
Maheswari segera menghampiri Kala setelah berbicara dengan orang itu. Awalnya Kala menduga bahwa Maheswari akan mengajaknya kembali ke Kota Awan Biru, karena tidak memungkinkan baginya untuk berjalan lebih jauh lagi. Namun, perkiraannya salah.
"Kala, aku sudah menemukan di mana kedai makan yang masih buka tengah malam seperti ini. Ayo!" Maheswari melompat ke sisi pedangnya itu.
Kala terbatuk pelan sebelum menyusulnya dengan menaiki pedang tersebut, tepat selangkah di belakang Maheswari. Kala sendiri sangat bingung saat Maheswari ingin sekali makan di kedai bersamanya. Ia masih berharap bisa tahu alasannya.
Udara semakin dingin saat mereka mendekati hutan. Kala menggunakan Prana untuk menghangatkan tubuhnya. Jumlah Prana yang dibutuhkan memang sedikit, tetapi jika digunakan terus-menerus juga akan menguras habis dalam waktu singkat. Kala menggunakan metode ini karena merasa tidak akan ada pertarungan yang menggunakan banyak Prana dalam waktu dekat.
"Kala, apa kau tidak merasa kedinginan?" tanya Maheswari tetiba.
"Aku tidak kedinginan. Prana cukup untuk menghangatkan ... tubuhku. Aku ... baik-baik saja."
Napas Kala sedikit tidak teratur, ia mengerahkan Prana untuk berbicara keras juga untuk menghangatkan tubuh.
"Sepertinya kau kehabisan Prana." Maheswari terlihat tengah mengeluarkan sesuatu: selembar kain tebal. "Gunakan ini untuk membuat suhu tubuhmu hangat."
Kala menolaknya mentah-mentah. Agak kurang enak jika wanita yang memberi pria selimut atau semacamnya, seharusnya pria yang memberikan itu agar si wanita tetap hangat. Tetapi ini justru sebaliknya!
"Kenapa tidak mau?"
"Ah, tidak apa. Aku masih ...." Kala kehabisan napas, ia mengambil napas dalam-dalam sebelum melanjutkan. "Aku masih mempunyai Prana, ini cukup ...."
Tiba-tiba Maheswari berbalik menatap Kala. "Kau kalau berbohong tidak pandai, ya?"
Maheswari tanpa ragu memakaikan jubah di tangannya ke tubuh Kala. Pemuda itu merasakan kehangatan luar biasa di seluruh tubuhnya. Seakan ini bukanlah malam yang dingin, tetapi pagi yang cerah.
Maheswari kembali menghadap ke depan. "Bagaimana? Kau sudah merasa hangat?"
__ADS_1
"Benar, terima kasih banyak Kakak Mahes!"
"Kau pulihkan Prana terlebih dahulu, aku lihat Prana yang ada di tubuhmu tinggal sedikit." Maheswari tersenyum walau Kala tidak melihatnya. "Dan, jangan lagi berbohong padaku. Aku tidak suka itu."
Kala mengiyakan dan meminta maaf karena telah berbohong sebelumnya, sebenarnya Kala hanya sungkan dan tidak berniat menipunya. Maheswari adalah makhluk yang peka, ia mengetahui kalau Kala hanya malu. Tetapi tetap saja menggodanya.
Maheswari melambatkan lajunya sebab tujuan yang mereka ingin datangi sudah dekat. Perempuan itu tidak mengetahui tepatnya kedai itu berada, jadinya ia memilih melambatkan laju. Kala ikut membantu Maheswari mencari kedai tersebut. Diam-diam memakai kemampuan mata khususnya.
Penglihatan Kala menjadi jernih, lebih terang, jelas, serta tajam. Samar-samar Kala melihat ada setitik cahaya dari arah timur. Kala menyembunyikan Mata-nya sebelum memberitahu Maheswari letak setitik cahaya itu.
"Kakang tidak bercanda, kan? Aku tidak melihat ada setitik cahaya pun di hutan." Maheswari terus menerawang.
"Bergerak saja ke arah timur, Kak," katanya, "aku melihatnya."
"Suka-suka kamu saja!"
Beberapa saat kemudian Maheswari dapat melihat setitik cahaya yang Kala maksud. Maheswari segera memuji kemampuan penglihatan Kala yang sangat bagus. Pemuda itu hanya tersenyum canggung, tidak tahu harus tertawa atau menangis.
***
Mereka sampai di kedai yang dimaksud. Kedai itu benar-benar bobrok, banyak kayu bambu tambahan untuk menopang agar bangunan sepetak itu tidak roboh. Obor yang digunakan kedai ini juga obor dengan api kuning, berbeda dengan kebanyakan obor di kota dengan api berwarna putih cerah.
Maheswari segera memasukkan pedang sepanjang satu depa itu kembali ke cincin interspatial. Kala melihat ke kanan-kiri toko ini, semuanya diliput oleh pepohonan gelap.
Seseorang nenek tua dari dalam kedai keluar karena menyadari ada tamu yang datang. Tampang mukanya samar-samar, tidak tahu senang atau marah. Maheswari segera menyapanya takut menyinggung nenek itu. Kala memincingkan matanya. Segera sadar kalau nenek ini adalah seniman puncak Alam Formasi Spirit. Kewaspadaan Kala naik.
Kala ikut menyapa nenek itu setelah Maheswari. Gerakan Kala agak kikuk saat ditatap nenek itu. Memang, nenek ini sangat memberi tekanan.
__ADS_1
"Tampang kalian seperti jagoan, mau buat apa kalian ke mari?!"
Maheswari menjawabnya, "Kami ingin makan di kedai Nenek, apa masih buka?"
Si nenek langsung menceletuk, "Berani ke sini, berani mati!"
Nenek itu bergerak maju. Serangan kejutan arah Maheswari, gerakannya sangat cepat seperti petir yang menyambar. Dara yang diserang lekas menggunakan jurus Kesempurnaan Gerak, untuk menghindarinya.
Kala bergerak mundur, ia mengeluarkan sebilah golok untuk bersiaga. Nenek itu mengalihkan perhatian kepada Kala. Senyum jahat tersungging di bibir kering keriputnya.
"Sial, celaka aku."
Si nenek melancarkan serangan mautnya kepada Kala. Kala merasa ia akan mati di sini jika terkena serangan nenek. Dengan cepat Kala mengeluarkan Keris Garuda Puspa dari cincin interspatial. Dia segera menyadari bahwa senjata di tangan Kala memancarkan aura kuat yang luar biasa, maka segera membatalkan serangan takut terbelah keris tersebut.
Si nenek kembali menyambar Maheswari. Maheswari tidak menghindar, Prana miliknya akan habis jika menggunakan Kesempurnaan Gerak dengan kekuatan penuh. Maheswari menahan serangan itu dengan sebilah pedang birunya.
Telapak tangan sang nenek bertemu dengan mata pedang Maheswari. Lengan si nenek tidak sama sekali tergores dengan pedang Maheswari, justru Maheswari terlempar beberapa kaki.
Baik Maheswari atau Kala, sama-sama kucurkan keringat deras. Dalam tiga serangan tadi sungguh memakan banyak Prana keduanya, tapi si nenek sama sekali tidak kelelahan. Ini membuat Maheswari dan Kala menyesal datang ke sini, mungkin mereka tidak berada di tempat kedai atau memang kedai ini sangat aneh dan berbahaya.
Lagi pula siapa yang cukup gila membangun kedai makan di tengah belantara luas?
Kala menurunkan keris itu, sedari tadi dirinya terus mengalirkan Prana dalam jumlah besar agar keris itu mengeluarkan aura dahsyat. Prana yang Kala miliki sudah hampir habis, napasnya kembali putus-putus. Pusaka ini terlalu tinggi untuk dipakai Kala!
Tetiba saja nenek itu berteriak, "Bagus! Kalian tidak menyerang sama sekali!"
Orang tua itu membantu Maheswari berdiri. Sedangkan Maheswari terlihat bingung, sama halnya dengan Kala.
__ADS_1