Seni Bela Diri Sejati

Seni Bela Diri Sejati
Penawaran yang Ditolak Mentah-Mentah


__ADS_3

Kala terbangun dengan panik. Tubuhnya basah kuyup, Kala baru saja disiram air agar bangun dari tidurnya. Yang lain juga mengalami hal yang sama dengan Kala, diguyur dengan satu ember air dingin.


Segera saja tubuh Kala menggigil. Walau api unggun di depan memberikan kehangatan namun tetap saja air ini sangat dingin. Entah dari mana mereka


Kala mengadah ke atas langit yang masih menampilkan bintang-bintang. Ini mungkin hari terakhirnya untuk menatap bintang, Kala sedikit ngeri saat salah satu orang itu mengatakan kalau mereka akan binasa nanti.


Semua pasukan telik sandi sudah bangun. Wajah mereka mengeras. Sebagai pasukan telik sandi, mereka selalu mendapatkan kehormatan, namun kali ini mereka sama sekali dilecehkan.


“Hahaha ... jika kalian sudah bangun, maka ini waktunya.”


Kala mendengus, tidak ada rasa takut sedikit pun di dirinya. Kala mengepalkan tinjunya menatap orang yang menyiramnya tadi. Orang itu tersenyum lebar pada Kala sebagai balasan.


“Kalian mau apakan kami?!” maki Kala lantang.


“Jangan banyak bacot! Sebentar lagi kau akan tahu apa yang akan kami lakukan.”


Seseorang keluar dari tenda, ia memegang sebilah pedang yang tidak tersarung. Pandangan matanya sangat angkuh begitu juga dengan langkahnya. Tubuh pria itu tidak ideal, perutnya buncit dan tubuhnya seperti kekurangan sayuran. Kala bahkan tidak melihat tanda-tanda seorang pranor pada pria itu.


“Persiapan sudah siap?” katanya malas.


“Tentu, Ketua,” jawab orang yang ditanya.


“Cepat lakukan apa yang harus kelian lakukan.”


Dari percakapan itu, Kala bisa menebak bahwa pria gendut yang baru saja keluar dari tenda adalah kaptennya. Yang membuat Kala bingung, tidak ada prana dalam tubuh pria itu, siapa yang cukup bodoh melantiknya jadi pimpinan?


Kecuali, orang ini adalah orang penting.


Ketua itu memanggil semua anggotanya berunding di dalam tenda. Beberapa lama kemudian mereka baru keluar dan menatap pasukan telik sandi dengan beringas. Kala bisa merasakan hawa membunuh menyertai mereka.


“Kami sebenarnya tidak ingin membiarkan kalian hidup,” kata si ketua tiba-tiba, “tapi kami punya penawaran.”

__ADS_1


“Sebagian dari kawan-kawan kalian sudah mati di tangan kami, termasuk kapten kalian. Kami juga sudah merusak inti prana kalian dengan racun. Turuti kami karena kalian sudah tidak punya jalan lain.”


Bicaranya sopan sekali!


“Dan inilah penawaran kami kepada kalian.” Si ketua tersenyum lebar. “Kalian adalah telik sandi dari Perguruan Angin Utara, tentu saja pasukan khusus seperti kalian mengetahui beberapa rahasia yang disembunyikan oleh Perguruan Angin Utara.”


“Tidak perlu basa-basi,” potong salah satu prajurit telik sandi yang terdapat di tiang paling ujung. “Bunuh saja kami, kami tidak akan memberi rahasia apa pun.”


“Dengar dulu penawaran kami, baru kalian bisa memutuskan.” Si ketua kemudian menatap tajam prajurit telik sandi itu. “Dan jika kau memang ingin mati, maka kami akan menuruti itu.”


Si ketua itu memberi tanda pada salah satu anak buahnya. Si anak buah itu mengangguk, mengeluarkan pedang dari sarungnya lalu berjalan mendekati prajurit telik sandi yang malang itu.


“Bagus! Aku lebih baik mati dari ....”


Ucapannya belum selesai tetapi kepalanya sudah lepas dari batang lehernya. Kepalanya berguling-guling dan berhenti tidak jauh dari Kala. Sedikit darah menggenang di bawah kepala putus itu, kelopak mata prajurit itu masih terbuka dan menampilkan tatapan kosong.


Kala membeliakkan mata, tidak percaya apa yang baru saja ia lihat. Ternyata hanya ucapan dari ketua itu yang sopan, namun hatinya sungguh kejam dan tidak ragu membunuh.


Tidak ada yang berani menjawab. Kala juga tidak berani menjawab, ia tidak mau mati konyol tanpa perlawanan seperti itu. Apalagi, Kala adalah Kesatria Garuda yang ditakdirkan menjadi sosok yang besar.


“Bagus, kalian membuatku tidak perlu repot-repot membunuh kalian.” Ketua itu tertawa pelan. “Jadi, aku punya penawaran. Penawaran ini tidak akan merepotkan kalian. Jika salah satu saja dari kalian yang menerima penawaran kami, maka kalian semua akan dibebaskan.”


“Tapi jika kalian menolaknya, maka satu persatu dari kalian akan mati dengan organ-organ dalam yang kami ambil untuk dijual.”


Kala tertegun. Ia sama sekali tidak mengetahui rahasia apa pun dari Perguruan Angin Utara, bagaimana ia akan menerima penawaran itu? Kala juga ingat, ada beberapa dukun yang membutuhkan organ untuk eksperimen gila mereka, mereka akan membayar organ-organ itu dengan harga mahal tidak peduli dari mana organ itu berasal.


Seorang telik sandi di sebelah Panji berkata dengan geram, “Mengapa kau tidak langsung membunuh saja kami semua?!”


“Karena kami juga butuh uang!!!”


“Heh? Apa perguruan kalian begitu bejat sampai menjual organ tahanan?!”

__ADS_1


“Ini tidak ada hubungannya dengan perguruan kami, Kastel Kristal Es! Kami hanya melakukannya sebagai bonus kerja!”


“Hmph! Jadi kastel bobrok kalian tidak bisa memberi kalian sesuap makan sampai kalian berbuat seperti ini? Memalukan!”


“Bangsat! Bunuh dia!”


Si tukang jagal yang tadi kembali maju dengan pedang yang masih berlumuran darah. Namun, kali ini ia tidak langsung memenggal kepalanya melainkan membunuhnya dengan perlahan. Kedua pahanya ditusuk-tusuk, darah langsung mengucur dengan deras disertai erang kesakitan. Tidak sampai di situ, ia menghunjam ******** prajurit telik sandi itu sampai pedangnya tembus dari tulang bokong.


Orang itu kemudian dibiarkan melengking dengan darah bergenang di bawah kakinya. Kala menggertak giginya, itu adalah penyiksaan yang sangat sakit dan akan berlangsung lama sampai ia mati kehabisan darah.


“Baiklah! Mulai saat ini aku tidak akan segan lagi! Beri tahu kami resep rahasia Pil Bunga Dewi atau aku akan mengambil organ dalam terkutuk kalian!”


Kala terperanjat bukan main. Pil Bunga Dewi adalah pil yang sangat sering dibicarakan oleh gurunya, pil itu diciptakan oleh ahli pil yang kemudian diwariskan kepada Perguruan Angin Utara.


Kekuatan pil itu sangat luar biasa, bisa menaikkan tingkat prana seseorang sampai dua tingkat! Resep ini sangat dijaga dan pil itu dan Angin Utara hanya memproduksi tiga pil setiap tahunnya.


Akhza memberi tahu pada Kala, bahan-bahan untuk membuat pil itu juga sangat langka. Satu bahan saja harus berusia paling tidak seratus tahun, itu akan sangat sulit didapat. Akhza tidak tahu pasti bahan-bahan tersebut, ia hanya tahu garis besarnya saja.


Raut wajah Panji dan seluruh pasukan telik sandi yang tersisa berubah jadi buruk. Memang, mereka mengetahui resep pil berharga itu karena mereka adalah pasukan yang dilatih sendiri oleh patriark dan juga sudah mendapatkan kepercayaan dari patriark.


Mereka sangat dilarang keras menyebarkan resep itu dan juga harus melindunginya dengan nyawa sendiri.


Yudistira bukan tanpa alasan menyebarkan resep tersebut pada para telik sandi. Ia merasa bahwa pasukan telik sandi sudah memberikan segalanya pada Perguruan Angin Utara, mereka bahkan harus meninggalkan keluarga dan tidak diperbolehkan menikah dengan alasan agar lebih fokus jika ada misi. Yudistira merasa gaji dan ilmu yang ia turunkan pada telik sandi masih belum cukup untuk membalas pengorbanan mereka, dan dengan berpikir matang ia memutuskan untuk memberi tahu resep pil yang berharga ini.


Yudistira berharap mereka bisa mengumpulkan atau menanam bahan secara mandiri dan berhasil membuat Pil Bunga Dewi untuk sendiri. Yudistira tetap tidak memperkenankan mereka menjual pil itu, dan tidak ada yang mau menjual pil itu.


“Kami tidak berniat menerima tawaran kalian, rahasia ini kami jaga sampai mati!” seru seorang yang lain.


“Ya! Aku akan menjaga rahasia ini dengan nyawaku!” sahut yang lain lalu dibenarkan oleh seluruh pasukan telik sandi, kecuali Panji yang masih terus dilanda kekosongan.


Kala tentu saja tidak ikut bersorak seperti yang lain, ia bukan bagian dari Perguruan Angin Utara. Hal itu membuat ketua dari kelompok Kastel Kristal Es kebingungan melihat mereka berdua.

__ADS_1


“Kalau begitu, aku akan menjual organ kalian jika kami tidak bisa menjual Pil Bunga Dewi.” Ketua itu berkata sambil tertawa kecil.


__ADS_2