napas panjang, mengambil pedang rusaknya lalu mengajak Kaia berdiri. Seluruh aura pembunuh miliknya sudah ditarik dan membuat massa bisa bernapas lega.


“Aku tahu maksud kalian semua menghakimi gadis ini. Gadis ini adalah temanku, dan aku adalah buronan. Kalian hampir melecehkan dia hanya karena uang? Apa hanya uang yang bisa membuatmu damai? Bagaimana jika jalan satu-satunya untuk damai adalah berpeluk dengan Gusti Tuhan?


“Apa aturan-Nya berkata bahwa kalian bisa melecehkan gadis? Bisa menghakimi orang lain tanpa tahu permasalahannya? Kalian hidup di bumi ciptaan-Nya, tapi kalian tidak tunduk pada aturan itu, apa kalian tak malu berjalan di tanah?


“Aku harap, kalian tidak mengganggu gadis ini lagi, atau kalian akan pergi menemui Tuhan lebih cepat bersama keluarga.”


Kala menuntun Kaia keluar dari kerumunan. Kerumunan massa langsung menyingkir, menciptakan lorong untuk Kala dan Kaia keluar. Hanya ada yang menatapnya pergi tanpa ada yang berani bergerak.


***

__ADS_1


“Kau tidak bersalah, berhentilah mengutuk dirimu sendiri.” Kala berusaha menenangkan Aditya yang terus meminta maaf dari tadi.


“Tidak. Aku pantas dihukum. Aku telah lalai hingga membuat temanmu terluka."


“Baiklah, aku akan menghukum kau. Tegakkan tubuhmu dan berhenti minta maaf, ini adalah hukuman.”


Aditya tidak tahu harus berbuat apa, tapi pada akhirnya ia sendiri berdiri dan berhenti menangis, ini hukumannya. Kala tersenyum hangat sebelum larut lagi ke dalam pikirannya.


Saat Kaia dan Kala meninggalkan kerumunan, tiga orang pranor muncul dari atas secara buru-buru dan menyatakan dirinya sebagai utusan Penginapan Progo. Mereka memohon agar Kala dan Kaia lekas kembali ke penginapan sampai kondisi kembali kondusif, mereka menjamin keamanan saat di dalam penginapan.


Kala memang mau kembali ke penginapan, mereka sampai dikawal oleh tiga pranor lain. Mereka sudah mencari Kaia dan Kala ke seluruh kota dan baru bertemu di sini, setidaknya itulah yang mereka katakan.


Kini Kaia sedang berada di ruang medis Penginapan Progo. Kondisi fisiknya sudah diobati, tapi ia mengalami trauma yang luar biasa. Kala berusaha untuk berbicara dengannya, tapi tabib berkata untuk membiarkannya sendiri sampai malam tiba.


Aditya terus berdiri di depan Kala dengan menundukkan kepala. Kala mempersilakannya untuk pergi dengan alasan yang tidak dibeberkan.


Aku butuh waktu sendiri juga.


Aditya lalu pergi dan menambahkan agar mencarinya saat butuh apa pun. Kala mulai bergumam pada dirinya sendiri saat Aditya pergi.


“Alang, aku harap kau bisa menjadi penasehatku kali ini,” ujar Kala pada Alang di pundaknya. “Kaia adalah gadis baik, tapi dirinya belum juga mendapatkan kedamaian. Kau tahu bukan? Kristal Mata Iblis akan merenggut nyawanya lebih cepat.”


“Eak?”


“Masalahnya, apakah dengan balas dendam ia bisa meraih kedamaian? Atau aku harus membawanya ke tempat nyaman dan memberi ia kedamaian?”

__ADS_1


__ADS_2