Seni Bela Diri Sejati

Seni Bela Diri Sejati
Membantu Orang-Orang Desa


__ADS_3

“Kalian merampok untuk kebaikan, aku bisa maklum, tapi ini tetap bukan perbuatan yang baik. Aku akan membantu desa kalian sebisa mungkin. Sebaiknya kita pergi dari sini sebelum ada yang melihat kalian. Peralatan tani ... maksudku senjata dikumpulkan di depanku.”


Mereka tidak berniat melawan, dengan badan yang membungkuk, mereka menyerahkan satu per satu senjata di depan Kala.


Kala mengibaskan tangannya dan seketika itu juga senjata-senjata itu menghilang. Kala menyimpan senjata itu di cincin interspatial guna tidak mengundang masalah jika memang ada rombongan yang lewat. Tentu saja semua dari kepala desa ini terkejut melihat senjata mereka tiba-tiba hilang tanpa bekas, tapi mereka tidak berani untuk bertanya.


“Desa kalian seharusnya punya beberapa senjata seperti golok atau keris, kenapa aku tidak melihatnya di sini?”


“Ampun, Pendekar. Merek menjarah semua harta kami termasuk senjata, mereka beralasan agar tidak ada yang melawan.”


Kala mengangguk pelan. “Berapa lama perjalanan dari sini ke desa kalian?”


“Sekitar lima hari atau lebih jika berjalan kaki.”


Kala mengangguk, setidaknya itu jarak yang cukup jauh dari Maheswari. “Baiklah, kita jalan sekarang. Tidak perlu membungkuk, aku masih muda daripada kalian.”


Kala menampilkan senyum hangat yang sudah menjadi ciri khasnya. Senyuman ini sebenarnya berat untuk Kala lakukan, mengingat dirinya masih diliput beban. Melihat senyum yang menghangatkan, para kepala desa menjadi lebih santai dan tidak lagi menunduk.


Kala berjalan paling depan sedangkan kelima para kepala desa itu mengikutinya di belakang. Kala melipat tangan ke belakang, ia menikmati suasana seperti ini. Hutan di kedua sisi jalan begitu sunyi dan hanya dihiasi oleh suara burung.


Kala mengontrol kecepatan jalannya, tidak mungkin ia menggunakan ilmu meringankan diri dan meninggalkan para kepala desa tersebut.


Sesekali Kala melihat ke arah belakang untuk memastikan kelima kepala desa itu tidak tertinggal. Kala dapat melihat bahwa mereka sebenarnya tengah lapar tapi sebisa mungkin menutupinya dari Kala.


Kala hanya bisa menggelengkan kepala, ia tidak punya banyak stok makanan untuk memberi makan para kepala desa itu, ia hanya berharap bahwa ada kedai makan yang biasanya jualan di pinggir jalan.


Kedai yang biasanya berjualan di jalan besar seperti ini bukalah kedai biasa, mereka akan membangun kedai makan yang besar dan punya pasukan pelindung. Makanan yang biasanya disajikan juga bukan makanan biasa, makanan-makanan itu berkelas makanan bangsawan.


***

__ADS_1


“Di sana ada kedai makan, kita mampir untuk mengisi perut.” Kala tersenyum hangat sambil menunjuk bangunan yang terlihat dari jauh.


“Baik, Pendekar. Pendekar bisa mengisi perut di sana,” ujar salah satu dari mereka.


Kala mengangguk pelan dan mempercepat jalannya, perutnya memang sudah minta diisi ulang.


Kedai makan ini lumayan besar dan salah satu kedai makan ternama di pulau Jawa, Kedai Pulau Teratai. Kala tersenyum pahit mengingat pernah makan bersama orang-orang yang dicintainya di salah satu cabang Kedai Pulau Teratai.


Kala masuk pintu kedai terlebih dahulu, ia berdiam tidak jauh dari pintu masuk. Namun, yang Kala tunggu tidak juga masuk.


“Apa yang kalian tunggu? Mengapa tidak masuk?”


Kala melihat para kepala desa duduk di luar restoran, tentu saja Kala terkejut dan tidak memahami jalan pikiran para kepala desa ini.


“Ah, tidak perlu khawatirkan kami di sini, Pendekar. Pendekar bisa makan dengan tenang di dalam, tidak perlu memikirkan kami.”


“Tidak perlu, Pendekar. Anda sudah berniat membantu desa kami dan kami tidak ingin berhutang lebih banyak lagi padamu.”


“Sudahlah, kalian bisa membayarnya setelah masalah di desa selesai, bayar dengan makanan yang enak.” Kala tersenyum hangat. “Ayo masuk.”


Para kepala desa itu saling menatap satu sama lain sebelum setuju untuk ikut masuk ke dalam kedai. Mereka tercengang melihat dalam restoran, hidung mereka ikut merespons saat mencium bau makanan lezat.


Kala pergi ke meja kasir. “Kami ingin makan bersama, aku lihat kedai ini tidak bertingkat, jadi di mana kami bisa mendapatkan tempat yang luas untuk makan bersama?”


Pelayan itu melihat Kala dari atas sampai bawah, penampilannya yang seperti pendekar berkemampuan ekonomi tinggi membuat pelayan itu lebih hormat pada Kala. “Tuan Pendekar, Kedai Pulau Teratai yang satu ini memang tidak memiliki lantai tingkat demi alasan keamanan. Namun, di sini menyediakan ruangan-ruangan yang jauh lebih bagus daripada kedai bertingkat. Ruangan yang luas dan untuk perjamuan ada di bawah, tapi Tuan Pendekar harus membayar satu kepeng emas untuk mendapatkan tempat di sana.”


Kala mengeluarkan satu kepeng emas dari cincinnya kemudian diletakkan pada meja kasir. “Mohon tunjukkan ruangannya.”


Pelayan itu menyimpan uang Kala lalu menuntun Kala dan rombongan ke ruangan yang ada di bawah tanah.

__ADS_1


Ruangan ini cukup luas dan di lengkapi meja panjang serta lukisan-lukisan, ada juga panggung kecil untuk hiburan. Pelayan itu menawarkan hiburan musik pada Kala. Kala menolak mentah-mentah tawaran itu, ia sudah cukup kapok untuk kembali memesan hiburan.


“Baiklah. Tuan Pendekar ingin memesan apa?”


“Pesan apa saja, yang penting cukup untuk kami semua.”


“Baik, apa Tuan Pendekar mau minuman Tuak?”


Kala berpikir sejenak sebelum setuju dengan tawaran itu. “Ya, bawa tuak dengan kualitas sedang, aku masih belum bisa menerima tuak berkualitas tinggi.”


“Baiklah, Tuan Pendekar. Aku mohon tarik diri, sebentar lagi hidangan akan sampai.”


Kala mengangguk pelan sebelum menyuruh kelima kepala desa itu duduk. Meja panjang yang ada di ruangan ini adalah meja pendek, sistem makan di sini adalah makan lasehan. Kala duduk bersila di ujung meja.


“Jika boleh aku tahu, sudah berapa korban jiwa di desa kalian masing-masing?”


Para kepala desa tersenyum kejut. “Jika korban dari seluruh desa kami disatukan, maka jumlahnya tembus dua ratus jiwa orang yang meninggal.”


Kala mengerutkan dahinya, itu bukanlah jumlah yang sedikit untuk masyarakat tak bersalah. Perbuatan Kastel Kristal Es memang sudah kelewat batas.


“Bagaimana kondisi desa sesaat sebelum kalian semua meninggalkan desa?”


“Hampir semuanya dalam kondisi kelaparan, kami khawatir jika sekarang mereka sudah sangat kelaparan.”


Kala kembali tersenyum hangat untuk memberikan dukungan pada kelima kepala desa itu. Mereka melanjutkan obrolan hangat sampai hidangan-hidangan sudah sampai.


Semua makanan sudah diletakkan di atas meja, tapi tidak satu pun dari kepala desa mengambil hidangan. Kala menggeleng pelan, jelas mereka memikirkan kondisi warga yang kelaparan, mereka tidak akan bisa makan jika mengingat akan hal itu.


“Aku tahu kalian sangat mencemaskan warga desa. Namun, kalian juga manusia yang membutuhkan asupan makanan. Setelah kita makan, aku sangat yakin jika kecepatan berjalan akan meningkat.”

__ADS_1


__ADS_2