
“Jangan menakut-nakuti, cepat usir mereka!” Kaia mengeluarkan pedang dan mengarahkannya ke leher Kala.
“Mereka tidak mengganggu kita, jangan buat masalah dengan alam.” Kala ingin kembali melangkah tapi Kaia semakin menekan pedangnya.
“Hm? Sepertinya kau sudah tidak sabar untuk berlatih.” Kala mengeluarkan Keris Garuda Puspa.
Alang menyadari lebih dulu apa yang ingin Kala perbuat, ia langsung terbang ke dahan pohon untuk menonton lebih lanjut.
Kaia langsung mundur beberapa langkah. Tentu ia tidak bodoh setelah melihat dahsyatnya keris itu, ia juga sudah melihat berapa banyak nyawa yang direbut keris tersebut.
“A-apa kau mau membunuhku?” Kaia menunjuk dirinya sendiri.
Kala menyeringai lalu melompat ke depan Kaia. Ia sama sekali tidak mengalirkan Prana ke keris tersebut, niatnya adalah melatih Kaia.
Kala membuka serangan pertamanya, keterampilannya ia tekan habis agar Kaia bisa dengan mudah menangkis. Serangan Kala mengarah langsung ke perut Kaia dari arah kanan, Kaia menangkisnya dengan kaku. Kala menyerang lagi, kini dengan serangan menusuk.
Trang!
Desingan pedang menyertai saat pertukaran serangan terus terjadi. Walau Kaia melawan sekuat tenaga, tapi ia benar-benar tidak bisa membaca celah dari Kala.
“Gerakkan seluruh otot di tubuhmu, jangan hanya otot tangan.” Kala memberi arahan sebelum kembali menyerang. “Putar tubuhmu.”
Kaia mengerutkan dahi saking fokus menyerang, tapi Kala sama sekali tidak memberikan celah. Perlahan emosi mulai menguasainya, serangan Kaia semakin beruntun dan tidak terarah sampai Kala berhasil menendang kaki Kaia sampai ia terjatuh.
Kala berdecak kagum. “Saat kau emosi, maka kau akan kalah.”
Kaia melihat mata keris panjang Kala yang kini menempel di lehernya. Kala memandang Kala dengan tatapan memohon, ia masih mengira bahwa Kala akan membunuhnya.
“Aku akan melatihmu dengan cara keras, maafkan aku.” Kala menekan sedikit mata kerisnya ke leher Kaia sampai darah mengalir sedikit.
Kaia sedari tadi memejamkan mata sambil berharap kematiannya tidak terlalu menyakitkan, tapi ia terkejut saat keris Kala meninggalkan lehernya. Kini Kaia memandang Kala yang bersuit pada Alang.
“Kau tidak membunuhku?” Kaia meraba irisan di lehernya.
“Tidak, aku hanya melatihmu saja. Ayo kembali jalan.” Kala berkata dengan santai dan kembali melanjutkan jalan.
Kaia mencerna situasi sebelum bangkit dengan geram, ia berlari kencang ke arah Kala lalu menebaskan pedangnya.
__ADS_1
“Tidak kena.” Kala menjulurkan lidahnya.
Kaia berteriak dengan marah, “Apa kau tidak tahu caranya melatih?! Kau membuatku terluka!”
“Itu hanya goresan.” Kala menatap Kaia dengan tatapan penuh duka, Kaia merasakan sebuah memori duka di belakang Kala sampai membuatnya menutup mulut.
“Akan lebih menyakitkan di medan perang asli. Kau akan menghadapi musuh yang lebih kuat, kau akan mengalami sebuah kesedihan mendalam sampai kau tidak bisa hidup dan tidak bisa mati dengan tenang, aku hanya memberikan sebuah replika untukmu.”
Kala kembali melanjutkan perjalanan, Alang memberi tanda kepada Kaia agar menurut saja.
Maafkan aku melibatkanmu dalam tugasku, Kaia.
***
Saat malam menjemput, Kala memutuskan untuk beristirahat di pinggir jalan. Kala membangun api unggun sedangkan Kaia membumbui daging ayam yang Kala dapatkan tadi. Alang memilih untuk membersihkan tubuhnya dengan paruh, wujudnya membesar.
“Kala, seberapa tingkat kematangan yang kau mau untuk daging-mu?” tanya Kaia setelah selesai menusuk daging.
“Tumben sekali kau memanggil namaku.” Kala menggaruk kepala belakangnya. “Aku ingin sangat matang.”
Kaia mengangguk, “Alang, apa kau ingin membakar jatahmu?”
“Tapi, daging yang dibakar lebih sehat karena bakteri di dalamnya habis terpangang.” Kaia membantah dan membakar semua daging di depan api unggun.
Alang dan Kala sama-sama menggelengkan kepala. Dia yang bertanya, dia juga yang menjawab.
Tidak ada yang bisa Kala lakukan, sehingga pemuda itu memilih meninjau baju pelindung yang Cassandra berikan untuknya.
Ini adalah sebuah setelan pakaian berwarna hitam. Celana panjang se-lutut berwarna hitam dengan tekstur kain lembut. Baju atasan sama seperti baju yang awam di tanah Jawa, sama lembutnya dengan kain sutra dan seakan bisa robek jika ada angin. Ada jubah panjang yang hangat dan juga kain batik untuk diikatkan di pinggang.
“Apa ini yang disebut kuat?” Kala merasa terheran-heran sebab pakaian ini terlalu lembut.
Kaia sedikit tertarik dengan yang Kala lakukan, beberapa kali ia mencuri pandang. Kala yang merasa heran akhirnya memberanikan diri untuk membuktikan kekuatan pakaian ini.
Pemuda itu mengeluarkan Keris Garuda Puspa, jika keris ini berhasil melubangi baju Cassandra, maka set baju tersebut tidak aman untuk digunakan. Keris itu diangkat tinggi-tinggi lalu dihunjamkan ke tanah di mana baju atasan berada.
Kala hanya mendengar suara tanah yang tertusuk benda tumpul. Bahkan setelah Kala memberikan tusukan itu, tangannya bergetar hebat, begitu juga dengan keris Kala yang berdengung.
__ADS_1
Dengan tangan yang masih bergetar, Kala menyimpan keris lalu memeriksa baju itu. Mata Kala membeliak, Kaia bahkan sampai bangkit berdiri untuk melihat kondisi baju itu.
“Sama sekali tidak rusak!” seru Kala dengan mata membeliak.
Baju lembut ini sama sekali tidak rusak dengan serangan Keris Garuda Puspa, padahal Kala mengisi satu kendi Prana untuk menusuk baju ini. Bahkan goresan yang sangat kecil juga tidak terlihat.
Kaia juga mengerutkan dahi begitu juga dengan Alang dengan bertanya-tanya.
“Eak eak?”
“Aku juga menanyakan hal yang sama dengan Alang. Aku tidak melihat kau membeli baju itu,” sahut Kaia.
“Aku mendapatkan baju ini dari ... ah, ceritanya panjang.” Kala melipat bajunya lalu menceritakan pengalaman gilanya yang mungkin akan mereka anggap sebagai lelucon.
***
Walau cerita panjang lebar Kala termasuk cerita konyol dan seperti penuh kebohongan, namun Kaia dan Alang tetap percaya. Bahkan Alang bertanya secantik apa Cassandra.
“Cassandra, kecantikannya biasa saja.” Kala menggelengkan kepalanya, entah Cassandra yang kurang cantik atau Kala yang tidak tertarik pada wanita.
“Apa kau bisa mengajariku pencak silat itu?” Kaia bertanya dengan pertanyaan berbeda.
“Kau punya pedang bagus, lebih baik memilih petarungan dengan pedang.” Kala memberi pendapat yang memaksa, lagi pula pencak silat akan membuat Kaia lebih agresif.
Kaia mengangguk pelan lalu mengangkat bakarannya. Walau diangkat bersamaan, tapi tingkat kematangan daging ayam berbeda sebab milik Kala ditempatkan di tengah api.
Sudut bibir Kala tiada henti berkedut saat menerima dagingnya.
“Ini benar-benar daging gosong, aku minta hanya sedikit lebih matang, bukan gosong!”
Daging Kala benar-benar seperti arang. Mungkin daging gosong ini akan renyah, tapi rasanya tidak bisa Kala bayangkan.
Jika begini, sama saja dibakar oleh Alang. Kaia dan Kala memutuskan untuk membakar di api unggun karena api langsung dari Alang akan langsung menghanguskan daging, tapi daging kepunyaan Kala sama saja hangus.
Alang mengeluarkan kicauan yang sepertinya merupakan gelak tawa. Sedangkan Kaia, ia merasa tidak bersalah dan sedikit marah karena Kala sudah menuduhnya.
Kala mengindahkan dagingnya, sama sekali ia tidak makan. Kala memilih untuk memperhatikan leher Kaia, masih ada sebesit bekas luka tadi sore, sepertinya itu terlalu dalam.
__ADS_1
“Apa masih terasa sakit lukamu itu?”
“Kau pikir saja sendiri,” jawabnya ketus.