Seni Bela Diri Sejati

Seni Bela Diri Sejati
Berhadapan Dengan 10 Anggota Caping Bulan Hitam


__ADS_3

Menyeret ayam yang berlumuran darah itu menuju tempat para kepala desa. Tidak mudah menyeret ayam yang berukuran raksasa ini melewati pepohonan, tapi Kala bisa mengatasi itu dengan mudah.


Hari sudah sepenuhnya gelap saat Kala kembali ke tempat kelima kepala desa. Namun, kali ini Kala merasa ada nafsu membunuh yang berasal dari lokasi kelima kepala desa.


Kala memilih melepas ayam itu dan bersembunyi di balik semak.


Kala yang bersembunyi di balik semak bisa melihat lokasi peristirahatan sudah bersih dari semak belukar dan menjadi tanah lapang yang bisa ditiduri. Namun, yang membuat Kala terkejut adalah kondisi para kepala desa yang sepertinya sedang disandera sebuah kelompok.


Kelompok itu memakai jubah hitam dan caping bambu. Kala tersentak kaget saat mengenal kelompok ini.


“Caping Bulan Hitam! Mengapa mereka bisa ada di sini?”


Seharusnya, Caping Bulan Hitam adalah kelompok perampok terbesar yang mempunyai banyak cabang di Kerajaan Bulan Hitam, seharusnya mereka tidak ada di Geowedari.


Jumlah mereka di sini ada sepuluh orang, mereka semua menodongkan senjata pada kelima kepala desa yang tak berdaya.


“Satu orang di Alam Kristal Spirit sedangkan sisanya di Pondasi Prana, aku bisa menghadapinya jika bersama Alang.”


Kala melirik Alang sedangkan Alang menggelengkan kepala dengan pelan, sepertinya ia mau kekuatan Kala meningkat. Kala hanya bisa tersenyum canggung, setidaknya ia akan ditolong Alang jika dirinya dalam bahaya.


Mata Kala juga berbinar saat melihat orang yang berada di Alam Kristal Spirit itu menggenggam Pedang Spirit.


“Bagus, aku memang membutuhkan Pedang Spirit untuk sekarang ini.” Kala akhirnya memberanikan diri muncul dari semak-semak.


Seluruh anggota dari Caping Bulan Hitam itu menatap Kala dengan aura membunuh. Kala membalas aura itu dengan tatapan Mata Garuda!


“Apa itu?!”


“Mata ini seperti mata yang ada di legenda!”

__ADS_1


“Mata Garuda!”


Kala terkekeh pelan sebelum berujar, “Kalian sudah melihat mata ini, itu artinya kalian bisa lupakan tentang jalan pulang.”


“Hmph! Bocah tak tahu diri! Kekuatanmu jelas berada di bawahku!” ujar anggota Caping Bulan Hitam yang berada di Alam Kristal Spirit.


“Sudahlah, masalah kekuatan tidak perlu dibanggakan. Itu tidak menjamin kau akan menang nantinya.” Kala berjalan santai, tangannya di belakang pinggang. “Kalian sudah menahan teman-temanku. Dan juga, aku sepertinya menyukai pedangmu.”


“Lancang kau! Jika ingin mengambil pedang ini, maka ambil dengan nyawamu!”


“Tidak perlu banyak bicara, mari kita selesaikan dengan bahasa desing logam.”


Kesatria Garuda mempunyai sebuah keahlian bergerak cepat, ini juga yang membuat Kala bisa mengalahkan si pemanah kemarin. Dalam satu kedipan mata, Kala sudah berada di depan orang itu dengan belati yang terangkat.


Orang yang Kala serang itu tidak tinggal diam, ia menangkis serangan Kala dengan pedangnya. Desingan logam akibat beradunya dua senjata terdengar keras dan membuat telinga ngilu.


Kala melompat cukup jauh ke belakang. Ia menatap kerambitnya yang sekarang mengalami retakan akibat adu senjata tadi. Jelas kerambit Kala kualitasnya berada di bawah pedang itu.


Kala tersenyum kecut sebelum maju dengan tangan kosong. Ia memakai serangan tapak, tapi serangan tapak ini menyerang dengan bertubi-tubi. Kala menggunakan jurus yang diajarkan oleh gurunya, Kala tidak terlalu menyukai jurus ini sebab menghabiskan banyak prana.


“Jurus Seribu Tapak! Bagaimana kau menguasai ilmu ini?” Lawan Kala terlihat kewalahan menghadapi serangan Kala.


Kala tidak buka mulut, ia hanya tersenyum lebar ketika melihat lawannya mulai kelelahan. Ia berhasil mendaratkan dua pukulan di dada, lawan Kala terpental cukup jauh ke belakang lalu muntah darah.


“Bagaimana bisa?!” Si lawan terlihat frustrasi menghadapi Kala. “Apa yang kalian tunggu? Serang dia!”


Anggota Caping Bulan Hitam yang lain ragu untuk maju menyerang Kala, tapi mereka tidak berani menentang kapten mereka sendiri. Kala menatap dingin mereka semua, sepertinya dirinya akan membunuh banyak untuk hari ini.


“Turuti bos kalian, ayo maju serang aku.” Kala membuka tangannya lebar-lebar, jelas ia memprovokasi mereka agar maju menyerang.

__ADS_1


“Serang!”


Kala tersenyum tipis saat melihat sembilan orang yang menyerbunya. Ia menyiapkan kuda-kuda dan sikap silat untuk menghadapi mereka dengan tangan kosong.


“Akan ada sembilan leher yang patah malam ini!” sorak Kala sebelum menarik kaki kanannya ke belakang guna menghindari tebasan pedang.


Pedang itu mengiris angin kosong belaka sedangkan tangan Kala sudah berhasil memberikan patahan leher pada si pengguna. Kala tersenyum lebar saat menyadari begitu mudah mengalahkan lawan, ia semakin percaya diri dalam memainkan kuda-kudanya.


Tiga leher patah sesudah Kala menghantamnya dengan keras. Kala tidak berhenti menyerang saat musuh memilih bertahan. Pimpinan kelompok itu hanya bisa melongo sambil mempersiapkan rencana kabur.


Kala baru saja menyelesaikan leher terakhir. Ia menghadap ke pemimpin kelompok yang belum sempat kabur itu. Senyuman percaya diri jelas terpampang pada bibir Kala, ia tidak pernah menyangka bisa mengalahkan anggota Caping Bulan Darah yang konon katanya sangat kuat dan sakti.


“Aih, ternyata lebih enak kalau bertarung menggunakan tangan kosong. Kenapa aku baru menyadarinya sekarang?” Kala memandangi telapak tangannya sambil terus berjalan ke arah pemimpin kelompok itu.


“Ampuni aku ... ampuni aku ... aku punya mata tapi tidak bisa melihat kebesaran Tuan Pendekar!” Si pemimpin bersujud sambil menghantamkan kepala kuat-kuat ke tanah berulang kali.


“Berapa nyawa tak bersalah yang telah kau bunuh, hah? Makhluk sepertimu sungguh tidak pantas berada di bumi.” Kala menendang leher pemimpin malang itu sampai tubuhnya terlontar jauh dengan kepala yang terrputar, nyawanya sudah melayang di tangan Kala.


Kala menghela napas panjang sekali lagi, aura membunuhnya sudah sampai pada tahap menakutkan bagi manusia biasa, ini bisa menjadi masalah besar jika Kala tidak mencari cara untuk menutupinya.


“Maaf kalian harus melihat itu semua ....” Kala tersenyum hangat pada lima kepala desa yang kini menatap Kala ketakutan. “Tidak perlu menatapku seperti itu, aku membunuh untuk kebaikan ... aku pikir begitu.”


Para kepala desa kini tidak lagi ketakutan di hadapan Kala. Namun, kelima kepala desa itu masih tidak berani menatap langsung ke arah Kala. Kala hanya bisa tersenyum pahit dan berniat mencari ilmu menutupi aura membunuh.


“Bantu aku membersihkan mayat-mayat ini, gali kuburan seadanya agar mereka bisa beristirahat dengan tenang.” Walau mereka adalah penjahat yang bejat, Kala masih tidak tega untuk membiarkan tubuh mereka membusuk di tanah.


Lima kepala desa itu mengangguk sebelum menyeret sepuluh mayat itu, sebagian lainnya membuat liang kubur. Kala ingin membantu, namun dilarang dan disuruh untuk istirahat saja.


Kala akhirnya memutuskan mengambil ayam besar yang tadi ia sembunyikan. Saat Kala menyeret ayam sebesar itu sendirian ke area peristirahatan, lima kepala desa itu membuka mulut mereka lebar-lebar.

__ADS_1


Kala mengambil pedang si pemimpin sebelum dipergunakan memotong tubuh ayam menjadi beberapa bagian kecil, ia menyisihkan beberapa potong untuk di makan malam ini. Kala juga mengeluarkan kayu-kayu dari cincinya lalu membakarnya menjadi api unggun besar.


Lima kepala desa duduk di sekitar api unggun setelah selesai mengubur semua jasad. Kala membagikan potongan daging ayam untuk dibakar sesuai selera. Dirinya sendiri sudah kehilangan nafsu makan setelah membunuh sepuluh orang hari ini.


__ADS_2