
“Semoga bukan hewan spirit berkepala dua itu,” kata Kala sambil merinding sebelum ia merasa getaran kecil di tanah, seperti karung beras besar yang diseret.
Tepat di sebelah kanan! Kali ini Kala tidak mau membuang kesempatan, dengan keris panjang terhunus ke atas, Kala melompat cepat ke kanan.
Tapi sebelum kaki Kala menginjak tanah, tubuhnya sudah dihantam benda padat dengan keras dan sangat pedas. Kala memijak tanah dengan kedua kakinya yang membentuk kuda-kuda, tapi ia masih tetap terseret ke belakang.
Jantungnya berpacu. Dadanya naik turun. Di depannya, tegak kedua kepala ular, menjulang tinggi sampai menembus ketinggian pohon. Ia berdesir dan keempat matanya menatap tajam Kala, kepalanya mengembang begitu menakutkan. Tapi Kala tidak mau mundur.
“Siluman ular! Semuanya, lari!” Kala berteriak keras ke belakang tapi masih mempertahankan posisinya. “Dan kau, Ular Jelek. Aku akan membunuhmu jika tidak mau mundur, kami tengah berduka, jangan ganggu kami atau rasakan sendiri risikonya.”
Ular itu mendesis, seakan mengacuhkan ancaman Kala. Badannya maju mendekat pada Kala, salah satu kepalanya menghunjam keras ke bawah dengan mulut yang terbuka, taring penuh racun menerjang Kala di bawah.
Dengan cekatan, Kala lompat ke belakang. Jika ia telat sedikit saja, tubuhnya akan hancur seketika oleh taring yang seukuran pedang itu. Saat Kala mau menyerang selagi kepala ular masih di bawah, si ular sudah lebih dahulu menarik kepalanya, itu gerakan yang sangat cepat sampai Kala tidak bisa menjangkaunya, malah kini ia diserang balik.
Saking konsentrasinya dengan pertarungan, Kala sampai tidak bisa mendengar kericuhan yang terjadi di belakang. Kala tadi berteriak dengan kencang, tapi itu terlalu kencang sampai mereka tidak tahu di mana letak Kala beserta ancaman siluman itu. Keinginan berlari sangat kuat, tapi mereka tidak tahu harus berlari ke mana.
Pria itu bertarung mati-matian, berpacu dengan kecepatan. Beberapa kali ia menemukan celah, tapi baru saat ini ia bisa menyerang ular tersebut, itu pun percuma sebab sisik terlalu kuat.
“Oh, tidak, aku kira legenda ini hanya kebohongan.” Si pensiunan yang baru datang agak takut melihat lawan di depannya, tapi tetap membantu menyerang.
Alang menyerang dari atas, dengan bola api yang sangat panas, tapi itu juga tidak berperan banyak. Ular itu terus maju hingga berhasil melewati Kala dan pensiunan, menuju para warga yang menjadi santapannya.
Kebanyakan warga yang tersisa adalah anak-anak dan wanita, tentu mereka tidak bisa berlari dari kejaran binatang melata itu yang begitu cepat. Ular berkepala dua itu menggigit salah satu warga hingga tubuhnya remuk dan darah menyembur ke mana-mana, tapi tidak memakannya, ia hanya marah karena wilayahnya sudah dilanggar. Mangsa lainnya ia tatap, tanpa menghiraukan Kala, si pensiunan, dan Alang yang terus menyerangnya.
Kaia sendiri sudah kewalahan mengarahkan warga, sehingga ia memilih ikut menyerang.
Hutan terang saat api Alang malah menyambar pohon-pohon kering di sekitar, kebakaran terjadi tanpa terkendali.
__ADS_1
Kala sangat frustrasi, situasi di luar kendali. Banyak yang sudah gugur di sini, oleh ular itu atau oleh sambaran api Alang. Api Alang juga sudah merambat ke mana-mana, susah dipadamkan jika dalam kondisi seperti ini, terlebih ular ini sangat sulit ditembus pertahanannya. Matanya mulai berair, entah oleh asap pembakaran hutan atau karena penyesalan mendalam.
“Tidak, tidak, tidak boleh seperti ini.” Kala melemas, tenaganya seolah hilang saat melihat tinggal sedikit warga yang tersisa.
“Kita harus pergi dari sini, bersama beberapa warga yang tersisa, jika itu memungkinkan. Ini adalah wilayahnya, jika tetap di sini sama saja menantang maut!” teriak pensiunan dengan tiga perempuan beserta anak-anak mereka di belakang, si ular menatapnya dengan nafsu. “Pergi sekarang! Aku akan menahannya.”
“Aku akan bertarung sampai akhir.”
“Nak, jangan sia-siakan pengorbanan keempat kawan-kawanku,” katanya sendu, “dan jangan sia-siakan pengorbananku. Tujuan kita bukan untuk bertempur, melainkan menyelamatkan warga sipil.”
Kala memandangi sejumlah wanita dan anak-anak di depannya, mereka menangis sangat ketakutan. Kemudian ia melirik Kaia dan Alang, mereka seolah setuju untuk pergi, itu keputusan terbaik.
Ular itu melaju dengan cepat menuju mereka.
“Lebih baik dia saja yang membawa warga, aku akan bertarung di sini bersamamu.” Kala menolak sambil menunjuk Kaia.
“Kehidupanmu lebih berharga. Dia membutuhkanmu, mereka membutuhkanmu.” Si pensiunan mendorong Kala. “Biar aku, Wironegoro, yang menuliskan tinta kepahlawanan di sini, jangan ganggu kisahku,” katanya tersenyum pada Kala.
Kaia memimpin di depan sedangkan Kala berjaga di belakang, Alang dari atas terus memantau pergerakan. Sesekali melihat ke belakang, si pensiunan Wironegoro itu tersenyum lebar pada Kala sesaat sebelum pedangnya berbenturan dengan taring si ular, bisa dari ular tersebut membasahi tubuh Wironegoro.
Kala berpaling, tidak lagi sanggup melihat yang selanjutnya, ia berlari menyusul Kaia di depan. Bayangan Wironegoro beserta api di sekelilingnya semakin mengecil, begitu juga dengan teriakannya yang perlahan meredup.
Tujuan mereka adalah berusaha secepat mungkin keluar dari wilayah sang ular, maka itu akan aman-aman saja sebab ular itu tidak lapar, hanya marah. Keberadaan pranor sekuat Wironegoro itu memang dibutuhkan untuk mengulur waktu, dan pengorbanan juga dibutuhkan.
Kala berjanji dalam hatinya, jika punya kekuatan besar nantinya, ia akan mencincang badan ular itu menjadi seribu bagian kecil.
“Terus berlari, jangan berhenti, jangan pernah ....” Suara Wironegoro terdengar sayup dari kejauhan.
__ADS_1
***
Kala baru saja selesai memasak daging untuk enam warga yang tersisa, tapi mereka sama sekali tidak mau makan walau sudah berlarian semalaman.
“Kita tidak tahu bahaya apa di depan, kalian butuh sarapan.” Kala berusaha lembut setengah mati.
“Kami tidak bisa enak-enak makan di sini, sedangkan suami kami, anak-anak kami, saudara kami mati di sana dalam keadaan mengenaskan. Ini semua salahmu! Kau yang memaksa kami berlari! Jika kami tetap di desa, mungkin kami bisa melayani mereka agar tetap hidup. Salahmu! Berengsek!”
Kala memejamkan matanya, berusaha mengumpulkan kesabaran. Kaia segera protes pada wanita yang bermulut pedas itu, tidak pantas sudah diselamatkan malah memaki.
“Tidak Kaia, mereka benar.” Kala menghela napas panjang lalu duduk di sebelah Kaia yang agak jauh dari enam warga itu.
“Jangan dengarkan apa kata mereka, kau sudah melakukan yang terbaik,” kata Kaia, “kalah dan menang adalah hal yang biasa dalam sebuah permainan.”
“Kau kira nyawa adalah sesuatu yang bagus untuk dimainkan?” Kala tertawa pelan. “Kau kira teman bisa kau anggap sebagai mainan?”
Kaia membuka mulutnya beberapa kali, tapi tidak terucap satu kata pun, sama-sama diliput keheningan hutan.
“Kami akan pergi sendiri, tidak sudi kami mengikuti langkah gila yang kalian arahkan!” Tiga wanita itu berkata hampir bersamaan, meludah, lalu pergi menenteng anak-anak mereka.
Kaia ingin menahan mereka, tapi Kala lebih dulu menahan tangan Kaia. “Biarkan saja.”
“Bukankah itu berbahaya?”
“Tidak ada yang bisa diselamatkan.” Kala kembali merenung bersama bunyi serangga hutan. Enam warga itu menghilang dalam gelapnya hutan.
“Apa kau mau sendirian?” tanya Kaia, takut mengganggu Kala jika dirinya tetap di sini.
__ADS_1
“Tidak, tetaplah di sini. Alang, kemarilah, ceritakan padaku soal dongeng anak-anak.”
“Eak?”