Seni Bela Diri Sejati

Seni Bela Diri Sejati
Aku Bukan Buaya Darat!


__ADS_3

“Mengapa kau tidak ikut dalam perang secara langsung dan menghentikannya juga? Mengapa kau malah ke ke desa-desa? Bukankah mengatasi lebih baik dari pada mengobati?”


“Aku sudah memprediksi akhir dari perang ini, perang akan berakhir dengan kekalahan dari dua pihak. Jika pun pada akhirnya hanya satu pihak yang kalah, maka aku akan mengatasinya. Untuk saat ini, aku tidak bisa berbuat banyak di medan perang sebesar ini.”


“Dan siapa itu Maheswari?”


Kala tersedak ludahnya saat tanpa angin tanpa hujan, Kaia bertanya seperti itu. Dengan menggaruk kepalanya, ia berusaha mengalihkan topik pembicaraan.


“Kira-kira, apa yang akan kita lakukan saat sampai di desa nanti?” tanya Kala.


“Jangan mengalihkan topik, jawab pertanyaanku.”


Ditatap tajam oleh Kaia, Kala tidak bisa menahan diri untuk menghela napas panjang lalu menjelaskan semua riwayat hidup serta pertemuannya dengan Maheswari.


Kala menceritakannya dengan ringkas saja, sehingga tidak terlalu memakan waktu banyak. Kaia mendengarkan dengan seksama, Alang turut mendengar walau ia sudah mendengarnya dulu.


“Aku membantu desamu yang terdampak dan kemudian bertemu denganmu di balik kain putih. Mungkin saja Maheswari mencariku.” Kala mengakhiri kisahnya.


“Jadi Maheswari adalah pacarmu dulu?”


“Bukan, hanya teman.”


“Apa dia cantik?”


“Tidak, tidak terlalu cantik.”


“Eak!” Alang membantah dengan keras.


Kaia menyipitkan mata. “Wanita paling cantik di kalangan bidadari kau bilang biasa saja? Apa Alang yang berbohong, atau kau yang berbohong?”


“Eak!”


“Ah, sudah. Jangan membuang waktu dengan hanya duduk di sini, tugasku masih banyak.” Kala berdiri lalu melangkah pergi dengan santai. Kaia buru-buru mengejar Kala dan menanyakan segudang pertanyaan.


“Apa Maheswari menyukaimu?”

__ADS_1


“Tidak.”


“Apa kau menyukainya?”


“Tidak.”


“Apa kau merasa berjodoh dengannya?”


Sudah malas menjawab Kaia, Kala hanya menggelengkan kepalanya. Kala dan Alang sangat bingung dengan gadis ini yang berubah menjadi tidak dingin saat membahas topik ini.


***


Kala memberi kode pada Kaia untuk berhenti. Ekspresi Kala tegang, membuat Kaia menjadi lebih tegang dan ketakutan. Gerakan Kala sangat cepat, di tangannya sudah terdapat belati kecil yang tiba-tiba terbang ke arah semak belukar.


Terdengar suara tikus menjerit saat belati itu masuk ke semak-semak. Kala tersenyum puas lalu mendekatkan diri ke semak-semak. Alang yang berada di pundak Kaia tambah tegang, begitu juga Kaia. Namun, berikutnya adalah tampang jijik di wajah keduanya.


“Makan siang!” Kala berkata dengan lantang tikus seukuran musang diangkat.


Siapa yang mau makan tikus? Tentu saja baik Alang dan Kaia tidak ada yang mau mencicipi hewan yang terkenal jorok tersebut. Tapi, baru saja Kala berkata makan siang.


“Aku tidak mau makan siang dengan tikus tersebut.” Kaia kecewa, merasa Kala tidak menepati janjinya tadi pagi.


“Aku tetap tidak mau.”


“Lihat saja nanti.” Kala menarik tikus itu ke gelang interspatial lalu kembali berjalan santai ke arah yang semula.


Kaia bergidik jijik lalu mengikuti langkah Kala di belakang.


Tak berselang lama, tampak sebuah sungai besar penuh bebatuan. Tak jauh dari sungai tersebut terdapat air terjun tinggi yang deras alirannya. Bukit-bukit batu curam di belakang semakin menambah pemandangan indah.


Kala meregangkan kedua tangannya sebelum memanjatkan rasa syukur. “Sudah lama tidak melihat pemandangan seperti ini.”


Sikap Kala terkesan sangat merendahkan pemandangan ini jika dibandingkan dengan sikap Kaia pada pemandangan ini. Matanya membeliak lebar, seakan semua bagian mata ingin melihat langsung seperti apa pemandangan indah di depan. Lututnya lemas dan akhirnya ia menangis pelan.


Tentu dibandingkan Kala yang suka berpetualang, Kaia sebagai warga desa yang tertutup tidak pernah melihat pemandangan seperti ini sebelumnya.

__ADS_1


Alang berusaha menenangkan Kaia, tapi ia sendiri masih ingin menikmati pemandangan ini. Sedangkan Kala, ia terlihat tidak peduli, sebenarnya Kala memang maklum dengan posisi Kaia. Menenangkan Kaia malah akan membuatnya malu nanti, sehingga Kala membiarkan saja Kaia menikmati pemandangan dengan caranya sendiri.


Kala menceburkan diri ke sungai dengan pakaian yang masih lengkap. Bukan untuk membersihkan tubuh, semata untuk meraih ketenangan dari kesegaran. Namun, bagaimana pun juga, noda darah di jiwa Kala tidak pernah bisa bersih oleh aliran sungai.


Kaia yang masih merasa terharu kini mulai bermain dengan air, agak jauh dengan Kala. Alang ikut bermain dengan Kaia, ia melempar bola api sehingga air meledak kecil.


Mereka sampai tidak menyadari Kala yang hilang dari permukaan sungai.


Dengan posisi bersila, Kala menyelam ke dasar sungai untuk merenungi nasib selanjutnya. Tadi malam, ia membunuh banyak manusia. Walau itu memang tugasnya, tapi tetap saja menimbulkan tekanan mental.


Kala membuka matanya dalam air setelah berhasil meyakinkan diri. Iblis akan selalu mengganggu manusia, maka lebih baik menyelamatkan manusia dengan membunuh iblis walau itu artinya dirinya sendiri menjadi iblis.


Kala naik ke pinggiran sungai. Bajunya yang basah dapat dengan cepat mengering setelah diairi Prana. Kala memanggil Kaia yang tengah bermain dengan Alang.


“Ada apa?”


“Bukan waktunya bermain, kau masih dalam masa latihan.” Kala mengayunkan tangannya. “Ikut aku ke air terjun.”


Latihan dari Kala akan selalu menarik bagi Kaia walau ini akan berakhir menyakitkan. Dengan langkah penasaran, Kaia mengikuti Kala. Sedangkan Alang pergi ke pundak Kala untuk menanyai teknik latihan untuk Kaia.


“Alang, jangan senang dulu. Aku akan menyiapkan latihan untukmu setelah ini.”


Segera saja raut muka Alang menjadi tegang. Ia sudah melihat sendiri latihan keras-sadis yang diberikan kepada Kaia. Bagaimana dengan dirinya yang lebih kuat dari pada Kaia? Bukankah lebih menyakitkan?


Deburan air terjun membutakan pendengaran, Kala memberi kode tangan pada Kaia untuk menghampirinya.


“Duduk di bawah air terjun, lakukan semampumu.” Suara Kala disertai Prana; tangan Kala menunjuk tepat di mana air dari atas jatuh.


Kaia ingin mengatakan bahwa ini ide gila, tapi suaranya tidak cukup keras melawan deburan air terjun. Tangan Kala masih terus menunjuk bawah air terjun sambil tersenyum jahat.


“Tunggu sebentar, bajumu akan robek jika diterpa terus menerus dengan air sekencang itu. Lepas bajumu dan ganti dengan ini.” Kala mengeluarkan jubah yang masih seperangkat dengan pakaiannya.


Kaia menerima jubah itu dengan wajah bingung. Lalu Kaia melakukan ancang-ancang seakan mau membuka bajunya. Kala membeliakkan mata dengan panik.


“Apa yang ingin kau lakukan? Kau ingin ganti baju di sini?”

__ADS_1


Kaia mengangguk, lalu berteriak sangat kencang. “Ini bagian dari latihan, bukan?!”


“Tentu saja tidak! Ganti baju di tempat lain!” Kini tangan Kala menunjuk sembarang tempat. “Kau ini. Aku memang keras dalam melatihmu, tapi tidak sampai harus menunjukkan tubuhmu padaku! Aku bukan buaya darat!”


__ADS_2